• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Cities: Skylines II – City Builder Modern yang Kuat tapi Berat
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Cities Skylines II
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Cities: Skylines II – City Builder Modern yang Kuat tapi Berat
Review GameReview

Review Cities: Skylines II – City Builder Modern yang Kuat tapi Berat

City builder modern dengan simulasi lebih dalam, tapi menuntut PC kencang dan kesabaran menghadapi AI lalu lintasnya.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/12/2025 6:43 PM
Anggara Prima Nanda
Share
8 Min Baca
SHARE
Cities Skylines II
7 City builder modern, berat di performa
Review Overview

Setelah kesuksesan besar Cities: Skylines pertama, ekspektasi terhadap sekuelnya melambung tinggi. Cities: Skylines II hadir dengan janji membawa berbagai pembaruan besar dalam simulasi pembangunan kota. Namun, sejauh mana janji tersebut benar-benar terpenuhi?

Setelah menamatkan game ini dalam 10 sesi permainan penuh di mode kreatif, aku mengulas secara mendalam pengalaman membangun kota dari nol hingga menjadi sebuah metropolis dengan populasi mencapai 300 ribu jiwa.

Contents
Review Cities: Skylines IIGameplay Cities: Skylines IIPerbedaan yang Langsung TerasaSistem Simulasi dan Manajemen: Antara Kreativitas dan RealismeAI dan Lalu Lintas: Masih Butuh PerbaikanZona dan Tata Kota: Lebih Bebas, Tapi Masih TanggungLayanan Publik yang Lebih ModularPerforma dan StabilitasMod dan Konten TambahanApakah Layak Dibeli?Kesimpulan

Review Cities: Skylines II

Silakan lihat ulasan dalam format narasi video di bawah ini, atau klik di sini untuk menontonnya secara langsung.

Gameplay Cities: Skylines II

Perbedaan yang Langsung Terasa

Begitu memasuki Cities: Skylines II, peningkatannya langsung terasa dari segi visual maupun atmosfer. Grafis kini tampil lebih modern dengan pencahayaan yang lebih realistis, efek cuaca dinamis, serta suasana kota yang terasa jauh lebih hidup. Sistem radio dalam game juga mengalami perbaikan kualitas audio, meskipun daftar lagunya cenderung cepat terasa monoton.

Namun, bukan hanya sisi visual yang mengalami perubahan. Setiap bangunan khusus kini memiliki opsi peningkatan (upgrade) yang menambah kedalaman pada aspek simulasi. Rangkaian fitur baru ini menjadi fondasi yang membuat kota terasa lebih hidup dan kompleks, meskipun tidak semuanya benar-benar esensial atau memberikan dampak yang signifikan.

Sistem Simulasi dan Manajemen: Antara Kreativitas dan Realisme

Mode kreatif menawarkan kebebasan penuh dalam membangun kota tanpa batasan anggaran. Fitur ini menjadikan permainan ideal bagi pemain yang ingin berfokus pada perancangan kota yang indah tanpa perlu memikirkan soal keuangan.Meski demikian, sistem manajemen transportasi, pendidikan, dan layanan publik tetap tersedia secara lengkap, sebagaimana pada seri sebelumnya. Bahkan kini hadir pula sejumlah tambahan, seperti pengelolaan taksi, pesawat kargo, serta jaringan jalan yang lebih kompleks.

Salah satu peningkatan yang paling terasa adalah penerapan sistem bottleneck pada jaringan listrik dan jalan. Kini, jalan secara otomatis dapat menyalurkan listrik, sehingga pemain tidak lagi perlu menarik kabel ke setiap sudut kota. Meski demikian, tanpa perencanaan yang matang terhadap tata letak serta kapasitas jaringan listrik, bottleneck tetap dapat terjadi—menjadikannya tantangan baru yang menarik untuk diatasi.

AI dan Lalu Lintas: Masih Butuh Perbaikan

Meskipun lalu lintas kini tampak lebih realistis berkat fitur seperti larangan belok, kondisi jalan licin, dan insiden kecelakaan, kecerdasan buatan untuk pengemudi dan pejalan kaki masih sering bermasalah. Dalam satu kasus, warga tetap menyeberang di permukaan jalan meskipun zebra cross telah dihapus dan digantikan dengan jalur penyeberangan bawah tanah. Kejanggalan seperti ini masih kerap terjadi dan cukup mengganggu alur permainan, terutama ketika kota sudah berkembang menjadi padat dan kompleks.

Sistem parkir dan area pemberhentian taksi, meskipun menambah kedalaman, tidak memberikan dampak yang benar-benar signifikan terhadap gameplay seiring pertumbuhan populasi kota. Banyak fitur minor pun terasa lebih seperti konsep menarik yang belum sepenuhnya matang dalam tahap penerapannya.

Zona dan Tata Kota: Lebih Bebas, Tapi Masih Tanggung

Sistem zonasi pada dasarnya masih sama, hanya saja kini terdapat beberapa penyempurnaan kecil. Misalnya, kebutuhan (demand) untuk zona perkantoran dan industri kini dipisahkan, serta ditambahkan pula kategori kebutuhan untuk perumahan kelas menengah. Fleksibilitas dalam merancang kota memang meningkat, namun tetap dibatasi oleh sejumlah kendala yang membuat kebebasan bermain terasa setengah hati jika tidak menggunakan mod.

Di sisi positif, sistem industri kini menjadi lebih sederhana: pemain hanya perlu membangun satu jenis fasilitas dan menentukan area produksinya. Pendekatan ini membuat alur permainan terasa lebih ringkas dan terstruktur, meskipun pada saat yang sama mengurangi kedalaman manajemen yang sebelumnya sangat diapresiasi oleh sebagian pemain hardcore.

Layanan Publik yang Lebih Modular

Terjadi peningkatan signifikan pada layanan publik. Kini, bangunan seperti kantor polisi, rumah sakit, dan sekolah dapat dilengkapi dengan modul tambahan, misalnya pusat penelitian, krematorium, atau unit penanggulangan bencana. Kehadiran modul-modul ini tidak hanya menambah variasi, tetapi juga memperdalam rasa imersif dalam membangun kota yang benar-benar hidup, dinamis, dan multifungsi.

Performa dan Stabilitas

Dengan spesifikasi tinggi (RTX 5070 Ti, Ryzen 7 5800X3D, 32 GB RAM, SSD NVMe), game Cities: Skylines II awalnya berjalan sangat mulus, bahkan mampu menembus lebih dari 200 FPS. Namun, ketika populasi mencapai sekitar 300 ribu, FPS anjlok drastis hingga di bawah 30 FPS. Hal ini menunjukkan bahwa game ini sangat bergantung pada kinerja CPU (CPU-bound) dan belum dioptimalkan dengan baik, terutama untuk sistem kelas menengah.

Seiring dengan berkembangnya kota, waktu loading awal dan proses pemuatan peta cenderung menjadi lebih lambat. Meskipun masih tergolong wajar saat menggunakan SSD, perbedaan kecepatannya tetap terasa; proses yang sebelumnya hampir seketika kini dapat memerlukan beberapa detik.Untuk mendapatkan pengalaman bermain yang optimal, sangat disarankan menggunakan setidaknya 32 GB RAM serta prosesor dengan kecepatan setinggi mungkin.

Mod dan Konten Tambahan

Sayangnya, dukungan modding saat ini masih cukup terbatas. Jika dibandingkan dengan Cities: Skylines pertama, komunitas modding untuk seri terbaru ini belum berkembang sejauh itu. Sebagian besar mod yang tersedia pun masih berada pada tahap eksperimental.Meski begitu, versi vanilla-nya sudah tergolong sangat lengkap dan tetap menyajikan pengalaman bermain yang memuaskan, bahkan tanpa konten tambahan berupa DLC maupun mod.

Apakah Layak Dibeli?

Game ini dibeli dengan harga normal Rp 536.999 dan dinilai masih sepadan dengan banderol tersebut. Untuk pemain baru, judul ini merupakan pilihan yang lebih solid dibandingkan seri pertamanya, karena sudah menghadirkan beragam fitur esensial tanpa perlu bergantung pada mod maupun DLC tambahan.

Target utama pemain mencakup tiga kelompok: veteran gim pembangunan kota, pemain kreatif yang menyukai mode bebas, serta pemula yang ingin merasakan simulasi pembangunan kota modern tanpa tekanan aspek ekonomi.

Namun, bagi pemain dengan spesifikasi PC yang terbatas, perlu berhati-hati: game ini cukup menuntut kinerja CPU dan konsumsi RAM. Di samping itu, sejumlah bug pada AI dan sistem lalu lintas dapat mengurangi kenyamanan bermain, terutama pada tahap-tahap akhir permainan.

Kesimpulan

Cities: Skylines II merupakan lompatan besar ke depan, meski masih jauh dari kata sempurna. Dibandingkan pendahulunya, game ini terasa lebih modern dan stabil, dilengkapi beragam fitur baru yang fungsional sekaligus memperkaya pengalaman bermain. Namun, semua itu datang dengan konsekuensi: Cities: Skylines II menuntut kesabaran ekstra dari pemain serta spesifikasi perangkat keras yang benar-benar mumpuni.

Bagi kamu yang senang membangun kota dengan detail mendalam dan menginginkan pengalaman base game yang solid tanpa bergantung pada mod sejak awal, game ini layak untuk kamu coba. Namun, jika kamu mengharapkan pengalaman yang sangat halus dan matang seperti Cities: Skylines 1 dengan ekstra modded, mungkin lebih baik menunggu beberapa pembaruan lagi.

Cities Skylines II
Review Overview
City builder modern, berat di performa 7
Gameplay 8
Visual 8
Musik 7
Audio 8
Komunitas 5
Performa 6
Bagus Peningkatan visual terasa jelas: pencahayaan realistis, efek cuaca dinamis, dan ambience kota lebih hidup. Sistem bangunan dengan opsi upgrade menambah kedalaman simulasi tanpa harus bergantung pada puluhan DLC. Mode kreatif memberi kebebasan penuh untuk membangun kota impian tanpa pusing soal anggaran. Manajemen kota tetap lengkap: transportasi, pendidikan, layanan publik, plus tambahan seperti taksi, pesawat kargo, dan jalan yang lebih kompleks. Sistem distribusi listrik via jalan membuat tata kelistrikan lebih praktis, tetap menantang lewat potensi bottleneck baru. Layanan publik jadi lebih modular: kantor polisi, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lain bisa ditambah modul khusus seperti pusat riset atau fasilitas darurat. Versi vanilla sudah terasa “penuh fitur”, sehingga pemain baru tidak wajib menunggu mod/DLC untuk menikmati gameplay yang dalam. Cocok untuk veteran city builder yang ingin eksplorasi desain kota modern tanpa dibatasi ekonomi, sekaligus ramah untuk pemula.
Tidak Bagus AI kendaraan dan pejalan kaki masih sering bermasalah; contoh: warga tetap nyebrang jalan walau zebra cross sudah dihapus dan diganti underpass. Beberapa fitur terasa tanggung: sistem parkir, stop taksi, dan detail kecil lain tidak memberi dampak signifikan di kota besar. Performa turun drastis saat populasi kota menyentuh 300 ribu; FPS bisa jatuh ke bawah 30 meski pakai PC kelas tinggi. Game sangat CPU-bound dan butuh RAM besar; PC mid-range berisiko keteteran di late game. Waktu loading dan pemuatan peta makin melambat seiring perkembangan kota, meski sudah pakai SSD NVMe. Dukungan modding masih terbatas; komunitas mod belum bisa menyamai kekayaan Cities: Skylines pertama. Sistem zonasi dan fleksibilitas tata kota terasa lebih bebas, tapi tetap ada batasan yang baru kerasa ketika kota makin kompleks dan mod belum banyak. Beberapa ide desain bagus seperti cuaca, lalu lintas, dan sistem tambahan masih terkesan “belum matang” di implementasi awal.
Ringkasan
Cities: Skylines II adalah langkah maju yang jelas dibanding seri pertama, dengan visual lebih modern, layanan publik modular, dan simulasi yang terasa lebih dalam bahkan dalam versi vanilla. Namun, AI lalu lintas yang masih bermasalah, kebutuhan hardware yang berat, serta performa yang menurun di kota besar membuatnya belum terasa benar-benar “beres”.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri
NAMAKORIUM Siap Rilis Early Access di Steam pada 30 Januari, Hadirkan Co-op RTS Bawah Laut
GODDESS OF VICTORY: NIKKE Umumkan Perayaan ANNIVERSARY Ketiga — Kisah Klimaks, Mode Surface Beta, dan 3 Karakter SSR Baru
Review Metro 2033 Redux: Game Survival Penuh Ketegangan
Review Titanfall 2 — FPS Cepat, Taktis, dan Masih Worth It di 2026
TOPIK:Cities: Skylines IIPC
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?