Aku akhirnya menuntaskan Gears of War: Reloaded di PC. Bermain dengan keyboard dan mouse di tingkat kesulitan Casual, aku menghabiskan sekitar enam jam hingga mencapai ending.
Begitu selesai, aku langsung menjajal mode multiplayer untuk melihat bagaimana pengalaman bermainnya di tahun 2025. Sejak awal sudah terasa jelas: fokus utama game ini tetap pada campaign, sementara multiplayer lebih terasa seperti fitur tambahan saja.
Review Gears of War: Reloaded Versi Narasi
Review ini juga tersedia dalam bentuk video narasi yang saya bacakan. Di video tersebut, kamu bisa menonton versi singkat dari ulasan ini. Silakan klik di sini untuk menuju channel gaming saya, atau langsung tonton melalui pemutar di bawah.
Gameplay Gears of War: Reloaded
Campaign: Aksi Rapih dan Padat
Sejak menit pertama, campaign membawa pemain langsung ke aksi. Tidak ada jeda panjang atau momen membosankan. Pacing-nya rapat, seakan game ini tidak ingin kita punya waktu bernapas. Hampir di setiap babak aku langsung dilempar ke baku tembak intens. Tidak ada misi favorit yang benar-benar menonjol, tapi keseluruhan campaign terasa konsisten menjaga tempo tinggi.
Satu hal yang cukup mengganggu adalah sistem snap-to-cover. Di ruang sempit, tombol untuk cover ternyata sama dengan dash. Akibatnya, ketika aku ingin roll atau dash ke arah tertentu, karakter malah menempel ke tembok. Di momen genting ini bikin frustrasi, karena alur pertempuran jadi terasa macet. Masalah kecil, tapi dampaknya lumayan besar saat intensitas tinggi.
Lalu ada fitur ikonik Active Reload. Aku akui, mekanik ini tetap satisfying. Rasanya nagih saat berhasil melakukan reload sempurna, dan efek tambahan membuat setiap tembakan semakin mematikan. Tapi di saat yang sama, fitur ini bisa terasa terlalu OP. Kadang aku merasa tidak perlu mengelola peluru dengan hati-hati; cukup tembak sekali lalu reload untuk terus dapat bonus. Menyenangkan, ya. Tapi dari sisi keseimbangan, terasa kelewat mudah.
Untuk urusan gunplay, hampir semua senjata di game ini terasa sangat kuat. Lancer, Gnasher, bahkan granat—semuanya impactful. Efeknya, pemain baru bisa cepat merasakan “kekuatan” dari setiap senjata. Tapi sisi lainnya, perbedaan peran antar senjata jadi kurang terasa. Hampir semua sudah mematikan sejak awal.
AI musuh menurutku biasa saja, cukup untuk memberi tekanan tanpa benar-benar pintar. AI kawan malah lebih sering jadi pajangan, kadang bahkan lebih sering mati sendiri daripada membantu. Mereka lebih berfungsi sebagai dekorasi atmosfer perang besar ketimbang pendukung yang bisa diandalkan. Untuk cerita dan karakter, menurutku biasa saja. Tidak buruk, tapi juga tidak meninggalkan kesan mendalam. Game ini jelas lebih fokus ke feel TPS ketimbang drama naratif.
Audio, Musik, dan Visual
Dari sisi audio, aku punya kesan campur aduk. Efek suara dari tembakan, chainsaw, dan ledakan sudah cukup berat, tapi arah suaranya kadang tidak terlalu jelas. Untuk musik, OST terasa generik. Ada, tapi tidak menancap di kepala. Untungnya, voice acting cukup kuat dan konsisten, memberi bobot pada adegan tanpa terdengar lebay.
Visualnya sendiri, jujur, terasa seperti game era 2013-an. Aku tidak punya pengalaman main versi lamanya, jadi aku menilainya murni dari versi ini. Kesannya lebih seperti polesan klasik daripada lompatan generasi baru. Meski begitu, performanya patut diapresiasi. Aku main di preset rata kanan dengan resolusi 1440p via DSR, menggunakan DLSS 3.5, dan game berjalan mulus tanpa stutter. Stabilitas ini jadi poin plus besar.
Multiplayer: Bisa Dimainkan, tapi Sepi
Setelah tamat campaign, aku langsung coba multiplayer. Mode yang kucoba adalah Team Deathmatch, Blitz, dan King of the Hill. Dari pengalaman, TDM adalah yang paling mudah mendapatkan lobby. Anehnya, walaupun game ini baru rilis, populasi multiplayer terasa agak sepi. Aku bahkan mencobanya di malam Minggu—jam yang seharusnya ramai—tetap tidak seramai yang kubayangkan. Ini menegaskan kesan bahwa multiplayer di game ini memang bukan fokus utama, lebih terasa sebagai bonus.
Saat masuk match, rasanya cukup adil. Netcode terasa oke, bahkan duel bisa berakhir draw alias saling mati. TTK terasa pas: cepat, tapi masih memberi ruang untuk reaksi. Dari semua senjata, jelas shotgun atau Gnasher mendominasi. Dengan potensi one-hit, meta jadi condong ke pertarungan jarak dekat. Map design menurutku bagus, flow permainan lancar, banyak jalur flank, dan retake terasa feasible. Memang ada power spot, tapi masih bisa di-counter.
Soal SBMM, rasanya tidak ketat. Aku yang masih level 1 bisa langsung gabung lobby dengan pemain level 80. Jadi matchmaking lebih terasa campuran antara santai dan sedikit ketat. Selama bermain aku tidak bertemu cheater. Untuk progression, aku jujur masih bingung. Aku hanya menemukan opsi ganti skin di lobby, sementara cara ganti loadout senjata belum ketemu. UI dan sistem progression terasa kurang jelas.
Harga dan Nilai di 2025
Harga resmi game ini sekarang sekitar Rp 579.000, walau aku memainkannya lewat Game Pass. Menurutku harga itu terlalu tinggi untuk sebuah remake yang bahkan sudah pernah di-remake sebelumnya, terakhir di tahun 2015. Dengan konten seperti ini, aku menilai harga pantasnya ada di kisaran Rp 200.000. Kalau ada diskon turun sampai Rp 100.000, barulah terasa layak dibeli.
Alasannya jelas: campaign memang seru dan padat, tapi hanya sekitar 6 jam. Multiplayer, walaupun masih bisa dimainkan, terasa sebagai bonus yang cepat sepi karena hanya menawarkan skala 4v4. Jadi dengan harga penuh, rasanya kurang sebanding.
Rekomendasi dan Catatan
Meski ada banyak kekurangan, aku tetap bisa merekomendasikan Gears of War: Reloaded di 2025 ini, tentu dengan ekspektasi yang realistis. Game ini cocok untuk penggemar TPS yang ingin campaign padat, penuh aksi, dan gameplay dengan gunfeel yang memuaskan. Tapi untuk kamu yang mencari pengalaman multiplayer jangka panjang, sebaiknya jangan terlalu berharap banyak. Multiplayer lebih terasa sebagai ekstra daripada inti.
Satu catatan untuk campaign: game ini minim petunjuk. Saat menghadapi bos atau puzzle tertentu, jangan berharap ada penjelasan panjang. Kamu harus peka dengan narasi karakter dan memperhatikan pola serangan. Jadi pengalaman campaign bisa jadi lebih menantang, bukan karena musuhnya sulit, tapi karena arahan yang kurang jelas.
Kesimpulan Gears of War: Reloaded
Gears of War: Reloaded menghadirkan campaign yang intens dan solid, dengan pacing rapat dan shooting yang satisfying. Fitur Active Reload masih menyenangkan meski kadang terasa OP. Visual mungkin hanya setara polesan klasik, tapi performa PC mulus dan stabil. Multiplayer hadir, tapi dengan populasi tipis dan meta shotgun one-hit yang mendominasi, sulit untuk dijadikan alasan utama membeli game ini.
Untukku, game ini lebih tepat dilihat sebagai nostalgia action padat yang bisa dinikmati sekali duduk. Kalau kamu punya Game Pass, tidak ada ruginya mencoba. Kalau harus beli, pastikan tunggu diskon besar—ideal di harga Rp 200.000 atau di bawah Rp 100.000.
Dengan ekspektasi itu, aku bilang: campaign masih layak, multiplayer cukup jadi bonus. Jadi ini direkomendasikan hanya untuk campaign.
