Kalau di campaign utama Metro Exodus kita mengikuti perjalanan panjang Artyom dan kru Aurora, di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels ini fokusnya bergeser ke sesuatu yang jauh lebih sempit, tetapi justru lebih menyesakkan: kisah dua ayah yang bertahan di dunia yang sudah tidak punya masa depan. Dalam waktu sekitar satu jam empat puluh menit di tingkat kesulitan Story, aku menamatkan DLC ini dan merasa bahwa cerita yang diceritakan di sini sebenarnya layak jadi bagian dari game utama, bukan sekadar konten tambahan berbayar.
Review DLC Metro Exodus The Two Colonels ini bukan walkthrough, tapi lebih ke pengalaman pribadiku menikmati DLC pendek yang padat dan emosional ini. Semua yang aku bahas murni dari apa yang aku rasakan saat memainkan The Two Colonels di tahun 2025.
Review DLC Metro Exodus The Two Colonels Versi Narasi
Review ini juga tersedia dalam bentuk video narasi yang saya bacakan. Di video tersebut, kamu bisa menonton versi singkat dari ulasan ini. Silakan klik di sini untuk menuju channel gaming saya, atau langsung tonton melalui pemutar di bawah.
Gameplay Metro Series
Gambaran Umum DLC dan Perannya di Cerita Utama
Berbeda dengan struktur semi open-world di Metro Exodus, DLC Metro Exodus The Two Colonels langsung mengurung kita di jalur yang sangat linear. Di sini tidak ada Volga, Caspian, atau Taiga; yang ada hanyalah lorong-lorong metro yang makin lama makin hancur, dan kota yang secara perlahan benar-benar mati.
Linearitas ini bukan kelemahan, justru jadi kekuatan. DLC Metro Exodus The Two Colonels sebenarnya menjawab satu lubang besar yang terasa di cerita utama: apa yang sebenarnya terjadi dengan Miller, Kirill, dan ayah Kirill, serta bagaimana kondisi metro di kota itu bisa sampai benar-benar tidak tersisa kehidupan. Alur yang sempat terasa “terpotong” di campaign utama, di sini diisi dengan runtutan peristiwa yang utuh.
Karena durasinya pendek, pacing di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa padat dari awal sampai akhir. Hampir tidak ada momen yang benar-benar kosong; setiap langkah selalu terasa mengarah ke sesuatu, entah dialog kecil, suasana baru, atau ancaman berikutnya.
Gameplay: Lorong Sempit, Tembakan Frontal, dan Flamethrower
Kalau di campaign utama aku lebih banyak bermain stealth, di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels gaya mainku otomatis bergeser. Di sini tidak ada sistem karma, dan sebagian besar konflik diarahkan ke mutan dan ancaman yang sifatnya fisik, bukan moral. Hasilnya, aku banyak bermain frontal: masuk ruangan, mengamati sebentar, lalu tembak-tembak sampai area aman.
Baik melawan manusia maupun mutan, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels mendorongku untuk selalu siap tembak di jarak menengah. Mutan tetap gesit dan agresif, manusia tetap lebih rapuh tapi taktis, namun karena arena perangnya sempit, ketegangan lebih banyak datang dari sudut sempit dan jarak pandang yang terbatas.
Salah satu bintang utama di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels jelas adalah flamethrower. Senjata ini terasa keren dan sangat powerful, terutama saat harus membersihkan area yang dipenuhi ancaman organik dan kegelapan. Setiap kali pelontar api ini menyala, ada rasa lega sekaligus ngeri—lega karena musuh habis terbakar, ngeri karena kita sadar betapa putus asanya situasi di metro tersebut sampai-sampai api jadi solusi utama.
Dari sisi resource, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa mirip dengan campaign utama di mode Story. Peluru dan suplai terasa cukup, dan sistem crafting lebih berfungsi sebagai pelengkap daripada sumber tekanan utama. Fokus utamanya tetap pada cerita dan ketegangan momen, bukan membuat pemain menderita kehabisan peluru setiap lima menit.
Horor, Ketegangan, dan Momen Librarian
Secara tone, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa lebih tegang dibanding bagian-bagian tertentu di game utama, terutama menjelang akhir. Salah satu segmen paling menempel di kepalaku adalah bagian di fasilitas rumah sakit, ketika kita bertemu dengan para Librarian.
Di bagian itu, DLC ini benar-benar menekan pemain. Lorong-lorongnya sempit, ancaman mutan muncul dengan cara yang bikin tegang, dan setiap suara terasa berbahaya. Di sana, aku dipaksa menurunkan tempo dan bermain jauh lebih hati-hati, tidak bisa asal maju dan berharap semua selesai dengan beberapa peluru saja.
Ketegangan di Review DLC Metro Exodus The Two Colonels datang dari dua arah: dari mutan yang mengancam secara fisik, dan dari suasana dunia yang pelan-pelan menunjukkan bahwa metro ini sebenarnya sudah tidak punya harapan lagi. Kombinasi keduanya membuat pengalaman pendek ini terasa berat, meskipun durasinya tidak panjang.
Cerita Dua Kolonel: Khlebnikov, Miller, dan Perjuangan Seorang Ayah
Kekuatan terbesar Review DLC Metro Exodus The Two Colonels jelas ada di sisi cerita. Di sini, nama “Two Colonels” bukan sekadar judul keren, tapi benar-benar menggambarkan dua sosok yang sama-sama berjuang sebagai ayah: Lieutenant-Colonel Khlebnikov dan Colonel Miller.
Melalui sudut pandang Khlebnikov, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels memperlihatkan bagaimana seorang ayah berusaha mati-matian agar ia dan anaknya bisa keluar dari kota yang sudah sepenuhnya mati. Semua yang ia lakukan, dari tugas militer sampai keputusan-keputusan terakhir, selalu kembali ke satu hal: mencari kesempatan untuk menyelamatkan Kirill dari dunia yang radiasinya sudah tidak bisa ditawar lagi.
Di sisi lain, melalui Miller, Review DLC Metro Exodus The Two Colonels memperdalam sosok yang sudah kita kenal di campaign utama. Di sini, Miller bukan hanya komandan keras kepala, tapi juga seorang ayah yang berjuang mencari obat anti radiasi dan lokasi bebas radiasi untuk putrinya. Ia terlihat jauh lebih manusiawi, dan hubungan antara pengorbanannya di DLC ini dengan perannya di akhir cerita utama membuat sosoknya terasa lebih dalam.
Akhir dari Review DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa sangat sedih, tapi juga sangat manusiawi. Ini bukan twist yang dibuat untuk mengejutkan, tapi penutupan pelan yang menegaskan bahwa dunia Metro adalah dunia di mana harapan mahal, dan setiap kebahagiaan kecil datang dengan harga yang sangat besar.
Atmosfer, Teknis, dan Presentasi
Dari sisi atmosfer, DLC Metro Exodus The Two Colonels terasa setara, bahkan mungkin sedikit lebih padat dari base game, justru karena durasinya pendek dan fokus. Tidak ada waktu untuk keluar-masuk map; semua terjadi di lorong, ruangan, dan sisa-sisa fasilitas yang makin lama makin tidak stabil. Rasanya seperti kembali ke akar seri Metro yang penuh lorong sempit dan ruang tertutup.
Untuk audio, DLC Metro Exodus The Two Colonels mengikuti kualitas base game: suara mutan, dentuman senjata, dan efek flamethrower semuanya mantap dan mendukung ketegangan. Musik tetap lebih berfungsi sebagai pengisi suasana daripada elemen yang menonjol sendiri, dan itu cocok dengan gaya penceritaan Metro.
Secara visual, DLC Metro Exodus The Two Colonels memang terasa lebih seperti memakai aset base game. Lokasi-lokasinya masih erat terhubung dengan area yang kita lihat di bagian akhir kampanye utama dan markas OSKOM. Buatku ini bukan masalah, karena memang tujuan DLC ini adalah melengkapi potongan cerita, bukan memperkenalkan dunia baru yang eksotis.
Performa di PC-ku stabil sepanjang game. Tidak ada bug berarti, tidak ada crash, dan tidak ada glitch yang mengganggu. Pengalaman teknisnya relatif bersih.
Harga, Value, dan Rekomendasi
Sekarang soal value. Saat ini The Two Colonels dijual sekitar Rp 75.000. Dari sudut pandangku setelah menamatkan DLC Metro Exodus The Two Colonels, harga yang paling pas untuk DLC dengan durasi dan fokus seperti ini adalah sekitar Rp 50.000. Kalau kamu bisa mendapatkannya dengan diskon sehingga menyentuh angka itu, hampir tidak ada alasan untuk melewatkannya, terutama kalau kamu sudah suka cerita utama Metro Exodus.
Yang perlu diingat, DLC Metro Exodus The Two Colonels ini terasa seperti bagian cerita utama yang dipisah dan dijual sebagai DLC. Buatku pribadi, kisah dua Kolonel ini seharusnya memang menyatu di campaign, bukan berdiri sebagai konten terpisah. Namun, kalau kamu terima format ini, isinya sendiri sangat kuat.
DLC ini sangat cocok untuk pemain yang ingin ekstra cerita tentang Miller, yang ingin melihat lebih dalam perjuangan seorang ayah di dunia Metro, dan yang menyukai tone sedih dan tragis. Kalau kamu hanya mencari tambahan gameplay panjang atau area sandbox baru, kamu mungkin akan merasa DLC ini terlalu singkat. Tapi kalau fokusmu adalah narasi, DLC Metro Exodus The Two Colonels benar-benar layak dimainkan.
Di Mana Sebaiknya Memainkan DLC Ini dalam Urutan Seri Metro?
Satu hal yang sering bikin bingung pemain baru adalah: kapan waktu terbaik untuk menyentuh The Two Colonels? Menurut aku, DLC ini paling pas dimainkan setelah kamu menamatkan campaign utama Metro Exodus. Dengan begitu, kamu sudah kenal dulu dengan Miller, sudah paham perjalanan Artyom dan Aurora, dan sudah melihat sendiri bagaimana kondisi dunia di bagian akhir game.
Kalau kamu memaksakan main lebih awal, banyak detail emosi yang justru tidak akan terasa. Beberapa dialog dan keputusan di DLC ini sengaja dibuat untuk memantulkan kembali tema besar seri Metro: pengorbanan, keluarga, dan harga dari harapan kecil di dunia yang rusak. Tanpa konteks perjalanan utama, kisah Khlebnikov dan Miller akan terasa kuat, tapi tidak sedalam ketika kamu sudah tahu apa yang mereka pertaruhkan.
Jadi saran jujur dariku: selesaikan dulu cerita utama, cerna dulu akhir perjalanannya, baru kemudian kembali turun lagi ke lorong bersama dua Kolonel ini. Dengan urutan seperti itu, setiap adegan kecil dan keputusan pahit di DLC ini akan terasa jauh lebih mengena.
Pada akhirnya, posisi konten ini lebih mirip epilog pahit yang ditaruh di samping, bukan di tengah cerita. Mungkin secara bisnis masuk akal dijual terpisah, tapi dari sudut pandang penikmat cerita, bagian ini terasa seperti potongan terakhir yang melengkapi mozaik besar dunia Metro.
Kalau kamu tipe pemain yang peduli dengan detail dunia dan suka mengulik latar belakang tokoh, tambahan singkat seperti ini justru terasa sangat berharga. Durasi boleh pendek, tapi bobot emosinya panjang.



