• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Metro Last Light Redux
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa
Review Game

Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa

Sekuel Metro yang lebih halus, lebih gelap, dan jauh lebih dewasa.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/12/2025 6:43 PM
Anggara Prima Nanda
Share
11 Min Baca
SHARE
8.5 Horor metro intens, lebih halus tapi tetap bermasalah
Review Overview

Metro Last Light Redux adalah sekuel dari Metro 2033 yang kembali mengajak pemain menyusuri dunia pasca-apokaliptik yang kelam dan menegangkan. Dengan peningkatan kualitas grafis, gameplay yang lebih responsif, serta narasi yang lebih matang dan mendalam, game ini sukses memikat para penggemar FPS bertema survival horror.

Namun, apakah Metro Last Light Redux benar-benar mampu menyajikan pengalaman yang nyaris sempurna? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Contents
Review Metro Last Light Redux Versi Narasi VideoGameplay Metro SeriesDetail Review Metro Last Light ReduxLatar Belakang Cerita & SettingGameplay: Kombat Lebih Baik, Tapi Masih Ada MasalahVisual & Desain: Atmosfer yang ImersifNarasi & Karakter: Cerita yang Lebih DalamAudio: Atmosfer Menegangkan, tapi Voice Acting KurangDurasi & Nilai Ulang MainPerforma Teknis: Stabil, tapi Ada BugPerforma Teknis: Stabil, tapi Ada Bug yang MenggangguTarget Audiens & Rekomendasi: Cocok untuk Pemain DewasaKelebihan vs Kekurangan: Atmosfer Horor yang Memukau, tapi Masih Ada KekuranganFAQ (Pertanyaan Umum)Apakah Metro Last Light Redux cocok untuk pemain kasual?Berapa lama durasi menyelesaikan game?Apakah ada perbedaan signifikan dengan versi aslinya?Kesimpulan: Atmosfer Horor yang Memukau, tapi Masih Ada Kekurangan

Review Metro Last Light Redux Versi Narasi Video

Jika kamu tidak ingin membaca, kamu bisa menonton versi video dengan narasi lengkapnya di sini.

Gameplay Metro Series

Detail Review Metro Last Light Redux

Latar Belakang Cerita & Setting

Metro Last Light Redux melanjutkan kisah Artyom, protagonis dari Metro 2033. Cerita ini berfokus pada dampak dari bad ending di seri sebelumnya, di mana Artyom bersama faksinya yaitu Polis, menghancurkan rumah Dark Ones dengan rudal yang di temukan di D6. Game ini menggali lebih dalam tentang ras Dark Ones dan efek kehancuran yang ditimbulkan oleh keputusan Artyom.

Setting dunia masih sama seperti Metro 2033, tetapi kali ini, pemain lebih banyak menjelajahi permukaan yang hancur akibat perang nuklir. Kota Moscow yang rusak, udara beracun, dan fenomena aneh semakin memperkaya atmosfer game ini.

Gameplay: Kombat Lebih Baik, Tapi Masih Ada Masalah

Gameplay Metro Last Light Redux mengalami peningkatan signifikan dibandingkan pendahulunya. Sistem kombat dan stealth menjadi lebih halus, dengan variasi senjata yang lebih banyak. Pemain juga bisa mempersiapkan senjata sesuai kebutuhan, seperti senjata senyap untuk misi stealth karna biasanya ada pedagang jika kita memasuki area dengan suasana survival yang berbeda.

Namun, beberapa elemen gameplay masih menyisakan masalah. Manajemen amunisi memang tetap sama, tetapi sistem oksigen terasa terkuras terlalu cepat. Dalam sekitar lima menit, oksigen bisa habis lebih cepat jika pemain memilih untuk menjelajah, sementara persediaannya sendiri sangat terbatas hingga pertengahan permainan. Kondisi ini memaksa pemain untuk bermain terburu-buru. Di sisi lain, NPC sering bergerak sangat lambat, sehingga makin banyak oksigen yang terbuang percuma.

Fitur baru, seperti kemampuan mengelap kaca masker oksigen yang kotor akibat cipratan air, lumpur, atau darah, memang menambah nuansa realisme. Namun, hal tersebut tetap belum mampu menutupi kelemahan utama pada sistem oksigen yang masih terasa kurang seimbang.

Visual & Desain: Atmosfer yang Imersif

Grafis Metro Last Light Redux mengalami peningkatan signifikan dibandingkan versi sebelumnya, terutama dalam hal desain lingkungan. Dunia permukaan yang hancur dan lorong metro yang gelap disajikan dengan detail yang sangat mendalam dan memberikan pengalaman yang imersif. Namun, detail karakter dan monster terasa kurang memadai, terutama jika dimainkan pada tahun 2025 dan seterusnya. Meskipun demikian, pada masa peluncurannya, visual karakter tersebut masih tergolong mengesankan dan berkualitas baik.

Detail senjata cukup bagus, tetapi kurang terlihat karena suasana gelap dan tidak adanya animasi pemeriksaan senjata seperti di game modern.

Narasi & Karakter: Cerita yang Lebih Dalam

Cerita Metro Last Light Redux lebih kompleks dan emosional dibandingkan pendahulunya. Artyom, sang protagonis, harus menghadapi konsekuensi dari keputusannya di Metro 2033. Game ini juga memperkenalkan lebih banyak tentang Dark Ones dan dampak kehancuran rumah mereka.

Pilihan moral masih ada, dan setiap keputusan pemain bisa memengaruhi akhir cerita. Namun, detail cerita hanya bisa diketahui melalui catatan yang tersebar di seluruh game, yang mungkin dilewatkan beberapa pemain.

Audio: Atmosfer Menegangkan, tapi Voice Acting Kurang

Soundtrack dan efek suara game ini sangat bagus, menciptakan atmosfer yang menegangkan. Namun, voice acting dalam bahasa Inggris terkesan datar dan kurang emosional. Sebaliknya, dub bahasa Rusia atau Ukraina terasa lebih hidup.

Masalah suara dialog NPC yang hilang atau hampir tak terdengar, seperti di Metro 2033, masih ada di game ini.

Durasi & Nilai Ulang Main

Metro Last Light Redux menawarkan pengalaman bermain yang cukup padat. Jika kamu fokus menyelesaikan cerita utama tanpa banyak eksplorasi, game ini bisa diselesaikan dalam sekitar 8 jam. Namun, jika kamu suka menjelajahi setiap sudut dunia game dan mencari catatan tersembunyi, durasinya bisa mencapai 10–12 jam.

Game ini juga menawarkan dua mode tambahan yang bisa disesuaikan dengan preferensi pemain:

  • Spartan Mode: Cocok untuk pemain yang lebih suka aksi cepat dan intens.
  • Survival Mode: Lebih menekankan aspek horor dan survival, cocok untuk pemain yang ingin merasakan ketegangan sebenarnya dari dunia pasca-apokaliptik.

Selain itu, ada beberapa tingkat kesulitan yang bisa dipilih, mulai dari Normal hingga Ranger Hardcore. Di mode Ranger Hardcore, pemain tidak memiliki UI atau HUD, damage yang diterima lebih tinggi, dan sumber daya sangat terbatas. Ini adalah tantangan ekstra bagi pemain yang ingin menguji keterampilan mereka.

Namun, nilai ulang main game ini tergantung pada preferensi pemain. Jika kamu hanya tertarik pada cerita, mungkin game ini cukup dimainkan sekali. Tapi, bagi pemain yang menyukai tantangan atau ingin mencoba mode kesulitan tinggi, Metro Last Light Redux masih bisa memberikan pengalaman yang menarik.

Performa Teknis: Stabil, tapi Ada Bug

Secara umum, performa game ini stabil tanpa frame drop. Namun, ada bug fatal di salah satu stage yang membuat pemain tidak bisa mengklik apa pun. Bug ini sangat mengganggu dan memengaruhi pengalaman bermain.

Performa Teknis: Stabil, tapi Ada Bug yang Mengganggu

Secara umum, Metro Last Light Redux menawarkan performa yang stabil di platform PC. Saya memainkan game ini dengan resolusi DSR 2K, dan pengalaman bermainnya cukup lancar tanpa frame drop yang signifikan. Bahkan, masalah frame drop yang sering terjadi di Metro 2033 (seperti di stage jembatan metro) tidak terulang di game ini.

Namun, ada satu bug yang cukup fatal dan sangat mengganggu. Di salah satu stage, game tiba-tiba tidak merespons klik mouse, membuat pemain tidak bisa berinteraksi dengan apa pun. Bug ini hanya terjadi di stage tersebut, tetapi cukup merusak momentum permainan. Jika kamu penasaran, kamu bisa melihat contoh bug ini di gameplay saya di Part 8, menit ke-6.

Target Audiens & Rekomendasi: Cocok untuk Pemain Dewasa

Metro: Last Light Redux adalah gim yang dapat dinikmati oleh berbagai tipe pemain, mulai dari pemain kasual hingga penggemar FPS hardcore. Bagi mereka yang menyukai tantangan, mode Ranger Hardcore menawarkan pengalaman bermain yang sangat intens, dengan keterbatasan sumber daya serta ketiadaan UI/HUD yang membuat setiap keputusan terasa lebih krusial.

Namun, perlu diingat bahwa game ini memuat konten dewasa yang jauh lebih eksplisit dibandingkan pendahulunya. Adegan gore yang lebih brutal, unsur vulgar yang cukup menonjol, hingga ketelanjangan membuat game ini lebih tepat dimainkan oleh mereka yang berusia 21 tahun ke atas.Walaupun secara resmi mengantongi rating 18+, beberapa adegan dan tema yang dihadirkan tetap berpotensi tidak pantas atau mengganggu bagi pemain yang lebih muda.

Bagi para penggemar cerita pasca-apokaliptik dan suasana horor yang mencekam, Metro Last Light Redux merupakan pilihan yang sangat tepat. Namun, jika kamu mencari permainan dengan gameplay yang lebih santai atau ramah untuk semua usia, game ini mungkin bukan opsi yang paling sesuai.

Kelebihan vs Kekurangan: Atmosfer Horor yang Memukau, tapi Masih Ada Kekurangan

Metro Last Light Redux memiliki banyak hal yang patut diapresiasi. Pertama, atmosfer horor game ini benar-benar memukau. Dengan fokus cerita yang lebih banyak mengeksplorasi aktivitas paranormal dan jiwa manusia yang terjebak setelah ledakan nuklir, game ini berhasil menciptakan ketegangan yang intens.

Gameplay-nya juga mengalami peningkatan signifikan dibandingkan Metro 2033. Kombat dan stealth lebih halus, dan variasi senjata yang lebih banyak memberikan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan. Narasi game ini juga lebih dalam dan emosional, dengan pilihan moral yang memengaruhi akhir cerita.

Namun, game ini tidak tanpa kekurangan. Salah satu masalah utama adalah voice acting dalam bahasa Inggris yang terkesan datar dan kurang emosional. Meskipun ada opsi dub bahasa Rusia atau Ukraina yang lebih hidup, tidak semua pemain merasa nyaman dengan subtitle.

Selain itu, sistem manajemen oksigen terasa tidak seimbang. Di beberapa stage, persediaan oksigen sangat terbatas, memaksa pemain untuk bermain cepat. Padahal, NPC sering berjalan lambat, membuat oksigen terbuang sia-sia. Ini bisa membuat pengalaman bermain terasa frustrasi, terutama di stage yang membutuhkan eksplorasi lebih banyak.

FAQ (Pertanyaan Umum)

Apakah Metro Last Light Redux cocok untuk pemain kasual?

Ya, tetapi pemain kasual mungkin kesulitan dengan sistem survival yang menantang.

Berapa lama durasi menyelesaikan game?

8–12 jam, tergantung eksplorasi dan tingkat kesulitan.

Apakah ada perbedaan signifikan dengan versi aslinya?

Ya, grafis dan gameplay lebih baik, tetapi cerita dan setting tetap sama.

Kesimpulan: Atmosfer Horor yang Memukau, tapi Masih Ada Kekurangan

Metro Last Light Redux adalah sekuel yang berhasil meningkatkan banyak aspek dari pendahulunya. Dengan atmosfer horor yang intens, gameplay yang lebih halus, dan narasi yang dalam, game ini berhasil menciptakan pengalaman bermain yang memikat. Visual lingkungan yang detail dan soundtrack yang autentik semakin memperkaya dunia pasca-apokaliptik yang gelap dan menegangkan.

Namun, game ini tidak tanpa kekurangan. Voice acting dalam bahasa Inggris terkesan datar dan kurang emosional, meskipun dub bahasa Rusia atau Ukraina lebih hidup. Sistem manajemen oksigen juga terasa tidak seimbang, dengan persediaan yang terlalu terbatas di beberapa stage. Selain itu, bug fatal di salah satu stage bisa sangat mengganggu pengalaman bermain.

Meskipun begitu, Metro Last Light Redux tetap layak dimainkan, terutama bagi penggemar FPS survival horor. Dengan pilihan mode dan tingkat kesulitan yang bervariasi, game ini menawarkan tantangan yang sesuai dengan preferensi pemain. Namun, konten dewasa seperti adegan vulgar dan gore yang lebih eksplisit membuat game ini lebih cocok untuk pemain berusia 21 tahun ke atas.

Review Overview
Horor metro intens, lebih halus tapi tetap bermasalah 8.5
Cerita 9
Atmosfer 9.5
Gameplay 8
Visual 8
Audio 8.5
Performa 8
Bagus Atmosfer horor pasca-apokaliptik sangat kuat dan imersif, terutama di permukaan Moscow. Gameplay lebih halus dari Metro 2033, baik untuk kombat maupun stealth. Variasi senjata lebih banyak dan bisa disesuaikan dengan gaya main (Spartan vs Survival). Cerita lebih dalam dan emosional, menggali konsekuensi keputusan Artyom dan ras Dark Ones. Banyak pilihan mode dan tingkat kesulitan, termasuk Ranger Hardcore tanpa HUD untuk pemain hardcore. Performa teknis umumnya stabil, tanpa frame drop berarti di sebagian besar stage.
Tidak Bagus Sistem oksigen terasa tidak seimbang: cepat habis, supply terbatas, tapi NPC jalannya lambat. Detail cerita penting masih terlalu bergantung pada catatan/notes yang mudah terlewat. Voice acting Inggris datar dan kurang emosional; dialog kadang hilang atau pelan. Ada bug fatal di satu stage yang membuat klik tidak merespons dan merusak momentum. Konten dewasa (gore, vulgar, ketelanjangan) jauh lebih eksplisit; jelas bukan untuk pemain muda.
Ringkasan
Metro Last Light Redux menyempurnakan banyak aspek dari Metro 2033: atmosfer horor terasa lebih padat, gameplay kombat dan stealth lebih halus, serta cerita Artyom dan Dark Ones dibuat jauh lebih emosional. Di sisi lain, sistem oksigen yang tidak seimbang, voice acting Inggris yang datar, serta bug fatal di salah satu stage menahan game ini dari predikat “sempurna”. Dengan konten dewasa yang lebih eksplisit, game ini jelas ditujukan untuk pemain dewasa yang siap menikmati FPS survival horor gelap dengan konsekuensi moral dan tensi tinggi.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review DOOM: The Dark Ages – Brutal, Cepat, dan Sinematik
Review Battlefield 6 Open Beta: Chaos Modern yang Bikin Optimis?
Review Assassin’s Creed Unity: Paris Indah, Parkour Bermasalah
Review Mecha BREAK – Aksi Mecha Gratis Spektakuler tapi Melelahkan
Review Battlefield 5 di 2025: Perang Spektakuler yang Mulai Redup
TOPIK:Epic Games StoreMetro Last Light ReduxMetro SeriesNintendo SwitchPCPlaystation 3Playstation 4SteamXbox 360Xbox One
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?