Setelah kesuksesan besar Cities: Skylines pertama, ekspektasi terhadap sekuelnya melambung tinggi. Cities: Skylines II hadir dengan janji membawa berbagai pembaruan besar dalam simulasi pembangunan kota. Namun, sejauh mana janji tersebut benar-benar terpenuhi?
Setelah menamatkan game ini dalam 10 sesi permainan penuh di mode kreatif, aku mengulas secara mendalam pengalaman membangun kota dari nol hingga menjadi sebuah metropolis dengan populasi mencapai 300 ribu jiwa.
Review Cities: Skylines II
Silakan lihat ulasan dalam format narasi video di bawah ini, atau klik di sini untuk menontonnya secara langsung.
Gameplay Cities: Skylines II
Perbedaan yang Langsung Terasa
Begitu memasuki Cities: Skylines II, peningkatannya langsung terasa dari segi visual maupun atmosfer. Grafis kini tampil lebih modern dengan pencahayaan yang lebih realistis, efek cuaca dinamis, serta suasana kota yang terasa jauh lebih hidup. Sistem radio dalam game juga mengalami perbaikan kualitas audio, meskipun daftar lagunya cenderung cepat terasa monoton.
Namun, bukan hanya sisi visual yang mengalami perubahan. Setiap bangunan khusus kini memiliki opsi peningkatan (upgrade) yang menambah kedalaman pada aspek simulasi. Rangkaian fitur baru ini menjadi fondasi yang membuat kota terasa lebih hidup dan kompleks, meskipun tidak semuanya benar-benar esensial atau memberikan dampak yang signifikan.
Sistem Simulasi dan Manajemen: Antara Kreativitas dan Realisme
Mode kreatif menawarkan kebebasan penuh dalam membangun kota tanpa batasan anggaran. Fitur ini menjadikan permainan ideal bagi pemain yang ingin berfokus pada perancangan kota yang indah tanpa perlu memikirkan soal keuangan.Meski demikian, sistem manajemen transportasi, pendidikan, dan layanan publik tetap tersedia secara lengkap, sebagaimana pada seri sebelumnya. Bahkan kini hadir pula sejumlah tambahan, seperti pengelolaan taksi, pesawat kargo, serta jaringan jalan yang lebih kompleks.
Salah satu peningkatan yang paling terasa adalah penerapan sistem bottleneck pada jaringan listrik dan jalan. Kini, jalan secara otomatis dapat menyalurkan listrik, sehingga pemain tidak lagi perlu menarik kabel ke setiap sudut kota. Meski demikian, tanpa perencanaan yang matang terhadap tata letak serta kapasitas jaringan listrik, bottleneck tetap dapat terjadi—menjadikannya tantangan baru yang menarik untuk diatasi.
AI dan Lalu Lintas: Masih Butuh Perbaikan
Meskipun lalu lintas kini tampak lebih realistis berkat fitur seperti larangan belok, kondisi jalan licin, dan insiden kecelakaan, kecerdasan buatan untuk pengemudi dan pejalan kaki masih sering bermasalah. Dalam satu kasus, warga tetap menyeberang di permukaan jalan meskipun zebra cross telah dihapus dan digantikan dengan jalur penyeberangan bawah tanah. Kejanggalan seperti ini masih kerap terjadi dan cukup mengganggu alur permainan, terutama ketika kota sudah berkembang menjadi padat dan kompleks.
Sistem parkir dan area pemberhentian taksi, meskipun menambah kedalaman, tidak memberikan dampak yang benar-benar signifikan terhadap gameplay seiring pertumbuhan populasi kota. Banyak fitur minor pun terasa lebih seperti konsep menarik yang belum sepenuhnya matang dalam tahap penerapannya.
Zona dan Tata Kota: Lebih Bebas, Tapi Masih Tanggung
Sistem zonasi pada dasarnya masih sama, hanya saja kini terdapat beberapa penyempurnaan kecil. Misalnya, kebutuhan (demand) untuk zona perkantoran dan industri kini dipisahkan, serta ditambahkan pula kategori kebutuhan untuk perumahan kelas menengah. Fleksibilitas dalam merancang kota memang meningkat, namun tetap dibatasi oleh sejumlah kendala yang membuat kebebasan bermain terasa setengah hati jika tidak menggunakan mod.
Di sisi positif, sistem industri kini menjadi lebih sederhana: pemain hanya perlu membangun satu jenis fasilitas dan menentukan area produksinya. Pendekatan ini membuat alur permainan terasa lebih ringkas dan terstruktur, meskipun pada saat yang sama mengurangi kedalaman manajemen yang sebelumnya sangat diapresiasi oleh sebagian pemain hardcore.
Layanan Publik yang Lebih Modular
Terjadi peningkatan signifikan pada layanan publik. Kini, bangunan seperti kantor polisi, rumah sakit, dan sekolah dapat dilengkapi dengan modul tambahan, misalnya pusat penelitian, krematorium, atau unit penanggulangan bencana. Kehadiran modul-modul ini tidak hanya menambah variasi, tetapi juga memperdalam rasa imersif dalam membangun kota yang benar-benar hidup, dinamis, dan multifungsi.
Performa dan Stabilitas
Dengan spesifikasi tinggi (RTX 5070 Ti, Ryzen 7 5800X3D, 32 GB RAM, SSD NVMe), game Cities: Skylines II awalnya berjalan sangat mulus, bahkan mampu menembus lebih dari 200 FPS. Namun, ketika populasi mencapai sekitar 300 ribu, FPS anjlok drastis hingga di bawah 30 FPS. Hal ini menunjukkan bahwa game ini sangat bergantung pada kinerja CPU (CPU-bound) dan belum dioptimalkan dengan baik, terutama untuk sistem kelas menengah.
Seiring dengan berkembangnya kota, waktu loading awal dan proses pemuatan peta cenderung menjadi lebih lambat. Meskipun masih tergolong wajar saat menggunakan SSD, perbedaan kecepatannya tetap terasa; proses yang sebelumnya hampir seketika kini dapat memerlukan beberapa detik.Untuk mendapatkan pengalaman bermain yang optimal, sangat disarankan menggunakan setidaknya 32 GB RAM serta prosesor dengan kecepatan setinggi mungkin.
Mod dan Konten Tambahan
Sayangnya, dukungan modding saat ini masih cukup terbatas. Jika dibandingkan dengan Cities: Skylines pertama, komunitas modding untuk seri terbaru ini belum berkembang sejauh itu. Sebagian besar mod yang tersedia pun masih berada pada tahap eksperimental.Meski begitu, versi vanilla-nya sudah tergolong sangat lengkap dan tetap menyajikan pengalaman bermain yang memuaskan, bahkan tanpa konten tambahan berupa DLC maupun mod.
Apakah Layak Dibeli?
Game ini dibeli dengan harga normal Rp 536.999 dan dinilai masih sepadan dengan banderol tersebut. Untuk pemain baru, judul ini merupakan pilihan yang lebih solid dibandingkan seri pertamanya, karena sudah menghadirkan beragam fitur esensial tanpa perlu bergantung pada mod maupun DLC tambahan.
Target utama pemain mencakup tiga kelompok: veteran gim pembangunan kota, pemain kreatif yang menyukai mode bebas, serta pemula yang ingin merasakan simulasi pembangunan kota modern tanpa tekanan aspek ekonomi.
Namun, bagi pemain dengan spesifikasi PC yang terbatas, perlu berhati-hati: game ini cukup menuntut kinerja CPU dan konsumsi RAM. Di samping itu, sejumlah bug pada AI dan sistem lalu lintas dapat mengurangi kenyamanan bermain, terutama pada tahap-tahap akhir permainan.
Kesimpulan
Cities: Skylines II merupakan lompatan besar ke depan, meski masih jauh dari kata sempurna. Dibandingkan pendahulunya, game ini terasa lebih modern dan stabil, dilengkapi beragam fitur baru yang fungsional sekaligus memperkaya pengalaman bermain. Namun, semua itu datang dengan konsekuensi: Cities: Skylines II menuntut kesabaran ekstra dari pemain serta spesifikasi perangkat keras yang benar-benar mumpuni.
Bagi kamu yang senang membangun kota dengan detail mendalam dan menginginkan pengalaman base game yang solid tanpa bergantung pada mod sejak awal, game ini layak untuk kamu coba. Namun, jika kamu mengharapkan pengalaman yang sangat halus dan matang seperti Cities: Skylines 1 dengan ekstra modded, mungkin lebih baik menunggu beberapa pembaruan lagi.
