• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review DLC Metro Exodus The Two Colonels – Kisah Dua Ayah di Ujung Dunia
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review DLC Metro Exodus The Two Colonels
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review DLC Metro Exodus The Two Colonels – Kisah Dua Ayah di Ujung Dunia
Review GameReview

Review DLC Metro Exodus The Two Colonels – Kisah Dua Ayah di Ujung Dunia

DLC singkat, emosinya panjang

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/12/2025 6:42 PM
Anggara Prima Nanda
Share
12 Min Baca
SHARE
Review DLC Metro Exodus The Two Colonels
9 Cerita dua kolonel pendek, tapi hantam emosi.
Review Overview

Kalau di campaign utama Metro Exodus kita mengikuti perjalanan panjang Artyom dan kru Aurora, di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels ini fokusnya bergeser ke sesuatu yang jauh lebih sempit, tetapi justru lebih menyesakkan: kisah dua ayah yang bertahan di dunia yang sudah tidak punya masa depan. Dalam waktu sekitar satu jam empat puluh menit di tingkat kesulitan Story, aku menamatkan DLC ini dan merasa bahwa cerita yang diceritakan di sini sebenarnya layak jadi bagian dari game utama, bukan sekadar konten tambahan berbayar.

Contents
Review DLC Metro Exodus The Two Colonels Versi NarasiGameplay Metro SeriesGambaran Umum DLC dan Perannya di Cerita UtamaGameplay: Lorong Sempit, Tembakan Frontal, dan FlamethrowerHoror, Ketegangan, dan Momen LibrarianCerita Dua Kolonel: Khlebnikov, Miller, dan Perjuangan Seorang AyahAtmosfer, Teknis, dan PresentasiHarga, Value, dan RekomendasiDi Mana Sebaiknya Memainkan DLC Ini dalam Urutan Seri Metro?

Review DLC Metro Exodus The Two Colonels ini bukan walkthrough, tapi lebih ke pengalaman pribadiku menikmati DLC pendek yang padat dan emosional ini. Semua yang aku bahas murni dari apa yang aku rasakan saat memainkan The Two Colonels di tahun 2025.

Review DLC Metro Exodus The Two Colonels Versi Narasi

Review ini juga tersedia dalam bentuk video narasi yang saya bacakan. Di video tersebut, kamu bisa menonton versi singkat dari ulasan ini. Silakan klik di sini untuk menuju channel gaming saya, atau langsung tonton melalui pemutar di bawah.

Gameplay Metro Series

Gambaran Umum DLC dan Perannya di Cerita Utama

Berbeda dengan struktur semi open-world di Metro Exodus, DLC Metro Exodus The Two Colonels langsung mengurung kita di jalur yang sangat linear. Di sini tidak ada Volga, Caspian, atau Taiga; yang ada hanyalah lorong-lorong metro yang makin lama makin hancur, dan kota yang secara perlahan benar-benar mati.

Linearitas ini bukan kelemahan, justru jadi kekuatan. DLC Metro Exodus The Two Colonels sebenarnya menjawab satu lubang besar yang terasa di cerita utama: apa yang sebenarnya terjadi dengan Miller, Kirill, dan ayah Kirill, serta bagaimana kondisi metro di kota itu bisa sampai benar-benar tidak tersisa kehidupan. Alur yang sempat terasa “terpotong” di campaign utama, di sini diisi dengan runtutan peristiwa yang utuh.

Karena durasinya pendek, pacing di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa padat dari awal sampai akhir. Hampir tidak ada momen yang benar-benar kosong; setiap langkah selalu terasa mengarah ke sesuatu, entah dialog kecil, suasana baru, atau ancaman berikutnya.

Gameplay: Lorong Sempit, Tembakan Frontal, dan Flamethrower

Kalau di campaign utama aku lebih banyak bermain stealth, di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels gaya mainku otomatis bergeser. Di sini tidak ada sistem karma, dan sebagian besar konflik diarahkan ke mutan dan ancaman yang sifatnya fisik, bukan moral. Hasilnya, aku banyak bermain frontal: masuk ruangan, mengamati sebentar, lalu tembak-tembak sampai area aman.

Baik melawan manusia maupun mutan, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels mendorongku untuk selalu siap tembak di jarak menengah. Mutan tetap gesit dan agresif, manusia tetap lebih rapuh tapi taktis, namun karena arena perangnya sempit, ketegangan lebih banyak datang dari sudut sempit dan jarak pandang yang terbatas.

Salah satu bintang utama di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels jelas adalah flamethrower. Senjata ini terasa keren dan sangat powerful, terutama saat harus membersihkan area yang dipenuhi ancaman organik dan kegelapan. Setiap kali pelontar api ini menyala, ada rasa lega sekaligus ngeri—lega karena musuh habis terbakar, ngeri karena kita sadar betapa putus asanya situasi di metro tersebut sampai-sampai api jadi solusi utama.

Dari sisi resource, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa mirip dengan campaign utama di mode Story. Peluru dan suplai terasa cukup, dan sistem crafting lebih berfungsi sebagai pelengkap daripada sumber tekanan utama. Fokus utamanya tetap pada cerita dan ketegangan momen, bukan membuat pemain menderita kehabisan peluru setiap lima menit.

Horor, Ketegangan, dan Momen Librarian

Secara tone, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa lebih tegang dibanding bagian-bagian tertentu di game utama, terutama menjelang akhir. Salah satu segmen paling menempel di kepalaku adalah bagian di fasilitas rumah sakit, ketika kita bertemu dengan para Librarian.

Di bagian itu, DLC ini benar-benar menekan pemain. Lorong-lorongnya sempit, ancaman mutan muncul dengan cara yang bikin tegang, dan setiap suara terasa berbahaya. Di sana, aku dipaksa menurunkan tempo dan bermain jauh lebih hati-hati, tidak bisa asal maju dan berharap semua selesai dengan beberapa peluru saja.

Ketegangan di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels datang dari dua arah: dari mutan yang mengancam secara fisik, dan dari suasana dunia yang pelan-pelan menunjukkan bahwa metro ini sebenarnya sudah tidak punya harapan lagi. Kombinasi keduanya membuat pengalaman pendek ini terasa berat, meskipun durasinya tidak panjang.

Cerita Dua Kolonel: Khlebnikov, Miller, dan Perjuangan Seorang Ayah

Kekuatan terbesar Review DLC Metro Exodus The Two Colonels jelas ada di sisi cerita. Di sini, nama “Two Colonels” bukan sekadar judul keren, tapi benar-benar menggambarkan dua sosok yang sama-sama berjuang sebagai ayah: Lieutenant-Colonel Khlebnikov dan Colonel Miller.

Melalui sudut pandang Khlebnikov, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels memperlihatkan bagaimana seorang ayah berusaha mati-matian agar ia dan anaknya bisa keluar dari kota yang sudah sepenuhnya mati. Semua yang ia lakukan, dari tugas militer sampai keputusan-keputusan terakhir, selalu kembali ke satu hal: mencari kesempatan untuk menyelamatkan Kirill dari dunia yang radiasinya sudah tidak bisa ditawar lagi.

Di sisi lain, melalui Miller, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels memperdalam sosok yang sudah kita kenal di campaign utama. Di sini, Miller bukan hanya komandan keras kepala, tapi juga seorang ayah yang berjuang mencari obat anti radiasi dan lokasi bebas radiasi untuk putrinya. Ia terlihat jauh lebih manusiawi, dan hubungan antara pengorbanannya di DLC ini dengan perannya di akhir cerita utama membuat sosoknya terasa lebih dalam.

Akhir dari Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa sangat sedih, tapi juga sangat manusiawi. Ini bukan twist yang dibuat untuk mengejutkan, tapi penutupan pelan yang menegaskan bahwa dunia Metro adalah dunia di mana harapan mahal, dan setiap kebahagiaan kecil datang dengan harga yang sangat besar.

Atmosfer, Teknis, dan Presentasi

Dari sisi atmosfer, DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa setara, bahkan mungkin sedikit lebih padat dari base game, justru karena durasinya pendek dan fokus. Tidak ada waktu untuk keluar-masuk map; semua terjadi di lorong, ruangan, dan sisa-sisa fasilitas yang makin lama makin tidak stabil. Rasanya seperti kembali ke akar seri Metro yang penuh lorong sempit dan ruang tertutup.

Untuk audio, DLC Metro Exodus The Two Colonels mengikuti kualitas base game: suara mutan, dentuman senjata, dan efek flamethrower semuanya mantap dan mendukung ketegangan. Musik tetap lebih berfungsi sebagai pengisi suasana daripada elemen yang menonjol sendiri, dan itu cocok dengan gaya penceritaan Metro.

Secara visual, DLC Metro Exodus The Two Colonels memang terasa lebih seperti memakai aset base game. Lokasi-lokasinya masih erat terhubung dengan area yang kita lihat di bagian akhir kampanye utama dan markas OSKOM. Buatku ini bukan masalah, karena memang tujuan DLC ini adalah melengkapi potongan cerita, bukan memperkenalkan dunia baru yang eksotis.

Performa di PC-ku stabil sepanjang game. Tidak ada bug berarti, tidak ada crash, dan tidak ada glitch yang mengganggu. Pengalaman teknisnya relatif bersih.

Harga, Value, dan Rekomendasi

Sekarang soal value. Saat ini The Two Colonels dijual sekitar Rp 75.000. Dari sudut pandangku setelah menamatkan DLC Metro Exodus The Two Colonels, harga yang paling pas untuk DLC dengan durasi dan fokus seperti ini adalah sekitar Rp 50.000. Kalau kamu bisa mendapatkannya dengan diskon sehingga menyentuh angka itu, hampir tidak ada alasan untuk melewatkannya, terutama kalau kamu sudah suka cerita utama Metro Exodus.

Yang perlu diingat, DLC Metro Exodus The Two Colonels ini terasa seperti bagian cerita utama yang dipisah dan dijual sebagai DLC. Buatku pribadi, kisah dua Kolonel ini seharusnya memang menyatu di campaign, bukan berdiri sebagai konten terpisah. Namun, kalau kamu terima format ini, isinya sendiri sangat kuat.

DLC ini sangat cocok untuk pemain yang ingin ekstra cerita tentang Miller, yang ingin melihat lebih dalam perjuangan seorang ayah di dunia Metro, dan yang menyukai tone sedih dan tragis. Kalau kamu hanya mencari tambahan gameplay panjang atau area sandbox baru, kamu mungkin akan merasa DLC ini terlalu singkat. Tapi kalau fokusmu adalah narasi, DLC Metro Exodus The Two Colonels benar-benar layak dimainkan.

Di Mana Sebaiknya Memainkan DLC Ini dalam Urutan Seri Metro?

Satu hal yang sering bikin bingung pemain baru adalah: kapan waktu terbaik untuk menyentuh The Two Colonels? Menurut aku, DLC ini paling pas dimainkan setelah kamu menamatkan campaign utama Metro Exodus. Dengan begitu, kamu sudah kenal dulu dengan Miller, sudah paham perjalanan Artyom dan Aurora, dan sudah melihat sendiri bagaimana kondisi dunia di bagian akhir game.

Kalau kamu memaksakan main lebih awal, banyak detail emosi yang justru tidak akan terasa. Beberapa dialog dan keputusan di DLC ini sengaja dibuat untuk memantulkan kembali tema besar seri Metro: pengorbanan, keluarga, dan harga dari harapan kecil di dunia yang rusak. Tanpa konteks perjalanan utama, kisah Khlebnikov dan Miller akan terasa kuat, tapi tidak sedalam ketika kamu sudah tahu apa yang mereka pertaruhkan.

Jadi saran jujur dariku: selesaikan dulu cerita utama, cerna dulu akhir perjalanannya, baru kemudian kembali turun lagi ke lorong bersama dua Kolonel ini. Dengan urutan seperti itu, setiap adegan kecil dan keputusan pahit di DLC ini akan terasa jauh lebih mengena.

Pada akhirnya, posisi konten ini lebih mirip epilog pahit yang ditaruh di samping, bukan di tengah cerita. Mungkin secara bisnis masuk akal dijual terpisah, tapi dari sudut pandang penikmat cerita, bagian ini terasa seperti potongan terakhir yang melengkapi mozaik besar dunia Metro.

Kalau kamu tipe pemain yang peduli dengan detail dunia dan suka mengulik latar belakang tokoh, tambahan singkat seperti ini justru terasa sangat berharga. Durasi boleh pendek, tapi bobot emosinya panjang.

Review DLC Metro Exodus The Two Colonels
Review Overview
Cerita dua kolonel pendek, tapi hantam emosi. 9
Gameplay 10
Cerita 10
Audio 9
Musik 5
Karakter 10
Performa 10
Bagus Cerita dua kolonel sangat kuat dan emosional, benar-benar melengkapi celah cerita di campaign utama. Pacing padat dari awal sampai akhir, hampir tidak ada momen yang terasa buang waktu. Atmosfer lorong sempit, kota sekarat, dan segmen rumah sakit dengan Librarian terasa sangat menekan dan menegangkan. Flamethrower terasa powerful dan memuaskan, pas dengan konteks dunia yang sudah putus asa. Fokus ke hubungan ayah–anak (Khlebnikov–Kirill dan Miller–putrinya) bikin stakes terasa pribadi dan manusiawi. Performa teknis stabil di PC, tanpa crash atau bug besar yang mengganggu pengalaman singkat ini.
Tidak Bagus Durasi sekitar satu jam empat puluh menit terasa sangat singkat, apalagi untuk pemain yang ingin eksplorasi lebih dalam. Struktur super linear tanpa ruang eksplorasi ala Volga/Caspian, bisa terasa terlalu “lorong” untuk sebagian pemain. Banyak aset dan lokasi terasa sangat dekat dengan base game, membuat DLC ini lebih mirip potongan cerita tambahan daripada petualangan baru. Tidak ada sistem karma, sehingga pilihan moral dan konsekuensi tidak sedalam campaign utama. Harga resmi terasa agak tinggi untuk panjang konten; lebih masuk akal bila dibeli saat diskon di kisaran Rp 50.000.
Ringkasan
Metro Exodus: The Two Colonels adalah DLC pendek yang fokus ke cerita, menampilkan dua sosok kolonel yang sama-sama berjuang sebagai ayah di dunia yang sudah kehabisan masa depan. Linear, padat, dan emosional, konten ini terasa lebih seperti potongan wajib dari cerita utama ketimbang bonus sampingan. Kalau kamu sudah suka Metro Exodus dan peduli dengan sosok Miller serta latar kisah Kirill dan ayahnya, DLC ini sangat layak kamu mainkan—idealnya setelah menamatkan campaign utama, dan sebaiknya dibeli saat diskon agar nilai yang kamu dapat terasa benar-benar sepadan.

Anda Mungkin Juga Menyukai

HoloType: Treasure Zombie Island Diumumkan untuk PC via Steam
Review Roblox 2025 – Gratis, Kreatif, tapi Tergantung Developer
Review ReStream.io: Pengalaman Multistreaming yang Simpel, Stabil, Tapi Tidak Sepenuhnya Ideal
Review Metro 2033 Redux: Game Survival Penuh Ketegangan
Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah
TOPIK:LinuxmacOSMetro ExodusMetro Exodus Enhanced EditionPCPlaystation 4Playstation 5Xbox OneXbox Series
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?