Ada satu alasan kenapa aku suka kembali memainkan sebuah game yang sudah tamat: pengalaman kedua bisa terasa berbeda, bukan karena ceritanya berubah, melainkan karena caraku menghadapi setiap tantangan ikut berubah. Memilih pesawat lain, mengatur part dengan cara berbeda, lalu mencoba menaklukkan lawan yang semakin agresif bisa membuat misi lama terasa segar lagi. Sensasi seperti itulah yang paling membekas setelah aku memainkan Ace Combat 8.
Aku membeli Ace Combat 8 Ultimate Edition melalui pre-order di Steam seharga Rp1.099.000. Aku memainkannya di PC menggunakan gamepad, langsung menyelesaikan campaign pada tingkat kesulitan Elite, lalu menamatkannya lagi pada tingkat Ace. Seluruh part pesawat di campaign juga sudah kubuka. Setelah itu, aku mencoba semua mode multiplayer dengan total waktu bermain sekitar enam jam. Jadi, kesan yang kubahas di sini bukan hanya soal cerita utama, melainkan juga apa yang kurasakan ketika mencoba tantangan lebih berat dan berhadapan dengan pemain lain.
Hasilnya memang menarik. Pertempuran udara dalam Ace Combat 8 bisa membuatku betah dan ingin terus bermain, tetapi aku tidak bisa mengatakan seluruh bagiannya sama matang. Campaign memberikan banyak momen yang benar-benar seru, sementara multiplayer punya ide menarik yang menurutku belum digarap dengan maksimal. Ada juga catatan mengenai tempo pembuka, detail lingkungan, dan harga edisi yang kubeli. Semua itu membuat penilaianku terhadap game ini lebih dari sekadar bagus atau jelek.
Review Ace Combat 8 Versi Narasi
Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel tersebut.
Gameplay Ace Combat 8: Dogfight yang Membuatku Ketagihan
Hal terbaik dari Ace Combat 8 buatku adalah sensasi dogfight-nya. Ketika pesawat musuh mulai bermanuver ekstrem untuk menghindari serangan, aku harus merespons dengan gerakan yang sama agresifnya. Ada rasa tegang ketika mencari kesempatan menembak sambil terus berusaha agar tidak kehilangan posisi. Justru duel seperti ini yang membuat pertempuran udara terasa hidup dan susah ditinggalkan.
Aku memainkan Ace Combat 8 dengan gamepad dan secara umum merasa kontrolnya nyaman. Tetapi kenyamanan bermanuver tidak berarti semua pesawat bisa melakukan gerakan yang sama. Karakteristik pesawat sangat menentukan. Kalau kemampuan manuvernya terbatas, memaksakan gerakan akrobatik hingga post-stall maneuver bisa sangat sulit, bahkan nyaris mustahil. Bagiku, perbedaan itu penting karena pemilihan pesawat bukan sekadar urusan tampilan.
Membidik target juga punya tantangan yang pas. Rasanya tidak terlalu mudah, tetapi tidak sampai membuatku merasa selalu kesulitan. Jenis special weapon, part yang dipasang, serta tingkat kesulitan memengaruhi seberapa mudah serangan mengenai lawan. Jadi, ada kepuasan tersendiri ketika konfigurasi yang kupilih berhasil mendukung gaya bertarungku, terutama dalam situasi dogfight yang intens.
Tempo Campaign: Lambat di Awal, Makin Panas Menjelang Akhir
Aku tidak langsung merasa terpukau oleh aksi di semua bagian Ace Combat 8. Chapter 1 sampai 6 justru sempat membuatku bosan karena intensitas pertempurannya masih kurang. Enam chapter awal itu lebih terasa seperti kesempatan untuk memamerkan grafik: detail kapal, karakter, awan, dan kokpit mendapat banyak sorotan. Bukan berarti tampilannya buruk, tetapi ketika aku ingin segera menikmati pertempuran udara, bagian tersebut terasa agak menahan laju gameplay.
Dari enam chapter itu, prolog menjadi bagian yang paling menarik bagiku karena aku memulai sebagai WSO. Setelah melewati Chapter 6, aksi mulai meningkat hingga sekitar Chapter 15. Memasuki Chapter 16 dan seterusnya, intensitas cerita dan tantangan pertempuran terasa semakin tinggi. Perkembangan tempo ini membuat pengalamanku jauh lebih seru dibandingkan bagian pembukanya.
Aku juga menyukai variasi misinya. Memang ada aktivitas yang terlihat menggunakan pola serupa, tetapi tantangannya tidak terasa persis sama. Dalam Ace Combat 8, perbedaan situasi dan lawan cukup membuatku tetap tertarik mengikuti alur campaign. Bahkan setelah tamat pertama kali, aku masih punya alasan untuk kembali, kali ini dengan pesawat yang berbeda di tiap misi.
Elite, Ace, dan Chapter 28 yang Sulit Dilupakan
Aku langsung memulai Ace Combat 8 pada tingkat Elite, yang kurasakan setara dengan tantangan hard. Ketika mengulang campaign di tingkat Ace, perbedaannya paling terasa pada perilaku musuh. Mereka lebih agresif ketika menyerang maupun bertahan, manuvernya lebih sulit dihadapi, dan damage yang kuterima lebih besar. Tantangannya terasa lebih berat, tetapi justru di situlah letak keseruannya. Walau ada kesan mendekati realistis, aku tetap melihatnya sebagai game pesawat bergaya arcade, bukan simulator penerbangan.
Momen yang paling tidak bisa kulupakan terjadi pada Chapter 28. Awalnya aku harus menghadapi jumlah pesawat musuh yang luar biasa banyak. Rasanya seperti disuruh melawan seribu pesawat, meskipun tentu bukan berarti benar-benar ada seribu musuh. Karena belum tahu apa yang menantiku dalam misi tersebut, aku menyiapkan pesawat dan persenjataan dengan fokus menghadapi musuh dalam jumlah besar.
Masalahnya, setelah bagian itu selesai, aku masih harus menghadapi skuadron elite berisi empat pesawat. Manuver mereka sangat ekstrem, sementara flare yang mereka gunakan terasa seperti tidak ada habisnya. Menyerang dengan missile secara sembarangan jelas bukan pilihan yang efektif. Di situlah rencana awal yang sudah kusiapkan terasa kurang cocok untuk situasi berikutnya.
Akhirnya aku beralih mengandalkan machine gun untuk mengalahkan keempat pesawat tersebut. Buatku, itulah salah satu puncak pengalaman Ace Combat 8: sebuah misi yang memaksaku menyesuaikan taktik di tengah tekanan, bukan cuma mengulang cara menyerang yang sama. Karena dari awal aku bermain di Elite tanpa tahu kejutan yang akan muncul, sebenarnya banyak misi meninggalkan kesan kuat. Namun, Chapter 28 tetap punya tempat khusus.
Aircraft Tree dan Part: Alasan Kuat untuk Bermain Ulang
Sistem Aircraft Tree dalam Ace Combat 8 membuat proses membuka pesawat terasa bertahap. Aku tidak bisa langsung melompat dari pesawat generasi ketiga ke generasi keenam sesuka hati. Ada jalur perkembangan yang perlu diikuti, sehingga pilihan pesawat baru terasa seperti bagian dari progres bermain.
Hal yang lebih menarik adalah pengaruh part terhadap performa dan cara bertarung. Perbedaannya cukup jelas kurasakan, terutama saat menyesuaikan kemampuan pesawat dengan persenjataan yang ingin kugunakan. Sistem ini membuat pemilihan konfigurasi punya arti dalam gameplay, bukan sekadar aktivitas mengisi slot perlengkapan.
Semua part campaign sudah berhasil kubuka. Namun, membuka semuanya tidak membuatku kehilangan alasan untuk memainkan Ace Combat 8 lagi. Saat mengulang campaign pada tingkat Ace, aku memakai pesawat berbeda di berbagai misi dan mendapatkan pengalaman yang tidak sama dengan sesi pertama. Bahkan kalau nanti mengulangnya untuk ketiga kali, aku merasa dogfight dan pilihan pesawat masih bisa membuatnya menarik.
Visual Ace Combat 8: Awan Memukau, Lingkungan Darat Kurang Hidup
Dari sisi visual, Ace Combat 8 menurutku luar biasa, terutama ketika perhatian tertuju ke langit. Awan menjadi salah satu elemen yang paling membuatku kagum. Melewati awan tebal, melihat asap bangunan runtuh, percikan air, pencahayaan, sampai bayangan yang bergerak dalam pertempuran memberikan kesan visual yang kuat. Menggunakan kamera dari sudut pandang pilot membuat efek tersebut semakin terasa.
Model pesawat juga terlihat bagus. Animasi dan efek saat bertempur membuat adegan udara terasa meyakinkan bagiku. HUD, menu, serta informasi target di layar mudah dibaca dan membantu ketika aku sedang sibuk menghadapi musuh. Secara keseluruhan, kualitas visual Ace Combat 8 menjadi salah satu bagian yang paling bisa kuapresiasi.
Menariknya, aku justru tidak merasakan perbedaan yang sangat besar antara pengaturan grafik maksimum dan medium. Saat pertama memainkan campaign di Elite, aku memasang semua pengaturan ke level tertinggi. Ketika mengulang pada tingkat Ace, aku menurunkannya ke medium. Kedua pengaturan itu juga sudah kucoba dalam multiplayer.
Perbedaan detail lebih mudah terlihat pada aset darat, kapal, dan objek lingkungan. Namun, ketika sudah fokus pada dogfight, peningkatan yang diberikan pengaturan maksimum tidak selalu terlihat secara sadar. Menurutku, Ace Combat 8 pada grafik medium pun sudah sangat bagus. Pengaturan maksimum tetap menarik kalau kamu ingin menikmati detail tambahan, terutama pada bagian awal campaign yang lebih banyak memperlihatkan kapal, karakter, dan adegan dialog.
Meski begitu, ada kekurangan yang menurutku cukup mencolok, yaitu suasana pangkalan udara dan kapal induk, khususnya saat lepas landas. Ketika lokasi seperti itu sedang diserang, aku berharap lingkungan terlihat sibuk dan terasa genting. Kenyataannya, area yang kulihat sering terasa sepi, tanpa aktivitas manusia yang membuat situasi darurat lebih hidup. Beberapa detail aset darat juga terasa kurang maksimal.
Aku tidak ingin menilai seluruh visual Ace Combat 8 hanya dari kekurangan tersebut. Fokus gameplay-nya memang berada di udara, dan di sanalah game ini paling mengesankan bagiku. Aku juga merasa detail daratnya sudah meningkat dibanding seri sebelumnya. Hanya saja, sedikit lebih banyak kehidupan di sekitar pangkalan atau kapal akan membantu memperkuat suasana ketika cerita sedang menampilkan situasi genting.
Cerita dan Karakter: Lebih Dekat dengan Skuadron, Meski Kadang Terlalu Dramatis
Sejak awal perlu kujelaskan bahwa aku tidak menangkap setiap detail cerita Ace Combat 8. Karena langsung bermain pada Elite lalu Ace, perhatianku lebih banyak tersita untuk menghadapi misi dan musuh yang sulit. Ada beberapa bagian cerita yang terlewat. Namun, dari bagian yang kuikuti, aku tetap merasa alurnya menarik dan tersusun rapi.
Salah satu hal yang paling kusukai adalah fokus ceritanya. Dibandingkan Ace Combat 7 yang menurutku lebih sering membahas kisah pihak lain, Ace Combat 8 terasa lebih dekat dengan karakter utama, skuadronnya, dan kelompok militer di sekitarnya. Aku lebih menikmati cara cerita dibawa melalui kelompok ini daripada merasa seperti sedang mendengarkan kisah orang lain dari kejauhan.
Meski begitu, aku tidak begitu suka dengan Rex sebagai karakter utama. Alasannya sederhana: dia bisu. Respons yang terbatas, seperti hanya menjawab ya atau tidak, membuat karakter utamanya terasa kurang menarik bagiku. Untungnya, karakter pendukung seperti Baxter, Tasya, dan Coaster dari Joker Flight, serta Kate, memiliki perkembangan yang menurutku menarik.
Ada juga momen ketika dialog terasa terlalu didramatisasi. Contohnya, Coaster pernah bereaksi berlebihan di tengah sebuah misi penyerangan, sampai kesannya seperti sedang melakukan aura farming. Tasya juga punya adegan menangis yang menurutku terlalu berlebihan ketika pertempuran sedang intens dan ancaman missile terus datang. Aku tidak menganggapnya sebagai kekurangan fatal; lebih tepatnya, reaksi seperti itu terasa agak aneh di tengah situasi yang seharusnya menuntut fokus penuh.
Terlepas dari beberapa catatan itu, cerita Ace Combat 8 tetap berhasil membuatku ingin mencapai akhir. Ending-nya terasa memuaskan, tanpa kesan menggantung atau pertanyaan besar yang tertinggal bagiku. Aku menyukai pendekatan ceritanya, meskipun tidak semua pilihan dalam penyampaian karakter berhasil membuatku terkesan.
Audio dan Musik: Salah Satu Kekuatan Terbaiknya
Kalau membicarakan audio Ace Combat 8, hampir semua yang kuperhatikan meninggalkan kesan positif. Musik sepanjang campaign terasa mengesankan dan cocok dengan suasana yang sedang berlangsung. Ada tiga chapter yang musiknya paling membekas buatku, yaitu Chapter 28 di urutan pertama, disusul Chapter 29 dan Chapter 30. Khusus Chapter 28, musiknya terasa benar-benar menyatu dengan intensitas pertempuran.
Efek suaranya juga sangat memuaskan. Komunikasi radio yang saling bertumpuk, suara meriam, ledakan, missile yang mengenai pesawat, tembakan gun, percikan air, suara ketika melewati awan, hingga turbulensi semuanya memperkuat pengalaman terbang dan bertempur. Rasanya ada banyak hal yang terjadi secara bersamaan, tetapi justru itulah yang membuat suasana pertempuran lebih terasa.
Pengisi suaranya pun menurutku bagus. Bahkan percakapan radio yang terdengar bertumpuk tetap menjadi bagian yang kusukai. Dalam Ace Combat 8, kualitas audio bukan sekadar pelengkap visual; musik dan efek suaranya sama-sama membantu menghadirkan momen aksi yang berkesan.
Performa PC: Medium Sudah Memuaskan
Selama bermain Ace Combat 8 di PC melalui Steam, aku tidak mengalami bug, crash, freeze, atau masalah loading yang sampai mengganggu. Baik campaign maupun multiplayer secara umum berjalan nyaman menurut pengalamanku. Aku juga tidak merasakan masalah besar ketika berpindah dari pengaturan maksimum ke medium.
Ada situasi tertentu ketika performa terasa sedikit menurun, khususnya saat pertempuran berlangsung sangat masif dengan banyak efek railgun dan serangan dari orbit. Namun, penurunan yang kurasakan tidak sampai merusak kenyamanan bermain. Aku tidak bisa memastikan penyebabnya hanya dari pengalaman tersebut, dan tidak menganggapnya sebagai masalah teknis yang berat.
Yang lebih membuatku mengernyit justru kebutuhan RAM minimum 16 GB dan rekomendasi 32 GB yang kuketahui. Menurutku, angka rekomendasi tersebut terlalu berat. Meski demikian, penilaian soal kebutuhan RAM ini tidak mengubah kenyataan bahwa selama memainkan Ace Combat 8, masalah performa yang kualami relatif kecil.
Multiplayer Ace Combat 8: Mode Seru, Sistemnya Belum Matang
Setelah menyelesaikan campaign, aku menghabiskan sekitar enam jam mencoba multiplayer Ace Combat 8. Semua mode yang kutemui pada dasarnya punya daya tarik. Aku sudah memainkan Warfare Assault, Warfare Co-op, Scramble, Emergency Sortie, Team Deathmatch, dan Deathmatch. Masalahnya bukan karena seluruh pertandingannya membosankan, melainkan karena beberapa sistem di luar dogfight terasa belum benar-benar matang.
Warfare Assault yang berfokus pada PvE dan Warfare Co-op yang menggabungkan PvP serta PvE menjadi dua mode yang paling sering kumainkan. Keduanya seru, tetapi setelah sekitar sepuluh pertandingan, aku mulai merasakan pola aktivitas yang repetitif. Sementara itu, Scramble yang menghadirkan pertarungan melawan bos pesawat elite dan Emergency Sortie dengan senjata super serta kendaraan besar punya akses terbatas dalam periode tertentu. Aku tidak bisa terus memilih kedua mode tersebut sesuka hati.
Team Deathmatch dan Deathmatch memang memberikan pilihan untuk bertarung melawan pemain lain. Namun, buatku, mode PvP murni ini terasa kurang ramai karena tidak ada musuh tambahan seperti yang kutemukan di mode lainnya. Jadi, walaupun Ace Combat 8 menawarkan sejumlah mode, kenyataan saat aku bermain adalah pilihanku lebih sering kembali ke dua mode yang sama. Itulah mengapa multiplayer bisa terasa seru sekaligus cepat berulang.
Hanggar 100 Pemain yang Terasa Sepi
Satu ide yang sebenarnya menarik adalah lobi berupa hanggar, tempat sekitar 100 pemain bisa berkumpul dan berinteraksi. Sayangnya, pelaksanaannya menurutku kurang maksimal. Banyak NPC di sana terasa seperti pajangan yang hanya berfungsi memberi akses ke menu. Padahal ada menu cepat yang membuatku bisa mengakses kebutuhan yang sama tanpa harus berjalan mendatangi mereka.
Suasana hanggarnya pun terasa aneh. Aku melihat pesawat tempur dan AC-130 datang serta lepas landas, tetapi area itu justru terasa terlalu sunyi, seolah tidak ada kesibukan yang mengiringi aktivitas pesawat. Kegiatan tambahan yang kutemukan hanya mini-game seperti Pac-Man dan layar besar untuk menonton pertandingan pemain lain atau rekamannya. Alih-alih menjadi tempat berkumpul yang hidup, hanggar dalam Ace Combat 8 terasa seperti fitur dengan potensi bagus yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Matchmaking, Koneksi, dan Progres Multiplayer
Persoalan lain adalah keseimbangan pertandingan. Dalam satu pertandingan, aku menggunakan Su-33 bersama rekan setim yang pesawatnya bahkan berada di bawah kemampuanku. Sementara itu, tim lawan membawa pesawat seperti EA-36 Barricader, Su-57, dan satu MiG. Bagiku, ketimpangannya terasa seperti pesawat generasi ketiga harus menghadapi pesawat generasi kelima atau keenam.
Aku mengalami pertandingan tidak seimbang seperti itu dua kali dalam enam jam bermain. Jadi, aku belum bisa menyebutnya masalah yang selalu muncul. Namun, dua kejadian tersebut sudah cukup membuatku mempertanyakan matchmaking Ace Combat 8. Mungkin saja kondisi itu berkaitan dengan banyaknya pemain yang masih mengumpulkan uang dan membuka pesawat, tetapi itu baru dugaanku, bukan sesuatu yang bisa kupastikan.
Untuk koneksi, ada kalanya aku masuk ke pertandingan dengan ping tinggi sampai mengalami disconnect, atau justru anggota tim lawan yang terputus lebih dahulu. Saat lancar, pencarian pertandingan biasanya memakan waktu sekitar 20 detik sampai satu menit. Ketika koneksi bermasalah, prosesnya pernah terasa lebih lama, hingga sekitar tiga menit. Ini adalah pengalamanku selama sesi multiplayer tersebut, bukan ukuran pasti kualitas seluruh server atau keadaan komunitas setiap saat.
Sistem part juga berbeda dari campaign. Kalau di campaign aku bisa membeli part melalui progres yang sudah kubuka, dalam multiplayer aku perlu memenuhi syarat tertentu dan melakukan upgrade pesawat. Aku belum membuka seluruh part multiplayer, tetapi pengaruhnya terhadap kemampuan pesawat sudah terasa seperti di campaign.
Ada satu kekhawatiran lain yang belum bisa kujadikan kesimpulan: potensi pay-to-win. Berdasarkan yang kutemui, pesawat seperti ADFX Morgan Pixy terkait dengan pembelian Battle Pass. Aku belum bisa menyatakan bahwa keberadaan pesawat itu otomatis membuat pertandingan pay-to-win. Namun, cara akses seperti ini membuatku waspada, apalagi ketika aku sudah merasakan beberapa pertandingan dengan perbedaan kemampuan pesawat yang cukup jauh.
Pada akhirnya, multiplayer Ace Combat 8 punya gameplay yang tetap menyenangkan, apalagi menghadapi pemain manusia yang gerakannya lebih sulit ditebak daripada musuh campaign. Tetapi lobi yang terasa setengah jadi, mode terbatas, aktivitas yang cepat repetitif, masalah koneksi, dan matchmaking yang kadang timpang membuat pengalaman keseluruhannya mengecewakan. Singkatnya, dogfight-nya seru, tetapi sistem pendukungnya masih terasa payah.
Harga dan Value: Puas dengan Gamenya, Kurang Puas dengan Edisinya
Aku membeli Ace Combat 8 Ultimate Edition lewat pre-order seharga Rp1.099.000. Salah satu alasan utamanya adalah akses tiga hari lebih awal karena aku punya kebutuhan sebagai streamer. Aku juga tertarik dengan bonus pre-order berupa Ace Combat The Belkan War. Bonus itu punya nilai tersendiri bagiku ketika memutuskan membeli lebih awal.
Kalau bukan karena kebutuhan akses lebih awal, aku justru lebih memilih Standard Edition yang saat itu kuhargai Rp899.000. Bagiku, tambahan Ultimate Edition berupa kosmetik dan Battle Pass belum cukup untuk membuat selisih harganya terasa sepadan. Apalagi penilaianku terhadap multiplayer masih punya cukup banyak catatan.
Tetapi ada perbedaan antara merasa kurang cocok dengan harga sebuah edisi dan merasa tidak puas dengan game secara keseluruhan. Sebagai gamer kasual, aku sangat puas dengan Ace Combat 8. Dua kali menyelesaikan campaign, mencoba pesawat berbeda, membuka part, dan menjalani dogfight yang menantang sudah memberiku banyak pengalaman menyenangkan.
Kalau kamu memang mengejar multiplayer, membeli ketika masih mudah menemukan pertandingan punya alasan tersendiri. Namun, tanpa bonus pre-order yang menurutku menarik, aku cenderung lebih menyarankan menunggu diskon awal. Kalau tujuanmu hanya bermain campaign dan tidak peduli multiplayer, lebih baik menunggu diskon yang jauh lebih besar. Menurut perkiraanku, penurunan harga seperti itu mungkin baru terjadi setelah satu sampai tiga tahun, tetapi tentu ini bukan kepastian harga di masa depan.
DLC dan Konten Tambahan: Bonus yang Belum Kumainkan
Selain akses lebih awal, ada bonus pre-order yang menurutku menarik, yaitu Ace Combat The Belkan War. Aku mengenalnya sebagai game lama dari era PS2 yang dibawa ke versi PC melalui Steam. Sampai menulis review ini, aku belum memainkannya. Jadi, aku tidak akan menilai kualitas game bonus tersebut atau menjadikannya alasan untuk memuji gameplay Ace Combat 8.
Ultimate Edition yang kubeli juga memberikan kosmetik dan Battle Pass. Berdasarkan yang kuketahui, tidak ada DLC lain yang perlu kubahas. Bagiku, penting membedakan nilai paket pembelian dari kualitas konten yang benar-benar sudah kucoba. Bonus pre-order bisa menarik, tetapi bukan berarti semua tambahan dalam edisi mahal otomatis sepadan dengan harganya.
Siapa yang Cocok Memainkan Ace Combat 8?
Aku merekomendasikan Ace Combat 8 terutama kepada kamu yang menyukai pesawat tempur, dogfight bergaya arcade, dan cerita konflik antarnegara. Kalau kamu menikmati tantangan menghadapi lawan agresif, mengatur konfigurasi pesawat, lalu mencoba misi yang sama dengan pendekatan berbeda, campaign-nya punya banyak hal untuk dinikmati.
Sebaliknya, ada satu hal yang perlu dipertimbangkan kalau kamu mudah pusing melihat kamera bergerak cepat. Ketika pesawat bermanuver ekstrem, posisi atas dan bawah bisa terasa membingungkan. Walaupun ada bantuan kontrol, menurutku risiko merasa pusing atau mabuk gerak tetap ada bagi pemain yang sensitif. Dan kalau fokus utamamu multiplayer, penting juga mengetahui bahwa keseruannya disertai kelemahan sistem yang cukup terasa selama aku bermain.
Kesimpulan
Buatku, Ace Combat 8 berhasil memberikan alasan utama untuk memainkan sebuah game pesawat tempur: pertempuran udara yang benar-benar seru. Aku bisa menikmati tantangan Elite, lalu kembali pada tingkat Ace tanpa kehilangan rasa tertarik. Pengalaman menghadapi skuadron elite di Chapter 28 bahkan menjadi salah satu momen paling berkesan dari seluruh campaign yang kumainkan.
Aku tetap punya kritik. Awal campaign terasa terlalu lambat, beberapa detail lingkungan darat kurang hidup, karakter dan dialog sesekali terasa aneh, sementara multiplayer menawarkan aksi bagus dalam sistem yang belum cukup matang. Ultimate Edition yang kubeli juga bukan pilihan paling sepadan bagiku. Namun, semua catatan itu tidak mengubah kesan utamaku: Ace Combat 8 adalah game yang sangat kunikmati, dan aku masih ingin kembali menerbangkan pesawat untuk menghadapi tantangan berikutnya.

