• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Metro Exodus Enhanced Edition – Petualangan FPS yang Benar-Benar Tuntas
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Metro Exodus Enhanced Edition
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Metro Exodus Enhanced Edition – Petualangan FPS yang Benar-Benar Tuntas
Review GameReview

Review Metro Exodus Enhanced Edition – Petualangan FPS yang Benar-Benar Tuntas

Perpaduan cerita kuat, stealth memuaskan, dan dunia pasca-apokaliptik yang benar-benar terasa hidup.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/12/2025 6:42 PM
Anggara Prima Nanda
Share
12 Min Baca
SHARE
Metro Exodus Enhanced Edition
8 Cerita kuat, survival nyaman, dunia terasa hidup.
Review Overview

Kalau harus dirangkum dalam satu kalimat, Metro Exodus Enhanced Edition buat aku adalah gabungan antara cerita yang kuat, petualangan survival yang seru, dan grafik yang dulu terasa wah, sekarang masih tetap layak kagum. Aku menamatkan campaign utamanya dalam kurang lebih 13 jam di Story Mode, bermain dengan gaya stealth sebisa mungkin, dan jujur: ini salah satu perjalanan FPS single-player yang benar-benar terasa “selesai” ketika kredit terakhir muncul.

Contents
Review Metro Exodus Enhanced Edition Versi NarasiGameplay Metro SeriesPengalaman Bermain: Story Mode, 13 Jam yang PadatDunia Semi Open-World: Volga, Caspian, dan TaigaVolga & Caspian: Mini Sandbox yang Serius DikerjakanTaiga: Potensi Besar yang “Dibelokkan” Jadi LinearGameplay: Gunplay, Stealth, dan MusuhGunplay: Realistis Tapi Tetap NyamanStealth: Jauh Lebih Jelas dan MemuaskanMutan vs Manusia: Dua Jenis Ancaman yang BerbedaSistem Crafting & Survival: Penting, Tapi FleksibelCerita, Karakter, dan Pilihan MoralCerita Utama: Sangat KuatMiller dan Kru AuroraSistem Karma & EndingAtmosfer, Audio, dan Visual Ray TracingPerforma & Masalah TeknisHarga, Value, dan Rekomendasi

Artikel ini adalah Review Metro Exodus Enhanced Edition khusus campaign utama (base game), tanpa DLC. Semua yang aku tulis murni dari pengalaman mainku sendiri.

Review Metro Exodus Enhanced Edition Versi Narasi

Review ini juga tersedia dalam bentuk video narasi yang saya bacakan. Di video tersebut, kamu bisa menonton versi singkat dari ulasan ini. Silakan klik di sini untuk menuju channel gaming saya, atau langsung tonton melalui pemutar di bawah.

Gameplay Metro Series

Pengalaman Bermain: Story Mode, 13 Jam yang Padat

Aku main di Story Mode — bukan mode tersulit, tapi menurutku pas untuk menikmati cerita dan atmosfer tanpa terlalu pusing soal resource. Dengan durasi tamat sekitar 13 jam, pacing-nya terasa rapat dan padat, hampir tidak ada bagian yang benar-benar terasa “buang waktu”.

Gaya mainku cenderung stealth. Metro Exodus sangat mendukung cara main seperti ini: mengintip, mematikan lampu, menghindari kontak langsung, dan memilih kapan harus mengeksekusi musuh secara diam-diam. Di tingkat kesulitan Story Mode, resource tidak pernah benar-benar kritis, jadi fokusku lebih ke pengambilan keputusan moral dan cara menyelesaikan area sebersih mungkin.

Dunia Semi Open-World: Volga, Caspian, dan Taiga

Salah satu daya tarik utama Metro Exodus dibanding seri sebelumnya adalah struktur dunianya yang berubah dari terowongan sempit menjadi mini sandbox di beberapa area.

Volga & Caspian: Mini Sandbox yang Serius Dikerjakan

Volga dan Caspian adalah contoh terbaik bagaimana Metro Exodus menggabungkan kebebasan dan desain terarah.

  • Volga terasa hidup dengan kombinasi pemukiman, reruntuhan, dan ancaman di segala arah.
  • Caspian di sisi lain mungkin sekilas terlihat kosong, tapi itu memang karena temanya gurun. Kalau kamu mau mengeksplorasi, sebenarnya banyak lokasi kecil tersebar di seluruh peta—kamp, bangunan terbengkalai, titik loot, dan pertemuan random yang memperkuat nuansa dunia pasca perang nuklir.

Jadi buat aku, Caspian tidak benar-benar kosong, hanya memang sengaja dibuat memberi kesan tandus dan keras. Itu cocok dengan tema gurun yang sepi, tapi tetap punya banyak tempat menarik bagi pemain yang mau repot mengeksplorasi.

Taiga: Potensi Besar yang “Dibelokkan” Jadi Linear

Dari semua area, Taiga mungkin yang paling bikin aku campur aduk.

Konsep dasarnya keren banget: hutan lebat, suasana alam yang pekat, manusia modern yang kembali hidup semi primitif, binatang buas, bandit, area radiasi, rawa—semuanya potensial jadi peta mini sandbox yang paling menarik di game ini.

Tapi pada praktiknya, sekitar 75% bagian Taiga terasa dipaksa linear. Setelah kamu melewati satu bagian cerita, tidak ada opsi untuk benar-benar kembali dan mengeksplorasi area itu dengan bebas. Jadi, walau desain idenya sangat menarik, eksekusinya cenderung diarahkan satu jalur. Menurutku sayang sekali, karena kalau Taiga digarap seperti Volga dan Caspian, ini bisa jadi area terbaik dalam seluruh Metro Exodus.

Gameplay: Gunplay, Stealth, dan Musuh

Gunplay: Realistis Tapi Tetap Nyaman

Gunplay di Metro Exodus Enhanced Edition menurutku enak dan terasa realistis, tanpa jadi kaku. Recoil dan respons tembakan terasa pas: tidak terlalu arcade, tapi juga tidak sampai bikin frustasi. Setiap senjata memiliki “rasa” sendiri, dan modul/modifikasi menambah sensasi bahwa senjata itu benar-benar dirakit di dunia yang penuh keterbatasan.

Stealth: Jauh Lebih Jelas dan Memuaskan

Dibanding dua seri sebelumnya, sistem stealth di Metro Exodus ini jauh lebih jelas dan memuaskan. Indikator, pencahayaan, dan respon musuh terhadap suara/visibilitas terasa jauh lebih mudah dibaca, sehingga tidak menimbulkan frustasi yang “nggak jelas”.

Kekurangan utamanya ada di satu hal: mayat musuh tidak bisa diseret.
Kalau kamu membunuh atau meng-knock musuh manusia, tubuhnya akan tetap di tempat. Ini memaksa pemain untuk benar-benar berpikir matang sebelum menumbangkan seseorang—siapa yang harus diprioritaskan, apakah posisinya aman, dan apakah pemain siap kalau tubuh itu ditemukan.

Dari sisi desain stealth, ini menarik, tapi di satu sisi juga terasa agak kaku karena tidak ada opsi mengelola posisi mayat.

Mutan vs Manusia: Dua Jenis Ancaman yang Berbeda

Yang aku suka, baik mutan maupun musuh manusia punya peran dan rasa ancaman yang berbeda:

  • Mutan:
    Lebih kebal dan gesit, tapi cenderung bodoh. Mereka mengandalkan jumlah dan agresivitas.
  • Manusia:
    Lebih cerdas, bisa mengambil cover, berkomunikasi, dan memposisikan diri lebih taktis—tapi mudah mati dibanding mutan.

AI musuh menurutku cukup realistis. Tidak terasa bodoh total, tapi juga tidak terlalu “cheating” sampai seperti membaca pikiran pemain.

Sistem Crafting & Survival: Penting, Tapi Fleksibel

Workbench dan crafting di Metro Exodus jelas terasa penting. Mengatur peluru, filter gasmask, dan perbaikan senjata bukan hanya fitur kosmetik, tetapi bagian dari loop survival.

Namun, di Story Mode, kelangkaan resource hampir tidak terasa. Peluru dan material relatif cukup aman sepanjang perjalanan. Aku bisa membayangkan kalau naik ke kesulitan di atas Normal, kelangkaan resource akan berasa jauh lebih kuat dan menegangkan, tapi di mode yang kupakai sekarang, game lebih condong jadi petualangan cerita dengan elemen survival yang ramah.

Aku sendiri belum pernah main di kesulitan di atas Normal, jadi pengalamanku murni sebagai pemain yang lebih fokus pada narrative experience ketimbang hardcore survival.

Cerita, Karakter, dan Pilihan Moral

Cerita Utama: Sangat Kuat

Cerita utama Metro Exodus menurutku sangat kuat. Bukan hanya soal Artyom dan Aurora meninggalkan metro, tapi cara game ini membangun perjalanan panjang mereka—dari stasiun ke stasiun, dari harapan ke keputusasaan—itu benar-benar terasa.

Bagian cerita yang menurutku paling kuat adalah final chapter. Semua keputusan, suasana, dan tensi emosinya memuncak di sana. Game ini jelas dirancang untuk mengantar pemain pada ending yang terasa “pantas”, entah baik atau buruk.

Miller dan Kru Aurora

Dari kru Aurora, Miller adalah karakter yang paling menonjol buat aku.
Dia pemimpin militer yang tegas, kadang keras, tapi tetap mendengarkan pendapat bawahannya. Di dunia pasca perang nuklir yang kacau, Miller adalah figur yang memegang prinsip, dan dilema moralnya di akhir cerita jadi salah satu titik emosional paling kuat.

Karakter lain juga punya peran, tapi Miller benar-benar menjadi “tulang punggung” secara moral.

Sistem Karma & Ending

Salah satu hal menarik dari Metro Exodus adalah sistem karma dan beberapa ending yang bisa didapat—dengan konsekuensi yang terasa.

Pertama kali aku tamat dulu di tahun 2020, aku justru dapat karma buruk.
Alasannya simpel: aku tidak bisa membedakan mana warga lokal, mana bandit. Karena aku tidak paham bahasa Inggris/Rusia dan lebih fokus pada gameplay, aku hampir membunuh semua orang yang kutemui. Setelah mendapatkan karma buruk dan main lagi, baru aku sadar kalau kamu memakai subtitle dan memperhatikan dialog, identitas mereka jauh lebih jelas.

Setelah memahami itu, aku berhasil mendapatkan happy ending.
Kedua ending menurutku sama-sama memuaskan, karena keduanya terasa seperti hasil dari tindakan kita sendiri. Bukan cuma “pilihan A atau B di akhir”, tetapi akumulasi moral sepanjang perjalanan.

Atmosfer, Audio, dan Visual Ray Tracing

Dari segi tone, Metro Exodus Enhanced Edition lebih terasa petualangan dengan bumbu horor ringan, bukan full horror. Ada momen menekan, area gelap, dan mutan yang mengerikan, tapi overall, game ini terasa seperti perjalanan panjang yang penuh risiko dan harapan, bukan sekadar survival tanpa harapan.

Suara senjata dan efek audio terasa sangat nendang. Tembakan, ledakan, efek mutan—semuanya memberikan kesan kuat. Namun, suara lingkungan menurutku sedikit kurang kaya. Masih efektif, tapi tidak sampai level “immersif total” yang membuatku lupa kalau ini game.

Untuk musik, jujur saja, aku merasa lebih sebagai pengisi sunyi daripada sesuatu yang benar-benar memorable. Ia berfungsi, tapi tidak meninggalkan jejak mendalam setelah kredit.

Soal grafik dan ray tracing:
Aku pertama kali menyentuh Metro Exodus di era awal RTX 2000, ketika ini adalah salah satu game full ray tracing yang terasa ringan untuk saat itu. Waktu itu, grafiknya benar-benar terasa wah banget—lighting, pantulan, dan bayangan membuat dunia Metro terlihat sangat “next gen”.

Kalau aku main sekarang, di tengah banyaknya game ray tracing lain, efek itu memang terasa lebih “biasa saja”. Tapi kalau kamu baru pertama kali main Metro Exodus Enhanced Edition dengan ray tracing aktif, apalagi di PC yang kuat, aku yakin visualnya masih akan terasa sangat mengesankan.

Performa & Masalah Teknis

Di PC-ku sekarang, performa Metro Exodus Enhanced Edition stabil. Tidak ada masalah framerate berarti saat gameplay berjalan.

Masalah teknis yang paling sering kurasakan justru di awal game.
Kadang, saat pertama kali membuka game, rasanya seperti terlalu berat: bisa muncul crash atau blackscreen. Aku menduga game sedang melakukan proses seperti load shader di belakang layar, tapi sayangnya tidak ada penjelasan yang jelas dari game-nya sendiri.
Di in-game, load shader terlihat jelas ketika mengganti resolusi, tapi saat awal booting, perilaku ini bisa membingungkan, terutama bagi pemain awam.

Untuk kontrol dan UI, Metro Exodus terasa nyaman, hanya butuh sedikit penyesuaian di awal. Tidak ada hal yang benar-benar membingungkan.

Harga, Value, dan Rekomendasi

Saat review ini dibuat, harga Metro Exodus di Steam sekitar Rp 321.000.
Menurutku, untuk campaign utama Metro Exodus Enhanced Edition, harga ini masih pantas, apalagi kalau kamu tertarik dengan gabungan FPS, survival, dan cerita kuat. Kalau mau sabar, diskon 50% adalah titik yang menurutku sangat ideal untuk masuk.

Namun, untuk pemain baru, aku tidak menyarankan langsung loncat ke Metro Exodus.
Lebih baik kamu main dulu Metro 2033 dan Metro: Last Light, supaya benar-benar paham perjalanan Artyom dari awal. Metro Exodus adalah kelanjutan kisahnya, dan rasa emosional di sini akan jauh lebih kuat kalau kamu sudah mengenal karakternya sejak awal.

Game ini paling cocok untuk:

  • Penikmat FPS survival dengan tempo yang tidak terlalu cepat,
  • Pemain yang suka cerita padat dan kuat,
  • Orang yang menikmati atmosfer dunia pasca apokaliptik dengan nuansa Rusia yang kental.

Dan pada akhirnya, Review Metro Exodus Enhanced Edition dari aku bisa ditutup begini:

Metro Exodus Enhanced Edition menurut aku adalah game dengan cerita yang bagus, grafik yang wah (apalagi saat pertama kali hadir), dan petualangan survival horor yang seru.

Di era 2025, ini masih sangat layak kamu mainkan—apalagi kalau kamu siap mengikuti perjalanan Artyom dari awal sampai akhir.

Metro Exodus Enhanced Edition
Review Overview
Cerita kuat, survival nyaman, dunia terasa hidup. 8
Gameplay 9
Cerita 10
Audio 8
Musik 5
Karakter 8
Performa 8
Bagus Cerita utama kuat dan konsisten, dengan final chapter yang terasa sebagai penutup perjalanan Artyom yang benar-benar “pantas”. Struktur dunia semi open-world di Volga dan Caspian terasa niat: banyak lokasi sampingan, mini sandbox yang tetap terarah, dan eksplorasi yang berbuah payoff. Sistem stealth jauh lebih jelas dibanding seri sebelumnya; indikator cahaya dan respon musuh bikin permainan diam-diam terasa adil dan memuaskan. Gunplay terasa realistis tapi tetap nyaman, dengan senjata yang punya karakter dan modifikasi yang terasa masuk akal di dunia yang serba terbatas. Perbedaan ancaman antara mutan dan musuh manusia jelas: mutan agresif dan tahan banting, manusia taktis tapi rapuh, membuat encounter terasa beragam. Sistem crafting, workbench, dan manajemen resource memberi rasa survival yang penting tanpa menghambat ritme cerita di Story Mode. Sistem karma dan multiple ending bikin keputusan moral terasa berarti; ending baik dan buruk sama-sama terasa sebagai konsekuensi pilihan pemain. Visual ray tracing masih mengesankan untuk pemain baru, dengan pencahayaan dan atmosfer dunia yang kuat meski dirilis di era awal RTX.
Tidak Bagus Area Taiga punya konsep dunia hutan yang keren, tapi eksekusinya terlalu linear dan tidak diberi ruang eksplorasi seluas Volga dan Caspian. Mayat musuh tidak bisa diseret sehingga opsi stealth terasa kaku; pemain dipaksa ekstra hati-hati tanpa alat untuk mengelola posisi korban. Di Story Mode, kelangkaan resource hampir tidak terasa, sehingga aspek survival bisa dirasa terlalu lunak oleh pemain yang mencari tantangan berat. Suara lingkungan dan ambience masih kurang kaya; efektif, tapi tidak sampai tingkat imersi audio yang benar-benar membungkus semua momen. Musik lebih berfungsi sebagai pengisi latar daripada tema ikonik; setelah selesai main, OST-nya tidak terlalu menancap di ingatan. Masalah teknis awal seperti crash atau blackscreen saat booting bisa membingungkan pemain baru, apalagi tanpa penjelasan jelas dari game. Nilai emosional cerita akan jauh berkurang jika pemain belum mengikuti Metro 2033 dan Last Light, karena Exodus sangat bergantung pada perjalanan Artyom sebelumnya.
Ringkasan
Metro Exodus Enhanced Edition adalah FPS survival naratif yang terasa benar-benar “tuntas”: cerita utama kuat, dunia semi open-world seperti Volga dan Caspian selalu punya alasan untuk dieksplorasi, stealth dan gunplay terasa enak di tangan, sementara visual ray tracing masih sanggup bikin kagum meski gamenya bukan baru lagi.Di sisi lain, Taiga terlalu linear, stealth kaku karena mayat tidak bisa dipindahkan, aspek survival di Story Mode terasa terlalu aman, dan beberapa masalah teknis di awal booting bisa bikin ilfil. Tapi kalau kamu sudah mengikuti perjalanan Artyom dari Metro 2033 dan Last Light, Exodus Enhanced Edition masih sangat layak jadi penutup perjalanan—sebuah petualangan FPS single-player yang padat, emosional, dan memuaskan untuk diselesaikan sekali duduk.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Titanfall 2 — FPS Cepat, Taktis, dan Masih Worth It di 2026
Review INSIDE – Puzzle Minimalis Gelap yang Menggugah
Review Little Nightmares 1 + 3 DLC: Mimpi Buruk Penuh Simbol dan Makna Gelap
Review ProtoArc XK01: Unboxing dan First Impression Keyboard Lipat yang Compact, Premium, dan Bikin Produktivitas Makin Serius
Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar
TOPIK:LinuxmacOSMetro ExodusMetro Exodus Enhanced EditionPCPlaystation 4Playstation 5Xbox OneXbox Series
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?