• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review Sniper Elite V2 Remaster
Wordtura > Blog > Review > Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon
ReviewReview Game

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

Sniping memuaskan dengan X-ray mantap, tapi AI dan desain map masih jadi ganjalan.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 25/07/2026 6:27 PM
Anggara Prima Nanda
Share
16 Min Baca
SHARE
Review Sniper Elite V2 Remaster
8.2 Seru kalau dibeli diskon
Review Overview

Sniper Elite V2 Remaster adalah game yang aku mainkan di PC sampai tamat, termasuk DLC dan mode Kill Tally. Setelah menyelesaikannya, kesan utamaku cukup jelas: ini adalah game sniper yang masih seru, terutama kalau dibeli saat diskon. Dengan harga yang aku dapat, yaitu Rp51.000, pengalaman yang diberikan terasa worth it, khususnya untuk pemain yang memang suka sensasi menembak musuh dari jarak jauh.

Contents
Review Sniper Elite V2 Remaster Versi NarasiGameplayVisual dan Desain DuniaCerita dan KarakterAudio dan MusikPerforma dan StabilitasHarga dan ValueDLCCocok untuk Siapa?Kesimpulan

Game ini bukan tipe game yang menurutku kuat karena cerita atau karakter. Fokus terbesarnya ada pada gameplay sniping, cara mencari posisi aman, membaca situasi, lalu melepas tembakan dari jarak jauh dengan presisi. Di titik itulah Sniper Elite V2 Remaster terasa paling hidup. Ketika tembakan berhasil mengenai sasaran, apalagi dengan slow motion dan efek X-ray, ada rasa puas yang cukup sulit digantikan oleh game tembak-tembakan biasa.

Namun, game ini juga punya beberapa hal yang cukup mengganggu. AI musuh bisa terasa tidak konsisten, desain map terasa lebih sempit dan linear, beberapa situasi memaksa pemain keluar dari gaya main hati-hati, dan multiplayer menurut pengalamanku sudah tidak punya nilai berarti karena tidak ada player sama sekali. Jadi, ini bukan game yang sempurna. Tapi sebagai game sniper yang dibeli murah saat diskon, Sniper Elite V2 Remaster masih punya daya tarik yang kuat.

Review Sniper Elite V2 Remaster Versi Narasi

Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.

Gameplay

Gameplay inti Sniper Elite V2 Remaster menurutku sederhana tetapi efektif: menembak musuh dari jauh, mencari posisi aman, dan menyelesaikan misi dengan pendekatan yang hati-hati. Daya tarik utamanya bukan sekadar menembak, tetapi bagaimana tembakan itu disiapkan. Aku harus memperhatikan posisi, jarak, kondisi musuh, dan kapan waktu yang tepat untuk menarik pelatuk.

Bagian yang paling seru tentu saja adalah sniping itu sendiri. Menembak musuh dari jauh, mengenai bagian vital, atau bahkan mengenai bagian bawah tubuh karena efek X-ray [( ͡° ͜ʖ ͡°)], membuat setiap tembakan terasa punya dampak. Efek slow motion dan X-ray menjadi salah satu elemen paling memuaskan di game ini. Ketika peluru meluncur, kamera mengikuti arah tembakan, lalu memperlihatkan dampaknya ke tubuh musuh, rasanya benar-benar menjadi daya tarik utama.

Sensasi itu makin kuat ketika fitur sniping realistis diaktifkan. Dalam pengalamanku, ketika angin, gravitasi, dan lung atau tarikan napas yang terbatas aktif, setiap tembakan terasa lebih bermakna. Tembakan jarak jauh tidak lagi hanya soal mengarahkan crosshair ke kepala musuh, tetapi juga memperhitungkan kondisi tembakan. Saat berhasil mengenai target dari jauh dalam mode seperti ini, ada rasa penghargaan tersendiri. Rasanya seperti kemampuan bermain benar-benar berkembang.

Kontrolnya juga cukup enak dan mudah dipahami. Dibanding pengalaman lamaku dengan Sniper Elite 1, kontrol di Sniper Elite V2 Remaster terasa jauh lebih nyaman. Sniper Elite 1 menurutku terasa tidak enak parah dari sisi kontrol, sementara game ini lebih mudah diterima dan dimainkan. Perbandingan ini membuat V2 Remaster terasa lebih bersahabat, terutama untuk pemain yang baru masuk ke seri ini atau belum terbiasa dengan gameplay sniper.

Namun, stealth di game ini tidak selalu terasa mulus. Kadang stealth terasa ribet karena musuh mudah sadar. Saat ketahuan, situasi bisa langsung berubah kacau. Di satu sisi, ini membuat gameplay jadi lebih tegang dan tetap seru. Di sisi lain, kondisi itu juga bisa sangat menyebalkan, terutama karena AI musuh terasa tidak konsisten. Kadang musuh terlihat seperti buta, tetapi di momen lain mereka terasa seperti punya mata elang.

Pacing gameplay-nya naik-turun. Saat mengintai dan mencari posisi, game terasa pelan. Tetapi begitu ketahuan, suasananya bisa langsung intens. Pola ini sebenarnya cocok untuk game sniper karena ada perpindahan antara fase tenang dan fase panik. Masalahnya, ketika AI atau spawn musuh mulai terasa janggal, ketegangan itu bisa berubah menjadi rasa kesal.

Untuk variasi, menurutku Sniper Elite V2 Remaster cukup punya variasi misi, area, musuh, dan situasi. Beberapa bagian memang terasa mirip, tetapi tidak sampai membuatku boring. Game ini tetap punya cukup banyak momen yang membuatku ingin lanjut menyelesaikan misi berikutnya.

Tantangannya sangat bergantung pada tingkat kesulitan. Aku bermain di mode custom, dengan musuh kelas Marksman, sniping realistis aktif, dan alat bantuan hidup seadanya. Dalam kondisi itu, tantangannya terasa pas: tidak terlalu mudah, tetapi bisa sangat sulit. Ini membuat permainan terasa lebih serius tanpa terasa sepenuhnya tidak adil, meskipun ada beberapa momen yang terasa menyebalkan karena perilaku musuh.

Sistem progresinya juga terasa memuaskan, bukan karena ada penjelasan progresi yang besar, tetapi karena perkembangan kemampuan bermain terasa nyata. Di awal, pemain mungkin belum jago menembak. Namun lama-lama, aku mulai terbiasa membaca tembakan, bahkan bisa sniping tanpa terlalu bergantung pada fitur lung atau tarik napas. Perkembangan skill seperti ini terasa lebih personal dan memuaskan.

Visual dan Desain Dunia

Dari sisi visual, aku terakhir memainkan versi bukan remaster sekitar 2014, jadi detail versi lamanya tidak terlalu aku ingat. Namun, dari ingatan yang tersisa, visual Sniper Elite V2 Remaster memang terasa jauh berbeda dari versi lama. Meski begitu, peningkatannya tidak sampai membuat game ini terasa seperti game yang sepenuhnya berbeda. Remaster-nya terasa lebih baik, tetapi identitas lamanya tetap terasa.

Desain map menjadi salah satu bagian yang cukup terasa sebagai kekurangan. Menurutku map di Sniper Elite V2 Remaster terasa sempit. Dibanding Sniper Elite 1 yang terasa lebih luas, V2 Remaster terasa lebih linear. Akibatnya, kebebasan menembak terasa berkurang. Untuk game sniper, ruang dan pilihan posisi adalah hal yang penting. Ketika area terasa sempit, pendekatan bermain juga jadi terasa lebih terbatas.

Walaupun begitu, suasana perang dan kehancuran masih cukup terasa. Beberapa map memakai konsep suara dengan cukup menarik. Misalnya, ketika ada ledakan atau suara nyaring, pemain bisa menembak di saat yang bersamaan agar suara tembakan sniper tersamarkan. Menurutku, elemen seperti ini membuat suasana perang tidak hanya jadi latar visual, tetapi juga masuk ke gameplay.

Killcam jelas menjadi daya tarik visual utama. Slow motion dan X-ray terasa mantap, dan efek ini membuat setiap tembakan berhasil terasa lebih dramatis. Untuk game yang fokus pada sniping, fitur seperti ini sangat penting karena memberi kepuasan langsung kepada pemain.

UI-nya juga cukup nyaman dan mudah dipahami. Tidak ada bagian UI yang menurutku terlalu mengganggu pengalaman bermain. Informasi yang diperlukan terasa cukup jelas, sehingga fokus utama tetap bisa berada pada gameplay.

Cerita dan Karakter

Dari sisi cerita, Sniper Elite V2 Remaster terasa biasa saja. Premisnya menurutku seperti sebuah tim khusus intel yang menjalankan misi rahasia. Ceritanya lebih terasa sebagai alasan untuk menjalankan misi daripada sesuatu yang benar-benar kuat atau membekas.

Karakter utamanya juga terasa biasa saja. Tidak ada karakter musuh atau tokoh lain yang benar-benar berkesan untukku. Setelah tamat, tidak ada momen cerita yang benar-benar aku ingat. Ini memperjelas bahwa kekuatan utama game ini bukan pada narasi, melainkan pada gameplay sniping.

Pacing narasinya terasa seadanya. Game ini tidak terasa seperti game dengan cerita berat. Buatku, itu bukan masalah besar selama pemain memang datang untuk pengalaman menembak jarak jauh. Tetapi kalau kamu mencari game yang punya karakter kuat, konflik mendalam, atau cerita yang membekas, bagian ini mungkin akan terasa kurang.

Spoiler tidak terlalu menjadi masalah dalam review ini karena memang tidak ada momen cerita besar yang aku rasa perlu dibahas detail. Cukup dikatakan bahwa cerita berfungsi sebagai pengantar misi, bukan sebagai alasan utama untuk memainkan game ini.

Audio dan Musik

Audio di Sniper Elite V2 Remaster cukup membantu suasana. Musiknya memang tidak menjadi bagian yang sangat membekas, tetapi cukup berguna dalam membangun tensi. Bahkan, musik bisa menjadi petunjuk gameplay. Ketika musik action muncul, itu seperti tanda bahwa posisi sudah ketahuan. Ketika musik masih kalem, berarti situasi relatif aman.

Ini menjadi hal yang menarik karena musik punya dua sisi: membantu suasana, tetapi juga bisa menjadi semacam indikator kondisi permainan. Buatku, itu menjadi keuntungan tersendiri karena pemain bisa membaca situasi bukan hanya dari visual, tetapi juga dari audio.

Sound effect tembakan menjadi salah satu bagian audio yang paling memuaskan. Suara tembakan terasa sangat menggelegar. Untuk game sniper, suara senjata punya peran besar dalam membangun kepuasan. Di sini, tembakan terasa punya bobot, terutama ketika dikombinasikan dengan killcam dan efek X-ray.

Voice acting ada, tetapi kualitasnya menurutku biasa saja. Tidak buruk sampai merusak pengalaman, tetapi juga tidak cukup kuat untuk membuat karakter atau cerita terasa lebih hidup. Sekali lagi, bagian ini memperkuat kesan bahwa Sniper Elite V2 Remaster lebih menjual pengalaman bermain daripada narasi.

Performa dan Stabilitas

Di PC, game ini terasa stabil selama aku mainkan. Aku tidak mengalami bug besar, crash besar, atau masalah teknis yang mengganggu secara serius. Masalah teknis tidak terlalu mengganggu pengalaman bermain.

Namun, ada beberapa hal dalam gameplay yang terasa seperti masalah desain atau setidaknya terasa janggal. Spawn musuh kadang terasa aneh. Ada momen ketika musuh seperti muncul tiba-tiba di posisi yang sebelumnya sudah dicek dan tidak ada siapa-siapa. Setelah mati atau mengulang dari checkpoint, posisi musuh juga kadang terasa berubah. Musuh yang seharusnya ada di satu tempat bisa tidak ada, atau kadang tetap ada.

Aku tidak tahu apakah ini memang pola game atau error, tetapi efeknya tetap sama: menyebalkan. Apalagi dalam game yang menuntut pemain bermain hati-hati, konsistensi posisi musuh sangat penting. Ketika spawn atau checkpoint terasa tidak stabil, rencana yang sudah dibuat bisa terasa percuma.

AI musuh juga menjadi salah satu titik paling mengganggu. Kadang musuh seperti tidak sadar dengan hal yang seharusnya terlihat jelas, tetapi di momen lain mereka seperti punya penglihatan terlalu tajam. Aim musuh sniper dan MG juga kadang terasa terlalu akurat sampai terasa seperti “citer”. Ini membuat beberapa bagian terasa tidak sepenuhnya adil.

Harga dan Value

Aku membeli Sniper Elite V2 Remaster seharga Rp51.000. Dengan harga itu, menurutku game ini worth it, terutama kalau kamu suka gameplay sniping. Sensasi menembak dari jauh, killcam, X-ray, dan mode sniping realistis sudah cukup membuat pengalaman bermain terasa memuaskan.

Namun, aku lebih menyarankan game ini dibeli saat diskon. Untuk full price, rasanya kurang bagus, terutama karena multiplayer menurut pengalamanku sudah tidak punya nilai. Di gameplay part terakhir, tidak ada player sama sekali, jadi nilai multiplayer praktis tidak ada. Karena itu, value game ini lebih kuat sebagai pengalaman single-player dan DLC, bukan sebagai paket lengkap yang masih hidup dari sisi multiplayer.

Kalau kamu membeli game ini dengan ekspektasi sebagai game sniper single-player yang fokus pada misi dan tembakan jarak jauh, game ini masih layak. Tetapi kalau kamu berharap ada pengalaman multiplayer yang aktif, itu bukan alasan yang kuat untuk membeli.

DLC

Aku memainkan DLC dan juga mode Kill Tally. Secara umum, DLC cukup menambah pengalaman. Namun, mode Kill Tally terasa biasa saja. Mode ini lebih terasa seperti mode serangan gelombang musuh yang makin sulit, tanpa hal yang terlalu menarik.

Dari bagian DLC atau mode tantangan, yang paling menarik menurutku adalah misi assassination atau misi membunuh Führer. Bagian itu lebih punya daya tarik dibanding Kill Tally karena terasa lebih sesuai dengan kekuatan utama game ini: menjalankan misi, mencari celah, lalu menyelesaikan target dengan pendekatan sniper.

Jadi, DLC bisa dibilang memberi tambahan isi yang cukup, tetapi tidak semuanya sama menarik. Kalau fokusnya hanya Kill Tally, menurutku itu bukan bagian yang terlalu spesial. Namun sebagai tambahan pengalaman setelah tamat, DLC tetap punya nilai.

Cocok untuk Siapa?

Sniper Elite V2 Remaster cocok untuk pemain yang suka game sniper, baik pemula maupun pemain yang lebih berpengalaman. Untuk pemula, game ini masih bisa dinikmati karena tingkat kesulitannya bisa disesuaikan. Untuk pemain yang lebih expert, mode custom dengan sniping realistis bisa memberi tantangan yang jauh lebih memuaskan.

Game ini juga cocok untuk pemain yang suka misi yang tidak terlalu ribet. Kamu bisa bermain hati-hati, mencari posisi aman, dan menunggu momen terbaik untuk menembak. Tetapi kalau kamu tipe pemain yang lebih suka bermain brutal, itu juga masih bisa dilakukan, walaupun risiko situasinya menjadi kacau tentu lebih besar.

Sebaliknya, game ini tidak terlalu cocok untuk pemain yang mudah bosan dengan pola misi yang terasa mirip. Beberapa bagian memang punya rasa yang serupa, meskipun menurutku tidak sampai boring. Game ini juga mungkin kurang cocok untuk pemain yang mencari cerita kuat dan karakter berkesan, karena dua hal itu bukan kekuatan utamanya.

Kesimpulan

Sniper Elite V2 Remaster adalah game sniper yang masih seru, terutama kalau dibeli saat diskon. Kekuatan utamanya ada pada sensasi sniping, killcam slow motion, efek X-ray, dan kepuasan ketika berhasil mengenai musuh dari jauh, apalagi saat fitur sniping realistis diaktifkan. Dalam mode yang lebih realistis, tembakan berhasil terasa lebih memuaskan karena pemain benar-benar harus memperhitungkan kondisi sebelum menembak.

Di sisi lain, game ini punya beberapa kekurangan yang cukup jelas. Ceritanya biasa saja, karakter tidak berkesan, map terasa sempit dan linear, AI musuh tidak konsisten, dan beberapa situasi bisa terasa menyebalkan karena spawn atau checkpoint yang janggal. Multiplayer juga tidak menjadi nilai tambah karena menurut pengalamanku sudah tidak ada player.

Meski begitu, setelah menamatkan game utama dan DLC, aku tetap merasa puas. Sniper Elite V2 Remaster bukan game yang sempurna, dan bagiku cukup sekali saja untuk dimainkan. Tetapi untuk harga Rp51.000, pengalaman yang diberikan terasa worth it. Kalau kamu suka game sniper, suka menembak dari jauh, dan ingin merasakan kepuasan dari tembakan presisi dengan efek X-ray yang dramatis, game ini masih layak dicoba saat diskon.

Review Sniper Elite V2 Remaster
Review Overview
Seru kalau dibeli diskon 8.2
Gameplay Campaign 9
Cerita 6
Audio 8
Musik 8
Visual 8
Performa 10
Bagus Gameplay sniping menjadi fokus utama. Killcam slow motion dan efek X-ray terasa menonjol. Mode sniping realistis membuat tembakan lebih menantang. Kontrol cukup mudah dipahami. Difficulty dan mode custom bisa disesuaikan. Beberapa map memakai suara ledakan untuk menyamarkan tembakan. Sound effect tembakan terasa kuat. UI mudah dipahami. DLC menambah konten setelah tamat.
Tidak Bagus Map terasa sempit dan linear. Kebebasan memilih posisi tembak terasa terbatas. Stealth dan deteksi musuh terasa tidak konsisten. Akurasi musuh sniper dan MG terasa terlalu tinggi. Beberapa situasi misi memaksa pemain bermain lebih rusuh. Spawn dan posisi musuh setelah checkpoint kadang terasa janggal. Cerita hanya terasa sebagai pengantar misi. Karakter tidak terlalu berkesan. Mode Kill Tally terasa biasa saja. Multiplayer tidak memberi nilai tambah karena tidak ditemukan player.
Ringkasan
Sniper Elite V2 Remaster masih terasa seru sebagai game sniper, terutama karena sensasi menembak dari jauh, slow motion, X-ray, dan mode sniping realistis yang membuat setiap tembakan berhasil terasa memuaskan. Visual remaster terasa lebih baik, audio tembakan menggelegar, dan performa di PC stabil. Namun, cerita biasa saja, map terasa linear, AI musuh tidak konsisten, dan multiplayer praktis tidak punya nilai. Dengan harga Rp51.000, game ini worth it jika dibeli saat diskon.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Fall Guys 2025 – Masih Seru atau Sudah Sepi?
Review Hell Let Loose – Realistis, Lambat, tapi Brutal
Review Stumble Guys PC – Seru, Ramai, Tapi Terasa Port Mobile
Review Troublemaker — Game Lokal dengan Dialog Kuat, tapi Combat Terasa Lemah
Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa
TOPIK:Nintendo SwitchPCPlaystation 4Sniper EliteSniper Elite V2 RemasterXbox One
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?