Ada game yang baru terasa istimewa setelah kamu menamatkannya, dan The Last Campfire termasuk salah satunya. Dari luar, game ini terlihat sederhana, bahkan mungkin terkesan “ringan” untuk standar game puzzle masa kini. Tapi setelah aku menyelesaikan ceritanya sampai habis di PC lewat Steam, menggunakan keyboard dan mouse, aku sadar bahwa kesan pertama itu sedikit menipu. The Last Campfire bukan sekadar game puzzle santai, ia adalah pengalaman yang pelan-pelan menarik aku masuk ke dalam dunianya lewat teka-teki yang cerdik dan narasi yang dibungkus seperti dongeng.
Review ini aku tulis murni berdasarkan pengalaman pribadiku menamatkan story mode, tanpa membandingkan dengan ekspektasi atau informasi dari luar. Jadi semua yang kamu baca di sini adalah hal-hal yang benar-benar aku rasakan selama bermain.
Review The Last Campfire Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay
Inti dari The Last Campfire ada pada satu kata: puzzle. Loop gameplay-nya sebenarnya cukup sederhana untuk dijelaskan. Kamu berjalan, menjelajahi area, mencari objek atau jalan, memecahkan puzzle yang menghalangi, lalu membuka akses ke area berikutnya. Begitu terus berulang dari awal hingga akhir permainan.
Tapi yang menarik, walau formulanya berulang, aku tidak pernah merasa bosan. Alasannya karena variasi puzzle yang ditawarkan cukup beragam. Ada puzzle yang mengandalkan observasi, ada yang butuh memanipulasi elemen di lingkungan sekitar, ada juga yang menuntut kamu memahami urutan mekanik tertentu, sampai puzzle dengan logika sederhana yang tetap butuh ketelitian untuk dipecahkan.
Variasi dan Tingkat Kesulitan Puzzle
Secara umum, mayoritas puzzle di game ini berada di level mudah sampai sedang. Tapi jangan salah, tingkat kesulitan itu bisa berubah drastis kalau kamu tidak fokus atau belum benar-benar memahami mekanik yang sedang dimainkan. Beberapa kali aku terkecoh oleh desain puzzle yang sengaja dibuat membingungkan, padahal solusinya sebenarnya ada di depan mata.
Yang menarik, learning curve di game ini tidak berkembang secara bertahap dan halus seperti kebanyakan game puzzle lain. Sejak awal, game sudah mulai memberi semacam “jebakan logika” yang membuat kamu berpikir sesuatu tidak bisa dilakukan, padahal sebenarnya bisa. Dua momen yang paling membekas buatku adalah puzzle dekat kolam katak di Chapter 1, dan puzzle dekat babi di Chapter 2. Keduanya punya pola pengecoh yang sukses bikin aku mentok cukup lama. Tapi begitu aku berhasil memahami cara berpikir di balik desain puzzle-nya, puzzle-puzzle berikutnya jadi terasa jauh lebih mudah dibaca.
Soal bantuan, di mode normal nyaris tidak ada hint yang diberikan. Pemain benar-benar dipaksa berpikir sendiri tanpa banyak petunjuk. Sebenarnya ada mode Explore yang konon dirancang untuk pengalaman yang lebih santai, tapi aku belum sempat mencobanya, jadi aku tidak bisa berkomentar lebih jauh soal itu.
Satu hal yang perlu kamu tahu juga, The Last Campfire tidak memiliki sistem upgrade, skill unlock, atau progression tree sama sekali. Jadi progresimu di game ini murni soal seberapa jauh kamu sudah maju dalam cerita dan area, bukan soal kemampuan karakter yang makin kuat.
Eksplorasi dan Lore Tersembunyi
Eksplorasi di game ini terasa hidup, dan ini salah satu bagian yang aku nikmati. Reward dari eksplorasi kebanyakan bukan berupa item atau kekuatan baru, melainkan kertas-kertas misterius yang tersebar di berbagai area. Kertas ini penting banget untuk memahami lore dan menghubungkan cerita masa lalu dengan area yang sedang kamu jelajahi. Buat kamu yang suka menggali detail kecil dalam sebuah dunia game, bagian ini bakal terasa sangat memuaskan.
Soal pacing, menurutku terasa pas. Tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat. Semua area yang aku kunjungi terasa punya tujuan, tidak ada yang terasa seperti filler semata. Meski begitu, ada momen-momen tertentu di mana aku merasa cukup lelah secara mental karena harus berpikir cukup lama untuk memecahkan satu puzzle.
Kontrol
Untuk kontrol, secara umum terasa nyaman dimainkan dengan keyboard dan mouse. Hanya saja ada satu bug kecil yang aku temui, yaitu karakter kadang stuck saat aku mencoba meletakkan benda. Untungnya ini bukan masalah fatal, cukup diatasi dengan klik ulang dan karakter kembali normal.
Visual dan Desain Dunia
Kesan pertamaku terhadap visual The Last Campfire adalah unik, simpel, dan lucu. Tapi kalau bicara soal art style secara spesifik, menurutku ini termasuk biasa saja. Bukan berarti jelek, hanya saja bukan jadi nilai jual utama dari game ini.
Yang justru membuat dunia game ini terasa istimewa adalah suasananya. Dunia di The Last Campfire terasa hidup, dengan atmosfer yang cukup kuat dan konsisten dari awal sampai akhir. Desain areanya juga mudah dibaca, aku jarang merasa bingung soal di mana harus pergi secara fisik. Kalau ada kebingungan, itu lebih sering datang dari puzzle-nya, bukan dari struktur peta atau areanya.
Animasi di game ini juga aku rasa cukup bagus dan berhasil mendukung suasana secara keseluruhan. Sementara dari sisi UI/UX, semuanya terasa nyaman digunakan dan tidak pernah mengganggu pengalaman bermainku.
Cerita dan Karakter
Premis cerita The Last Campfire berpusat pada seorang makhluk bernama Ember yang tersesat dan berusaha mencari jalan keluar, dibantu oleh seorang pemandu sepanjang perjalanannya. Dari premis ini saja, kamu sudah bisa menebak bahwa game ini akan terasa seperti dongeng, dan memang begitulah cara cerita ini dibangun.
Struktur narasinya terasa seperti dongeng terselubung, dengan banyak informasi yang sengaja disembunyikan dan tidak langsung diberikan begitu saja. Untuk benar-benar memahami cerita secara utuh, kamu perlu aktif membaca dialog, mendengarkan narator, memperhatikan NPC, mencari dokumen tersembunyi, sampai menemukan kertas-kertas misterius yang sudah aku singgung sebelumnya. Kalau kamu melewatkan semua itu, cerita akan terasa kabur dan kurang nyambung.
Jujur saja, di awal permainan aku cukup kesulitan memahami arah cerita ini mau ke mana. Tapi begitu aku menamatkan game ini sampai akhir, semuanya jadi terasa jelas. Ending-nya pun memuaskan, memberikan semacam momen “oh, jadi begini semuanya” yang berhasil menyatukan potongan-potongan cerita yang sempat terasa terpisah.
Soal karakter, aku akui tidak ada yang terasa sangat menonjol secara personal buatku. Tapi itu tidak mengurangi kekuatan cerita secara keseluruhan. Pacing narasinya sendiri menurutku pas, tidak terburu-buru dan tidak juga bertele-tele.
Navigasi dan Kendala Bahasa
Ada satu titik kelemahan yang menurutku cukup penting untuk disebutkan. Kadang game ini tidak cukup jelas dalam menunjukkan tujuan yang harus dicapai. Masalah ini diperparah oleh keterbatasan pemahaman bahasa Inggrisku, karena narasi dalam game lebih sering menjelaskan kebutuhan atau konteks ketimbang memberi arah tujuan yang konkret. Efeknya, aku beberapa kali muter-muter tanpa sadar kalau tujuan sebenarnya ada di area lain. Ini lebih ke masalah kejelasan instruksi, bukan masalah desain peta itu sendiri.
Audio dan Musik
Dari sisi musik, The Last Campfire menawarkan scoring yang nyaman didengar dan cocok menemani momen-momen berpikir saat memecahkan puzzle. Memang bukan musik yang akan langsung membuatmu terkesima, tapi cukup efektif dalam membangun suasana. Sound design-nya pun mendukung atmosfer dunia game dengan baik.
Namun, bagian yang paling membuatku terkesan justru ada di voice acting, khususnya dari narator. Sepanjang permainan, hanya narator yang punya suara, dan kualitasnya sangat enak didengar. Tidak membosankan sama sekali, bahkan terasa sangat cocok dengan nuansa dongeng yang ingin dibangun game ini. Suara narator ini berhasil membawa suasana dengan kuat, sampai aku merasa kalau narator ini membacakan dongeng yang lebih panjang lagi, kemungkinan besar aku akan tetap betah mendengarkannya. Buatku, ini menjadi salah satu identitas terkuat dari The Last Campfire secara keseluruhan.
Performa dan Stabilitas
Soal performa, aku tidak menemukan masalah berarti selama bermain. Game berjalan stabil dari awal sampai akhir, dan waktu loading-nya juga cepat, tidak pernah membuatku menunggu lama.
Bug dan Stabilitas
Meski stabil secara umum, ada beberapa bug minor yang aku temui. Pertama, karakter kadang stuck saat menaruh benda, seperti yang sudah aku sebutkan di bagian kontrol. Kedua, ada bug di mana babi terlihat melayang saat lift sedang turun. Bug yang kedua ini sebenarnya cukup berpotensi mengganggu karena berkaitan dengan bagian puzzle yang wajib diselesaikan. Untungnya, masalah ini masih bisa diatasi secara manual dan tidak sampai merusak progres permainanku.
Durasi Bermain
Durasi bermainku pribadi sampai tamat hampir mencapai 9 jam. Tapi durasi ini sebenarnya sangat bergantung pada seberapa cepat kamu memahami pola puzzle yang ditawarkan. Kalau kamu bermain dengan gaya rush, kemungkinan besar bisa selesai sekitar 3 jam saja. Sementara kalau bermain normal dengan eksplorasi penuh, durasinya bisa di bawah 5 jam. Jadi makin cepat kamu menangkap pola puzzle, makin pendek juga waktu yang kamu butuhkan untuk menamatkan game ini.
Harga dan Value
Aku membeli The Last Campfire seharga Rp13.099 saat diskon, dan dengan harga segitu, aku merasa game ini sangat worth it. Kualitas puzzle yang solid, narasi yang kuat, ditambah pengalaman yang cukup unik membuat harga diskon ini terasa sangat seimbang dengan apa yang aku dapatkan.
Namun ceritanya berbeda kalau bicara soal harga normal di Rp130.999. Menurutku, harga ini terlalu mahal untuk pengalaman yang ditawarkan, apalagi mengingat durasi permainan yang bisa terbilang singkat untuk sebagian pemain. Kalau harus menentukan harga yang ideal, aku rasa sekitar Rp80.000 akan jauh lebih masuk akal dan tetap membuat game ini terasa worth it tanpa diskon sekalipun.
Kesimpulan
The Last Campfire cocok untuk kamu yang menyukai puzzle, penikmat cerita bergaya dongeng, suka menggali lore tersembunyi, menikmati narasi audio yang kuat, dan mencari game yang santai tapi tetap mengajak berpikir. Tapi game ini mungkin kurang cocok untuk kamu yang tidak sabaran, mudah frustrasi saat mentok di puzzle, atau mencari game dengan sistem progresi karakter yang jelas.
Dari sisi kelebihan, The Last Campfire menawarkan puzzle yang solid dan cukup variatif, tidak terasa repetitif, voice acting narator yang sangat kuat, cerita yang menarik dan semakin dalam kalau dieksplorasi, atmosfer dongeng yang konsisten, dunia yang terasa hidup, dan semua area yang terasa punya tujuan jelas. Saat dibeli dengan harga diskon, value yang ditawarkan juga sangat tinggi.
Sementara dari sisi kekurangan, masih ada beberapa bug kecil yang mengganggu, potensi kebingungan arah tujuan, kebutuhan fokus tinggi untuk memecahkan puzzle yang kadang bisa melelahkan secara mental, art style yang bukan jadi nilai jual utama, durasi yang bisa terasa sangat pendek untuk pemain yang cepat menangkap pola, serta harga normal yang menurutku terlalu mahal.
Menurut pengalamanku, The Last Campfire adalah game yang bagus, dengan cerita menarik, narasi yang kuat, dan salah satu voice acting narator paling nyaman yang pernah aku dengar. Tapi jangan sampai tertipu dengan tampilan puzzle yang terlihat sederhana, karena kalau kamu tidak fokus dan belum memahami mekaniknya, puzzle yang paling mudah sekalipun bisa terasa sangat sulit.
