Black Squad adalah salah satu game FPS gratis yang punya tempat tersendiri dalam pengalaman bermainku. Total waktuku di versi Steam sudah sekitar 80 jam, dan baru-baru ini aku kembali memainkannya selama kurang lebih enam jam setelah vakum cukup lama. Sebelum itu, aku juga pernah memainkan Black Squad pada masa server Indonesia sekitar 2016 melalui Gemscool. Karena itu, kembali masuk ke game ini sekarang terasa seperti membuka kembali sesuatu yang sudah lama kukenal.
Kesan pertamaku setelah kembali cukup sederhana: nostalgia. Black Squad masih terasa familiar, masih punya gunplay yang menyenangkan, dan masih cukup ringan untuk dimainkan di PC berspesifikasi rendah. Namun di saat yang sama, ada satu perubahan yang sulit diabaikan. Game ini sekarang terasa sangat sepi. Bagiku, masalah itu bukan sekadar soal jumlah pemain, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap mode permainan yang bisa dinikmati.
Aku tetap merekomendasikan Black Squad, terutama karena game ini gratis dan masih punya fondasi gameplay yang bagus. Hanya saja, rekomendasiku sekarang tidak bisa diberikan tanpa catatan. Ada bagian dari identitas game ini yang menurutku sudah sulit dirasakan lagi karena jumlah pemain yang terlalu sedikit.
Review Battlefield 5 Versi Narasi
Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel tersebut.
Gameplay Black Squad: Cepat Mati, Jadi Harus Lebih Taktis
Hal paling menarik dari Black Squad justru datang dari cara tembak-menembaknya. Menurutku, gameplay game ini cukup advance karena pemain dapat mati hanya dengan beberapa peluru dari senjata assault. Dalam pengalamanku, sekitar dua sampai empat peluru saja sudah bisa cukup untuk menjatuhkan lawan.
Buatku, hal ini bukan kekurangan utama. Justru inilah salah satu identitas Black Squad. Game ini tidak terasa seperti FPS yang mengharuskan pemain menghabiskan terlalu banyak peluru hanya untuk mengalahkan satu musuh. Karena damage terasa tinggi, aku harus lebih menghargai setiap peluru yang ditembakkan. Akurasi, penghematan peluru, posisi, dan kehati-hatian menjadi bagian dari strategi.
Konsekuensinya jelas. Pemain dengan aim buruk atau yang belum terbiasa akan lebih mudah mati. Salah langkah sedikit saja bisa langsung dihukum. Namun dari sisi gameplay, menurutku sistem seperti ini bagus karena membuat setiap kemenangan kecil terasa memuaskan. Saat berhasil mengalahkan lawan, ada rasa puas yang cukup kuat. Aku tidak merasa hanya menang karena menembak lebih lama, tetapi karena berhasil membidik, mengambil posisi, dan bereaksi dengan tepat.
Tempo permainan sendiri bergantung pada mode. Bomb Mission cenderung berlangsung lebih lama, sedangkan mode lain rata-rata berjalan lebih cepat. Aku sendiri paling menyukai Team Deathmatch dan Destroy. Team Deathmatch mudah dinikmati ketika ingin langsung masuk ke pertempuran, sedangkan Destroy justru menjadi salah satu mode paling berkesan yang pernah kumainkan di Black Squad.
Destroy, Mode yang Membuat Black Squad Terasa Berbeda
Destroy punya skala yang jauh lebih besar dibanding mode yang lebih biasa. Dalam mode ini, aku bisa melihat atau menggunakan berbagai elemen seperti helikopter, artileri, air superiority, pertahanan anti-granat, gatling, C4, claymore, dan lainnya. Tujuannya berkaitan dengan menghancurkan peralatan milik lawan.
Saat mode ini penuh, terutama ketika jumlah pemainnya mencapai sekitar 32 orang, suasananya bisa sangat rusuh. Justru kekacauan itu yang membuatnya menyenangkan. Ada momen ketika skala pertempurannya terasa begitu berbeda sampai aku bisa berpikir, “Apakah ini masih game yang sama?”
Buatku, Destroy adalah salah satu hal yang dulu membantu Black Squad memiliki identitas berbeda. Sayangnya, sekarang mode ini praktis sangat sulit dimainkan karena jumlah pemain aktif terlalu sedikit. Dahulu aku masih bisa masuk ke Destroy ketika komunitasnya lebih ramai. Sekarang, mode tersebut terasa seperti bagian dari game yang ada tetapi hampir tidak bisa dinikmati.
Kondisi ini cukup disayangkan karena tanpa Destroy, pilihan yang tersisa lebih banyak berupa mode klasik seperti Team Deathmatch dan Bomb Mission. Mode-mode tersebut tetap seru, tetapi bentuknya sudah sangat umum di banyak FPS gratis. Akibatnya, pemain baru yang datang sekarang mungkin melihat Black Squad sebagai game FPS yang biasa saja, padahal sebenarnya ada mode yang menurutku jauh lebih unik.
Keseimbangan Permainan Tidak Selalu Konsisten
Walaupun gunplay-nya aku sukai, keseimbangan pertandingan tidak selalu terasa ideal. Salah satu masalah yang sering terasa adalah pembagian kemampuan pemain. Ada pertandingan ketika satu tim berisi pemain yang sudah jauh lebih berpengalaman, sementara tim lain lebih banyak diisi pemain baru.
Menurut pengalamanku, ada pengaturan balance yang bisa diaktifkan atau tidak. Ketika pembagian pemain tidak berjalan baik, perbedaan kemampuan antar-tim bisa terasa cukup besar. Dalam game dengan damage tinggi seperti ini, selisih kemampuan tersebut semakin mudah terlihat karena pemain yang lebih berpengalaman bisa menghukum kesalahan pemain baru dengan sangat cepat.
Map juga bisa menciptakan situasi yang terasa tidak seimbang. Ada posisi tertentu yang ketika sudah dikuasai lebih dulu oleh lawan menjadi sulit ditembus. Kalau musuh sudah mendapatkan posisi yang tepat, tim sendiri bisa terasa seperti sedang dikepung.
Masalah lainnya adalah variasi map. Dari dulu, menurutku penambahan map tidak terlalu terasa. Memang ada map baru, tetapi pemain justru lebih sering memilih map lama. Aku menduga salah satu alasannya mungkin karena map lama terasa lebih balance, tetapi ini hanya dugaanku berdasarkan pengalaman bermain, bukan sesuatu yang bisa kupastikan.
Setelah puluhan jam, keterbatasan tersebut membuat gameplay mulai terasa berulang. Black Squad masih menyenangkan untuk dimainkan, tetapi tidak selalu memberikan alasan baru untuk kembali jika pemain sudah sangat mengenal map yang sama.
Senjata dan Progresi: Menyenangkan Dipakai, tetapi Progresinya Biasa Saja
Beberapa senjata memiliki karakter yang membuatku punya pilihan favorit. MDR menjadi salah satu favoritku karena menurutku memiliki keseimbangan yang enak antara fire rate dan damage. ARX-160 kusukai karena fire rate-nya cepat. Sementara SCAR-H terasa menarik karena damage-nya cukup besar dan cocok digunakan ketika menghadapi musuh pada jarak agak jauh.
Secara visual, detail senjata menurutku cukup niat. Namun kalau melihat variasinya, perbedaannya tidak selalu besar. Kadang senjata yang dasarnya sama dibedakan oleh aksesori. Misalnya ada M4 dengan ACOG tetapi tanpa laser, lalu ada versi lain tanpa ACOG tetapi menggunakan laser. Setelah itu, variasi lainnya lebih banyak datang dari skin dan efek visual premium.
Untuk progresi, aku tidak merasa sistemnya terlalu istimewa. Level lebih terasa seperti pajangan atau tanda jam terbang. Ketika melihat pemain dengan level tinggi, kesan yang muncul lebih kepada bahwa pemain tersebut sudah lama bermain. Bagiku, progresi itu bukan alasan utama untuk terus memainkan Black Squad.
Visual dan Desain Dunia yang Sederhana, tetapi Bersih
Secara grafis, Black Squad menurutku biasa saja. Tidak banyak efek aneh atau efek lingkungan berat seperti debu dan sebagainya. Desain lingkungan juga tidak terasa luar biasa. Namun kesederhanaan itu justru membuat game ini masih masuk akal untuk PC berspesifikasi rendah.
Aku melihat Black Squad sebagai game yang cocok untuk lingkungan seperti warnet atau pemain yang tidak menggunakan PC kuat. Bukan karena grafisnya hebat, tetapi karena tampilannya cukup bersih dan tidak aneh. Model karakter 3D juga menurutku cukup bagus.
Aku pernah melihat game berspesifikasi rendah yang ilustrasi atau banner 2D karakternya terlihat keren, tetapi ketika model 3D muncul hasilnya terasa sangat berbeda dan aneh. Di Black Squad, aku tidak terlalu merasakan masalah seperti itu. Model karakternya masih cukup enak dilihat.
Animasi juga terasa bagus dan tidak kaku. Namun aku tidak menganggap kualitas visual atau animasinya setara dengan game berbayar yang lebih modern. Bahkan kalau bicara soal grafis secara pribadi, aku masih merasa Counter-Strike: Source yang lebih tua terlihat lebih bagus.
Jadi kekuatan visual Black Squad bukan pada kemewahan grafis, melainkan pada model yang bersih, sederhana, dan tetap layak dilihat di perangkat rendah.
Antarmuka Mudah, tetapi Toko Bisa Membingungkan
Dasar antarmuka Black Squad menurutku mudah dipahami. Menu dan informasi dalam permainan tidak menjadi masalah besar bagiku. Bagian yang sedikit membingungkan justru tokonya.
Dalam kondisi game yang kumainkan sekarang, toko dalam game lebih banyak berisi item gacha dan tidak lagi terasa seperti tempat membeli senjata secara langsung. Untuk membeli senjata menggunakan uang asli, aku melihat transaksi dilakukan melalui Steam Market.
Bagi pemain lama mungkin hal ini tidak terlalu membingungkan, tetapi pemain yang baru kembali atau baru pertama kali melihat sistemnya bisa membutuhkan waktu untuk memahami alurnya.
Audio dan Musik: Efek Suara Menjadi Salah Satu Kekuatan Terbesar
Kalau visualnya biasa saja, audio justru menjadi salah satu bagian yang paling kusukai dari Black Squad. Musiknya sendiri tidak terlalu banyak. Aku paling mengingat musik rock di lobby yang menurutku cukup enak didengar, tetapi secara umum musik bukan elemen yang paling menonjol.
Efek suara berbeda ceritanya. Suara langkah kaki, tembakan, lompatan, isi ulang peluru, suara karakter, dan berbagai suara selama pertandingan terdengar jelas. Menurutku kualitas audio gameplay-nya sangat bagus.
Kejelasan audio ini sangat penting karena Black Squad memiliki gameplay yang cukup taktis. Dalam mode seperti Bomb Mission, suara langkah kaki bisa membantu membaca posisi lawan. Ketika digabungkan dengan koordinasi tim, pengambilan posisi, pemilihan senjata, dan membaca situasi, audio menjadi bagian langsung dari cara bermain, bukan sekadar tambahan atmosfer.
Performa dan Stabilitas: Lancar Setelah Pengaturan Awal Beres
Setelah berhasil masuk ke game dengan pengaturan yang sesuai, Black Squad berjalan stabil dalam pengalamanku. Namun aku sempat mengalami masalah teknis ketika pertama kali menjalankannya setelah instalasi.
Masalah yang kualami berupa layar hitam, hanya terdengar musik lobby, atau tampilan berkedip. Cara yang berhasil untukku adalah mencentang Safe Mode Setting pada launcher ketika pertama kali masuk. Setelah berhasil masuk ke dalam game, aku mengganti screen mode ke mode window atau borderless.
Setelah pengaturan itu dilakukan sekali, login berikutnya berjalan normal. Kalau masalah yang sama muncul lagi, cara yang kugunakan tetap sama. Jadi masalah ini memang cukup mengganggu di awal, tetapi setelah pengaturannya benar, pengalaman bermainku stabil.
Harga dan Value: Gratis dan Menurutku Tidak P2W
Salah satu alasan terbesar kenapa aku masih bisa merekomendasikan Black Squad adalah karena game ini gratis. Dari sekitar 80 jam bermain di Steam, ditambah pengalaman lama ketika masih memainkan versi server Indonesia, aku merasa waktu yang kuhabiskan cukup sepadan.
Aku juga tidak menganggap Black Squad sebagai game P2W. Buatku, P2W terjadi jika senjata premium mendapatkan keuntungan statistik langsung yang besar. Misalnya senjata gratis punya damage 30, skin biasa 34, lalu versi premium 38. Kalau seperti itu, barulah aku menganggapnya benar-benar memberi keuntungan karena uang.
Dalam pengalaman bermainku, sistemnya tidak sampai seperti itu. Memang ada beberapa senjata premium dengan aksesori tambahan seperti grenade launcher, tetapi menurutku manfaat tersebut tidak cukup berlebihan sampai menghancurkan keseimbangan permainan. Senjata gratis pun sudah memiliki aksesori standar seperti silencer dan laser.
Pada masa Gemscool, aku pernah mengeluarkan sekitar Rp100.000 sampai Rp200.000. Di versi Steam, aku memperkirakan pernah menghabiskan sekitar Rp100.000, terutama untuk mencoba skin senjata di Steam Market. Meski pernah mengeluarkan uang, aku tidak merasa game ini membuat pemain harus terus membayar agar bisa bersaing.
Masalah Terbesar Black Squad Sekarang: Sepi
Bagian paling berat dari pengalaman kembali ke Black Squad adalah melihat kondisi pemainnya sekarang. Saat login, dari pengamatanku mungkin hanya ada sekitar 100 sampai 200 pemain aktif, bahkan kadang kurang.
Di daftar server atau room, biasanya aku hanya melihat sekitar 5 sampai 15 ruang. Dari jumlah itu, yang benar-benar penuh mungkin hanya satu sampai tiga. Lebih jauh lagi, pemain dengan ping yang benar-benar cocok satu sama lain menurut pengalamanku hanya sekitar empat sampai 16 orang.
Dampaknya terasa langsung. Mode seperti Destroy yang membutuhkan banyak pemain menjadi sangat sulit dimainkan. Padahal justru mode tersebut adalah salah satu hal yang membuat Black Squad terasa berbeda bagiku.
Aku bisa memahami kenapa game lama akhirnya menjadi sepi. Namun tetap ada rasa bingung karena menurutku fondasi game ini sebenarnya masih bagus. Gunplay-nya masih menyenangkan, audio-nya masih kuat, dan game ini tetap ringan.
Dari pengamatanku, pembaruan lebih sering menghadirkan karakter baru. Aku sempat menduga minimnya penambahan senjata atau map baru mungkin berkaitan dengan kekhawatiran terhadap masalah balance. Namun itu hanya dugaan pribadiku dan bukan sesuatu yang bisa kupastikan.
Yang jelas, ketika kembali setelah vakum panjang, perasaan yang paling kuat bukan marah atau kecewa, melainkan nostalgia. Dulu pengalaman bermain terasa lebih menyenangkan karena pemain ramai. Sekarang Black Squad masih hidup, tetapi suasananya tidak lagi sama.
Ada sesuatu yang cukup ironis di sini. Salah satu mode yang paling membuatku menyukai game ini justru menjadi salah satu mode yang sekarang hampir tidak mungkin kunikmati. Black Squad masih memiliki Destroy, tetapi keberadaan sebuah mode tidak banyak berarti kalau jumlah pemainnya tidak cukup untuk membuat pertandingan berjalan sebagaimana yang kuingat dulu.
Itulah kenapa masalah populasi pemain menurutku lebih besar daripada sekadar angka. Sepinya pemain secara langsung mengurangi variasi pengalaman yang bisa kudapatkan.
Rekomendasi: Black Squad Masih Layak Dicoba, dengan Catatan Besar
Aku masih merekomendasikan Black Squad, terutama untuk pemain FPS yang suka permainan sedikit lebih taktis, damage tinggi, dan pertarungan yang menghargai akurasi serta posisi. Game ini juga cocok untuk pemain yang menyukai skin menarik tetapi tetap tidak terlalu jauh meninggalkan tema militer.
Sebaliknya, game ini mungkin kurang cocok untuk pemain yang tidak suka cepat mati, tidak menyukai permainan yang sedikit terlalu taktis, atau menginginkan banyak map dan konten baru. Jumlah pemain yang sedikit juga harus menjadi pertimbangan karena beberapa mode tidak lagi mudah dinikmati.
Kalau harus memberi alasan sederhana kenapa masih layak dicoba, jawabanku adalah karena Black Squad gratis. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk mengetahui apakah gunplay-nya cocok denganmu. Model 3D-nya cukup bersih, performanya cocok untuk PC rendah, audio gameplay-nya bagus, dan sistem berbayarnya berdasarkan pengalamanku tidak sampai terasa P2W.
Hal yang paling perlu dipahami adalah jangan masuk dengan harapan menemukan FPS gratis yang sedang ramai atau penuh konten baru. Kondisinya sekarang jauh lebih sepi dibanding yang kuingat dulu.
Bagiku, rekomendasinya memang berada di posisi 50:50 jika kondisi komunitas ikut diperhitungkan. Bukan karena game ini tiba-tiba menjadi buruk, tetapi karena salah satu bagian terbaik dari pengalaman bermainnya sudah semakin sulit diperoleh.
Kalau kamu hanya ingin mencoba FPS gratis yang ringan, menurutku tidak ada salahnya memasangnya dan merasakan sendiri tembak-menembaknya. Namun jika kamu mencari game untuk dimainkan dalam waktu lama dengan banyak map baru, banyak pemain, dan seluruh mode selalu bisa dimainkan, kondisi yang kualami sekarang membuat rekomendasi itu jauh lebih sulit.
Kesimpulan
Black Squad bagiku adalah game legendaris yang masih punya fondasi bagus untuk PC berspesifikasi rendah. Setelah sekitar 80 jam bermain dan kembali mencobanya selama enam jam setelah vakum lama, aku masih bisa menikmati gunplay yang cepat, mematikan, dan rewarding. Audio yang jelas membuat aspek taktisnya semakin terasa, sementara visualnya tetap sederhana tetapi cukup bersih.
Damage tinggi yang awalnya mungkin terasa keras justru menjadi salah satu identitas gameplay yang paling kusukai. Akurasi, posisi, penggunaan peluru, membaca suara langkah kaki, dan kerja sama lebih berarti ketika kesalahan kecil bisa membuat pemain langsung tumbang.
Masalah terbesar justru bukan pada dasar gameplay-nya, melainkan pada keadaan game sekarang. Jumlah pemain yang sedikit membuat beberapa pengalaman terbaiknya sulit ditemukan lagi. Destroy adalah contoh paling jelas. Mode yang dulu bisa membuatku merasa seperti sedang memainkan game yang berbeda sekarang nyaris tidak bisa kunikmati karena tidak ada cukup pemain.
Itu cukup menyedihkan karena menurutku Destroy menunjukkan sisi Black Squad yang jauh lebih menarik daripada sekadar Team Deathmatch atau Bomb Mission. Saat helikopter, artileri, gatling, C4, claymore, dan berbagai elemen lain mulai memenuhi pertandingan, skala permainannya terasa jauh lebih besar. Tanpa pengalaman itu, sebagian identitas game ini terasa ikut hilang.
Karena itu, rekomendasiku berada di posisi sekitar 50:50 kalau mempertimbangkan kondisi komunitasnya. Sebagai game gratis, Black Squad tetap layak dicoba dan hampir tidak ada kerugian untuk sekadar memasangnya. Tetapi sebagai game yang ingin dimainkan untuk jangka panjang, keterbatasan map, konten yang terasa sedikit, dan komunitas yang sepi menjadi masalah besar.
Pada akhirnya, kembali memainkan Black Squad lebih terasa seperti bertemu game lama yang masih punya kualitas, tetapi sudah kehilangan sebagian keramaiannya. Aku masih bisa melihat kenapa dulu aku menyukainya, terutama ketika mengingat betapa serunya bermain saat komunitas masih ramai.
Sekarang aku masih bisa menikmati tembak-menembaknya, mendengar langkah lawan dengan jelas, dan mendapatkan rasa puas ketika berhasil memenangkan duel. Hanya saja, ada pengalaman yang dulu menjadi bagian besar dari kesenanganku dan sekarang sudah sulit ditemukan lagi.
Black Squad masih bagus untuk apa yang ditawarkannya, terlebih sebagai game gratis untuk PC rendah. Sayangnya, melihat kondisinya sekarang membuatku merasa game ini seperti tinggal menunggu waktu sambil mempertahankan apa yang masih tersisa.

