Ada game yang dari tampilannya terlihat ringan, bahkan seperti permainan santai untuk anak-anak. Warna cerah, model kartun 3D, dan konsep yang terdengar sederhana sering kali memberi kesan bahwa game tersebut aman dimainkan siapa saja. Namun ada juga game yang sengaja memanfaatkan kesan itu untuk menipu ekspektasi pemain. Egging On adalah salah satu contoh paling ekstrem dari pendekatan tersebut.
Aku memainkan game ini di PC selama kurang lebih satu jam. Dalam waktu tersebut, aku berhasil melewati level pertama, dan walaupun terdengar singkat, pengalaman itu sudah cukup untuk memahami arah desain game ini secara menyeluruh. Bukan karena kontennya dangkal, tetapi karena sejak menit-menit awal, game ini sudah menunjukkan identitasnya dengan sangat jelas: ini adalah permainan yang dirancang untuk membuat pemain jatuh, gagal, dan diuji secara mental.
Review ini bukan tentang seberapa jauh aku melaju, melainkan tentang apa yang dirasakan saat memainkan game ini sesuai dengan niat desainnya. Dan dari pengalaman itu, satu hal langsung terasa: game ini tidak mencoba menyenangkan semua orang.
Review Egging On Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses video tersebut.
Gameplay Egging On
Konsep Gameplay: Sangat Mudah Dijelaskan, Sangat Sulit Dijalanin
Secara konsep, Egging On bisa dijelaskan hanya dalam satu kalimat:
kamu mengontrol sebuah telur dan berusaha naik ke atas melewati berbagai rintangan.
Tidak ada cerita, tidak ada dialog, tidak ada sistem kompleks yang perlu dipelajari. Semua pemain langsung dilempar ke inti permainan tanpa banyak penjelasan. Justru di situlah letak jebakannya. Kesederhanaan konsep ini membuat banyak orang mengira gameplay-nya juga sederhana. Padahal kenyataannya jauh berbeda.
Begitu kontrol diambil alih, kamu langsung sadar bahwa game ini bukan soal kecepatan, melainkan soal kontrol diri. Setiap gerakan harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Gerakan yang terlihat aman bisa berujung petaka jika dilakukan dengan sudut yang sedikit salah.
Kontrol: Responsif, tapi Tidak Pernah Ramah
Salah satu hal yang penting untuk ditegaskan adalah bahwa kontrol di Egging On bekerja dengan baik. Input terasa responsif, dan tidak ada kesan delay atau ketidaksesuaian antara perintah dan aksi di layar. Ini penting, karena game seperti ini akan langsung terasa tidak adil jika kontrolnya bermasalah.
Namun, responsif di sini tidak berarti nyaman. Justru sebaliknya. Kontrol yang presisi dipadukan dengan fisika yang licin dan unforgiving. Telur yang kamu kendalikan mudah kehilangan keseimbangan, dan sedikit kesalahan posisi bisa membuat semuanya berantakan.
Di sinilah muncul konflik utama dalam pengalaman bermain:
kamu tahu apa yang harus dilakukan, kamu tahu kesalahannya ada di tanganmu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan ketika harus mengulang lagi.
Banyak momen kegagalan terasa benar-benar sebagai akibat dari keserakahan pemain sendiri. Terlalu terburu-buru ingin naik, terlalu agresif ingin langsung melewati rintangan, atau terlalu yakin bahwa satu gerakan tambahan tidak akan berdampak besar. Hampir selalu, pikiran yang muncul setelah jatuh adalah:
“Harusnya tadi pelan-pelan.”
Kesulitan: Adil, Kejam, dan Tidak Pernah Memanjakan
Tingkat kesulitan Egging On bisa dirangkum dalam dua kata: adil tapi kejam.
Game ini jarang sekali terasa curang. Tidak ada momen di mana aku merasa dijatuhkan oleh sistem yang rusak atau mekanik yang tidak jelas. Sebaliknya, hampir setiap kegagalan terasa masuk akal. Masalahnya, hukuman atas kegagalan itu sangat berat.
Kesalahan kecil tidak dibalas dengan kehilangan sedikit progres, tetapi sering kali dengan keharusan untuk mengulang dari titik yang jauh. Hal ini membuat setiap keputusan terasa penting, dan setiap kesalahan terasa menyakitkan.
Checkpoint sebagai Penentu Pengalaman
Pengalaman bermain sangat dipengaruhi oleh mode yang dipilih.
- Saat ada checkpoint, game masih terasa kejam, tapi ada rasa progres. Jatuh memang bikin kesal, tapi masih ada motivasi untuk mencoba lagi.
- Tanpa checkpoint, game berubah menjadi ujian kesabaran murni. Satu kesalahan bisa menghapus seluruh usaha sebelumnya, dan di titik inilah game bisa berubah dari menantang menjadi melelahkan.
Dalam mode tanpa checkpoint, rasa frustrasi bisa dengan cepat mengalahkan rasa penasaran. Bagi sebagian pemain, ini adalah inti kesenangan. Bagi yang lain, ini adalah titik menyerah.
Desain Level: Tidak Kreatif, tapi Efektif Menyiksa
Desain level di Egging On sulit disebut kreatif dalam arti tradisional. Tidak ada gimmick cerdas atau ide visual yang membuat pemain kagum. Namun, level-levelnya efektif dalam satu hal: menyulitkan pemain.
Sejak awal, rintangan dirancang untuk membuat pemain merasa tidak aman. Tidak ada area yang benar-benar nyaman. Bahkan saat berhasil berdiri di posisi yang terlihat stabil, selalu ada kemungkinan tergelincir akibat satu gerakan kecil yang kurang presisi.
Level pertama saja sudah cukup untuk menunjukkan filosofi desain ini. Game tidak mencoba membangun kesulitan secara perlahan. Ia langsung memperlihatkan bahwa rasa frustrasi adalah bagian inti dari pengalaman bermain.
Identitas sebagai Rage Game
Tidak ada keraguan bahwa Egging On adalah rage game. Dan lebih dari itu, ini adalah rage game yang tidak setengah-setengah. Ia tidak mencoba menyeimbangkan frustrasi dengan humor atau hiburan ringan. Ia berdiri tegak sebagai game yang menuntut ketahanan mental.
Secara pribadi, aku melihat game ini sebagai rage game yang terlalu menyiksa, walaupun penilaian ini tentu subjektif. Ada pemain yang menikmati rasa marah itu, menikmati adrenalin saat hampir berhasil, dan merasakan kepuasan luar biasa ketika akhirnya melewati rintangan yang sebelumnya terasa mustahil.
Namun bagiku, pengalaman tersebut tidak sebanding dengan tekanan emosional yang ditimbulkan. Aku mencari game yang fun, bukan game yang membuatku harus menahan emosi. Itu sebabnya aku sempat berpikir untuk berhenti dan tidak melanjutkan permainan lebih jauh.
Visual: Kartun yang Menipu Ekspektasi
Secara visual, Egging On menggunakan gaya kartun 3D yang sederhana dan bersih. Tampilannya mengingatkan pada animasi anak-anak, dengan warna cerah dan bentuk yang mudah dikenali. Dari luar, game ini terlihat ramah dan tidak mengintimidasi.
Justru di situlah letak ironi terbesarnya. Visual yang terlihat polos ini bertolak belakang dengan gameplay yang keras. Kontras ini membuat pengalaman bermain terasa lebih kejam, karena ekspektasi awal yang terlalu rendah.
Namun dari sisi fungsional, visual game ini bekerja dengan baik. Rintangan mudah dibaca, jarak antar objek jelas, dan pemain jarang gagal karena tidak memahami lingkungan. Jika jatuh, hampir selalu karena kesalahan kontrol, bukan karena visual yang membingungkan.
Audio: Sederhana, tapi Menghantui
Dari sisi audio, tidak banyak yang menonjol. Musik dan efek suara tergolong biasa dan tidak mencuri perhatian. Tidak ada soundtrack yang melekat di kepala atau efek suara yang terasa istimewa.
Namun ada satu suara yang pasti akan diingat pemain: suara telur pecah.
Suara ini bukan hanya efek audio, tapi simbol kegagalan. Setiap kali terdengar, ia menandai berakhirnya satu usaha dan dimulainya rasa frustrasi baru. Karena kegagalan sering terjadi, suara ini menjadi elemen emosional paling kuat dalam game, walaupun secara teknis sederhana.
Performa Teknis: Tidak Memberi Alasan untuk Menyalahkan Sistem
Dari sisi teknis, Egging On berjalan lancar dan stabil di PC. Selama bermain, aku tidak menemukan crash, glitch, atau bug yang memengaruhi gameplay. Yang terpenting, tidak pernah ada momen jatuh karena kesalahan teknis.
Hal ini justru memperkuat identitas game. Karena tidak ada gangguan teknis, pemain tidak punya kambing hitam lain selain dirinya sendiri. Setiap kegagalan terasa murni sebagai hasil dari keputusan dan eksekusi yang kurang tepat.
Harga dan Value: Sangat Bergantung pada Tipe Pemain
Dengan harga sekitar Rp130.999 di Steam dan lebih tinggi di platform lain, Egging On berada di posisi yang cukup sensitif. Menurutku, harga di kisaran Rp100.000 atau kebawah akan terasa lebih ideal.
Nilai game ini tidak bisa diukur dari durasi atau variasi konten, melainkan dari seberapa besar pemain menikmati tantangan ekstrem. Untuk pemain yang menyukai rage game, harga ini mungkin terasa sepadan. Untuk pemain kasual, melewatkannya adalah pilihan yang masuk akal.
Untuk Siapa Game Ini Dibuat?
Egging On jelas ditujukan untuk pemain yang:
- Menyukai tantangan keras
- Menikmati rasa frustrasi sebagai bagian dari hiburan
- Ingin menguji kesabaran dan ketahanan mental
Sebaliknya, game ini kurang cocok untuk pemain yang:
- Mencari kesenangan santai
- Mudah frustrasi
- Ingin progres cepat dan konsisten
Secara pribadi, aku sampai pada kesimpulan bahwa game ini bukan untukku, dan itu bukan kekurangan. Ini hanya soal kecocokan.
Kesimpulan
Egging On adalah game yang terlihat sederhana, tetapi gameplay-nya penuh tekanan dan emosi. Di balik visual kartun 3D yang polos, tersembunyi rage game yang kejam, adil, dan tanpa kompromi.
Kontrolnya responsif, desain levelnya menyebalkan sejak awal, dan sistem tanpa checkpoint di mode tertentu bisa terasa sangat melelahkan. Namun semua kesulitan itu terasa fair. Jika gagal, hampir selalu karena kesalahan sendiri.
Aku merekomendasikan game ini dengan catatan besar: ini adalah permainan yang sangat sulit dan emosional. Untuk pemain yang haus tantangan, ini bisa menjadi pengalaman yang memuaskan. Tapi untuk pemain yang mencari kesenangan, melewatkannya adalah keputusan yang sepenuhnya masuk akal.
