• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review BioShock Remastered Cover
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri
Review GameReview

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

Sebuah utopia yang hancur oleh ambisi penciptanya sendiri.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 25/07/2026 6:25 PM
Anggara Prima Nanda
Share
15 Min Baca
SHARE
BioShock Remastered
8.6 FPS penuh kejutan dan atmosfer.
Review Overview

Setelah menamatkan mode cerita utama BioShock Remastered di PC, aku bisa bilang game ini berhasil melampaui ekspektasiku sendiri. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan seri BioShock, aku belum pernah memainkan versi originalnya, dan aku juga tidak memainkan versi ini sambil melihat trailer atau gameplay terlebih dahulu. Sebelum mulai bermain, aku hanya mendapat rekomendasi bahwa game ini punya cerita yang bagus, dan aku sempat mengira game ini akan sangat horor.

Contents
Review BioShock Remastered Versi NarasiGameplayLoop Inti dan Kesan AwalKombinasi Pertarungan: Senjata dan PlasmidEksplorasi dan ResourceMekanik Favorit dan yang Kurang DisukaiMusuh dan Pertarungan Big DaddyVisual dan Desain DuniaGrafis dan Kesan Versi RemasteredDesain Dunia dan AtmosferArea Garden yang Paling DiingatAnimasi dan UICerita dan KarakterPremis dan Alur CeritaLittle Sister dan Big Daddy: Karakter Paling BerkesanEndingAudio dan MusikPerforma dan StabilitasHarga dan ValueKesimpulan

Setelah tamat, ekspektasiku ternyata jauh terlampaui. Sistem Plasmid justru menjadi kejutan terbesar yang tidak aku duga sebelumnya. Total durasi bermainku sampai tamat sekitar 14 jam, dan game ini tidak memiliki DLC, jadi seluruh review ini murni berdasarkan pengalaman menyelesaikan cerita utamanya.

Menariknya, karena aku masuk ke game ini nyaris tanpa ekspektasi visual atau gameplay sama sekali, semua kejutan yang aku temui terasa jauh lebih murni. Aku tidak sempat membandingkan dengan apa yang biasanya diperlihatkan di trailer, sehingga setiap elemen baru, entah itu senjata, Plasmid, maupun plot twist dalam cerita, benar-benar terasa seperti penemuan tersendiri bagiku sepanjang permainan.

Review BioShock Remastered Versi Narasi

Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.

Gameplay

Loop Inti dan Kesan Awal

Gameplay BioShock Remastered berfokus pada menjalankan misi utama. Aku menjelajahi setiap area untuk mencari senjata baru, mengumpulkan ramuan atau kekuatan yang disebut Plasmid, mencari Little Sister, lalu melanjutkan ke area dan cerita berikutnya.

Kesan pertamaku terhadap game BioShock Remastered langsung terasa memiliki unsur propaganda, dengan suasana yang misterius. Game ini memang punya nuansa horor, tapi lebih mengandalkan atmosfer dibanding menakut-nakuti pemain secara langsung.

Untuk kontrolnya sendiri, aku merasa cukup sederhana, meski butuh waktu untuk beradaptasi karena banyaknya pilihan senjata dan Plasmid yang bisa digunakan. Soal pacing, aku merasa tempo permainan terasa pas dari awal hingga akhir, tidak terlalu lambat maupun terlalu cepat.

Tingkat kesulitannya secara umum terasa seimbang. Bagian yang paling menyulitkan justru datang dari puzzle hacking, bukan dari pertarungan itu sendiri. Soal progresi, perkembangan karakter terasa memuaskan. Di awal permainan karakter terasa biasa saja, tapi seiring permainan berlangsung, senjata menjadi lebih kuat dan kemampuan Plasmid semakin beragam, sehingga memberikan banyak pilihan cara bermain.

Aku sendiri merasa progresi semacam ini adalah salah satu hal yang membuatku betah menjalani loop yang sebenarnya cukup repetitif, yaitu menjelajah, bertarung, lalu lanjut ke area berikutnya. Karena setiap kali aku merasa mulai terbiasa dengan satu kombinasi senjata dan Plasmid, game ini selalu punya cara untuk memperkenalkan pilihan baru yang membuatku ingin bereksperimen lagi.

Kombinasi Pertarungan: Senjata dan Plasmid

Selama bertarung, aku lebih sering menggunakan kombinasi antara senjata api dan Plasmid. Senjata digunakan sebagai sumber damage utama, sementara Plasmid aku manfaatkan untuk buff maupun efek tambahan sesuai situasi yang dihadapi.

Senjata favoritku adalah shotgun, yang sering aku kombinasikan dengan Plasmid listrik. Plasmid listrik ini juga jadi Plasmid favoritku secara keseluruhan, karena memberikan stun sekaligus damage, yang sangat membantu saat bertarung melawan musuh yang cukup kuat.

Kombinasi shotgun dan Plasmid listrik ini pada akhirnya jadi semacam gaya bermain andalanku sepanjang permainan. Biasanya aku akan menyetrum musuh terlebih dahulu supaya mereka lumpuh sejenak, baru kemudian menghabisi mereka dari jarak dekat dengan shotgun. Pola seperti ini terasa konsisten efektif di banyak situasi, meski tetap harus disesuaikan tergantung jenis musuh yang dihadapi.

Eksplorasi dan Resource

Eksplorasi di BioShock Remastered terasa menarik untuk dilakukan. Namun, membaca peta cukup membingungkan kalau belum terbiasa dengan layout dunia game ini. Untuk resource, amunisi dan item terkadang terasa kurang, dan ketersediaannya cukup bergantung pada cara bermain masing-masing pemain.

Buatku pribadi, keterbatasan resource ini justru menambah ketegangan tersendiri. Setiap kali menemukan area baru, aku jadi terbiasa untuk benar-benar menjelajah sudut demi sudut, karena satu kotak amunisi atau satu botol ramuan Plasmid bisa jadi penentu apakah aku siap menghadapi pertarungan besar berikutnya atau tidak. Rasa was-was semacam ini yang membuat eksplorasi terasa punya bobot, bukan sekadar formalitas mengumpulkan item.

Mekanik Favorit dan yang Kurang Disukai

Mekanik favoritku di BioShock Remastered sejauh ini adalah sistem Plasmid. Sistem ini memberikan sensasi menggunakan kekuatan seperti sihir di dalam game FPS, yang menurutku jadi salah satu identitas terkuat dari BioShock Remastered.

Di sisi lain, mekanik yang paling kurang aku sukai adalah puzzle hacking. Rasanya seperti sistem gacha, di mana hasilnya terasa kurang bisa diprediksi. Selain itu, manajemen senjata dan Plasmid juga cukup merepotkan karena jumlahnya banyak, sehingga membutuhkan waktu pembiasaan sebelum benar-benar nyaman menggunakannya.

Yang membuat puzzle hacking terasa lebih mengganggu buatku adalah karena kemunculannya cukup sering, jadi rasa kesalnya juga ikut terasa berulang. Aku jadi bertanya-tanya, andai mekanik ini dibuat sedikit lebih konsisten atau lebih terasa seperti keahlian yang bisa diasah, mungkin kesanku terhadap bagian ini bisa jauh lebih positif.

Musuh dan Pertarungan Big Daddy

Variasi musuh di game BioShock Remastered menurutku tidak terlalu banyak, tapi tetap memberikan tantangan yang cukup. AI musuh terasa agresif sepanjang permainan.

Yang paling berkesan tentu saja pertarungan melawan Big Daddy. Setiap kali bertarung dengannya, pertarungan itu terasa spesial dan selalu menguras banyak darah atau resource. Ditambah lagi, aku sering kali masih diganggu musuh lain saat sedang bertarung dengan Big Daddy, yang membuat pertarungan terasa semakin menegangkan dan menantang.

Setiap kali aku melihat Big Daddy dari kejauhan, ada semacam rasa was-was sekaligus penasaran, apakah aku sudah cukup siap untuk menghadapinya atau perlu mundur dulu untuk mengumpulkan resource tambahan. Perasaan seperti itu jarang aku temui di game FPS lain, dan menurutku ini jadi salah satu bukti bagaimana desain musuh di BioShock Remastered berhasil membangun tensi yang konsisten sepanjang permainan.

Visual dan Desain Dunia

Grafis dan Kesan Versi Remastered

Secara keseluruhan, grafis BioShock Remastered menurutku masih terlihat bagus, dengan nuansa game lama yang masih terasa kental. Berdasarkan trailer yang pernah aku lihat sekilas, versi Remastered ini terasa seperti peningkatan pada tekstur aset dan pencahayaan dibanding versi originalnya.

Namun, untuk ukuran game yang di-remaster pada tahun 2016, menurut pengalaman bermainku, kualitas grafisnya masih terasa agak kurang dibanding ekspektasiku terhadap sebuah versi remaster.

Desain Dunia dan Atmosfer

Dunia dalam game BioShock Remastered terasa sangat menarik. Ia menggambarkan sebuah utopia yang telah hancur, dengan suasana yang terasa sunyi dan terlihat seperti dunia yang telah mengalami kerusuhan besar. Horor yang dihadirkan lebih banyak berasal dari atmosfer ini dibanding dari jumpscare yang tiba-tiba muncul.

Kesunyian itulah yang menurutku jadi kekuatan utama dari desain dunia BioShock Remastered. Setiap kali berjalan melewati koridor atau ruangan yang kosong, aku selalu merasa ada cerita tersembunyi di baliknya, seolah dunia ini pernah hidup dan ramai, sebelum akhirnya runtuh menjadi seperti yang aku lihat sekarang. Rasa kontras antara kemegahan yang tersisa dan kehancuran yang terjadi itulah yang membuat atmosfernya terasa begitu kuat.

Area Garden yang Paling Diingat

Area yang paling aku ingat dari seluruh permainan adalah area yang disebut “Garden”. Area tersebut terasa seperti puzzle tersendiri dan cukup membingungkan untuk dilalui, tapi justru karena itu jadi salah satu momen paling membekas dari sisi eksplorasi.

Animasi dan UI

Animasi karakter maupun musuh di game BioShock Remastered aku nilai bagus. Untuk UI-nya sendiri, terasa mudah dipahami dan tidak menyulitkan selama bermain.

Cerita dan Karakter

Premis dan Alur Cerita

Premis BioShock Remastered mengisahkan sebuah dunia utopia yang anti Tuhan dan anti pemerintah, yang menjunjung tinggi kebebasan. Namun pada akhirnya, dunia tersebut berubah menjadi neraka akibat ciptaan manusianya sendiri.

Aku menilai alur ceritanya bagus, dengan plot twist yang sangat mengejutkan. Pacing narasinya sendiri terasa pas sepanjang permainan. Yang membuatku terus bermain adalah rasa penasaran terhadap sosok bernama Ryan, serta rasa penasaran terhadap sosok Little Sister.

Menurutku, cerita dan gameplay di game ini sama kuatnya. Gameplay tembak-menembak menjadi punya tujuan yang jelas karena didukung oleh cerita yang menarik, bukan sekadar aksi tanpa makna.

Rasa penasaran terhadap Ryan ini terus tumbuh seiring aku menemukan lebih banyak petunjuk tentang bagaimana utopia ini dibangun, dan bagaimana idealisme awalnya perlahan berubah menjadi kekacauan. Setiap kali aku merasa sudah mulai memahami arah cerita, game ini selalu punya cara untuk membuatku mempertanyakan ulang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Little Sister dan Big Daddy: Karakter Paling Berkesan

Karakter yang paling berkesan buatku adalah Little Sister. Jarang ada game yang menampilkan sosok anak kecil sebagai bagian penting dari cerita, dan Little Sister di sini memiliki kisah yang terasa pilu.

Selain itu, ada juga Big Daddy, yang berperan sebagai penjaga Little Sister. Ia juga menjadi salah satu karakter yang paling berkesan buatku, baik dari sisi cerita maupun dari sisi gameplay lewat pertarungan-pertarungan yang sudah aku sebutkan sebelumnya.

Hubungan antara keduanya, penjaga dan yang dijaga, menurutku jadi salah satu elemen paling menyentuh dari keseluruhan cerita. Setiap kali harus berhadapan dengan Big Daddy untuk bisa mendekati Little Sister, aku selalu merasa ada dilema tersendiri, karena di satu sisi aku butuh apa yang mereka bawa, tapi di sisi lain aku juga bisa merasakan betapa kuatnya ikatan yang digambarkan game ini di antara keduanya.

Ending

Game BioShock Remastered memiliki dua ending berbeda, dan aku sendiri mendapatkan ending yang bahagia. Ending tersebut terasa memuaskan, meskipun menurut pengalamanku, ending ini sebenarnya masih bisa dibuat lebih dramatis lagi, mengingat betapa kuatnya bangunan cerita yang sudah dibangun sepanjang permainan sebelum akhirnya mencapai penutup ini.

Audio dan Musik

Untuk musik, aku merasa biasa saja, tidak ada satu pun musik tertentu yang masih aku ingat setelah tamat bermain. Namun untuk sound effect, aku menilainya bagus. Voice acting-nya juga aku nilai bagus, mendukung penyampaian cerita dengan baik.

Performa dan Stabilitas

Selama bermain, game BioShock Remastered berjalan stabil. Aku tidak mengalami bug, tidak mengalami crash, dan tidak mengalami loading yang mengganggu. Secara keseluruhan, tidak ada masalah teknis yang memengaruhi pengalaman bermainku.

Harga dan Value

Aku membeli BioShock Remastered saat diskon dengan harga sekitar Rp34.000, dibanding harga normalnya yang sekitar Rp136.000. Menurutku, game ini sangat worth it.

Alasan utamanya, cerita game ini memiliki plot twist yang sangat menarik, gameplay FPS-nya cukup menantang, nuansa horornya tidak berlebihan, dan game ini menawarkan banyak pilihan senjata serta kemampuan Plasmid yang bisa dieksplorasi.

Kalau dihitung dari total 14 jam durasi bermainku, harga diskon yang aku bayar terasa sangat murah dibanding kualitas pengalaman yang aku dapatkan. Bahkan seandainya harus membayar harga normal sekalipun, aku merasa game ini masih tetap layak dipertimbangkan, mengingat kedalaman cerita dan variasi gameplay yang ditawarkan sepanjang permainan.

Kesimpulan

BioShock Remastered sangat aku rekomendasikan, terutama untuk kamu yang menyukai game FPS, tidak terganggu dengan suasana horor, serta tidak masalah dengan darah dan suasana yang mencekam. Sebaliknya, game ini mungkin kurang cocok untuk kamu yang tidak menyukai nuansa gelap, tidak nyaman dengan darah, atau tidak menyukai suasana yang mencekam sepanjang permainan.

Dari sisi kelebihan, BioShock Remastered menawarkan cerita yang sangat menarik dengan plot twist yang mengejutkan, gameplay FPS yang tetap seru sampai tamat, sistem Plasmid yang sangat menyenangkan untuk dieksplorasi, banyak variasi senjata, AI musuh yang cukup agresif, atmosfer dunia utopia yang hancur dan sangat menarik untuk dijelajahi, Big Daddy sebagai musuh yang berkesan, performa yang stabil sepanjang permainan, serta harga yang sangat sepadan saat dibeli diskon.

Sementara dari sisi kekurangan, puzzle hacking terasa seperti sistem gacha, manajemen senjata dan Plasmid membutuhkan waktu pembiasaan, peta cukup membingungkan untuk dibaca, resource terkadang terasa kurang tergantung gaya bermain, variasi musuh tidak terlalu banyak, area Garden terasa cukup membingungkan untuk dijelajahi, musik tidak terlalu berkesan, dan ending menurut pengalamanku masih bisa dibuat lebih dramatis lagi.

Momen paling berkesan buatku selama bermain adalah saat menggunakan kekuatan Plasmid, karena sensasi memakai kekuatan seperti sihir di tengah gameplay FPS itu benar-benar terasa unik dan menyenangkan. Di sisi lain, bagian yang paling membuatku frustrasi ada pada puzzle hacking, serta harus menunggu Little Sister muncul karena ia perlu dipanggil oleh Big Daddy terlebih dahulu.

Setelah menamatkan game ini, aku jadi tertarik untuk melanjutkan ke seri BioShock berikutnya. Alasan utamanya adalah rasa penasaran terhadap kelanjutan ceritanya, serta penasaran bagaimana gameplay-nya akan berkembang di seri selanjutnya. Kalau kamu mencari game FPS dengan cerita yang kuat, penuh kejutan, dan dibalut atmosfer dunia yang benar-benar berbeda dari kebanyakan game lain, BioShock Remastered sangat layak untuk dimainkan, terutama kalau kamu bisa mendapatkannya saat sedang diskon.

Secara pribadi, pengalaman menamatkan BioShock Remastered ini mengajarkanku untuk tidak terlalu banyak berekspektasi sebelum memulai sebuah game, karena justru dari situlah aku merasakan kejutan-kejutan yang paling murni. Aku masuk dengan bayangan bahwa ini akan jadi game horor yang menegangkan lewat jumpscare, tapi yang aku dapatkan justru jauh lebih dalam, sebuah cerita tentang ambisi manusia, kebebasan yang kebablasan, dan akibat yang harus ditanggung ketika sebuah utopia dibangun di atas fondasi yang rapuh.

BioShock Remastered
Review Overview
FPS penuh kejutan dan atmosfer. 8.6
Gameplay 10
Cerita 10
Karakter 9
Audio 8
Musik 6
Bagus Cerita kuat dengan plot twist yang mengejutkan. Gameplay FPS tetap menarik hingga tamat. Sistem Plasmid membuat pertarungan terasa lebih variatif. Atmosfer dunia utopia yang hancur terasa kuat. Big Daddy menjadi musuh yang berkesan. AI musuh cukup agresif. Performa stabil tanpa bug maupun crash selama bermain. Sangat worth it, terutama saat diskon.
Tidak Bagus Puzzle hacking terasa seperti sistem gacha Manajemen senjata dan Plasmid membutuhkan pembiasaan. Peta cukup membingungkan untuk dibaca. Resource terkadang terasa terbatas. Variasi musuh tidak terlalu banyak. Musik kurang berkesan. Ending terasa masih bisa dibuat lebih dramatis.
Ringkasan
BioShock Remastered berhasil melampaui ekspektasiku dengan perpaduan gameplay FPS yang solid, sistem Plasmid yang unik, serta cerita yang dipenuhi plot twist. Atmosfer dunia utopia yang telah hancur menjadi salah satu daya tarik terbesarnya, didukung performa yang stabil selama permainan. Meski puzzle hacking dan manajemen senjata membutuhkan pembiasaan, pengalaman secara keseluruhan tetap sangat memuaskan. Jika kamu mencari game FPS yang menawarkan cerita kuat sekaligus variasi pertarungan yang menarik, BioShock Remastered sangat layak untuk dimainkan, terutama saat sedang diskon.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Logitech G402 Hyperion Fury: Masih Enak Dipakai Setelah Bertahun-Tahun?
Review Sniper Elite 1 — Game Sniper Jadul yang Bikin Frustrasi
Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa
Review DOOM: The Dark Ages – Brutal, Cepat, dan Sinematik
Review Kena: Bridge of Spirits – Visual Pixar, Nuansa Bali, dan Kontroversi Dewasa
TOPIK:BioShockBioShock RemasterediOSmacOSNintendo SwitchPCPlaystation 3Playstation 4Xbox 360Xbox One
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?