Saat pertama kali diumumkan, Battlefield 2042 datang dengan janji yang menggiurkan: peperangan berskala masif hingga 128 pemain, teknologi militer modern, serta peta luas yang menggabungkan kehancuran epik dengan efek cuaca dinamis. Namun, ekspektasi yang melambung tinggi itu justru berbalik arah, menjadikannya salah satu rilis paling kontroversial dalam sejarah franchise Battlefield.
Aku pribadi telah menghabiskan lebih dari 660 jam di Battlefield 2042, mulai dari masa beta hingga pembaruan terbaru pada Juli 2025. Berikut adalah pengalaman lengkap aku dengan game ini.
Review Battlefield 2042 Versi Narasi
Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan sepenuhnya dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi kanal videonya.
Gameplay Battlefield 2042
Awal yang Mengecewakan
Aku melakukan pre-order di Steam jauh sebelum rilis, dengan penuh optimisme. Namun sejak fase beta, tanda-tanda masalah sebenarnya sudah mulai terlihat. Saat perilisan, game ini justru terasa seperti sebuah downgrade dari seri sebelumnya—bahkan kalah dari Battlefield 3 yang keluar lebih dari satu dekade lalu.Banyak fitur dasar yang hilang, bug muncul di mana-mana, dan desain peta terasa terlalu luas tanpa penempatan cover yang memadai.
Salah satu kekecewaan terbesar adalah tingkat kehancuran lingkungan yang sangat minim. Padahal, seri Battlefield dikenal berkat kekacauan dan runtuhnya bangunan secara masif, namun di 2042 justru terasa seperti kemunduran besar. Pengalaman bermainnya lebih mirip Battlefield 2 yang dirilis pada 2005 dengan adukan visual dari Battlefield 3 dan sedikit levolution Battlefield 4 tapi lebih hambar, bukan sebuah game AAA modern. Melihat kualitasnya saat rilis, game ini bahkan lebih pantas menjadi judul free-to-play daripada dijual dengan harga sekitar Rp800 ribu.
Aku sempat berhenti bermain setelah Season 1 karena kondisinya begitu buruk. Saat kembali mencoba di Season 2, hasilnya masih sama mengecewakannya. Baru pada Season 4 dan 5 aku benar – benar aktif kembali, itu pun hanya untuk mengikuti event season pass. Terakhir kali aku main pada Juli 2025, khusus untuk menilai apakah game ini akhirnya sudah benar-benar membaik.
Kesimpulannya: memang ada perbaikan, tetapi masih jauh dari memadai.
Fokus pada Gameplay, Bukan Cerita
Berbeda dengan Battlefield 1 dan Battlefield V yang masih menghadirkan narasi global, Battlefield 2042 sepenuhnya berfokus pada aspek gameplay. Latar cerita—konflik antara Amerika Serikat dan Rusia dengan kelompok “No-Pats” di tengahnya—hanya berperan sebagai pemanis belaka. Tidak ada alur yang jelas mengenai alasan di balik pertempuran, apalagi motivasi yang kuat bagi tiap karakter. Akibatnya, unsur naratif terasa datar, tidak berkesan, dan mudah terlupakan.
Specialist: Ide Menarik yang Membatasi
Sistem Specialist awalnya terasa segar. Aku cukup menyukai beberapa karakter seperti Irish dengan tameng antipeluru dan penghalau proyektil, Mackay dengan grappling hook, Lis dengan roket kendali, serta Maria yang mampu menyembuhkan rekan dari jarak jauh. Sayangnya, penerapannya justru membatasi kebebasan pemain. Para spesialis hanya dibedakan lewat gadget, bukan lewat peran atau kemampuan unik yang benar-benar fleksibel. Alhasil, jika kamu tidak menyukai satu spesialis, kamu tetap terpaksa menggunakannya demi gadget yang ia miliki.
Konten yang Terasa Tipis
Dari segi persenjataan, jumlahnya tergolong sangat terbatas. Banyak di antaranya hanya hasil daur ulang dari seri sebelumnya (Battlefield 3, Bad Company, bahkan Battlefield 1942 melalui mode Portal). Senjata orisinal khas Battlefield 2042 sendiri tidak mencapai 20 unit. Variasi kendaraan pun minim, dengan praktis hanya satu model untuk setiap jenis utama.
Peta-peta yang hadir pada perilisan awal nyaris semuanya mengecewakan. Mayoritas didesain terlalu terbuka (open field), sehingga pertempuran terasa monoton dan menyulitkan pemain untuk melakukan manuver strategis. Meskipun pembaruan berikutnya menambahkan elemen perlindungan seperti bangunan dan sandbag, perubahan tersebut tetap belum mampu menghadirkan dinamika pertempuran yang berarti berbeda.
Breakthrough: Mode Andalan yang Penuh Tantangan
Sebagian besar waktuku kuhabiskan di mode Breakthrough, biasanya bersama squad acak. Mode ini menawarkan pertempuran berskala besar yang intens, namun pada awal rilis justru terasa seperti kekacauan yang sama sekali tidak terkendali. Bayangkan peta yang sempit, 128 pemain, dan roket yang datang dari segala arah—melakukan push ke objektif jadi nyaris mustahil. Kendaraan pun tidak banyak membantu, karena hampir selalu langsung hancur oleh serangan massal.
Kualitas Teknis: Perbaikan yang Terlambat
Saat pertama kali dirilis, performa game ini jauh dari kata optimal. Bahkan pemilik GPU kelas atas seperti RTX 4090 pun kesulitan mendapatkan 120 FPS yang stabil. Memasuki tahun 2025, optimisasi memang sudah membaik, tetapi ada indikasi bahwa sejumlah efek visual dikurangi atau dihilangkan demi meningkatkan performa.
Dari sisi grafis, tampilan peta memang memanjakan mata, terlebih dengan efek tornado yang menjadi ciri khasnya. Namun, sayangnya elemen tersebut lebih terasa sebagai gimmick—sekadar momen sinematik—dan belum benar-benar memberikan dampak berarti terhadap strategi permainan.
Suara tembakan dan ledakan masih terdengar memuaskan, namun suasana lingkungan terasa hampa tanpa adanya latar suara pertempuran yang imersif.
Update Konten: Stagnan
DICE memang menambahkan peta, senjata, dan spesialis baru, tetapi jumlahnya terlalu minim untuk benar-benar membangkitkan kembali minat pemain. Banyak fitur yang semestinya sudah tersedia sejak peluncuran—seperti papan skor maupun antarmuka pengguna yang layak—justru baru dihadirkan belakangan. Dibandingkan dengan Battlefield 4, perkembangan ini jelas terasa sebagai sebuah kemunduran.
Harga dan Rekomendasi
Aku membeli Battlefield 2042 seharga Rp800.000 saat masa pre-order—sebuah harga yang sama sekali tidak sebanding dengan kualitas game saat pertama kali rilis. Ironisnya, hanya berselang satu bulan setelah peluncuran, game ini sudah didiskon hingga 30%.
Pada 2025, harga normalnya turun menjadi Rp659.000. Dengan harga diskon, menurut saya nilai yang pantas adalah ketika harga game turun hingga sekitar Rp20.000, atau setidaknya mendapat potongan lebih dari 95%.
Bagi saya, itulah kisaran harga yang benar-benar sepadan dengan apa yang ditawarkan—bahkan idealnya gim ini bisa saja digratiskan, mengingat kondisi server yang kini sangat sepi. Selain itu, pembaruan terbaru yang mewajibkan fitur Secure Boot diaktifkan di BIOS juga membuat banyak pemain enggan untuk kembali.
Untuk Siapa Game Ini?
- Pemain baru: Tidak direkomendasikan, kecuali Kamu mendapatkannya di diskon sampai 95% atau game dihargai hanya Rp20.000 dan hanya ingin coba-coba.
- Veteran Battlefield: Hanya layak dicoba jika Kamu ingin eksplorasi konten atau sekadar nostalgia melihat 128 pemain di satu peta. Untuk bermain jangka panjang? Tidak.
Kelebihan dan Kekurangan
Kalau bicara soal kelebihan, terus terang tidak banyak yang bisa dibanggakan. Salah satu daya tarik utamanya adalah dukungan hingga 128 pemain dalam satu pertandingan—64 vs 64—yang menghadirkan skala peperangan besar, kacau, dan intens, sesuatu yang cukup langka di game FPS modern. Beberapa spesialis seperti Irish, Mackay, Lis, dan Maria juga menawarkan gadget unik yang benar-benar terasa berguna di medan tempur. Dari sisi presentasi, visual peta dan efek cuaca ekstrem seperti tornado memang tampak spektakuler saat pertama kali disaksikan, meski pengaruhnya terhadap gameplay secara keseluruhan tidak terlalu signifikan.
Namun, daftar kekurangannya jauh lebih panjang. Pada saat perilisan, Battlefield 2042 justru absen dari banyak fitur mendasar—bahkan scoreboard pun tidak tersedia. Desain peta terasa terlalu terbuka, kurang variasi, dan membuat setiap pertempuran terasa monoton. Koleksi senjata dan kendaraan juga terbilang minim, sehingga opsi loadout terasa sangat terbatas. Sistem spesialis yang seharusnya memberikan fleksibilitas justru mempersempit gaya bermain, sementara performa teknis pada periode awal rilis berjalan sangat buruk, bahkan di PC kelas atas.
Lebih parahnya lagi, game ini sama sekali tidak menghadirkan mode campaign. Padahal, meskipun seri Battlefield dikenal punya kualitas cerita yang naik-turun, Battlefield 1 sempat menawarkan narasi perang yang cukup memikat, sementara Battlefield V masih berupaya menyajikan plot, meski menuai kontroversi. Di 2042, aspek tersebut lenyap sepenuhnya.Situasinya diperburuk oleh keputusan desain di awal peluncuran yang bahkan tidak menyertakan sistem class. Artinya, seorang medic bisa membawa RPG, atau engineer bisa bertempur layaknya assault. Di atas kertas, kebebasan ini memang terdengar menarik, tetapi pada praktiknya justru membuat pembagian peran dalam tim menjadi kacau dan mengikis kedalaman strategi yang selama ini menjadi salah satu ciri khas utama seri Battlefield.
Semua ini berpadu dengan kondisi server yang kian sepi, membuat Battlefield 2042 terasa seperti medan perang raksasa yang kehilangan roh dan makna.
Kesimpulan
Battlefield 2042 adalah contoh nyata bagaimana ambisi besar bisa runtuh karena eksekusi yang setengah matang. Meskipun sejumlah masalah teknis telah diperbaiki, fondasi game ini tetap rapuh: konten yang minim, peta yang terasa hambar, serta keputusan desain yang justru membatasi kreativitas pemain.
Jika DICE ingin menyelamatkan waralaba ini melalui Battlefield 6, mereka perlu kembali ke akar seri Battlefield: kehancuran lingkungan yang masif, desain map yang kreatif dan dinamis, serta kebebasan taktis yang luas seperti yang dihadirkan Battlefield 4. Untuk saat ini, Battlefield 2042 lebih pantas dipertimbangkan saat sedang diskon besar-besaran, atau sekadar dijadikan pelengkap koleksi.
