Troublemaker adalah game lokal Indonesia yang aku mainkan di PC menggunakan controller, dan aku sudah menamatkan story-nya. Setelah selesai, kesan utamaku cukup jelas: game ini punya kekuatan besar di dialog, humor kasar, dub Indonesia, dan nuansa khas anak sekolah Indonesia. Namun di sisi gameplay, terutama bagian bertarung, game ini terasa biasa saja dan cukup cepat membosankan.
Secara harga, aku membeli game ini seharga Rp48.000. Dengan harga tersebut, menurutku Troublemaker worth it. Bahkan untuk harga penuh Rp135.000, menurutku masih tidak masalah karena harganya tergolong cukup murah. Namun kalau ingin lebih aman, membeli saat diskon tetap jadi pilihan yang lebih nyaman.
Hal yang membuat Troublemaker menarik bukan semata karena gameplay tarungnya, melainkan karena suasana, dialog, dan keanehan kecil yang muncul di dalam gamenya. Ada rasa lokal yang cukup kuat, terutama dari cara karakter bicara, saling ejek, dan menggunakan kata-kata kasar. Buat pemain Indonesia, hal ini bisa terasa lebih kena karena humornya memang dekat dengan gaya obrolan anak sekolah yang sering saling bacot.
Namun, review ini juga harus jujur. Kalau dinilai dari gameplay bertarungnya saja, Troublemaker bukan game yang terlalu kuat. Combat terasa repetitif, gerakan terasa itu-itu saja, kamera kadang mengganggu, dan targeting musuh tidak selalu konsisten. Jadi, Troublemaker bagiku adalah game yang lebih kuat sebagai pengalaman komedi sekolah lokal daripada sebagai game tarung yang benar-benar solid.
Review Troublemaker Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay
Gameplay inti Troublemaker bisa dirangkum sederhana: gelud dan gelud. Fokus utamanya ada pada pertarungan antar karakter, dengan beberapa skill atau gerakan gokil yang bisa digunakan selama bermain. Bagian paling seru dari gameplay-nya menurutku justru ketika menggunakan skill aneh atau gerakan yang terlihat gokil, karena di situ game terasa punya identitas yang lebih lucu dan tidak terlalu serius.
Namun setelah dimainkan sampai tamat story, sistem pertarungannya terasa biasa saja. Gerakan bertarung terasa gitu-gitu saja dan mudah membuat bosan. Ini menjadi masalah utama karena pertarungan adalah bagian yang sering muncul dalam game. Ketika pondasi combat tidak cukup variatif, semakin lama gameplay jadi terasa repetitif.
Kontrolnya juga tidak sepenuhnya nyaman. Aku bermain menggunakan controller, dan ada beberapa bagian yang terasa kurang rapi. Bagian targeting musuh terasa tidak konsisten. Dalam pertarungan, memilih atau mengarahkan serangan ke musuh tertentu tidak selalu terasa enak. Ini cukup mengganggu, terutama ketika situasi sedang ramai.
Kamera juga menjadi masalah. Saat bertarung di tempat sempit, kamera kadang terasa tidak nyaman dan bisa menghalangi pertarungan. Dalam game yang mengandalkan gelud jarak dekat, kamera punya peran penting. Kalau kamera mengganggu pandangan, pertarungan yang seharusnya seru bisa berubah jadi tidak nyaman.
Pergantian skill atau gerakan gokil juga terasa agak susah. Begitu juga dengan tombol untuk memakai item. Hal-hal seperti ini membuat gameplay tidak terasa sehalus yang diharapkan. Bukan berarti game tidak bisa dimainkan, tetapi kenyamanannya berkurang.
Variasi aktivitas juga terasa sangat repetitif. Ada mini game, tetapi aku tidak memainkannya karena fokusku adalah menamatkan story dulu. Karena itu, mini game tidak aku bahas terlalu dalam dalam review ini. Dari pengalaman yang aku mainkan, bagian utama game lebih banyak terasa berulang di pertarungan dan alur misi.
Pacing gameplay terasa lambat. Beberapa adegan terasa seperti sengaja diperpanjang. Ini membuat ritme bermain kadang terasa menurun, apalagi ketika bagian combat-nya sendiri tidak terlalu kuat. Tingkat tantangan juga terasa biasa saja karena aku bermain di mode normal. Sistem progresinya pun terasa biasa saja, tidak ada kesan perkembangan yang benar-benar menonjol dari pengalaman bermainku.
Visual dan Desain Dunia
Dari sisi visual, Troublemaker punya dua sisi yang cukup berbeda. Untuk visual 3D, menurutku terasa kurang. Namun untuk bagian 2D, tampilannya terasa bagus dan lebih menarik. Arah desain 2D lebih punya daya tarik dibanding tampilan 3D-nya.
Art style 3D tidak terlalu menarik buatku, sedangkan 2D terasa lebih enak dilihat. Ini membuat presentasi visual game terasa tidak merata. Ada bagian yang terlihat punya karakter, tetapi ada juga bagian yang terasa kurang kuat.
Desain area atau map terasa hidup, dan ini menjadi salah satu poin yang cukup bagus. Walaupun open map-nya tergolong sangat kecil, ada kesan bahwa dunia di dalam game tidak sepenuhnya kosong. Keanehan atau anomali kecil di dalam game, termasuk aset random yang muncul, justru menjadi bagian dari daya tariknya. Masalahnya, tampilan game terasa buram, sehingga tulisan kecil atau detail aset random agak susah terlihat. Padahal, menurutku salah satu kelucuan game ini ada di aset-aset random tersebut.
Sayangnya, open map yang kecil juga terasa punya banyak aset yang copy-paste atau sama. Ini membuat eksplorasi tidak terasa terlalu luas atau bervariasi. Game memang masih punya suasana hidup, tetapi batasannya cukup terasa.
Animasi karakter, gerakan bertarung, efek serangan, dan ekspresi terasa kurang. Ini berpengaruh langsung ke combat karena animasi yang kurang kuat membuat pertarungan terasa semakin biasa saja. Untuk UI/UX, game ini terasa nyaman. Bagian antarmuka tidak menjadi masalah besar dan cukup mudah dipahami.
Cerita dan Karakter
Cerita Troublemaker menurutku menjadi salah satu bagian yang lebih menarik dibanding gameplay bertarungnya. Premisnya cukup jelas: Budi ingin tobat dari kebiasaan berkelahi, tetapi saat masuk sekolah baru, sekolah itu justru menormalkan perkelahian dan bahkan punya turnamen. Awalnya Budi tidak berniat ikut, tetapi akhirnya ikut turnamen demi pujaan hati.
Premis ini terasa cocok dengan arah game yang lucu, kasar, dan penuh situasi absurd khas sekolah. Ceritanya bukan tipe cerita yang berat, tetapi punya daya tarik karena dekat dengan humor lokal dan gaya dialog yang kasar.
Karakter utama, yaitu Budi, menurutku terasa biasa saja. Karakter teman, lawan, atau karakter sampingan juga tidak ada yang benar-benar berkesan. Namun dialog mereka tetap menjadi bagian yang membuat game ini hidup. Kekuatan Troublemaker bukan pada kedalaman karakter, tetapi pada cara karakter-karakter itu berbicara, saling mengejek, dan membangun komedi lewat kata-kata kasar.
Dialog dan humornya terasa sangat cocok. Karena game ini punya dub Indonesia dan subtitle Indonesia, humor yang dibawakan terasa lebih kena. Kata-kata kasar dalam game ini bukan sekadar tempelan, tetapi menjadi bagian dari identitas komedinya. Buat pemain Indonesia, gaya saling ejek seperti ini bisa terasa familiar, terutama karena terdengar seperti cara bercanda atau adu bacot yang sering diasosiasikan dengan anak sekolah.
Momen yang paling aku ingat adalah ketika Budi dan Rico saling adu bacot dan meneriakkan nama masing-masing dengan plesetan kata kasar. Detail seperti ini membuat Troublemaker punya ciri khas yang sulit digantikan oleh game lain yang tidak memakai nuansa lokal serupa.
Namun pacing narasinya terasa lambat. Beberapa bagian terasa seperti berjalan terlalu panjang. Walaupun dialognya lucu, ritme cerita yang lambat tetap bisa membuat pengalaman bermain terasa agak berat di beberapa titik.
Audio dan Musik
Dari sisi audio, Troublemaker terasa campuran. Musik secara umum menurutku biasa saja, tetapi musik menu terasa sangat wow. Musik menu ini menjadi bagian audio yang paling menonjol dari pengalaman bermainku.
Sound effect pertarungan, pukulan, ambience, atau efek lain terasa kurang. Ini cukup disayangkan karena game ini punya banyak bagian bertarung. Kalau sound effect pukulan atau pertarungan tidak terasa kuat, dampak combat juga ikut menurun.
Voice acting ada, dan kualitasnya menurutku biasa saja. Namun, para pengisi suara terdengar sangat antusias. Karena itu, walaupun kualitasnya tidak sampai wow, voice acting tetap terasa bagus dalam konteks game ini. Antusiasme dalam penyampaian dialog membantu humor terasa lebih hidup.
Dub Indonesia menjadi poin penting. Dengan dialog yang penuh kata kasar, saling ejek, dan humor lokal, penggunaan dub Indonesia membuat penyampaiannya terasa lebih langsung. Humor seperti ini bisa saja kehilangan kekuatan kalau tidak disampaikan dalam bahasa yang dekat dengan pemainnya. Di Troublemaker, dub Indonesia membuat komedi terasa lebih kena.
Namun secara keseluruhan, audio tidak terlalu membantu suasana game di luar bagian dialog dan voice acting. Bagian yang benar-benar menonjol tetap ada pada dialog, bukan ambience atau efek pertarungannya.
Performa dan Stabilitas
Untuk performa, game ini stabil selama aku mainkan. Aku tidak mengalami masalah besar yang membuat pengalaman bermain rusak. Ada bug di pertarungan, tetapi sifatnya minor dan tidak muncul di semua pertarungan.
Masalah teknis tersebut tidak terlalu mengganggu. Namun tampilan yang terasa buram cukup mengurangi kenyamanan. Tulisan kecil atau aset random yang seharusnya bisa menjadi bagian lucu kadang agak susah terlihat. Karena menurutku hal ini berasal dari kondisi gamenya, bagian ini layak dicatat sebagai kekurangan presentasi visual.
Jadi, dari sisi stabilitas, Troublemaker aman. Tapi dari sisi kejernihan tampilan dan beberapa bug minor di pertarungan, game ini masih punya catatan.
Harga dan Value
Aku membeli Troublemaker seharga Rp48.000, dan dengan harga itu game ini terasa worth it. Nilai utamanya ada pada pengalaman lokal, dialog kasar yang lucu, dub Indonesia, dan tema sekolah/geng yang jarang terasa seperti ini di game yang aku mainkan.
Untuk harga penuh Rp135.000, menurutku juga masih tidak masalah karena tergolong cukup murah. Namun, pilihan paling aman tetap membeli saat diskon. Dengan begitu, kekurangan di combat, visual 3D, animasi, dan repetisi gameplay terasa lebih mudah dimaklumi.
Troublemaker bukan game yang akan aku rekomendasikan karena combat-nya sangat kuat. Aku lebih merekomendasikannya karena nuansa khas Indonesia, dialog kasar, komedi, dan konsep sekolah yang terasa berbeda dari banyak game lain.
Cocok untuk Siapa?
Troublemaker cocok untuk pemain Indonesia yang penasaran dengan game lokal, terutama yang ingin melihat tema sekolah, geng, komedi, dan dialog penuh kata-kata kasar. Game ini juga cocok untuk pemain yang suka gameplay tarung, selama tidak berharap sistem combat yang terlalu dalam atau sangat variatif.
Game ini juga masih bisa dipahami oleh pemain umum yang tertarik dengan pengalaman berbeda. Nuansa lokalnya menjadi daya tarik utama, dan dialognya memberi warna yang cukup khas.
Namun, Troublemaker tidak cocok untuk pemain yang tidak suka narasi penuh kata-kata kasar sepanjang permainan. Kalau kamu tidak nyaman dengan dialog kasar, saling ejek, atau humor yang cukup ceplas-ceplos, game ini mungkin akan terasa mengganggu.
Game ini juga kurang cocok untuk pemain yang mencari combat solid, animasi pertarungan kuat, map luas, atau gameplay yang terus berkembang sepanjang permainan. Karena dari pengalamanku, bagian bertarung justru menjadi titik terlemah.
Kesimpulan
Troublemaker adalah game lokal yang kuat di dialog, humor kasar, dub Indonesia, dan eksplorasi keanehan kecil di dalam gamenya. Cerita dan dialognya menjadi bagian yang paling menarik, terutama karena gaya bicaranya terasa khas, kasar, lucu, dan cukup dekat dengan nuansa anak sekolah Indonesia.
Namun, gameplay bertarungnya lemah. Combat terasa biasa saja, gerakannya repetitif, kontrol targeting kurang konsisten, kamera kadang mengganggu, dan pacing gameplay terasa lambat. Visual 3D juga kurang menarik, walaupun visual 2D terasa bagus. Open map terasa hidup, tetapi kecil dan punya banyak aset yang terasa sama.
Dengan harga Rp48.000, Troublemaker menurutku worth it. Bahkan di harga penuh Rp135.000, masih tidak masalah karena cukup murah. Namun, kalau ingin lebih aman, beli saat diskon tetap pilihan terbaik.
Aku merekomendasikan Troublemaker untuk pemain Indonesia yang penasaran dengan game lokal, suka tema sekolah, geng, komedi, dan dialog kasar. Tapi kalau kamu mencari gameplay tarung yang kuat dan tidak repetitif, game ini mungkin akan terasa kurang memuaskan.
Setelah tamat, kesanku biasa saja. Aku menikmati dialog dan komedinya, tetapi combat-nya membuat pengalaman terasa cukup boring. Untuk dimainkan ulang, menurutku cukup sekali saja.

