• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • Review
  • News
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Battlefield Bad Company 2 — Campaign Pendek yang Ledakannya Masih Nempel di Kepala
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review Battlefield Bad Company 2
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Battlefield Bad Company 2 — Campaign Pendek yang Ledakannya Masih Nempel di Kepala
Review GameReview

Review Battlefield Bad Company 2 — Campaign Pendek yang Ledakannya Masih Nempel di Kepala

Playthrough keempat, dan satu ending yang sampai sekarang masih menggantung

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 13/08/2026 2:47 PM
Anggara Prima Nanda
Share
23 Min Baca
SHARE
Review Battlefield Bad Company 2 Vietnam
7.2 Jadul, tapi ledakannya nendang.
Review Overview

Ada game yang aku datangi lagi bukan karena penasaran, tapi karena pengin aja. Battlefield Bad Company 2 masuk kategori itu buat aku. Ini bukan kali pertama aku menamatkan campaign-nya, ini playthrough keempat, dan total jam mainku di game ini sudah menyentuh angka 128 jam. Angka yang cukup buat bilang kalau aku bukan orang asing di sini.

Contents
Review Battlefield: Bad Company Versi NarasiGameplayRasa Nembak dan Bobot Senjata di Battlefield Bad Company 2AI Musuh dan Tingkat TantanganPacing dan Desain LevelDestruction, Bintang Utama Battlefield Bad Company 2Kendaraan yang Porsinya MinimVisual dan Desain DuniaCerita dan KarakterKenapa Cerita Battlefield Bad Company 2 Lebih Kuat dari Seri PertamaSkuad yang Bikin BetahEnding yang Bikin Nyesek Setelah Bertahun-tahunAudio dan MusikPerforma dan StabilitasHarga dan ValueMultiplayer dan DLC Vietnam, Kenangan yang Tinggal CeritaHarga yang Masuk Akal untuk Battlefield Bad Company 2 SekarangKesimpulan

Alasan aku balik lagi sekarang sebenernya sederhana. Kemarin aku baru saja menamatkan Battlefield Bad Company yang pertama, dan itu benar-benar pengalaman perdana buat aku. Karena Battlefield Bad Company 2 adalah lanjutan langsung dari cerita itu, rasanya nanggung kalau nggak sekalian dimainkan lagi untuk konten series. Jadi review ini datang dari posisi yang agak unik: aku hafal game-nya, tapi aku baru saja punya pembanding yang segar dari seri sebelumnya.

Sebelum masuk lebih jauh, ada satu hal yang perlu aku sampaikan terus terang. Playthrough Battlefield Bad Company 2 kali ini murni untuk keperluan rekam cerita penuh, dan aku pakai mod visual untuk kebutuhan cinematic. Aku memang set difficulty di Hard, tapi karena fokusnya di rekaman, rasa susahnya jujur aja sudah nggak dapat dan nggak aku ingat lagi. Jadi kalau kamu cari penilaian soal tingkat kesulitan yang murni, bagian itu bukan kekuatan review ini. Yang bisa aku bahas dengan jujur adalah rasa nembaknya, destruction-nya, ceritanya, dan apakah game ini masih layak dibeli sekarang.

Satu catatan penting lagi sebelum kamu baca lebih jauh: review Battlefield Bad Company 2 ini fokus di campaign. Multiplayer-nya sudah nggak bisa aku uji sekarang karena servernya sudah dimatikan EA. Bagian multiplayer nanti aku bahas murni sebagai kenangan dari pengalaman lamaku sekitar 2016, bukan sebagai penilaian yang bisa kamu buktikan sendiri hari ini.

Campaign Battlefield Bad Company 2 sendiri aku tamatkan di angka 3 jam 42 menit menurut timer in-game saat sesi rekaman. Pendek? Iya, pendek banget. Tapi apakah pendek otomatis jelek? Itu yang mau aku bahas panjang lebar di bawah.

Review Battlefield: Bad Company Versi Narasi

Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.

Gameplay

Kesan pertama begitu aku mulai main lagi: Battlefield Bad Company 2 sudah kerasa jadul. Aku nggak mau muter-muter soal ini. Kalau kamu bandingkan dengan seri Battlefield di atasnya, apalagi sampai seri keenam yang paling baru, jarak rasanya kelihatan jelas. Cara game ini bergerak, cara karakter bereaksi, sampai ritme pertempurannya, semuanya terasa datang dari generasi yang berbeda.

Tapi jadul di sini bukan berarti nggak enak dimainkan. Justru ada beberapa hal yang menurutku masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Rasa Nembak dan Bobot Senjata di Battlefield Bad Company 2

Gunplay-nya susah-susah gampang. Recoil-nya sangat tergantung senjata apa yang kamu pegang, jadi kamu nggak bisa pakai satu gaya main untuk semua situasi. Yang paling kerasa buat aku adalah bobotnya. Senjata di Battlefield Bad Company 2 terasa berat, dan berat dalam artian yang bagus. Kamu nggak merasa lagi mengarahkan kursor, kamu merasa lagi mengangkat sesuatu.

Yang lebih menonjol lagi adalah sisi sebaliknya: kena tembak musuh di game ini sakit banget. Hit damage-nya jauh lebih berasa dibanding yang aku bayangkan. Kamu nggak punya banyak ruang untuk berdiri di tempat terbuka sambil santai membalas tembakan. Beberapa peluru nyasar saja sudah cukup untuk memaksa kamu cari perlindungan. Ini yang bikin ritme baku tembaknya terasa punya tekanan, meskipun aku main sambil rekaman.

Kalau dibandingkan langsung dengan Bad Company pertama, feel nembak di Battlefield Bad Company 2 jelas lebih enak. Nggak ada perdebatan buat aku di bagian ini. Suaranya lebih tegas, bobotnya lebih terasa, dan reaksi saat peluru mendarat lebih memuaskan.

Soal variasi senjata, aku bilang cukup, tapi tetap terasa kurang banyak. Kamu punya pilihan yang lumayan sepanjang campaign, cuma jangan berharap ada eksplorasi arsenal yang luas. Dari semuanya, yang paling nyantol buat aku adalah XM8. Entah kenapa, senjata itu paling enak dipakai. Suaranya pas, rasa nembaknya pas, dan aku cenderung balik ke senjata itu terus kalau ada kesempatan.

AI Musuh dan Tingkat Tantangan

AI musuh di Battlefield Bad Company 2 gampang dibaca. Pola mereka nggak bikin kamu harus berpikir keras, dan setelah beberapa baku tembak kamu bakal tahu apa yang bakal mereka lakukan. Tapi tadi sudah aku singgung, kelemahan pola itu ketutup sama satu hal: hit mereka berasa. Musuh yang gampang dibaca tapi bisa melukai kamu dengan cepat itu tetap bikin kamu nggak berani sembarangan.

Jadi kalau ditanya soal tingkat tantangannya, jawabanku biasa aja. Yang membedakan pengalaman di sini bukan kecerdasan musuhnya, tapi seberapa cepat kamu tumbang kalau salah posisi.

Pacing dan Desain Level

Ini salah satu hal yang menurutku paling patut dipuji dari campaign Battlefield Bad Company 2. Pacing-nya pas. Isinya inti pertempuran saja, hampir nggak ada lemak yang bikin bosan. Kamu jarang disuruh jalan jauh tanpa tujuan, jarang disuruh nunggu lama, dan hampir selalu ada sesuatu yang meledak dalam jarak pandang. Buat game yang durasi campaign-nya di bawah empat jam, ini sebenernya masuk akal. Nggak ada waktu buat bertele-tele, jadi semuanya langsung ke pokok masalah.

Konsekuensinya, desain levelnya kebanyakan linear. Kamu digiring dari satu titik ke titik berikutnya, dan itu sepenuhnya oke buat game dengan ritme seperti ini.

Yang jadi catatan minus buat aku justru saat game ini mencoba keluar dari kebiasaannya. Di misi gurun, Sangre Del Toro, kamu dikasih area yang luas dan terasa seperti sandbox. Masalahnya, keluasan itu nggak diisi apa-apa. Kamu bisa berkeliaran jauh di gurun, tapi yang kamu temukan cuma ruang kosong. Isinya baru ada di spot misi musuh, dan di luar itu nggak ada alasan buat menjelajah.

Buat aku ini minus yang cukup mengganggu, bukan sekadar catatan kecil. Mending sekalian dibikin linear seperti misi-misi lain daripada dikasih peta luas tapi hampa. Ilusi kebebasannya justru bikin kamu sadar kalau nggak ada yang bisa dikerjakan di sana.

Destruction, Bintang Utama Battlefield Bad Company 2

Kalau ada satu alasan orang masih menyebut Battlefield Bad Company 2 sampai sekarang, kemungkinan besar jawabannya destruction. Dan sejujurnya, aku setuju.

Sistem kehancuran di sini bukan pemanis visual. Dia berpengaruh langsung ke cara kamu main. Tembok yang tadinya jadi tempat kamu ngumpet bisa hilang, dan bangunan bisa rubuh dengan efek runtuh perlahan yang bikin kamu berhenti sebentar buat lihat. Perlindungan di game ini sifatnya sementara, dan itu mengubah cara kamu memilih posisi.

Dibandingkan Bad Company pertama, destruction di Battlefield Bad Company 2 jelas terasa lebih maju. Skalanya lebih besar, dampaknya lebih terasa, dan sensasi runtuhnya lebih meyakinkan.

Momen paling seru buat aku adalah saat situasinya lagi ramai. Banyak bangunan di sekitar, banyak drum yang bisa diledakkan, dan semua itu bertabrakan jadi satu. Situasinya berubah rusuh dalam hitungan detik, dan di titik itu game ini menunjukkan kenapa dia dulu dianggap istimewa.

Kendaraan yang Porsinya Minim

Nah, di sini ada yang bikin aku agak kecewa. Untuk ukuran Battlefield, campaign Battlefield Bad Company 2 minim banget pengalaman berkendara. Sebagian besar waktu kamu habiskan jalan kaki.

Kendaraan yang ada sebenernya enak semua dikendarai, nggak ada yang kaku atau bikin frustrasi. Cuma porsinya kurang. Helikopter, misalnya, nggak pernah benar-benar kamu kendalikan sendiri. Kamu cuma jadi penumpang yang kebagian nembak, sementara yang menerbangkan adalah NPC teman satu skuad.

Ada juga satu momen janggal yang bikin aku ketawa sendiri. Di misi Sangre Del Toro, ada adegan kamu naik mobil sendirian, dan anehnya kamu tetap bisa nembak sambil nyetir. Bukan bug yang merusak, tapi jelas salah satu momen yang bikin kamu ingat kalau ini game dari generasi lama.

Visual dan Desain Dunia

Aku bakal jujur di bagian ini: visual Battlefield Bad Company 2 sudah kelihatan tua. Terutama di animasi dan model 3D-nya. Kamu nggak butuh mata yang jeli buat sadar kalau game ini datang dari era yang sudah lewat.

Tapi ada nuansa yang perlu aku tambahkan, dan ini penting.

Bagian kehancuran bangunannya juga kelihatan tua kalau dilihat sekilas. Cuma kalau kamu perhatikan baik-baik, sebenernya nggak terlalu buruk juga. Cara puing berjatuhan, cara struktur menyerah pelan-pelan, itu masih punya bobot yang meyakinkan. Untuk umur game-nya, bagian destruction ini bertahan jauh lebih baik daripada elemen visual lainnya.

Yang menarik, animasi karakternya sendiri menurutku bagus. Bukan bagus untuk standar hari ini, tapi bagus dalam artian gerakannya masih enak dilihat dan nggak bikin kamu terganggu saat main.

Soal desain dunia, aku nggak bisa bilang banyak. Lokasi-lokasinya biasa aja, dan jujur nggak ada satu pun yang bikin aku terkesan. Kamu memang dibawa berpindah dari satu jenis medan ke medan lain, tapi nggak ada pemandangan yang bikin aku berhenti dan mikir “ini cakep banget”. Fungsional, iya. Berkesan, nggak.

Untuk UI dan HUD, ini malah salah satu hal yang aku suka. Bersih dan jelas. Nggak ada tumpukan informasi yang bikin layar penuh, nggak ada elemen yang bikin bingung. Kamu tahu apa yang perlu kamu tahu, selesai.

Kesimpulan bagian ini: Battlefield Bad Company 2 punya vibe jadul yang jelas terasa, dan itu nggak bisa disembunyikan. Tapi vibe jadul itu bukan berarti nggak enak dilihat. Dia cuma jujur soal umurnya.

Cerita dan Karakter

Ini bagian yang menurutku paling jadi kejutan menyenangkan buat aku, terutama karena aku baru saja menamatkan seri pertamanya.

Cerita Battlefield Bad Company 2 masih mengikuti skuad B alias Bad Company: Preston Marlowe, Sarge Redford, Sweetwater, dan Haggard. Bedanya, kali ini mereka nggak lagi ngejar emas seperti di seri pertama. Mereka ditugaskan memburu sebuah senjata rahasia yang jejaknya nyambung sampai ke masa Perang Dunia II. Perburuan itu bikin mereka lompat dari satu medan ke medan lain, dari salju, gurun, sampai hutan, sambil kejar-kejaran dengan pasukan Rusia. Taruhannya jelas jauh lebih besar dari sekadar urusan pribadi satu skuad.

Kenapa Cerita Battlefield Bad Company 2 Lebih Kuat dari Seri Pertama

Kalau kamu tanya aku mana yang lebih bagus antara cerita Bad Company 1 dan 2, jawabanku yang kedua, dan alasannya cukup jelas.

Ceritanya lebih jelas arahnya, dan yang paling penting, dia berani serius. Di seri pertama, semuanya lawak terus dari awal sampai akhir, dan lama-lama itu malah bikin rasanya aneh. Kamu nggak pernah benar-benar tahu kapan harus peduli sama apa yang terjadi.

Di Battlefield Bad Company 2, komedinya diturunkan jadi bumbu, bukan menu utama. Ada momen serius, ada momen ringan, dan keduanya dapat porsi yang seimbang. Hasilnya, saat game ini pengin kamu tegang, kamu benar-benar tegang.

Skuad yang Bikin Betah

Sama seperti di seri pertama, aku suka semua anggota skuad di Battlefield Bad Company 2. Masing-masing punya peran dan humornya sendiri, dan nggak ada yang terasa cuma jadi pelengkap.

Humornya sendiri masih jalan, dan yang bikin dia berhasil adalah asalnya dari dinamika skuad, bukan dari lelucon yang ditempel-tempel. Haggard tetap jadi sumber celetukan paling ngawur, Sweetwater jadi penyeimbang yang banyak protes, Sarge jadi yang paling waras, dan Marlowe berdiri di tengah-tengah. Karena tiap karakter punya porsi komedinya masing-masing, obrolan mereka di sela pertempuran kerasa natural.

Pacing narasinya juga pas menurut aku. Cerita bergerak seiring pertempuran, nggak ada bagian yang terasa buru-buru dan nggak ada yang bertele-tele.

Ending yang Bikin Nyesek Setelah Bertahun-tahun

Sayangnya, di sinilah bagian paling mengecewakan.

Ending Battlefield Bad Company 2 kurang memuaskan buat aku karena terasa digantung. Dan ini bukan digantung yang artistik, ini jelas banget disiapkan untuk sekuel. Konflik utamanya, yaitu invasi Rusia ke Amerika, nggak dituntaskan. Di akhir malah disebutkan kalau skuad ini bakal dikirim ke misi spesial berikutnya, ke Alaska.

Masalahnya, sampai artikel ini aku tulis di 2026, nggak ada kabar lagi soal kelanjutan itu. Jadi apa yang dulunya terasa seperti janji, sekarang kerasa seperti kalimat yang menggantung selamanya. Kalau kamu baru main game ini sekarang, siapkan diri untuk selesai tanpa penutup yang benar-benar menutup.

Audio dan Musik

Departemen audio Battlefield Bad Company 2 punya sisi yang sangat kuat dan sisi yang cukup mengecewakan.

Mari mulai dari yang bagus. Sound design senjata dan ledakannya lebih nendang dibanding seri pertama. Ini yang bikin baku tembaknya terasa hidup. Setiap tembakan punya berat, setiap ledakan punya tekanan, dan saat situasi lagi rusuh dengan bangunan runtuh dan drum meledak di sekitar, suaranya benar-benar mendukung kekacauan itu. Buat aku, ini salah satu alasan terbesar kenapa momen-momen destruction di sini terasa memuaskan.

Voice acting-nya kurang lebih sama seperti seri pertama. Aku nggak merasakan perbedaan yang berarti antara keduanya. Nggak jelek, tapi juga bukan sesuatu yang bikin aku bilang ada peningkatan.

Nah, yang paling terasa kurang buat aku adalah musiknya. Suara khas Battlefield yang “dun-dun-dun” itu nggak terdengar sama sekali di Battlefield Bad Company 2. Sebagai gantinya, yang kamu dapat adalah musik tema perang dengan nada yang cukup umum, jenis yang bisa kamu temukan di banyak game bertema serupa.

Buat sebagian orang mungkin ini bukan masalah besar. Tapi buat aku yang mengasosiasikan Battlefield dengan identitas musik tertentu, hilangnya elemen itu bikin game ini terasa kurang punya ciri khas.

Performa dan Stabilitas

Kabar baiknya, performa Battlefield Bad Company 2 stabil. Sepanjang campaign aku nggak ketemu masalah performa yang bikin sesi main terganggu. Untuk game yang dimainkan di PC modern lewat Steam, ini termasuk lancar.

Aku juga nggak menemukan masalah kompatibilitas. Nggak ada crash saat launch, nggak ada setting yang harus diutak-atik dulu sebelum bisa jalan. Ini poin plus yang lumayan penting, karena game seumur ini nggak selalu ramah sama sistem sekarang.

Loading time-nya cepat, tapi aku nggak mau menjadikan itu sebagai patokan buat kamu. Aku pakai SSD NVMe, jadi pengalamanku di bagian ini nggak bisa langsung dipakai sebagai standar.

Bug-nya ada, tapi semuanya kecil dan nggak fatal. Yang paling kelihatan ada di prolog: gerakan karakter nggak sinkron, dan omongan serta gerakan mereka jadi lebih cepat dari yang seharusnya. Agak mengganggu di kesan pertama, tapi setelah prolog lewat, masalah itu hilang.

Yang tersisa setelah itu adalah tingkah NPC teman yang kadang nembak ke tembok atau ke arah yang jelas-jelas nggak ada musuhnya. Lucu lebih daripada mengganggu, dan ini juga salah satu tanda umur game yang cukup kentara.

Secara keseluruhan, nggak ada bug yang fatal di Battlefield Bad Company 2. Kamu bisa main dari awal sampai akhir tanpa khawatir progres kamu rusak.

Harga dan Value

Ini bagian yang paling rumit, dan paling penting kalau kamu lagi mempertimbangkan buat beli.

Aku beli Battlefield Bad Company 2 di 2016 saat diskon. Rinciannya: Battlefield Bad Company 2 Standard Edition seharga Rp 50.000, DLC SpecAct Rp 14.000, dan DLC Vietnam Rp 29.000. Di zaman itu, harga segitu sebanding banget, karena yang aku dapat bukan cuma campaign, tapi juga akses ke multiplayer yang saat itu masih hidup.

Oh iya, satu catatan soal DLC SpecAct: isinya nggak cuma untuk multiplayer.

Masalahnya, situasinya sekarang beda total.

Multiplayer dan DLC Vietnam, Kenangan yang Tinggal Cerita

Servernya sudah dimatikan EA. Jadi apa pun yang aku tulis di bagian ini adalah kenangan, bukan sesuatu yang bisa kamu coba sendiri hari ini.

Dulu aku cukup rajin main multiplayer Battlefield Bad Company 2, bahkan di masa saat servernya sudah mulai sepi. Yang paling berkesan buat aku adalah mode Rush dan sistem destruction-nya. Kombinasi keduanya terasa revolusioner waktu itu, karena peta yang berubah bentuk sepanjang pertandingan bikin setiap ronde punya cerita yang beda.

Tapi aku juga punya keluhan yang cukup besar. Kapasitas maksimalnya cuma 32 pemain. Buat aku yang pecinta chaos, angka itu bikin kurang puas. Di era yang sama aku juga main Battlefield 3 dan Battlefield 4 yang sudah bisa 64 pemain, dan Battlefield 2 bahkan bisa lebih dari 64 sampai 128 pemain. Setelah merasakan itu, kembali ke 32 pemain rasanya seperti mundur.

Review Battlefield Bad Company 2 Vietnam

DLC Vietnam-nya sendiri punya identitas yang jelas berbeda dari base game. Temanya, map-nya, kendaraannya, musiknya, sampai senjatanya, semuanya digarap ulang mengikuti latar Perang Vietnam antara Vietnam dan Amerika, dengan medan hutan sebagai panggung utamanya. Sebagai paket tambahan, dia terasa seperti pengalaman yang berdiri sendiri, bukan sekadar tambahan map.

Jadi gimana perasaanku sekarang setelah servernya mati? Jujur, biasa aja. Yang tersisa cuma rasa nostalgia. Multiplayer Battlefield Bad Company 2 buat aku bukan yang terbaik di seri Battlefield, jadi kehilangannya nggak terasa sebesar itu.

Harga yang Masuk Akal untuk Battlefield Bad Company 2 Sekarang

Dengan multiplayer yang sudah nggak ada, yang kamu beli sekarang praktis cuma campaign sepanjang kurang dari empat jam.

Menurutku, Battlefield Bad Company 2 worth it kalau harganya sekitar Rp 20.000. Tapi ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan: game ini sudah ditarik dari pasaran. Kelangkaan itu punya nilai sendiri. Jadi kalau kamu menemukan penjual resmi, angka sekitar Rp 30.000 masih masuk akal buat aku.

Yang jelas, jangan sampai kamu bayar lebih dari Rp 50.000 kalau kamu menemukan toko resmi yang menjual key-nya di luar Steam. Di atas angka itu, kamu bayar terlalu mahal untuk pengalaman yang sekarang sudah nggak utuh.

Kesimpulan

Battlefield Bad Company 2 adalah game yang jujur soal umurnya. Visualnya sudah kelihatan tua, terutama di animasi dan model 3D-nya. Lokasinya biasa aja. Musiknya kehilangan ciri khas Battlefield yang aku harapkan. Dan endingnya menggantung sebuah janji yang sampai 2026 nggak pernah ditepati.

Tapi di balik semua itu, ada hal-hal yang bertahan dengan sangat baik. Rasa nembaknya punya bobot dan lebih enak dari seri pertama, dengan XM8 sebagai favoritku. Hit damage yang sakit bikin setiap baku tembak punya tekanan. Pacing campaign-nya rapat dan langsung ke inti, jadi nggak ada waktu buat bosan. Ceritanya lebih matang dari seri pertama karena berani serius dan menempatkan komedi sebagai bumbu, bukan menu utama. Skuadnya masih menyenangkan diikuti. Dan yang paling penting, destruction di Battlefield Bad Company 2 masih terasa berdampak, bahkan lebih maju dari pendahulunya.

Performanya juga aman. Stabil, nggak ada masalah kompatibilitas, dan bug yang ada semuanya kecil.

Jadi, apakah aku merekomendasikan Battlefield Bad Company 2 di 2026?

Ya, tapi dengan catatan. Dua catatan, tepatnya: kalau kamu memang mengejar nostalgia, dan kalau harganya murah.

Alasan utama kenapa game ini masih layak disentuh buat aku ada dua. Pertama, rasa nostalgianya, terutama kalau kamu punya kenangan dengan seri ini. Kedua, rasa penasaran kalau kamu pengin lihat sendiri gimana sistem destruction di seri Battlefield berevolusi. Battlefield Bad Company 2 adalah salah satu titik penting dalam perjalanan itu, dan merasakan langsung jauh lebih berarti daripada cuma baca soal itu.

Game ini paling cocok buat kamu yang memang suka FPS. Kalau kamu di luar itu, aku nggak yakin campaign sependek ini bisa menahan kamu.

Terakhir, ini yang perlu kamu tahu sebelum memutuskan beli Battlefield Bad Company 2:

  • Servernya sudah mati, jadi kamu cuma dapat campaign
  • Campaign-nya bisa tamat dalam waktu kurang dari 5 jam
  • Beli saat diskon atau di harga termurah yang menurut kamu masuk akal
  • Kalau kamu menemukan toko resmi yang jual key-nya di luar Steam, jangan bayar lebih dari Rp 50.000

Dengan ekspektasi yang tepat dan harga yang tepat, Battlefield Bad Company 2 masih jadi beberapa jam yang menyenangkan. Dengan ekspektasi yang salah, kamu bakal merasa kependekan.

Review Battlefield Bad Company 2 Vietnam
Review Overview
Jadul, tapi ledakannya nendang. 7.2
Gameplay 8
Cerita 7.5
Audio 8
Musik 5
Visual 6.5
Performa 8
Bagus Destruction masih terasa berdampak dan lebih maju dari seri pertama Rasa nembak berbobot, senjata terasa berat Hit damage yang sakit bikin setiap baku tembak punya tekanan Pacing campaign rapat, isinya inti pertempuran saja, nggak bikin bosan Cerita lebih matang dari seri pertama, komedi jadi bumbu bukan menu utama Skuad Bad Company tetap menyenangkan diikuti, humornya natural Sound design senjata dan ledakan lebih nendang dari seri pertama Animasi karakter masih enak dilihat, UI dan HUD bersih dan jelas Performa stabil, nggak ada masalah kompatibilitas di PC modern
Tidak Bagus Server multiplayer sudah dimatikan EA, yang tersisa cuma campaign Campaign terlalu pendek Visual sudah kelihatan tua, terutama animasi dan model 3D Lokasi biasa aja, nggak ada yang bikin terkesan Misi Sangre Del Toro dibuat luas tapi kosong, mending sekalian linear Porsi berkendara minim, helikopter cuma jadi penumpang penembak Variasi senjata terasa kurang banyak Musik kehilangan ciri khas Battlefield, "dun-dun-dun" nggak terdengar sama sekali Ending digantung, konflik invasi Rusia nggak dituntaskan sampai sekarang Bug kecil di prolog dan NPC teman yang suka nembak ke arah kosong
Ringkasan
Battlefield Bad Company 2 adalah game yang jujur soal umurnya. Visual dan animasinya sudah kelihatan tua, lokasinya biasa aja, dan musiknya kehilangan ciri khas Battlefield. Tapi rasa nembaknya berbobot, hit damage-nya sakit, dan destruction-nya masih terasa berdampak sampai sekarang. Ceritanya lebih matang dari seri pertama, walau endingnya digantung tanpa penutup yang benar-benar menutup. Performanya stabil tanpa bug fatal. Dengan server yang sudah mati dan campaign di bawah empat jam, aku cuma merekomendasikan game ini kalau kamu mengejar nostalgia dan menemukannya di harga murah.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Ace Combat 7: Skies Unknown — Dogfight Menegangkan, Cerita Biasa, Campaign Tetap
Review Titanfall 2 — FPS Cepat, Taktis, dan Masih Worth It di 2026
Review Cities: Skylines II – City Builder Modern yang Kuat tapi Berat
Review Roblox 2025 – Gratis, Kreatif, tapi Tergantung Developer
Review Crysis 3 Remastered – Penutup Trilogi Yang Masih Sama
TOPIK:AndroidBattlefield Bad Company 2iOSPCPlaystation 3Xbox 360
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Alone in the Dark 2024
Review Game

Review Alone in the Dark: Horor Suasana Berkedok Detektif Conan

13/08/2026
Review Battlefield Bad Company 2
Review Game

Review Battlefield Bad Company 2 — Campaign Pendek yang Ledakannya Masih Nempel di Kepala

13/08/2026
Review Battlefield Bad Company
Review Game

Review Battlefield: Bad Company — Menghancurkan Tembok Jadi Alasan Utama Bertahan Sampai Tamat

02/08/2026
Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?