Saat pertama kali dirilis, Battlefield 5 sempat memicu banyak perdebatan. Mengangkat tema Perang Dunia II dengan sentuhan sinematik serta didukung teknologi grafis terbaru, EA DICE jelas berambisi menghadirkan pengalaman perang yang bukan hanya imersif, tetapi juga emosional dan sarat aksi. Namun, seberapa berhasil semua elemen tersebut diramu menjadi satu paket yang solid? Berikut ulasan lengkapnya.
Review Battlefield 5 Versi Narasi
Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel tersebut.
Gameplay Battlefield Series
Kampanye Penuh Aksi, Tapi Terlalu Heroik
Mode kampanye Battlefield 5 menghadirkan sejumlah “War Stories” yang berupaya menampilkan beragam sudut pandang dalam Perang Dunia II. Salah satu kisah yang paling menonjol adalah “The Last Tiger,” yang menempatkan pemain di dalam kokpit tank Tiger dari perspektif pasukan Jerman—sebuah sudut pandang yang jarang dieksplorasi dalam game sejenis. Cerita ini terasa lebih manusiawi dan penuh refleksi, sekaligus memberikan pendalaman karakter yang kuat dan bermakna.
Namun, secara keseluruhan, campaign-nya terasa terlalu dibumbui heroisme yang tidak realistis. Beberapa misi menggambarkan karakter utama yang mampu menghancurkan satu pasukan musuh seorang diri, menurunkan tingkat kredibilitas narasi. Secara pribadi, campaign ini terasa lebih seperti pertunjukan teknologi grafis ketimbang kisah yang benar-benar membumi. Meski begitu, pacing atau ritme ceritanya cukup baik dan emosional.
Mekanisme Tempur dan Pergerakan yang Lebih Dinamis
Salah satu aspek paling memuaskan dari Battlefield 5 adalah sistem combat-nya. Pergerakan karakter—mulai dari berlari, tiarap, merayap mundur, hingga naik turun kendaraan—terasa mulus dan realistis. Setiap animasi dieksekusi dengan sangat baik dan responsif, sehingga keseluruhan pengalaman bermain terasa dinamis dan imersif.
Tidak ada senjata atau kelas yang benar-benar menjadi favorit mutlak, karena semuanya bergantung pada situasi di medan perang. Justru fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan utama Battlefield—memberikan kebebasan bagi pemain untuk terus beradaptasi dengan kondisi yang selalu berubah.
Mode Multiplayer: Seru Tapi Tidak Tahan Lama
Multiplayer selalu menjadi daya tarik utama seri Battlefield, dan Battlefield V berhasil mempertahankan kekuatan tersebut. Mode seperti Breakthrough dan Operations kembali hadir dan tetap menawarkan pengalaman bermain yang seru dan menegangkan.Namun, salah satu kelemahan terbesar terletak pada keterbatasan jumlah peta yang tersedia. Dalam jangka panjang, rotasi peta yang monoton membuat banyak pemain merasa jenuh dan mengurangi daya tarik permainan seiring waktu.
Fitur kosmetik untuk karakter, seperti pakaian dan aksesori, memang memberikan opsi kustomisasi dan tidak berdampak langsung pada gameplay. Namun, sistem keseimbangan antar senjata kerap menuai kritik, terutama karena beberapa senjata terasa jauh lebih kuat dibandingkan yang lain. Meski begitu, hal ini masih dapat dimaklumi, mengingat tema permainan yang merefleksikan periode ketika banyak senjata memang belum seimbang dari segi kekuatan dan efektivitas.
Visual Fantastik dan Ray Tracing Generasi Awal
Tak dapat dipungkiri, Battlefield 5 merupakan game dengan kualitas visual yang luar biasa. Sebagai salah satu judul pertama yang mengimplementasikan teknologi ray tracing, permainan ini menyajikan tampilan grafis yang benar-benar memukau. Efek ledakan, pencahayaan, hingga detail lingkungan terlihat begitu hidup dan realistis, menghadirkan pengalaman bermain yang sangat imersif.
Bahkan dengan spesifikasi perangkat yang tinggi, beberapa area masih mampu membebani sistem karena padatnya efek visual yang ditampilkan. Meski begitu, game ini tetap stabil secara teknis, dengan framerate dan kinerja yang konsisten baik dalam mode campaign maupun multiplayer di kondisi tertentu.
Audio: Menyatu dengan Aksi Perang
Sisi audio Battlefield 5 tetap memuaskan. Soundtrack-nya masih mempertahankan elemen khas seri Battlefield, namun kini terasa lebih enerjik dan menghentak dibandingkan Battlefield 1 yang cenderung bernuansa lebih tenang. Efek suara tembakan, deru tank, ledakan, hingga ambience medan perang terasa sangat kuat dan detail, sehingga mampu memperkuat rasa imersi sepanjang permainan.
Sayangnya, tidak terdapat tema musik patriotik khas pada menu utama seperti pada seri sebelumnya. Meski demikian, hal tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kualitas keseluruhan aspek audio.
Harga dan Nilai Pembelian Saat Ini
Saat pertama kali dirilis, Battlefield 5 dibanderol sekitar Rp750.000. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harga tersebut memang bisa terasa cukup berat bagi sebagian pemain. Namun, jika menilik nilai produksinya, kualitas teknologi grafis, serta pengalaman gameplay yang ditawarkan, game ini tetap layak untuk dicoba—terutama ketika sedang berada dalam periode diskon.
Saat ini di tahun 2025, harga terbaik untuk Battlefield 5 umumnya berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp100.000. Dengan banderol tersebut, game ini menjadi pilihan yang sangat menarik bagi siapa pun yang belum sempat mencobanya.
Kesimpulan: Layak Tapi Tidak Bertahan Lama
Battlefield 5 adalah game yang mengesankan dari sisi teknis maupun visual. Namun, di balik presentasi grafis dan performanya yang solid, game ini terasa kurang matang dalam hal kelengkapan dan keberlanjutan konten. Jumlah peta yang terbatas, absennya DLC besar sebagai konsekuensi dari janji “tanpa season pass”, serta minimnya ekspansi konten jangka panjang membuat daya tarik game ini cepat memudar.
Untuk pemain baru, Battlefield 5 tetap sangat layak direkomendasikan sebagai pintu masuk ke dunia game tembak-menembak bergaya semi-arkade. Namun, bagi pemain lama atau mereka yang menginginkan pengalaman perang yang lebih dalam dan bervariasi, game ini mungkin hanya menarik untuk ditamatkan sekali saja.
Battlefield 5 adalah contoh sempurna dari sebuah game dengan potensi besar yang tidak pernah dimanfaatkan sepenuhnya—sebuah mahakarya visual yang layu sebelum sempat benar-benar berkembang.
