Sifu adalah game action bertema kung fu yang menawarkan pertarungan jarak dekat dengan berbagai teknik bela diri menarik. Gerakan bertarungnya keren, animasi serangannya memuaskan, dan ada sistem unik yang membuat karakter semakin tua setiap kali mati. Namun setelah memainkannya sampai tamat, aku justru merasa game ini lebih banyak menguji kesabaran daripada memberikan keseruan yang biasanya aku cari ketika bermain game.
Game buatan Sloclap ini sebenarnya sudah cukup lama berada di library Epic Games Store milikku setelah mendapatkannya secara gratis. Karena belum pernah dimainkan, akhirnya aku memutuskan mencobanya sekaligus membuat konten gameplay untuk YouTube. Apalagi aku memang ingin memperluas variasi genre game yang dimainkan, termasuk mencoba sesuatu yang sebenarnya bukan tipe game favoritku.
Setelah bermain selama 6 jam 45 menit, aku berhasil menamatkan story pertama dalam waktu sekitar 3 jam 40 menit, mendapatkan kedua ending, yaitu Revenge dan Wude, serta sempat mencoba mode Arenas setelah menyelesaikan campaign. Namun perjalanan tersebut tidak sepenuhnya menyenangkan karena aku harus berpindah dari tingkat kesulitan Disciple atau normal ke Student atau easy. Bahkan setelah menurunkan tingkat kesulitan, masih ada banyak pertarungan yang membuatku benar-benar kehilangan kesabaran.
Meskipun begitu, aku tetap mengakui Sifu memiliki kualitas gameplay yang bagus. Hanya saja, ada perbedaan antara game yang punya mekanisme pertarungan menarik dengan game yang benar-benar nyaman dimainkan. Terutama bagi gamer kasual seperti aku yang lebih suka menikmati permainan tanpa harus terus-menerus menghafal pola serangan dan menekan tombol dengan timing yang nyaris sempurna.
Review Sifu (PC) Versi Narasi
Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel tersebut.
Gameplay Sifu: Kung Fu Menarik, Tapi Sulit Dikuasai
Hal yang paling menarik dari Sifu tentu saja sistem pertarungannya. Berbagai gerakan kung fu yang ditampilkan terlihat cukup keren, mulai dari pukulan cepat, tendangan, kombinasi serangan, hingga gerakan finishing atau takedown. Animasi ketika karakter menghajar dan menjatuhkan musuh juga terasa memuaskan, terutama ketika berhasil mengalahkan beberapa musuh secara berurutan tanpa harus menerima banyak pukulan.
Namun, melakukan semua gerakan tersebut tidak semudah kelihatannya. Sifu bukan game yang bisa dimainkan hanya dengan terus menekan tombol serangan, karena pemain juga harus memahami kapan waktu yang tepat untuk menangkis, melakukan parry, deflect, atau menghindari pukulan lawan. Setiap kesalahan bisa membuat karakter kehilangan banyak HP, apalagi kalau sudah berhadapan dengan beberapa musuh sekaligus.
Sebenarnya tutorial yang diberikan cukup mudah dipahami. Masalahnya, aku merasa game terlalu cepat membawa pemain menuju pertarungan sulit sebelum semua mekanisme benar-benar dikuasai. Beberapa teknik dasar juga terasa diperkenalkan secara bertahap ketika pemain sudah menghadapi tantangan yang cukup berat. Akibatnya, pengalaman awal bisa terasa membingungkan, terutama untuk pemain yang belum terbiasa dengan game action seperti ini.
Ketika menghadapi satu musuh dalam latihan, aku masih bisa mencoba berbagai kombinasi serangan dengan cukup nyaman. Tetapi begitu masuk ke pertarungan sesungguhnya, situasinya langsung berbeda. Musuh bisa datang dari berbagai arah dan terus memberikan tekanan, sehingga aku sering tidak sempat memikirkan combo apa yang seharusnya digunakan. Pada akhirnya, strategi bermainku menjadi sangat sederhana, yaitu sebisa mungkin memukul musuh sambil berusaha tidak terkena pukulan balik.
Musuh juga tidak selalu menunggu giliran untuk menyerang. Ketika sedang sibuk menghadapi satu lawan, musuh lainnya bisa saja mendekat dan langsung memberikan serangan tambahan. Kalau sampai terlambat menghindar atau salah membaca gerakan, karakter bisa terkena beberapa pukulan beruntun dalam waktu singkat. Situasi seperti inilah yang membuat Sifu terasa sulit, karena pemain harus memperhatikan posisi, arah serangan, dan timing secara bersamaan.
Menariknya, aku sempat memperhatikan perilaku musuh yang seolah berubah ketika karakter mulai mendominasi pertarungan. Dalam salah satu sesi menggunakan mod, beberapa musuh terlihat lebih berhati-hati setelah aku mengalahkan lawan lainnya dengan cepat. Aku tidak tahu apakah ini memang bagian dari mekanisme AI atau hanya kebetulan dalam situasi pertarungan saat itu. Namun, kejadian tersebut cukup menarik karena membuat musuh terasa tidak selalu bereaksi dengan cara yang sama.
Walaupun sering kewalahan, aku tetap menyukai pertarungan Sifu. Bahkan sampai akhir permainan, melawan musuh biasa tidak terasa terlalu membosankan karena selalu ada kepuasan ketika berhasil melakukan gerakan dengan benar. Apalagi ketika sukses mengalahkan beberapa musuh tanpa menerima banyak serangan. Rasanya seperti sudah menjadi pemain profesional, meskipun kenyataannya masih sering babak belur pada pertarungan berikutnya.
Sistem Structure dan Takedown Jadi Salah Satu Kelebihan Terbaik
Salah satu mekanisme yang paling aku sukai adalah Structure, yaitu sistem keseimbangan pertahanan yang dimiliki karakter dan musuh. Melalui sistem ini, pemain tidak harus selalu menghabiskan HP musuh untuk mengalahkannya. Ketika Structure lawan berhasil dihancurkan, karakter dapat melakukan takedown untuk langsung menyelesaikan pertarungan, meskipun musuh tersebut sebenarnya masih memiliki cukup banyak HP.
Menurutku mekanisme ini membuat pertarungan menjadi lebih menarik karena pemain tidak hanya berfokus memberikan damage sebesar mungkin. Ada pendekatan lain yang bisa digunakan untuk mengalahkan lawan dengan lebih cepat, terutama ketika menghadapi musuh yang memiliki HP cukup tebal. Melakukan takedown juga dapat memberikan sedikit pemulihan HP kepada karakter, sehingga mekanisme ini sangat membantu ketika sedang menghadapi banyak musuh sekaligus.
Aku juga cukup sering memanfaatkan senjata yang ditemukan di lingkungan permainan. Menggunakan tongkat, pipa, atau benda lainnya terasa lebih efektif untuk memberikan damage dibandingkan hanya mengandalkan tangan kosong. Sayangnya, menggunakan objek di sekitar arena untuk menyerang atau menjatuhkan musuh tidak terlalu sering aku lakukan. Bukan karena mekanismenya buruk, tetapi karena dalam pertarungan ramai aku sudah terlalu sibuk menghindari serangan sampai terkadang lupa memanfaatkan lingkungan.
Selain itu, ada mekanisme Focus yang menurutku cukup membantu ketika menghadapi musuh dengan Structure kuat, terutama musuh bertubuh besar. Serangan ini bisa membuka kesempatan untuk menyerang sekaligus membantu menghadapi lawan yang sulit dikalahkan dengan serangan biasa. Tetapi seperti mekanisme lainnya, penggunaan Focus tetap harus disesuaikan dengan situasi pertarungan agar hasilnya efektif.
Sifu juga menyediakan berbagai skill yang dapat dibuka menggunakan XP, termasuk kemampuan permanen apabila memenuhi persyaratan tertentu. Sementara itu, Shrine memungkinkan pemain memilih beberapa peningkatan kemampuan yang dapat membantu selama perjalanan. Aku pribadi lebih tertarik dengan upgrade yang membantu memulihkan HP melalui takedown, karena manfaatnya terasa langsung ketika menghadapi banyak musuh.
Untuk skill serangan, aku justru tidak terlalu banyak bereksperimen. Alasannya sederhana, membuka gerakan baru bukan berarti aku otomatis bisa menggunakannya ketika menghadapi musuh agresif. Dalam latihan mungkin cukup mudah, tetapi saat pertarungan sesungguhnya aku lebih sering mengandalkan serangan dasar, senjata, dan takedown daripada mencoba menghafal kombinasi tombol lainnya.
Jadi, menurutku sistem pertarungan Sifu memang memiliki kedalaman yang cukup bagus. Hanya saja, pemain harus benar-benar meluangkan waktu untuk mempelajarinya agar semua mekanisme tersebut dapat digunakan secara maksimal. Kalau hanya ingin bermain santai sambil menikmati cerita, sebagian kemampuan yang tersedia justru bisa terasa sulit dimanfaatkan.
Mode Student atau Easy yang Masih Terasa Terlalu Sulit
Ini menjadi salah satu masalah terbesar yang aku rasakan selama memainkan Sifu. Game ini menyediakan tiga pilihan tingkat kesulitan, yaitu Student, Disciple, dan Master. Awalnya aku memilih Disciple atau normal karena menganggap tingkat kesulitan tersebut seharusnya masih cukup nyaman dimainkan. Namun kenyataannya, sejak level pertama saja aku sudah beberapa kali mati karena kesulitan membaca pola serangan musuh.
Memasuki level kedua, kondisinya semakin parah hingga akhirnya aku memutuskan berpindah ke Student. Pada saat mencapai level ketiga, karakterku sudah berada di sekitar usia 35 tahun akibat berbagai kematian sebelumnya. Hal ini membuatku sadar bahwa kalau tetap memaksakan bermain pada tingkat kesulitan normal, perjalanan menyelesaikan story mungkin akan semakin melelahkan.
Sayangnya, setelah berpindah ke Student pun permainan tidak langsung terasa mudah. Memang ada beberapa perubahan yang membantu, termasuk kemampuan karakter untuk bertahan lebih lama dan tekanan musuh yang relatif lebih ringan. Tetapi dalam praktiknya, musuh masih cukup agresif, serangan mereka tetap berbahaya, dan kesalahan melakukan parry atau menghindar masih bisa membuat karakter kehilangan banyak HP.
Aku bahkan merasa Student lebih cocok disebut sebagai tingkat kesulitan normal bagi pemain yang belum terbiasa dengan sistem pertarungan Sifu. Mungkin bagi pemain yang sudah menguasai berbagai teknik kung fu, mode ini akan terasa sangat mudah. Namun untuk gamer kasual seperti aku, tantangannya masih cukup tinggi, terutama ketika menghadapi banyak musuh yang menyerang hampir bersamaan.
Situasi paling menyebalkan biasanya terjadi ketika karakter dikelilingi musuh dari berbagai arah. Aku harus terus mencari posisi yang lebih aman karena kalau sampai terjebak, satu kesalahan kecil bisa membuat karakter menerima serangan beruntun. Belum lagi ketika sudut kamera kurang nyaman, sehingga beberapa gerakan musuh menjadi sulit terlihat dengan jelas. Dalam game yang sangat mengandalkan timing, masalah seperti ini tentu terasa cukup mengganggu.
Menurutku Sifu seharusnya menyediakan satu atau dua tingkat kesulitan tambahan yang lebih rendah dari Student. Bukan berarti tantangan utamanya harus dihilangkan, karena pemain yang memang menyukai game sulit tetap bisa memilih Disciple atau Master. Tetapi setidaknya pemain kasual punya kesempatan menikmati pertarungan dan cerita tanpa harus terus-menerus merasa tertekan.
Karena bagiku, bermain game adalah kegiatan untuk bersenang-senang. Kalau mode easy saja sudah membuat pemain harus berusaha sangat keras hanya untuk melewati satu pertarungan, tentu tidak semua orang akan menikmati pengalaman tersebut. Meski begitu, aku juga memahami bahwa tingkat kesulitan memang menjadi bagian penting dari identitas Sifu, sehingga pemain yang menyukai tantangan mungkin justru akan melihatnya sebagai salah satu kelebihan utama.
Sistem Usia yang Unik, Tapi Kematian Jadi Semakin Menyebalkan
Sifu memiliki mekanisme kematian yang cukup berbeda dari kebanyakan game action yang pernah aku mainkan. Ketika karakter mati, permainan tidak langsung berakhir karena kita masih diberikan kesempatan untuk bangkit kembali. Namun sebagai gantinya, usia karakter akan bertambah dan perubahan tersebut juga memengaruhi kemampuan bertarung.
Karakter utama memulai perjalanan pada usia 20 tahun. Semakin sering mengalami kematian, penampilan fisiknya perlahan berubah menjadi lebih tua, mulai dari wajah hingga warna rambut. Menurutku perubahan ini cukup menarik karena benar-benar memperlihatkan konsekuensi dari setiap kegagalan. Kita seperti diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan, tetapi kesempatan tersebut memiliki harga yang harus dibayar.
Masalahnya, sistem ini juga bisa menambah tekanan ketika menghadapi musuh yang sudah sulit dikalahkan. Bayangkan sudah berulang kali gagal melakukan parry atau menghindari serangan, kemudian harus melihat usia karakter terus bertambah setiap kali mati. Rasanya semakin menyebalkan karena pemain juga memiliki batasan sampai usia tertentu sebelum akhirnya tidak bisa bangkit kembali.
Dalam perjalanan menyelesaikan story, aku memperkirakan usia karakter sebenarnya sudah mencapai sekitar 55 tahun. Namun angka yang tampil sempat berubah karena aku juga pernah melakukan percobaan mod untuk mengatur XP dan usia, sehingga hasil akhirnya tidak sepenuhnya menunjukkan perkembangan usia tanpa perubahan tersebut.
Walaupun mekanisme ini sering membuatku kesal, aku sebenarnya tidak ingin fitur tersebut dihilangkan. Sistem usia justru menjadi salah satu keunikan terbesar Sifu dan membuat setiap pertarungan terasa memiliki konsekuensi. Hanya saja, ketika digabungkan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, fitur tersebut bisa membuat pemain kasual semakin frustrasi karena kesalahan kecil berpotensi memberikan dampak panjang terhadap permainan.
Desain Level Bervariasi, Tapi Perubahan Lokasinya Kadang Terasa Dipaksakan
Sifu memiliki lima level utama yang membawa pemain menuju berbagai lokasi berbeda, yaitu The Squats, The Club, The Museum, The Tower, dan The Sanctuary. Secara keseluruhan, aku menyukai variasi lingkungan yang ditawarkan karena masing-masing level memiliki suasana dan identitas tersendiri. Meskipun game ini tidak menggunakan dunia terbuka, perjalanan dari satu lokasi menuju lokasi lainnya masih terasa cukup menarik.
The Squats memberikan kesan seperti pertarungan jalanan di kawasan yang dipenuhi kelompok kriminal. Kemudian The Club menghadirkan suasana menyerbu markas gangster sendirian, lengkap dengan pertarungan yang terasa semakin intens. Kedua level tersebut cukup cocok dengan tema kung fu karena lingkungan dan pertarungannya masih terasa seperti aksi bela diri jalanan.
Sementara itu, The Museum memiliki desain yang lebih artistik dengan berbagai ruangan yang terlihat sederhana tetapi unik. The Tower memberikan pengalaman yang terasa lebih banyak menghadirkan aksi dan adegan seperti film laga, sedangkan The Sanctuary menjadi lokasi terakhir yang membawa pemain menuju penyelesaian cerita. Aku sebenarnya menyukai hampir semua level dari segi tampilannya, meskipun The Tower menjadi lokasi yang paling membuatku kesal karena jumlah musuh dan pertarungan boss yang sangat menyebalkan.
Namun ada satu hal yang cukup mengganggu sepanjang menjelajahi berbagai lokasi tersebut, yaitu perubahan lingkungan yang terkadang terasa terlalu mendadak. Misalnya, ketika sedang berada di dalam gedung, permainan tiba-tiba membawa karakter menuju area yang terlihat seperti desa terbakar, tempat bersalju, atau kawasan gua. Aku memahami bahwa perubahan tersebut mungkin dimaksudkan untuk memperkuat suasana artistik dan memberikan kesan dramatis pada pertarungan tertentu.
Tetapi secara pribadi, beberapa perpindahan tersebut terasa seperti dipaksakan agar terlihat sinematik. Lingkungan yang sebelumnya sudah menarik tiba-tiba berubah menjadi lokasi yang sama sekali berbeda, sehingga terkadang membuatku bertanya-tanya kenapa tempatnya bisa berubah sejauh itu. Untuk sebagian pemain mungkin terlihat keren, tetapi aku justru merasa perubahan tersebut kurang menyatu dengan suasana lokasi sebelumnya.
Di luar masalah tersebut, desain level Sifu tetap memiliki beberapa fitur yang menarik, terutama shortcut yang bisa dibuka untuk mempersingkat perjalanan. Fitur ini cukup membantu ketika pemain ingin mengulang level tanpa harus menghadapi semua musuh dari awal. Dengan adanya sistem usia, shortcut juga menjadi penting karena dapat mengurangi risiko kehilangan HP dan bertambahnya usia akibat pertarungan yang sebenarnya sudah pernah diselesaikan.
Sayangnya, aku sendiri tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap lokasi atau melengkapi Detective Board yang tersedia. Karena tingkat kesulitannya sudah cukup menguras kesabaran, tujuan utamaku lebih banyak berfokus untuk segera menyelesaikan story. Rasanya sudah cukup sulit menghadapi musuh yang ada, sehingga keinginan untuk mencari berbagai rahasia atau informasi tambahan juga semakin berkurang.
Pertarungan Boss yang Menarik, Sampai Boss Keempat Bikin Emosi
Pertarungan melawan boss menjadi salah satu bagian yang paling menarik sekaligus paling melelahkan selama memainkan Sifu. Setiap boss memiliki pola serangan berbeda, sehingga pemain tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk menghadapi semuanya. Namun justru karena perbedaan tersebut, ada beberapa pertarungan yang terasa jauh lebih menyebalkan dibandingkan lainnya.
Boss pertama, Fajar, sudah memberikan gambaran betapa sulitnya permainan ini. Serangannya cukup cepat dan memiliki jangkauan yang menyulitkan ketika mencoba menjauh. Memasuki fase kedua, ia menjadi semakin agresif dengan lingkungan pertarungan yang berubah menjadi penuh tumbuhan. Aku justru merasa bagian ini sedikit aneh karena Fajar terlihat seperti mempunyai kemampuan layaknya penyihir yang bisa mempercepat pertumbuhan tanaman, padahal kesan awal level lebih menyerupai pertarungan jalanan biasa.
Berikutnya ada Sean, boss kedua yang menggunakan senjata tongkat. Menurutku Sean menjadi salah satu boss paling menarik dari segi desain karakter dan arena pertarungannya. Meskipun serangannya memiliki jangkauan cukup luas, aku merasa ia masih lebih mudah dihadapi dibandingkan boss lainnya. Fase kedua memang membuatnya semakin agresif, tetapi pola serangannya masih cukup bisa diikuti. Dari kelima boss yang ada, Sean juga menjadi salah satu pertarungan yang paling aku sukai.
Kemudian ada Kuroki, boss ketiga yang mulai memberikan tantangan lebih berat. Pada fase pertama, ia memiliki rangkaian serangan panjang dengan jangkauan cukup jauh, sehingga aku harus menunggu sampai serangannya selesai sebelum mendapatkan kesempatan memberikan beberapa pukulan. Memasuki fase kedua, gaya bertarungnya berubah cukup drastis karena ia mulai menggunakan gerakan lebih cepat, termasuk serangan menggunakan senjata lempar yang bisa dikembalikan jika pemain mempunyai kemampuan tertentu.
Pertarungan melawan Kuroki sebenarnya menarik karena pemain harus mempelajari pola serangan berbeda pada setiap fase. Namun bagi pemain yang sering terlambat melakukan parry atau menghindar seperti aku, boss ini tetap terasa sangat sulit. Apalagi ketika ia sudah memulai rangkaian serangan, mencari kesempatan untuk membalas terkadang terasa cukup merepotkan.
Tetapi dari semua boss, yang paling membuatku frustrasi jelas Jinfeng, boss keempat yang berada di The Tower. Jujur saja, pertarungan melawannya benar-benar bikin emosi karena hampir seluruh gaya bertarungnya mengandalkan serangan dari jarak jauh. Setiap kali mencoba mendekat, aku sering terkena serangan sebelum berhasil memberikan pukulan. Rasanya seperti harus mengorbankan HP dan usia hanya untuk mempersempit jarak dengan boss tersebut.
Bahkan ketika sudah berhasil mendekat, kesempatan untuk menyerangnya tidak selalu panjang. Di sinilah aku benar-benar merasa pertarungan mulai tidak adil, setidaknya berdasarkan kemampuanku memainkan game ini. Aku sampai beberapa kali berkata kasar karena kesal menghadapi Jinfeng, bukan karena tidak memahami bahwa serangannya bisa dipelajari, tetapi karena proses untuk mendekati dan memberikan serangan terasa terlalu sulit. Fase kedua memang sedikit lebih nyaman, tetapi masalah utamanya masih tetap terasa.
Lucunya, ketika akhirnya menghadapi Yang sebagai boss terakhir, aku justru tidak merasa semarah ketika melawan Jinfeng. Padahal Yang jelas bukan lawan yang mudah karena pertarungan melawannya sangat mengandalkan kemampuan parry, deflect, dan menghindari serangan. Pemain juga tidak dapat menggunakan Focus seperti ketika menghadapi kebanyakan musuh sebelumnya.
Namun menurutku pertarungan melawan Yang masih lebih bisa dinikmati karena setidaknya aku memiliki kesempatan untuk mendekat, memberikan pukulan, dan membaca pola serangannya. Memang tetap harus mati berkali-kali, tetapi rasanya tidak semenyebalkan ketika harus terus mengejar Jinfeng sambil menghindari serangan jarak jauh.
Secara keseluruhan, kualitas pertarungan boss Sifu sebenarnya bagus karena masing-masing memiliki ciri khas dan memaksa pemain menggunakan pendekatan berbeda. Namun pengalaman tersebut juga memperlihatkan betapa besar pengaruh kemampuan pemain terhadap keseruan game ini. Kalau sudah terbiasa membaca pola serangan, setiap kemenangan mungkin terasa sangat memuaskan. Sebaliknya, bagi pemain seperti aku, beberapa pertarungan lebih terasa seperti ujian kesabaran daripada tantangan yang benar-benar menyenangkan.
Cerita Balas Dendam Menarik, Tapi Penyampaiannya Terlalu Singkat
Dari segi cerita, Sifu memiliki premis yang cukup sederhana tetapi menarik untuk diikuti. Game ini menceritakan perjalanan karakter utama yang ingin membalas dendam setelah mengalami tragedi pada masa kecilnya. Sejak prolog, suasana permainan sudah terasa cukup kelam karena kita diperlihatkan alasan karakter utama memutuskan memburu orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Menurutku pembukaan ceritanya cukup bagus karena langsung memperkenalkan konflik utama tanpa terlalu banyak basa-basi. Namun setelah memasuki permainan, penyampaian ceritanya terasa sangat terbatas. Dialog tidak terlalu banyak, sementara sebagian besar informasi disampaikan melalui adegan singkat dan lingkungan yang dikunjungi.
Sebenarnya Sifu menyediakan Detective Board yang dapat membantu pemain memahami hubungan antar karakter dan berbagai informasi tambahan mengenai cerita. Namun karena aku lebih fokus menyelesaikan permainan, fitur tersebut tidak terlalu banyak aku eksplorasi. Akibatnya, ada beberapa bagian cerita yang terasa kurang jelas karena informasi mengenai latar belakang karakter tidak semuanya disampaikan secara langsung.
Aku masih bisa memahami tujuan utama karakter, termasuk hubungan Yang dengan masa lalunya. Tetapi untuk latar belakang beberapa boss lainnya, informasi yang diperoleh melalui story terasa kurang mendalam. Menurutku cerita Sifu lebih berfungsi sebagai alasan untuk terus menghadapi pertarungan berikutnya daripada menjadi daya tarik utama yang mampu berdiri sendiri.
Durasi ceritanya juga terasa cukup singkat. Aku berhasil menamatkan story pertama dalam waktu sekitar 3 jam 40 menit, dan sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk menghadapi musuh serta boss yang sulit. Kalau pemain sudah benar-benar menguasai mekanisme pertarungan dan mampu menyelesaikan setiap level dengan cepat, perjalanan ceritanya mungkin akan terasa jauh lebih singkat lagi.
Jadi, meskipun premis balas dendam Sifu cukup menarik, aku merasa penyampaian ceritanya masih bisa dibuat lebih mendalam. Terutama untuk memberikan alasan yang lebih kuat mengenai hubungan antar karakter dan motivasi setiap boss. Dengan begitu, perjalanan menghadapi kelima target mungkin akan terasa lebih berkesan daripada sekadar berpindah dari satu pertarungan menuju pertarungan berikutnya.
Dua Ending Sifu: Revenge dan Wude, Mana yang Lebih Memuaskan?
Setelah berhasil mengalahkan Yang, aku akhirnya mendapatkan ending pertama, yaitu Revenge. Jujur saja, reaksi pertamaku cukup aneh karena setelah melewati pertarungan sulit, mati berkali-kali, dan menghadapi boss yang membuat frustrasi, penutupan ceritanya justru terasa begitu singkat. Aku bahkan sampai berpikir, “Gini doang?” Rasanya seperti seluruh perjalanan yang sudah dilalui belum mendapatkan penyelesaian yang benar-benar memuaskan.
Awalnya aku bahkan tidak mengetahui bahwa Sifu mempunyai ending lain. Aku baru menyadari keberadaan good ending setelah mendapatkan informasi dari penonton YouTube, kemudian mencari panduan melalui internet untuk mengetahui cara memperolehnya. Ternyata ada ending Wude yang memberikan pendekatan berbeda terhadap perjalanan karakter utama, yaitu memilih pengampunan daripada terus melanjutkan balas dendam.
Untuk mendapatkan Wude, pemain harus mengampuni para boss melalui mekanisme pertarungan tertentu. Menurutku konsep ini menarik karena memberikan makna berbeda terhadap perjalanan yang sebelumnya hanya berfokus pada pembalasan dendam. Game seolah ingin memperlihatkan bahwa menyelesaikan konflik tidak harus selalu dilakukan dengan membunuh semua orang yang dianggap bersalah.
Dibandingkan Revenge, aku jelas lebih menyukai Wude karena penutupan ceritanya terasa lebih baik dan pesan moralnya juga lebih jelas. Namun bukan berarti ending tersebut benar-benar sempurna. Setelah melewati seluruh perjalanan yang cukup melelahkan, aku masih berharap penyelesaian akhirnya memberikan lebih banyak penjelasan atau adegan tambahan agar terasa lebih memuaskan.
Ada satu hal penting yang perlu dijelaskan mengenai bagaimana aku memperoleh ending Wude. Setelah menyelesaikan Revenge melalui permainan biasa tanpa menggunakan cheat untuk mempermudah pertarungan, aku memutuskan memainkan ulang story menggunakan karakter perempuan. Pada sesi tersebut, aku juga mencoba tingkat kesulitan Master, tetapi dengan bantuan mod cheat agar perjalanan mendapatkan ending kedua menjadi lebih cepat.
Beberapa fitur mod yang digunakan antara lain Focus tanpa batas, pertahanan tanpa batas, serta pengaturan XP, score, dan usia karakter. Aku juga sempat mencoba god mode dan HP tanpa batas, terutama ketika sedang menguji cara memunculkan pilihan untuk mengampuni boss pada awal permainan. Saat itu aku sempat kebingungan karena tombol pengampunan tidak langsung muncul seperti yang dibayangkan, sehingga harus mencari informasi tambahan mengenai mekanismenya.
Penggunaan mod membuat perjalanan menuju Wude menjadi jauh lebih mudah. Aku memperkirakan prosesnya bisa lebih cepat sekitar dua jam dibandingkan harus menyelesaikan seluruh pertarungan secara normal. Namun setelah mencoba beberapa cheat ekstrem, aku juga merasa fitur seperti god mode atau kebal dari semua serangan justru dapat menghilangkan sebagian besar keseruan gameplay. Memang menyenangkan bisa mengalahkan musuh dengan cepat, tetapi tantangan yang menjadi daya tarik utama Sifu akhirnya hampir tidak terasa.
Karena itu, pengalaman mendapatkan Wude ini lebih aku anggap sebagai usaha untuk menyelesaikan cerita dan melihat ending alternatif, bukan membuktikan bahwa aku berhasil menguasai tingkat kesulitan Master. Setelah kedua ending berhasil diperoleh, rasa penasaranku terhadap Sifu akhirnya cukup terjawab. Kalau ditanya apakah aku ingin memainkan ulang game ini tanpa mod untuk mendapatkan Wude, jawabannya tidak, karena aku sudah mengetahui ceritanya dan tidak ingin kembali menghadapi tingkat kesulitan yang sama.
Mode Arenas: Konten Tambahan yang Tidak Terlalu Menarik Bagiku
Setelah menyelesaikan story, aku juga sempat mencoba mode Arenas yang menjadi salah satu konten tambahan dalam Sifu. Mode ini menawarkan berbagai tantangan pertarungan di luar cerita utama, sehingga pemain masih mempunyai aktivitas lain setelah berhasil menamatkan campaign. Namun pengalaman yang aku coba masih sangat terbatas karena hanya memainkan satu tantangan pada arena awal, yang berisi pertarungan melawan musuh dalam tiga gelombang.
Total waktu mencobanya mungkin kurang dari sepuluh menit. Dari pengalaman singkat tersebut, aku melihat bahwa Arenas lebih cocok untuk pemain yang memang menikmati sistem pertarungan Sifu dan ingin terus menguji kemampuan mereka. Bagi pemain yang suka menyempurnakan combo, mempelajari pola serangan, atau mencoba mendapatkan hasil lebih baik, keberadaan mode ini tentu dapat memberikan alasan untuk terus bermain.
Namun buat aku pribadi, Arenas tidak terlalu menarik untuk dilanjutkan. Setelah melewati campaign yang sudah cukup membuat kesal, aku justru lebih memilih memainkan game lain daripada kembali menghadapi berbagai pertarungan sulit. Jadi, aku tidak bisa memberikan penilaian mendalam mengenai seluruh konten Arenas karena memang belum mencoba banyak tantangannya.
Meski begitu, aku tetap menganggap keberadaan Arenas sebagai nilai tambah bagi Sifu. Setidaknya pemain yang benar-benar menikmati mekanisme pertarungannya masih memiliki alasan untuk kembali bermain setelah menyelesaikan cerita. Hanya saja, bagi pemain kasual seperti aku yang lebih fokus pada story, mode tersebut belum tentu cukup menarik untuk membuat game dimainkan kembali.
Visual Sederhana, Tapi Animasi Pertarungannya Bagus
Dari sisi grafis, Sifu menggunakan gaya visual yang cukup sederhana dan tidak terlalu mengejar tampilan realistis. Menurutku pendekatan tersebut justru memberikan identitas tersendiri karena desain karakter, penggunaan warna, dan suasana lingkungan membuat game ini cukup mudah dikenali. Setiap level juga mempunyai tampilan berbeda, sehingga perjalanan tidak terasa menggunakan lingkungan yang sama secara terus-menerus.
Animasi pertarungannya menjadi bagian visual yang paling aku sukai. Gerakan pukulan, tendangan, parry, hingga takedown terlihat cukup bagus, terutama ketika karakter berhasil melakukan finishing move. Ada beberapa adegan yang membuat pertarungan terasa seperti sedang menonton film kung fu, lengkap dengan gerakan cepat dan serangan yang terlihat cukup brutal.
Perubahan penampilan karakter berdasarkan usia juga menjadi detail menarik. Kita bisa melihat bagaimana karakter yang awalnya masih muda perlahan berubah menjadi semakin tua setelah mengalami berbagai kematian. Menurutku fitur ini bukan hanya menarik dari sisi gameplay, tetapi juga berhasil memberikan identitas visual yang cukup kuat terhadap karakter utama.
Namun kalau membicarakan kualitas grafis secara keseluruhan, aku merasa tampilannya tidak terlalu istimewa. Sifu lebih mengandalkan gaya artistik dan animasi bela diri daripada detail visual yang benar-benar memukau. Beberapa adegan sinematik memang cukup menarik, tetapi seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, perubahan lingkungan tertentu terkadang terasa terlalu mendadak dan berlebihan.
Untuk urusan audio, Sifu memberikan pengalaman yang cukup bagus. Musik selama pertarungan, terutama ketika menghadapi boss, berhasil memperkuat ketegangan dan membuat pertarungan terasa lebih intens. Efek suara pukulan, tendangan, dan benturan senjata juga cukup memuaskan, terutama ketika berhasil melakukan serangan beruntun atau menjatuhkan musuh.
Aku memainkan game ini menggunakan dubbing berbahasa Tionghoa karena menurutku lebih cocok dengan tema kung fu yang ditampilkan. Secara pribadi, kualitas voice acting-nya sudah cukup baik, meskipun aku tidak melakukan perbandingan langsung dengan pilihan bahasa lainnya. Namun kalau dibandingkan dengan suasana film laga kung fu seperti film-film Jackie Chan, masih ada beberapa bagian audio yang terasa kurang kuat, terutama pada prolog yang menurutku bisa dibuat lebih dramatis melalui penggunaan musik.
Secara keseluruhan, visual dan audio Sifu sudah cukup mendukung suasana permainan. Memang bukan aspek yang paling membuatku terkesan setelah menamatkannya, tetapi keduanya tetap berhasil memperkuat pengalaman pertarungan yang menjadi daya tarik utama game ini.
Performa PC Stabil, Tapi Kontrol Kamera Kadang Mengganggu
Aku memainkan Sifu di PC menggunakan prosesor AMD Ryzen 7 5800X3D, kartu grafis NVIDIA GeForce RTX 5070 Ti, dan RAM 32GB. Untuk gameplay part pertama dan kedua, aku menggunakan resolusi 1080p, sedangkan pada part ketiga resolusinya dinaikkan menjadi 1440p. Sepanjang permainan, aku tidak mengalami masalah performa yang berarti, seperti crash atau stuttering yang mengganggu jalannya permainan.
Loading dan penyimpanan progres juga berjalan dengan baik, sehingga dari sisi kestabilan game aku tidak mempunyai keluhan besar. Namun ada satu masalah yang cukup mengganggu ketika mencoba bermain menggunakan keyboard dan mouse, yaitu kursor yang terkadang berpindah keluar dari layar permainan menuju monitor kedua. Karena aku menggunakan konfigurasi dua monitor, kondisi tersebut membuat kontrol terasa kurang nyaman dan akhirnya memutuskan untuk lebih sering menggunakan gamepad.
Menggunakan gamepad terasa lebih nyaman untuk memainkan Sifu, tetapi bukan berarti semua masalah kontrol langsung hilang. Kamera masih menjadi salah satu hal yang terkadang membuat pertarungan semakin sulit, terutama ketika karakter sedang dikelilingi banyak musuh. Dalam beberapa kondisi, sudut kamera kurang ideal untuk melihat gerakan lawan, sehingga aku terlambat bereaksi terhadap serangan yang datang.
Masalah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam game yang sangat bergantung pada kemampuan membaca gerakan dan timing, sudut kamera yang kurang tepat bisa memberikan dampak besar. Apalagi ketika satu kesalahan kecil dapat membuat karakter menerima beberapa pukulan sekaligus. Namun di luar kendala kamera dan masalah kursor saat menggunakan keyboard dan mouse, performa Sifu pada PC yang aku gunakan tergolong sangat stabil.
Harga Rp230.000, Apakah Sifu Worth It?
Sekarang masuk ke pertanyaan yang cukup penting, apakah Sifu layak dibeli dengan harga normal Rp230.000? Kalau berdasarkan pengalamanku pribadi, jawabannya kurang worth it. Perlu diingat, aku mendapatkan Sifu secara gratis melalui Epic Games Store, sehingga dari sisi pengeluaran tentu tidak ada masalah. Namun kalau harus membelinya menggunakan uang sendiri, menurutku harga tersebut terasa terlalu mahal untuk game dengan durasi cerita yang relatif singkat.
Memang benar bahwa kualitas gameplay Sifu bagus. Sistem pertarungannya memiliki kedalaman, variasi boss cukup menarik, dan keberadaan Arenas memberikan konten tambahan setelah menyelesaikan story. Tetapi nilai dari semua konten tersebut sangat bergantung pada seberapa besar pemain menikmati mekanisme pertarungannya.
Kalau kamu termasuk pemain yang suka mengulang level, mempelajari berbagai combo, memperbaiki hasil pertarungan, atau mencoba mendapatkan usia penyelesaian yang lebih rendah, Sifu mungkin bisa memberikan waktu bermain jauh lebih panjang. Belum lagi keberadaan Arenas yang menawarkan tantangan tambahan bagi pemain yang benar-benar ingin menguasai sistem kung fu dalam game ini.
Namun kalau gaya bermainmu lebih fokus pada cerita dan hanya ingin menamatkan campaign sekali, Sifu bisa terasa cukup singkat. Aku sendiri berhasil menyelesaikan story pertama sekitar 3 jam 40 menit, dan setelah mendapatkan kedua ending, tidak ada keinginan besar untuk kembali memainkannya. Mode Arenas memang sempat dicoba, tetapi tidak cukup menarik bagiku untuk terus melanjutkan permainan.
Karena itu, aku lebih merekomendasikan membeli Sifu ketika sedang diskon. Menurutku harga sekitar Rp100.000 sudah lebih masuk akal, dan kalau bisa mendapatkannya di kisaran Rp50.000 sampai Rp100.000, tentu akan terasa jauh lebih menarik untuk dicoba. Sekali lagi, penilaian tersebut bukan berarti kualitas Sifu hanya seharga itu, melainkan berdasarkan seberapa banyak konten yang benar-benar ingin aku nikmati.
Bagi pemain yang menyukai game action dengan tingkat kesulitan tinggi, harga normal mungkin masih dianggap sepadan karena mereka berpotensi menghabiskan jauh lebih banyak waktu untuk menguasai gameplay. Tetapi untuk pemain kasual seperti aku yang hanya ingin menikmati cerita dan pertarungan tanpa harus mengulang berkali-kali, membeli ketika diskon besar terasa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Apakah Sifu Cocok untuk Gamer Kasual?
Menurutku, Sifu bukan game yang bisa langsung direkomendasikan kepada semua pemain. Game ini lebih cocok untuk mereka yang sudah terbiasa menghadapi pertarungan sulit, terutama yang membutuhkan ketepatan timing, refleks, dan kesabaran untuk terus mencoba setelah kalah. Pemain yang menyukai game fighting seperti Tekken, Street Fighter, Mortal Kombat, atau berbagai game action soulslike mungkin akan lebih tertarik dengan tantangan yang ditawarkan Sifu, meskipun mekanisme pertarungannya tentu berbeda.
Intinya, kalau kamu suka mempelajari pola serangan musuh, mencoba berbagai strategi, dan tidak masalah harus mati berkali-kali sebelum akhirnya berhasil, Sifu bisa memberikan pengalaman yang sangat memuaskan. Sebaliknya, kalau kamu lebih menyukai game yang santai, berfokus pada cerita, dan tidak terlalu menuntut ketepatan menekan tombol, aku justru kurang merekomendasikannya.
Aku sendiri sudah mencoba berpindah dari Disciple ke Student, tetapi tingkat kesulitannya masih terasa cukup tinggi. Memang ada rasa puas ketika akhirnya berhasil mengalahkan boss yang sulit, tetapi rasa puas tersebut terkadang tidak sebanding dengan frustrasi yang harus dilewati sebelumnya. Apalagi kalau harus menghadapi boss seperti Jinfeng yang membuatku terus kehilangan HP hanya karena kesulitan mendekatinya.
Kalau penasaran dengan cerita dan hanya ingin menikmati aksi kung fu, penggunaan mod pada versi PC juga bisa menjadi pilihan pribadi. Tetapi pengalaman bermainnya tentu akan berubah, terutama kalau menggunakan cheat ekstrem yang menghilangkan hampir seluruh tantangan pertarungan. Aku sendiri sudah merasakan perbedaannya ketika memainkan ulang story untuk mendapatkan Wude, dan memang ada beberapa bagian yang menjadi jauh lebih mudah sampai tantangannya hampir tidak terasa.
Jadi, buat pemain dengan gaya bermain mirip denganku, mungkin Sifu lebih cocok dicoba ketika sedang diskon besar atau didapatkan secara gratis. Setidaknya kalau ternyata kesulitannya tidak cocok, kamu tidak perlu merasa terlalu rugi karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk game yang akhirnya tidak ingin dimainkan kembali.
Kesimpulan: Game Kung Fu Bagus, Tapi Terlalu Hardcore untukku
Setelah memainkan Sifu selama 6 jam 45 menit, menamatkan story, mendapatkan kedua ending, dan mencoba sedikit mode Arenas, aku merasa game ini sebenarnya memiliki kualitas yang cukup bagus. Sistem pertarungannya menarik, animasi kung fu memuaskan, dan mekanisme Structure memberikan kedalaman yang jarang aku temukan pada game action lain yang pernah dimainkan. Sistem usia setelah kematian juga menjadi salah satu fitur paling unik yang membuat Sifu mempunyai identitas berbeda dari game bela diri lainnya.
Pertarungan boss juga memiliki variasi yang bagus, meskipun beberapa di antaranya terasa sangat sulit. Terutama Jinfeng, yang menjadi salah satu pengalaman paling membuat frustrasi selama aku memainkan game ini. Sayangnya, semua kelebihan tersebut belum berhasil membuatku benar-benar menikmati keseluruhan perjalanan karena tingkat kesulitannya terlalu tinggi untuk gaya bermainku, bahkan ketika sudah menggunakan Student yang seharusnya menjadi mode paling mudah.
Cerita yang sebenarnya menarik juga terasa terlalu singkat, sementara penyampaiannya kurang mendalam. Kedua ending memang memberikan sudut pandang berbeda, tetapi tetap belum sepenuhnya memuaskan setelah semua perjuangan yang dilalui. Untuk harga normal Rp230.000, aku pribadi merasa Sifu kurang worth it jika hanya ingin menikmati story sekali. Namun kalau sedang diskon besar, game ini masih cukup menarik untuk dicoba.
Aku tidak mengatakan Sifu adalah game buruk. Justru aku cukup mengapresiasi bagaimana Sloclap berhasil menciptakan sistem pertarungan kung fu yang mempunyai ciri khas kuat. Hanya saja, game yang bagus belum tentu menjadi game yang menyenangkan untuk semua orang. Bagi pemain yang menyukai tantangan berat, Sifu bisa menjadi pengalaman kung fu yang sangat memuaskan. Tetapi bagi gamer kasual seperti aku, game ini lebih sering terasa seperti ujian kesabaran daripada hiburan.
Jadi, apakah aku merekomendasikan Sifu? Ya, kalau kamu memang menyukai game action yang sulit dan membutuhkan timing sangat presisi. Tetapi kalau kamu lebih suka bermain santai tanpa harus terus-menerus mengulang pertarungan, aku justru kurang merekomendasikannya. Setidaknya aku sudah berhasil menamatkan Sifu dan melihat kedua ending-nya. Pengalaman yang menarik, tetapi rasanya cukup sekali saja. Untuk kembali memainkannya dari awal tanpa bantuan mod? Sepertinya tidak dalam waktu dekat.
