Kalau membahas mouse gaming, banyak orang biasanya fokus ke produk baru, sensor baru, bentuk baru, atau hype model terbaru. Aku justru ingin membahas dari sudut yang berbeda. Review ini bukan berdasarkan pemakaian singkat, bukan impresi satu-dua hari, dan bukan karena baru beli lalu langsung semangat menilai. Review ini berdasarkan pemakaian jangka panjang terhadap Logitech G402 Hyperion Fury, sebuah mouse yang aku pakai sejak sekitar 2019 atau 2020. Tahun pastinya memang sudah tidak aku ingat, tetapi kira-kira ada di rentang itu.
Menurutku, justru di sinilah nilai review seperti ini terasa. Mouse bisa terlihat bagus di awal, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana rasanya setelah dipakai bertahun-tahun: apakah masih nyaman, apakah masih enak digerakkan, bagaimana kondisinya setelah lama dipakai, dan apakah masalah yang muncul masih bisa ditoleransi atau justru mengganggu. Dari pengalaman itulah aku menilai Logitech G402 Hyperion Fury.
Aku memakai mouse ini di PC utama, dengan penggunaan campuran, walau kalau dilihat lebih spesifik, FPS mungkin jadi jenis game yang lebih sering aku mainkan. Intensitas pakainya juga berubah-ubah. Saat sedang main game, pemakaiannya tentu intens. Saat tidak sedang bermain, pemakaiannya lebih santai untuk aktivitas biasa. Jadi, mouse ini tidak hanya kupakai sesekali, melainkan benar-benar menjadi bagian dari penggunaan harian dalam jangka panjang.

Sebelum memakai G402, aku menggunakan Logitech G300s. Jadi, kepindahanku ke G402 memang bukan karena asal pilih, tetapi lebih ke arah upgrade dari mouse Logitech sebelumnya. Salah satu alasan kuat kenapa dulu aku tertarik dengan G402 adalah karena aku merasa produk Logitech cukup awet, dan pengalaman sebelumnya juga ikut membentuk persepsi itu. Detail pembanding mouse lain saat itu sudah tidak terlalu aku ingat, tetapi kemungkinan besar aku memang sempat membandingkan dulu sebelum memutuskan beli.
Review Versi Vidio
Malas membaca? Ingin melihat versi videonya sekaligus produknya? Tonton video di bawah ini, atau kunjungi channel-nya di sini.
Pengenalan dan Konteks Pemakaian
Salah satu hal yang menurutku penting dalam review mouse adalah konteks tangan dan cara menggenggam. Ukuran tanganku menurutku sedang, dan cara aku memegang mouse lebih ke campuran, tetapi dominannya palm grip, lalu kadang berubah ke claw grip saat sedang main lebih serius. Ini penting, karena kenyamanan mouse sangat dipengaruhi ukuran tangan dan grip masing-masing orang.
Saat pertama kali memakai Logitech G402, aku memang butuh adaptasi sedikit. Menurutku itu wajar, apalagi ketika pindah dari mouse sebelumnya ke bentuk yang berbeda. Namun setelah masa adaptasi lewat, mouse ini terasa nyaman. Bahkan sampai sekarang, salah satu hal yang paling melekat dari G402 buatku adalah desainnya tidak bikin pegal. Ada mouse yang secara tampilan terlihat keren, tetapi setelah dipakai lama membuat tangan terasa capek. G402, dalam pengalamanku, tidak begitu. Ada rasa ergonomis yang terasa natural saat dipakai, dan itu menjadi salah satu alasan terbesar kenapa aku tetap punya penilaian positif terhadap mouse ini.

Untuk alas alas mouse, sebelumnya aku hanya memakai mousepad biasa atau mousepad murahan. Baru sekitar akhir 2024 atau 2025, kalau tidak salah, aku mulai memakai mousepad khusus dari Logitech. Aku tidak akan bilang perubahan mousepad itu mengubah total pengalaman terhadap G402, tetapi konteks ini tetap penting karena permukaan yang dipakai tentu ikut memengaruhi rasa geser dan kontrol mouse.
Pengalaman Penggunaan Sehari-hari
Kalau harus merangkum pengalaman memakai Logitech G402 dalam satu kalimat, aku akan bilang: mouse ini enak dipakai, enak digerakkan, dan desainnya memang terasa pas untuk penggunaan lama. Bagian “enak digerakkan” itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting. Kadang ada mouse yang spesifikasinya terlihat menarik, tetapi rasa geraknya tidak terlalu natural di tangan. Pada G402, aku justru merasa salah satu kekuatannya ada di situ. Rasa menggerakkan mouse ini terasa nyaman, tidak kaku, dan tidak membuat tangan cepat lelah.
Dalam penggunaan game, terutama FPS, mouse ini juga terasa akurat. Tracking-nya menurutku bagus, klik kiri dan kanan juga enak, dan scroll wheel selama pemakaian tidak memberiku masalah berarti. Jadi, kalau bicara inti fungsi sebuah mouse sebagai alat input, G402 menurutku bekerja dengan baik. Aku tidak merasa terganggu dari sisi sensor, tracking, klik utama, atau scroll dalam pemakaian normal maupun gaming.
Bobot mouse ini juga menurutku pas. Tidak terasa terlalu berat, tetapi juga tidak terlalu ringan sampai kehilangan rasa kontrol. Tentu ini sangat subjektif, tetapi untuk tanganku dan cara mainku, bobot G402 masuk ke kategori yang nyaman. Bahkan kalau aku menilai secara keseluruhan, salah satu alasan kenapa mouse ini tetap terasa bagus setelah lama dipakai adalah karena kombinasi antara bobot, bentuk, dan rasa geraknya itu cocok di tanganku.
Namun bukan berarti semuanya sempurna. Ada satu kekurangan ergonomi yang terasa sangat spesifik, tetapi cukup penting untuk tipe game tertentu, yaitu tombol samping untuk DPI shift. Secara fungsi, tombol ini seharusnya membantu, misalnya saat ingin menurunkan DPI mendadak untuk sniping di game FPS. Masalahnya, dalam pengalamanku, tombol itu sulit dijangkau oleh jempol. Jadi di atas kertas mungkin terdengar menarik, tetapi pada praktiknya tidak terlalu nyaman kupakai karena posisinya kurang pas untuk tanganku.
Hal ini menarik karena di sisi lain aku justru sangat suka bentuk ergonomis mouse ini secara umum. Jadi G402 buatku adalah mouse yang ergonomis secara standar menurut aku, tetapi punya satu titik kecil yang terasa kurang pas, yaitu akses ke tombol DPI shift tadi.
Kelebihan Logitech G402 Hyperion Fury
1. Nyaman dipakai dalam jangka panjang
Kalau aku disuruh menyebut kelebihan terbesar G402, jawabanku kemungkinan besar akan tetap sama: kenyamanan. Ini bukan mouse yang membuat tanganku cepat pegal. Setelah bertahun-tahun pun, kesan itu tetap ada. Buatku, kenyamanan seperti ini lebih penting daripada sekadar tampilan atau gimmick. Karena pada akhirnya, mouse adalah alat yang benar-benar kita pegang terus-menerus.
2. Desain ergonomis yang terasa pas
Bentuk G402 menurutku punya karakter ergonomis yang kuat. Rasa nyaman ini bukan cuma soal “tidak sakit”, tetapi juga soal bagaimana mouse itu terasa menyatu saat dipakai. Aku suka desainnya, dan menurutku inilah salah satu alasan kenapa mouse ini cocok untuk banyak orang.
3. Sensor dan tracking terasa bagus
Aku tidak punya keluhan berarti soal akurasi. Sensor terasa akurat, tracking juga bagus untuk kebutuhan gaming-ku. Ini penting karena, sesuka apa pun aku pada desain sebuah mouse, kalau tracking-nya bermasalah maka penilaiannya pasti turun. Untungnya, di bagian inti ini G402 masih memberi pengalaman yang baik.
4. Klik utama dan scroll memuaskan
Klik kiri dan kanan menurutku enak. Scroll juga tidak memberi masalah berarti selama pemakaian. Pada G402, bagian itu termasuk stabil dalam pengalamanku.
5. Value yang sangat bagus
Untuk harga beli dulu, aku merasa harganya wajar, sekitar mendekati Rp500.000. Setelah sekian lama dipakai, penilaianku justru naik ke arah value. Menurutku value mouse ini sangat bagus. Bahkan ketika aku cek lagi, harga yang masih berkisar Rp400.000 sampai Rp500.000 membuatnya terasa tetap menarik, setidaknya dari sudut pandang pengalaman yang aku punya.
Kekurangan yang Baru Terasa Setelah Lama Dipakai
Di sinilah review jangka panjang jadi penting. Karena ada beberapa kekurangan yang mungkin tidak akan terlalu kelihatan kalau mouse ini baru dipakai sebentar.
1. Integrasi dengan Logitech G HUB terasa buruk
Kalau ada satu hal yang paling mengecewakanku dari G402, itu bukan sensor, bukan desain, dan bukan tracking. Yang paling mengecewakan justru kolaborasi mouse ini dengan Logitech G HUB.
Aku perlu menegaskan bahwa masalahnya bukan mouse ini sama sekali tidak terbaca. Mouse terdeteksi oleh G HUB, tetapi deteksinya tidak sempurna. Dalam penggunaan nyata, aku sering merasakan bahwa saat awal PC atau Windows menyala, sensitivitas bawaan Windows dengan pengaturan dari G HUB seperti bentrok. Akibatnya, sensitivitas mouse di awal bisa terasa sangat berat atau tidak konsisten.



Selain itu, fitur On-board Memory Mode juga kadang terasa tidak jelas statusnya benar-benar ON atau OFF. Ini membuat pengalaman pengaturan profil terasa tidak stabil. Profil game atau desain profil simpanan di G HUB juga sering bermasalah. Jadi, kalau ada satu titik lemah yang paling jelas pada pengalaman pakai G402 milikku, itu adalah sisi software-nya.
Buat sebagian orang mungkin ini terdengar sepele, tetapi buatku ini cukup mengganggu. Karena mouse yang secara hardware sebenarnya enak dipakai jadi terasa kurang mulus hanya karena software pendukungnya tidak beres.
2. Tombol tertentu sulit dijangkau
Seperti yang sudah aku bahas sebelumnya, tombol DPI shift untuk kebutuhan tertentu seperti sniping tidak terasa natural di tanganku. Karena itu, salah satu fungsi yang seharusnya bisa jadi nilai tambah justru jarang kupakai.
3. Tombol tambahan juga jarang kepakai
Aku memang jarang memakai tombol tambahan pada mouse ini. Jadi buat kebutuhan pribadiku, keberadaan tombol-tombol ekstra di G402 bukan faktor utama yang membuatku suka. Malah ironisnya, dua tombol ekstra di kiri atas sekarang sudah rusak dan tidak bisa diklik lagi.
Ketahanan Jangka Panjang: Bagus, tapi Tetap Ada Batas Umur
Kalau bicara daya tahan, aku tetap menganggap G402 sebagai mouse yang punya kesan awet. Namun tentu saja, setelah dipakai lama, tanda-tanda usia mulai muncul.
Bagian karet di sisi kiri dan kanan mouse terkelupas. Area jempol dan kelingking sekarang akhirnya langsung menyentuh dasar body mouse karena lapisan karetnya sudah tidak ada. Secara fungsi, mouse masih bisa dipakai, tetapi secara rasa tentu tidak lagi sesempurna dulu.

Dari sisi pencahayaan, beberapa lampu mouse juga sudah mati. Logo yang seharusnya berwarna biru sekarang terlihat lebih cenderung hijau, lalu cahayanya juga sudah redup. Di G HUB pun warnanya tidak bisa di-custom, hanya biru, walau masih bisa berkedip. Ini bukan masalah besar buat semua orang, tetapi tetap menjadi bagian dari kondisi jangka panjang yang perlu disebut.
Selain itu, dua tombol ekstra kiri atas sudah rusak, dan tombol DPI shift juga sekarang kadang berfungsi, kadang tidak. Dari perkiraanku, kondisi-kondisi seperti ini mulai terasa sekitar 3 sampai 4 tahun pemakaian. Jadi, untuk review jangka panjang, aku bisa bilang bahwa G402 memberi masa pakai yang menurutku cukup baik, tetapi tentu tidak kebal terhadap aus dan penurunan fungsi setelah bertahun-tahun.
Cocok untuk Siapa, dan Tidak Cocok untuk Siapa
Berdasarkan pengalamanku, Logitech G402 Hyperion Fury adalah mouse yang cocok untuk hampir semua orang. Aku tidak membatasi mouse ini hanya untuk gamer FPS saja, karena menurutku desain dan kenyamanannya membuat mouse ini juga cocok untuk:
- gamer berbagai genre,
- pengguna umum,
- sampai orang kantoran yang multitasking.
Itu karena kekuatan utamanya memang ada di kenyamanan, ergonomi, dan rasa pakai yang enak. Selama ukuran tanganmu tidak terlalu kecil, menurutku mouse ini sangat mudah direkomendasikan.
Sebaliknya, G402 menurutku kurang cocok untuk orang yang tangannya kecil. Bentuk dan ukuran mouse ini kemungkinan akan terasa kurang pas untuk tangan kecil, dan itu bisa memengaruhi kenyamanan maupun jangkauan tombol.
Logitech G402 Hyperion Fury
Harga dapat menjadi lebih terjangkau apabila kamu memiliki kupon tambahan yang tersedia di aplikasi Shopee atau memperoleh diskon khusus dari toko resmi Logitech tersebut.
Kesimpulan: Mouse Lama yang Masih Layak Direkomendasikan
Logitech G402 Hyperion Fury buatku adalah contoh mouse yang kekuatannya bukan pada sensasi “wow” sesaat, tetapi pada kenyamanan yang bertahan lama. Dari sisi bentuk, ergonomi, tracking, klik utama, scroll, dan rasa geraknya, mouse ini memberi pengalaman yang sangat memuaskan dalam jangka panjang. Itulah alasan utama kenapa aku tetap merekomendasikannya untuk hampir siapa pun.
Namun review ini juga tidak bisa menutup mata terhadap kekurangannya. Masalah terbesar bukan pada fungsi dasar mouse, melainkan pada integrasinya dengan Logitech G HUB yang terasa tidak stabil dan kadang bikin pengalaman pengaturan jadi menyebalkan. Selain itu, ada juga titik ergonomi kecil seperti tombol DPI shift yang sulit dijangkau, serta penurunan kondisi fisik setelah beberapa tahun penggunaan, seperti karet yang terkelupas, lampu yang redup, dan beberapa tombol tambahan yang rusak.
Kalau ditanya apakah aku masih merekomendasikan Logitech G402 Hyperion Fury, jawabanku iya. Untuk gamer maupun orang kantoran yang multitasking, mouse ini masih terasa punya value yang sangat bagus. Satu catatan utamanya hanya satu: kalau tanganmu kecil, sebaiknya pikirkan lagi.
Menariknya, walau aku tetap merekomendasikan mouse ini, saat review ini dibuat aku juga sedang menunggu Logitech G502 X dalam proses pengiriman. Itu bukan berarti G402 jelek. Justru sebaliknya, menurutku G402 sudah memberi pengalaman yang cukup panjang dan cukup memuaskan, sampai akhirnya sekarang aku merasa waktunya mencoba naik ke model lain.
Kalau sebuah mouse masih bisa membuatku bicara sepositif ini setelah dipakai bertahun-tahun, menurutku itu sudah menjadi nilai tersendiri.

