Industri monitor gaming kembali mendorong batas teknologi refresh rate. Setelah banyak merek mendekati angka 1.000 Hz sepanjang tahun ini, HKC akhirnya ikut mencapainya dengan memperkenalkan AntGamer ANT275PQ MAX, sebuah Monitor 1080 Hertz yang secara teknis mampu berjalan hingga 1.080 Hz. Pengumuman ini sekaligus menempatkan HKC dalam jajaran produsen yang paling agresif mengejar performa ekstrem untuk segmen esports.
Dual Mode: Monitor 1080 Hertz di 720p, 540 Hz di 1440p
AntGamer ANT275PQ MAX menggunakan panel Fast TN dengan resolusi native 1440p. Melalui fitur dual mode, monitor ini dapat diturunkan ke resolusi 720p untuk mencapai refresh rate maksimum 1.080 Hz. Sebagai alternatif yang lebih realistis, pengguna tetap bisa menjalankan resolusi native 1440p dengan refresh rate hingga 540 Hz, angka yang sudah berada jauh di atas standar monitor esports saat ini.
Pendekatan ini mencerminkan realitas teknis di lapangan. Mendorong lebih dari 1.000 FPS pada resolusi tinggi masih menjadi tantangan besar bagi sebagian besar GPU modern, belum lagi keterbatasan engine game yang belum sepenuhnya dirancang untuk refresh rate setinggi itu. Dengan opsi 540 Hz di 1440p, monitor ini tetap relevan untuk skenario kompetitif tanpa harus memaksakan kompromi ekstrem.

Dukungan DisplayPort 2.1 dan fokus murni esports
Untuk menopang bandwidth tinggi, monitor ini disebut akan dibekali DisplayPort 2.1 UHBR20, standar konektivitas terbaru yang memang dirancang untuk kebutuhan refresh rate dan resolusi ekstrem. Dari sisi ukuran, penamaan “275” mengindikasikan panel 27 inci, meski detail resmi soal dimensi belum dipaparkan sepenuhnya.
Sebagai panel TN, ekspektasi terkait akurasi warna dan kontras secara realistis tidak setinggi IPS, OLED, atau Mini-LED. Model ini jelas difokuskan untuk respons dan kecepatan, bukan kualitas visual sinematik. Fitur seperti local dimming hampir pasti absen, dan meski black frame insertion dapat membantu ketajaman gerak, efektivitasnya pada refresh rate setinggi ini dipertanyakan.
Posisi HKC dan harga awal yang agresif
AntGamer sendiri merupakan sub-merek gaming dari HKC, produsen panel dan monitor asal Tiongkok yang menguasai sekitar 10% pasar monitor global dan memiliki reputasi kuat di kawasan Asia. Saat pertama kali diperkenalkan, harga AntGamer ANT275PQ MAX di pasar Tiongkok disebut mendekati US$1.000 atau IDRp17.000.000.
Angka tersebut menempatkannya di atas banyak monitor OLED dan Mini-LED kelas atas, memperjelas bahwa produk ini menyasar niche sangat spesifik: pemain kompetitif yang mengejar latency serendah mungkin dan refresh rate setinggi mungkin, dengan kompromi visual sebagai konsekuensi.
Bukan satu-satunya kartu HKC di CES 2026
Menariknya, HKC tidak hanya mengandalkan pendekatan ekstrem berbasis Fast TN. Perusahaan ini juga tengah mengembangkan M10 Ultra, monitor yang justru berada di spektrum berlawanan. Model tersebut diklaim sebagai panel RGB Mini-LED pertama di dunia, dengan 4.788 zona dimming berbasis LED merah, hijau, dan biru terpisah—bukan backlight putih konvensional. Fokus utamanya adalah akurasi warna dan performa visual kelas atas.
Baik M10 Ultra maupun AntGamer ANT275PQ MAX dijadwalkan tampil di CES 2026, menjadikan ajang tersebut sebagai panggung utama adu teknologi display generasi berikutnya.
Persaingan 1.000 Hz makin padat
Klaim “pertama di dunia” untuk monitor 1.000 Hz kini semakin kabur. Sejumlah vendor lain juga dikabarkan akan memamerkan monitor serupa di CES 2026. Samsung baru saja mengumumkan Odyssey G6, yang mampu mencapai 1.040 Hz pada 1080p dengan panel IPS—sebuah kombinasi yang menarik karena IPS umumnya menawarkan kualitas visual lebih baik dibanding TN.
Sebelumnya, TCL CSOT juga sempat mendemonstrasikan panel 4K 1.000 Hz, bahkan 8K 1.000 Hz, meski masih sebatas prototipe dan belum masuk tahap produksi massal.
Arah baru monitor gaming ekstrem
Kehadiran Monitor 1080 Hertz seperti AntGamer ANT275PQ MAX menunjukkan bahwa industri monitor gaming kini tidak lagi sekadar mengejar 360 Hz atau 480 Hz. Fokus mulai bergeser ke wilayah yang benar-benar ekstrem, meski masih bersifat eksperimental dan niche. Apakah refresh rate setinggi ini akan benar-benar diadopsi secara luas, atau tetap menjadi etalase teknologi untuk esports level tertinggi, akan sangat bergantung pada kesiapan GPU, engine game, dan kebutuhan nyata pemain di masa depan.
