Ada beberapa game yang dari jauh kelihatan menarik, lalu begitu dimainkan di PC, rasa pertamanya langsung bikin bingung: “Ini beneran game PC, atau game mobile yang dipaksa naik kelas?”
Itu kurang lebih yang aku rasakan saat mencoba Sword of Justice versi PC.
Sebelum masuk lebih jauh, aku mau jelaskan dulu konteksnya:
Aku hanya memainkan game ini sekitar satu jam, fokus di awal story utama. Jadi ini bukan review penuh, melainkan first impression – kesan pertama yang jujur sebagai pemain PC yang mencoba game free-to-play di Steam dan berhenti lebih cepat karena tidak bisa menikmati pengalaman awalnya.
Review Sword of Justice Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay Sword of Justice
Keterbatasan First Impression: Baru Main Sekitar Satu Jam
Aku rasa penting untuk menegaskan: ini bukan ulasan lengkap.
- Aku belum menyentuh konten late game,
- Belum tahu seberapa jauh variasi misi bisa berkembang,
- Belum benar-benar merasakan sistem progres jangka panjang,
- Dan belum sampai di titik di mana cerita dan dunia benar-benar “dibuka”.
Banyak hal yang biasanya jadi bahan review lengkap—seperti pace cerita dari awal sampai akhir, variasi quest, progres karakter, dan kedalaman worldbuilding—belum bisa aku nilai dengan adil, karena aku memang berhenti duluan.
Jadi, yang akan aku bahas di sini adalah hal-hal yang langsung terasa kuat di satu jam pertama, yaitu:
- Rasa gameplay di PC,
- Desain UI dan presentasi,
- Kesan visual dan karakter,
- Audio dan voice acting,
- Performa teknis dasar,
- Serta sedikit soal value sebagai game gratis di Steam.
Dan yang paling penting: kenapa aku akhirnya berhenti hanya dalam satu jam dan merasa tidak bisa menikmati game ini sama sekali.
Kesan Awal Gameplay: RPG yang Terasa Kaku dan Membosankan di PC
Secara genre, Sword of Justice diposisikan sebagai RPG. Di atas kertas, ini harusnya menarik: karakter-karakter dengan desain cukup keren, sentuhan visual efek yang lumayan, dan nuansa aksi yang mungkin bisa berkembang seru kalau digarap dengan baik.
Sayangnya, rasa gameplay di PC justru jadi titik paling lemah dalam kesan pertamaku.
Rasa Kontrol dan Animasi yang Kaku
Sejak awal, kontrol dan gerakan karakter terasa:
- Kaku,
- Kurang responsif,
- Dan cenderung aneh kalau dibandingkan dengan standar game PC modern.
Perasaan yang muncul benar-benar seperti:
“Ini rasanya persis seperti main game mobile tahun 2018 ke bawah lewat emulator di PC.”
Setiap aksi, setiap serangan, dan interaksi di layar lebih terasa seperti sesuatu yang dirancang untuk layar sentuh, lalu dipindahkan apa adanya ke mouse dan keyboard. Bukan sekadar “agak kaku”, tapi benar-benar meninggalkan kesan bahwa game ini tidak pernah didesain dengan platform PC sebagai prioritas utama.
Dalam satu jam bermain, aku tidak menemukan satu pun momen gameplay yang benar-benar berkesan. Tidak ada encounter yang bikin aku terpikat, tidak ada sensasi kontrol yang membuatku ingin eksperimen lebih jauh. Yang pelan-pelan muncul justru rasa jenuh dan pikiran, “Oke, ini cukup sampai di sini.”
Terasa Seperti Port Mobile yang Tidak Dipoles
Ada satu kesan besar yang terus menempel selama aku bermain:
Sword of Justice versi PC terasa seperti port dari game mobile yang tidak benar-benar dipoles ulang untuk platform baru.
Ini bukan soal teknis tinggi seperti FPS, setting grafis mendetail, atau fitur canggih lainnya. Ini soal rasa:
- Cara karakter bergerak,
- Cara skill dieksekusi,
- Cara UI menghuni layar,
- Cara semua elemen terasa lebih cocok di layar ponsel daripada di monitor PC.
Sebagai pemain PC, itu cukup untuk membuatku sulit menikmati game ini, bahkan di jam pertama sekalipun.
UI dan Presentasi: Terlalu “Mobile” untuk Monitor PC
Kalau harus memilih satu hal yang paling mengganggu di luar rasa gameplay, jawabannya jelas: UI dan desain antarmuka.
Font dan Tata Letak yang Terasa Aneh di PC
Begitu masuk ke game, hal yang langsung terasa adalah:
- Font yang besar-besar,
- Elemen UI yang seakan-akan memang dibuat untuk layar kecil,
- Tata letak yang membuat mata cepat lelah ketika dilihat di monitor.
Bukan hanya soal estetika, tapi soal kenyamanan membaca dan berinteraksi. Di PC, kita biasa ketemu UI yang lebih halus, proporsional, dan adaptif terhadap resolusi layar. Di Sword of Justice, tampilannya terasa seperti sesuatu yang diambil dari game mobile lalu diperbesar begitu saja, tanpa penyesuaian berarti.
Tombol Skill yang Berasa Tombol Layar Sentuh
Bagian tombol skill adalah contoh paling jelas. Ikon dan posisinya:
- Terasa seperti set tombol virtual di layar ponsel,
- Bukan sebagai bagian dari HUD game PC yang dirancang untuk mouse dan keyboard.
Efeknya sederhana: sepanjang main, aku merasa:
“Ini bukan game PC, ini game mobile yang kebetulan dibuka lewat layar monitor.”
Dan itu bukan jenis ilusi yang menyenangkan.
Menu Keluar / Exit yang Membingungkan
Masalah kecil yang memperparah kesan awal adalah menu keluar game yang susah ditemukan.
Di momen tertentu aku bahkan sempat bertanya-tanya:
- “Ini aku yang nggak nemu?”
- “Atau memang desainnya seperti ini?”
Untuk sebuah game di PC, hal dasar seperti akses menu dan tombol exit harusnya jelas dan intuitif. Ketika hal sesederhana itu saja terasa membingungkan, wajar kalau kepercayaan diri terhadap kualitas polesan keseluruhan jadi ikut turun.
Visual dan Desain Karakter: Grafik Jadul dengan Art yang Lumayan Keren
Dari sisi visual, kesan yang aku dapat agak campur aduk.
Grafik yang Terasa Jadul
Secara umum, grafik Sword of Justice terasa jadul. Bukan berarti semuanya buruk, tapi:
- Dibanding standar game PC sekarang, presentasinya terasa tertinggal,
- Efek visual dan kualitas dunia tidak memberi kesan “wah” yang bisa menutupi rasa kaku gameplay-nya.
Ada semacam jurang ekspektasi di sini: tampilan awal tidak punya daya tarik visual yang cukup kuat untuk menutupi kelemahan di area lain.
Desain Karakter: Salah Satu Hal yang Masih Bisa Dipuji
Yang cukup positif adalah desain visual karakter.
- Karakternya punya gaya yang terlihat keren,
- Walaupun kalau ditarik ke standar industri secara keseluruhan, masih terasa biasa saja.
Art style karakter ini sebenarnya bisa jadi fondasi yang bagus. Namun sayangnya, elemen pendukung lain—seperti animasi, dunia, dan UI—tidak ikut mengangkatnya.
Sentuhan Efek di PC
Secara teknis, ada sentuhan efek yang membuatku merasa seolah:
- Ada upaya memberi sentuhan modern (seperti efek yang mengarah ke ray tracing),
Tapi dari pengalamanku, efek ini tidak terasa masif atau cukup kuat untuk mengubah impresi visual secara keseluruhan. Ia lebih seperti lapisan kecil di atas fondasi yang masih terlihat jadul.
Cerita dan Dunia: Terasa Standar dan Belum Punya Hook
Untuk aspek cerita, karakter, dan worldbuilding, aku benar-benar harus menahan diri dan jujur pada batas pengalaman.
Dalam satu jam bermain:
- Cerita terasa cukup standar dan belum memberikan hook kuat yang bikin aku penasaran,
- Aku belum menemukan karakter yang benar-benar menancap di ingatan,
- Pace cerita belum sempat menunjukkan variasi atau klimaks yang berarti,
- Worldbuilding belum terasa menggigit.
Bukan berarti ceritanya pasti jelek—mungkin butuh waktu lebih lama untuk “panas”. Tapi kenyataannya:
aku sudah berhenti duluan, sebelum game sempat memperlihatkan kedalaman di area ini.
Untuk sebuah first impression, itu artinya cerita dan dunia tidak memberikan dorongan ekstra yang cukup kuat untuk menahan aku melewati kekakuan gameplay dan UI di awal.
Audio dan Voice Acting: Biasa Saja, dengan Dub Cina yang Cukup Menonjol
Dari sisi audio, kesan awalnya:
- Musik dan soundtrack terasa biasa saja,
- Tidak ada lagu atau tema yang langsung menempel di kepala,
- Efek suara berfungsi, tapi tidak sampai menciptakan atmosfer yang benar-benar kuat.
Yang sedikit menonjol justru:
- Dub Cina yang terasa di atas rata-rata standar sekali main.
Kualitas dub ini terasa cukup baik, dan jadi salah satu sisi teknis yang bisa dibilang positif. Meski begitu, ketika aspek lain seperti gameplay dan presentasi UI tidak menarik, audio yang lumayan saja tidak cukup untuk menyelamatkan keseluruhan pengalaman.
Performa dan Stabilitas: Stabil, tapi Tetap Terasa Seperti Bawaan Mobile
Dari segi teknis murni di PC, Sword of Justice tidak menunjukkan masalah fatal selama aku bermain.
- Tidak ada crash,
- Tidak ada bug besar yang menghancurkan progress,
- Tidak ada error teknis yang membuat gamenya rusak.
Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu:
- Pengaturan fullscreen baru muncul setelah prolog terlewati dan masuk ke gameplay.
Jadi di bagian awal, rasanya agak repot karena opsi pengaturan belum langsung tersedia.
Secara keseluruhan, aku bisa bilang:
- Stabilitasnya oke,
- Tapi rasa bermainnya tetap sangat kaku,
- Dan kekakuan itu terasa seperti bawaan desain mobile yang tidak dimodifikasi serius untuk PC.
Stabil bukan berarti menyenangkan.
Di sini, Sword of Justice stabil… tapi tidak berhasil memberikan rasa yang enak sebagai game PC.
Harga dan Value: Gratis di Steam, tapi Bukan “Wajib Coba” untuk Pemain PC
Dari sisi harga, Sword of Justice punya satu poin plus yang jelas:
- Game ini gratis, dan bisa di-download langsung di Steam.
- Selain itu, kebutuhan spesifikasinya tidak terlalu tinggi, sehingga relatif ramah untuk banyak PC.
Itu membuatnya cukup aman untuk dicoba dari sudut pandang finansial. Kamu tinggal download, main, dan kalau tidak suka, tinggal uninstall.
Tapi, dari pengalamanku:
- Sebagai pemain PC, aku tidak merasa game ini layak diprioritaskan,
- Bahkan untuk standar game gratis sekalipun,
- Karena ada banyak game free-to-play lain dengan rasa gameplay yang lebih matang dan lebih “native PC”.
Kalimat paling jujur yang bisa aku berikan soal value-nya:
“Karena gratis, dicoba sebentar tidak masalah. Mungkin saja buat kamu ini menarik, apalagi kalau kamu tidak terlalu rewel soal feel dan lebih suka main santai.”
Tapi untuk diriku pribadi, first impression-nya tidak cukup kuat untuk membuatku menyarankan game ini ke mayoritas pemain PC.
Untuk Siapa Sword of Justice (PC) Cocok?
Dari kesan satu jam bermain, aku membayangkan:
- Game ini mungkin lebih cocok untuk pemain yang suka main santai,
- Pemain yang tidak terlalu menuntut rasa kontrol dan UI khas game PC,
- Atau yang memang nyaman dengan gaya game mobile, tapi kebetulan memainkannya di PC.
Namun kalau kamu:
- Terbiasa dengan RPG PC yang polished,
- Peduli dengan rasa kontrol dan UI yang enak,
- Dan punya banyak opsi game gratis lain di library-mu,
…maka kemungkinan kamu akan merasakan hal yang sama denganku:
Sword of Justice versi PC terasa kurang layak diluangkan waktu, kecuali sekadar coba sebentar lalu pindah ke game lain.
Secara pribadi, aku:
- Tidak merekomendasikan Sword of Justice untuk pemain PC,
- Tapi masih bisa membayangkan bahwa di konteks mobile, game ini mungkin terasa lebih pas.
Penutup: Kesan Pertama yang Tidak Berhasil Mengajak Untuk Lanjut
Kalau harus merangkum first impression-ku terhadap Sword of Justice (PC):
Terlihat cukup menarik di permukaan, terutama dari desain karakternya, tapi rasa bermain di PC benar-benar seperti port game mobile yang tidak dipoles penuh. UI besar, kontrol kaku, dan kurangnya hook di awal membuatku berhenti bermain hanya dalam satu jam, tanpa keinginan kuat untuk kembali.
Dan yang paling jujur:
Aku hanya mainkan ini selama 1 jam, dan selama itu rasanya sama sekali tidak bisa menikmati game ini di PC.
Sebagai first impression, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku memutuskan:
Sword of Justice bukan game yang ingin aku lanjutkan di platform ini.
