Saat pertama kali memutuskan untuk memainkan kembali Crysis 2, kali ini dalam versi terbarunya, Crysis 2 Remastered, ada satu pertanyaan besar di kepala: “Masih layakkah game ini dimainkan di tahun 2025?”
Setelah kurang lebih 10 jam bermain dan menamatkan versi remaster di PC, jawabannya kini cukup jelas. Ini memang bukan sebuah game baru, melainkan versi yang dipoles dari FPS klasik yang masih terasa seru untuk dimainkan—namun sekaligus menyisakan sedikit rasa “andaikan saja…”.
Review Game Crysis 2 Remastered Versi Narasi Video
Jika kamu ingin menonton versi videonya dengan narasi, kamu bisa melihatnya di bawah ini atau melalui tautan disini.
Gameplay Crysis Remastered Series
Nostalgia vs Realita: Kesan Awal dari Pemain Lama
Aku pertama kali menamatkan Crysis 2 versi original sekitar tahun 2013. Saat itu aku memainkannya di PC kentang: prosesor Core 2 Duo dan GPU GeForce 750. Jadi ketika tahu ada versi remaster—lengkap dengan ray tracing—ekspektasiku langsung tinggi.Harus diakui, hal pertama yang benar-benar membuatku takjub adalah kualitas pencahayaannya. Ray tracing membuat dunia Crysis 2 terasa jauh lebih hidup dan imersif. Namun sayangnya, kesan “grafik modern” berhenti sampai di situ.
Gameplay Masih Solid, Tapi AI Kadang “Error”
Gameplay Crysis 2 masih terasa seru; itu tidak berubah. Perpaduan antara mode stealth dan armor pada nano-suit tetap memberikan banyak ruang untuk berkreasi. Kontrol terasa responsif, dan sensasi pertempuran melawan alien masih menantang.Namun, ada satu hal yang membuatku hanya bisa menggeleng: AI musuh dan rekan satu tim. Kadang musuh bisa bertindak cerdas, menyergap dari arah yang sama sekali tidak terduga. Namun di lain waktu, mereka malah hanya terpaku di tempat seperti patung. AI kawan pun tak kalah membingungkan: mereka sering bergerak lamban, seolah-olah tidak benar-benar terlibat dalam pertempuran.
Bug juga masih ditemukan. Subtitle kerap tidak sinkron dengan voice acting, terutama pada misi-misi awal (sekitar misi 3 hingga 5). Suara dialog sering terlambat muncul dan bahkan saling tumpang tindih.
Terdapat juga bug lain, yakni tampilan layar yang seolah-olah diperbesar sekitar 1,5 kali. Meskipun tidak terlalu mengganggu, hal ini tetap dapat mengurangi kenyamanan dan mengganggu fokus.
Grafis Lebih Tajam, Tapi Banyak yang Tak Berubah
Aku main di resolusi 1440p dengan DSR dari 1080p dan refresh rate 144Hz. Dengan spesifikasi Ryzen 7 5800X3D dan RTX 5070 Ti 16GB, performanya sangat mulus—terbantu juga oleh DLSS.Secara visual, tampilannya memang lebih tajam, terutama pada detail tekstur dan efek pencahayaan. Namun, jangan berharap ada perubahan besar. Model karakter, cutscene, sampai NPC masih sama persis seperti versi 2011. Tidak ada model baru untuk tentara maupun warga sipil yang terinfeksi. Kesan akhirnya seperti sekadar “copy-paste”, hanya ditambahkan efek visual yang lebih modern.
Namun harus kuakui, peningkatan kualitas pencahayaan membuat atmosfer gim terasa jauh lebih hidup, terutama pada saat malam hari atau ketika terjadi ledakan besar.
Audio dan Musik: Kuat Tapi Kurang Nuansa
Sound effect dalam game ini terasa luar biasa. Dentuman ledakan, desingan peluru, hingga suara makhluk asing terdengar sangat memuaskan dan memberikan dampak yang kuat. Voice acting pun cukup ekspresif dan mampu menghidupkan karakter.Sayangnya, kualitas ambience sedikit tertutupi oleh soundtrack yang terlalu dominan, sehingga detail suara latar kurang menonjol. Untungnya, musik tersebut tetap berhasil memperkuat nuansa tegang saat pertempuran besar, sehingga keberadaannya masih terasa relevan dan tidak benar-benar mengganggu.
Cerita: Masih Membingungkan
Bagi yang belum pernah memainkan Crysis 1, alur cerita Crysis 2 berpotensi terasa membingungkan. Bahkan aku yang sudah menamatkannya tetap merasa ada banyak celah dalam plot. Transisi dari Crysis 1 ke Crysis 2 terasa janggal dan kurang mendapat penjelasan memadai. Sayangnya, versi remaster ini tidak menyertakan misi tambahan atau konten cerita baru yang bisa membantu menjembatani narasi di antara keduanya.Hal yang lebih aneh lagi, karakter utama masih dibuat “bisu” dan sama sekali tidak memiliki dialog, meski game ini sudah di-remaster—berbeda dengan karakter utama di Crysis 1 maupun Crysis 3 yang jelas memiliki kepribadian dan percakapan.
Apakah Worth It?
Jika kamu belum pernah memainkan Crysis 2, versi remaster ini sangat layak dicoba—terutama jika kamu menyukai game FPS dengan pendekatan stealth sekaligus aksi baku tembak yang intens. Namun, jika kamu sudah menamatkan versi originalnya, peningkatan yang ditawarkan remaster ini terasa kurang signifikan.Crysis 2 Remastered lebih disarankan untuk dibeli sebagai bagian dari paket Crysis Trilogy Remastered saat sedang diskon, daripada membelinya secara terpisah.
Game ini tidak menawarkan replay value yang tinggi, kecuali jika kamu ingin menantang diri sendiri di mode Veteran atau Post-Human. Tidak ada fitur baru selain peningkatan visual, tidak ada penambahan konten, dan tidak ada penyesuaian pada alur cerita.
Kesimpulan
Crysis 2 Remastered adalah game klasik yang dipoles ulang dengan teknologi pencahayaan modern dan performa yang lebih mulus, namun sayangnya tidak benar-benar diberi kehidupan baru. Visualnya memang tampak lebih menawan berkat dukungan ray tracing dan DLSS, tetapi aspek gameplay dan konten pada dasarnya tetap persis seperti versi aslinya.AI yang masih inkonsisten, bug pada dialog, masalah tampilan layar yang tiba-tiba membesar, serta minimnya peningkatan pada model karakter membuat remaster ini terasa seperti upaya setengah hati, alih-alih sebuah penyegaran menyeluruh yang layak untuk game legendaris ini.
Namun, jika kamu adalah gamer kasual yang belum pernah mencoba seri ini, atau hanya ingin bernostalgia dengan visual yang lebih modern, game ini tetap mampu menyajikan pengalaman FPS yang seru dan solid.

