• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • Review
  • Xbox One
  • News
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • Nintendo Switch
  • iOS
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Palworld Versi 1.0: Seru Mengoleksi Pal, tetapi Terlalu Sunyi Saat Solo
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review Palworld
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Palworld Versi 1.0: Seru Mengoleksi Pal, tetapi Terlalu Sunyi Saat Solo
Review GameReview

Review Palworld Versi 1.0: Seru Mengoleksi Pal, tetapi Terlalu Sunyi Saat Solo

Menangkap Pal dan membangun base tetap seru, tetapi bagaimana pengalaman bermain solonya?

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/10/2026 5:50 PM
Anggara Prima Nanda
Share
21 Min Baca
SHARE
Review Palworld
7.8 Petualangan seru, dunia sunyi
Review Overview

Ada alasan mengapa aku kembali memainkan Palworld meskipun sebelumnya sudah pernah mencobanya. Pada 2025, aku menghabiskan sekitar 30 jam di versi Early Access melalui Xbox PC. Kali ini, aku membeli versi Steam seharga Rp172.000, memulai karakter dan dunia baru, lalu menghabiskan sekitar 60 jam sampai menuntaskan cerita utama versi yang aku mainkan sebagai 1.0. Aku juga sudah membuka sebagian besar teknologi yang diperlukan untuk menyelesaikan permainan, meski belum benar-benar semuanya.

Contents
Review Palworld 1.0 Versi NarasiGameplay: Banyak Hal Menarik, tetapi Pacing Terasa LambatMenjelajahi Palpagos dan Mengoleksi PalPertarungan: Senjata Modern Menyenangkan, AI Masih Terlalu SederhanaBase Building: Bagian yang Paling Membuatku BetahTeknologi, Grinding, dan Aktivitas Setelah TamatCerita dan NPC: Dunia Luas yang Kurang Terasa HidupVisual Bagus di Pengaturan Tinggi, tetapi Belum IstimewaAudio dan Musik: Kelemahan yang Paling Sulit KuabaikanPerforma Steam Memuaskan dalam PengalamankuMengapa Aku Memakai Cheats dan Mod Komunitas?Apa yang Berubah dari Early Access 2025?Harga Rp245.000: Layak untuk Siapa?Kesimpulan: Potensinya Besar, Suasananya Masih Kurang

Perjalanan kedua ini membuatku lebih memahami apa yang paling menarik dari Palworld: menjelajahi dunia, menangkap berbagai Pal, dan membangun base sesuai keinginan. Sayangnya, semakin lama bermain, semakin terasa pula beberapa kekurangan yang mengurangi kenikmatan, terutama untuk pemain solo. Sebelum membahasnya, ada konteks penting: aku memakai pengaturan dunia kustom dan cheats untuk mempercepat progres. Pengalaman ini bukan pengujian murni tingkat kesulitan atau durasi bermain pada pengaturan default. Aku akan menjelaskan bagian yang masih bisa kunilai secara langsung dan bagian yang dipengaruhi percepatan tersebut.

Review Palworld 1.0 Versi Narasi

Versi ulasan dalam bentuk narasi video dapat Anda temukan di bawah ini. Pembahasannya cukup mendalam, meskipun tidak sedetail artikel tertulis di halaman ini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel tersebut.

Gameplay: Banyak Hal Menarik, tetapi Pacing Terasa Lambat

Bagi aku, konsep Palworld mudah dipahami. Kita memulai dari kondisi sederhana, mengembangkan teknologi, mencari bahan, membangun tempat tinggal, lalu menjelajahi dunia untuk mendapatkan lebih banyak Pal. Kegiatan-kegiatan itu terhubung: Pal membantu pekerjaan di base, hasil pekerjaan mendukung crafting, dan perlengkapan yang lebih baik mempermudah petualangan. Gambaran paling sederhananya adalah membangun kehidupan sendiri sambil terus mengoleksi makhluk yang kita temui.

Masalahnya muncul pada tempo bermain. Di beberapa jam awal, aku justru merasa bosan karena banyak aktivitas bergantung pada grinding dan waktu tunggu. Mengumpulkan material, menunggu pekerjaan selesai, kemudian mengulang proses yang serupa bukan bagian yang paling kunikmati. Walaupun ada banyak hal yang bisa dilakukan, kebebasannya menurutku masih sebatas cukup, belum terasa tanpa batas.

Dalam Palworld, aku paling suka ketika bisa berpindah antara membangun base dan keluar menjelajah untuk mencari Pal baru. Keduanya memberi tujuan yang mudah dipahami. Sebaliknya, ketika harus menunggu produksi atau terus memikirkan bahan bangunan, keseruannya menurun. Itu sebabnya aku memilih mempercepat sejumlah proses. Pilihan tersebut membuat Palworld lebih cocok dengan selera bermainku, tetapi juga berarti aku tidak bisa mengklaim sudah menguji berapa lama grinding normalnya dari awal hingga akhir di versi Steam.

Menjelajahi Palpagos dan Mengoleksi Pal

Kesan pertamaku terhadap dunia Palworld cukup positif. Pemandangan luas terlihat menarik, terutama ketika kualitas grafis diatur tinggi. Aku suka melewati kawasan hijau yang memiliki aliran sungai dan air terjun. Tempat seperti itu membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan daripada sekadar berpindah dari satu penanda peta ke penanda berikutnya.

Wilayah Palworld juga terasa bervariasi. Kondisi medan dan suhu berbeda-beda, begitu pula jenis Pal yang ditemui. Saat menjelajah, aku menemukan telur, dungeon, buah skill, catatan, dan item yang bisa digunakan untuk meningkatkan status. Hal-hal kecil itu cukup untuk membuatku penasaran pada tempat yang belum dikunjungi. Namun, setelah beberapa kali masuk dungeon, bentuk lingkungannya mulai terasa kurang menarik karena kesannya mirip. Semakin banyak peta terbuka, rasa penasaran memang berkurang, walaupun keinginan untuk berkeliling tidak langsung hilang.

Perjalanan pada awal permainan juga bisa terasa sangat lama jika belum mempunyai sarana mobilitas yang memadai. Fast travel sangat membantu; tanpa itu, tempo yang sudah lambat bisa terasa lebih berat bagi pemain solo. Aku juga menyayangkan tidak adanya pergantian cuaca seperti hujan atau badai dalam pengalaman bermainku, serta tidak tersedianya aktivitas menyelam ke bawah air. Dua hal tersebut menurutku berpotensi membuat eksplorasi lebih beragam.

Di antara semua aktivitas Palworld, menangkap Pal tetap menjadi salah satu alasan terkuat untuk bermain. Kesulitan penangkapan bervariasi, dari yang mudah sampai yang membuatku harus mencoba lagi. Ada momen menyebalkan ketika Pal keluar dari bola tangkapan, lalu malah terbunuh oleh serangan Pal milikku sendiri. Tetapi secara umum, aku tetap terdorong mengoleksi mereka, bahkan setelah cerita utama selesai.

Aku punya beberapa favorit: Blazamut karena damage dan serangan areanya, Xenolord karena bisa terbang dan memberikan serangan yang kuat, Herbil karena bisa menghidupkanku kembali, Chillet karena lucu dan cepat bergerak di air, serta Sekhmet karena penampilannya. Setiap Pal punya daya tarik tersendiri. Meski begitu, sistem breeding dan kebutuhan Pal untuk proses tersebut sempat terasa membingungkan bagiku.

Pertarungan: Senjata Modern Menyenangkan, AI Masih Terlalu Sederhana

Salah satu hal yang membedakan pengalaman bermain Palworld bagiku adalah penggunaan senjata modern dalam pertarungan bersama makhluk yang kita kumpulkan. Menggunakan senjata sendiri sambil dibantu Pal terasa menyenangkan. Kontrol dasar, gerakan, dan mekanisme menghindarnya juga cukup mulus, meskipun animasinya sederhana.

Sayangnya, perilaku Pal dalam pertarungan Palworld belum terasa cerdas. Mereka cenderung maju dan menyerang tanpa banyak mempertimbangkan cara menghindari serangan lawan. Akibatnya, pertarungan sering lebih ditentukan oleh level, perlengkapan, jenis Pal, dan besarnya damage daripada strategi yang kompleks. Musuh biasa juga semakin mudah dikalahkan seiring berkembangnya karakter. Boss memang memberi variasi tantangan yang lebih menarik, tetapi tidak semuanya meninggalkan kesan istimewa.

Pertarungan yang paling membekas bagiku justru menghadapi Panthalus. Aku mencoba beberapa kali dan kesulitan bukan semata-mata karena serangannya kuat. Daratan yang bisa kugunakan sangat terbatas, sementara musuh berada di area perairan dan dapat terbang. Kondisi itu memaksaku mengandalkan serangan jarak jauh dan Pal yang bisa terbang. Damage yang berhasil diberikan terasa kecil, HP lawan sangat tebal, dan batas waktunya hanya 20 menit. Bahkan dengan perlengkapan tingkat akhir serta bantuan cheats tertentu, aku berkali-kali kehabisan waktu.

Bukan berarti aku menyatakan Panthalus mustahil dikalahkan semua pemain solo. Yang bisa kukatakan, berdasarkan percobaanku, desain posisi pertarungan ini terasa jauh lebih menyulitkan daripada tantangan yang muncul dari pola serangan musuh itu sendiri. Boss terakhir, Zenara & Astralym, juga berkesan bagiku, tetapi persoalan arena Panthalus justru terasa lebih berat.

Base Building: Bagian yang Paling Membuatku Betah

Kalau harus memilih aktivitas yang paling sering kulakukan di Palworld, jawabannya adalah membangun dan mendesain base. Aku menikmati proses menentukan susunan bangunan, menempatkan fasilitas produksi, dan mengatur Pal supaya pekerjaan berlangsung otomatis. Untuk sistem base building, aku memberikan nilai pribadi 8/10. Ini nilai khusus untuk mekanisme pembangunan, bukan skor keseluruhan game.

Keunggulan terbesarnya adalah kemudahan penggunaan. Sistem konstruksi relatif mudah kupahami. Otomatisasi pekerjaan juga benar-benar terasa berguna: Pal dapat menjalankan tugas, sementara aku mengurus hal lain. Sistem kondisi pekerja, seperti kelelahan, sakit, atau malas, membuat pengelolaan base memiliki lapisan tambahan. Aku juga suka bahwa ada konsep serangan terhadap base, meski dalam permainanku kejadian itu hanya terasa pada awal permainan dan kemudian tidak muncul lagi.

Namun, kebebasan membangun dalam Palworld masih terbatas. Luas area base standar terasa sempit, terutama saat fasilitas produksi modern mulai membutuhkan bangunan yang panjang. Variasi bentuk bangunan juga belum banyak dan desainnya kurang memuaskan. Batas ketinggian fondasi membuat beberapa ide sulit diwujudkan, misalnya membangun struktur di sisi jurang sesuai bayanganku.

Masalah lain datang dari AI pekerja. Terkadang Pal berdiri di posisi yang tidak sesuai dengan tempat bertugas, tersangkut, atau berhenti bekerja. Jika tugas dibiarkan berjalan otomatis, hasilnya tidak selalu sesuai harapan sehingga aku harus mengatur prioritas melalui manajemen Pal. Jadi, sistem otomatisasinya memang membantu, tetapi bukan berarti pengelolaannya selalu lancar. Setelah tamat, mod komunitas yang memperluas jangkauan base membuat ruang berkreasi lebih nyaman; itu bukan ukuran luas base standar yang diberikan game.

Teknologi, Grinding, dan Aktivitas Setelah Tamat

Sistem teknologi Palworld menurutku cukup bagus dan mudah dikenali bagi pemain yang terbiasa dengan game crafting. Teknologi baru terasa berguna karena membuka fasilitas, perlengkapan, dan cara kerja yang semakin efisien. Pada tingkat lanjut, aku bahkan bisa menyediakan sumber daya melalui fasilitas base, sehingga lokasi pembangunan tidak harus selalu bergantung pada tempat yang kaya material.

Tetapi aku tetap merasa progres normalnya cenderung lambat. Ada teknologi yang memerlukan bukan hanya level, tetapi juga persyaratan tertentu seperti memperoleh Pal atau mengalahkan boss. Kebutuhan material sendiri menurutku masih wajar; waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mengumpulkannya jauh lebih mengganggu. Karena sudah punya pengalaman Early Access, pada sesi ini aku tidak merasa perlu mengulang seluruh proses grinding tanpa bantuan.

Aku menuntaskan alur utama Palworld hingga mengalahkan boss terakhir berlevel 80, tetapi tidak menyelesaikan semua side quest dan belum membuka 100% teknologi. Setelah misi Panthalus, aku melanjutkan tantangan tingkat tinggi menuju wilayah Pohon Dunia dan pertarungan penutup. Seusai itu, Palworld masih memberikan alasan untuk kembali: mencari Pal yang belum ditemukan, mengumpulkan Pal langka, dan menyempurnakan desain base. Hanya saja, bila tujuan seseorang semata-mata melihat akhir cerita, daya tarik setelah tamat tentu bisa berbeda.

Cerita dan NPC: Dunia Luas yang Kurang Terasa Hidup

Dari awal, aku tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi pada cerita Palworld. Pembukanya terasa familier: karakter terdampar, harus bertahan hidup, lalu mengikuti misteri pulau. Alasan sebenarnya kita berada di sana tidak terasa langsung jelas. Catatan yang dikumpulkan selama petualangan membantu memberi konteks, tetapi penyampaian cerita secara keseluruhan bagiku masih biasa saja.

Aku juga tidak terlalu terikat dengan tokoh-tokohnya. Kita bisa bebas pergi ke banyak lokasi tanpa harus terus mengikuti misi, walaupun kemajuan tertentu dibutuhkan untuk mencapai bagian akhir. Saat cerita selesai, aku tidak merasa benar-benar kecewa, tetapi juga tidak mendapatkan penutup yang membuatku sangat terkesan. Beberapa petunjuk menimbulkan pertanyaan baru, sementara pengembangan karakter belum cukup kuat untuk membuat misterinya terasa mendalam.

Masalah Palworld yang menurutku lebih besar adalah kehidupan dunia itu sendiri. Untuk wilayah seluas ini, jumlah NPC yang kutemui terasa terlalu sedikit. Banyak yang hanya diam di tempat, bukannya melakukan aktivitas seperti menangkap Pal atau menjelajah. Aku ingin melihat dunia yang bergerak dengan atau tanpa keterlibatan karakter pemain. Kurangnya aktivitas NPC membuat suasana makin kosong, terlebih ketika tidak ada musik yang mengiringi perjalanan.

Aku juga menemukan dialog NPC boss di dunia yang tidak berubah setelah perkembangan cerita besar, termasuk seusai mengalahkan boss akhir. Bagiku, respons yang mengikuti kejadian penting akan membuat perjalanan terasa memiliki konsekuensi. Ketika dialog terus sama, dunia seolah tidak mengakui hal-hal yang baru saja berhasil dilakukan pemain.

Visual Bagus di Pengaturan Tinggi, tetapi Belum Istimewa

Secara grafis, Palworld cukup enak dipandang ketika aku menggunakan pengaturan tinggi atau Ultra. Lingkungan hijau, perbedaan wilayah, dan detail pencahayaan memberi pemandangan yang menyenangkan. Meski begitu, nuansa kartun 3D-nya tetap sangat terasa dan polesan visualnya menurutku belum sampai luar biasa.

Perbedaannya cukup mencolok saat kualitas grafis diturunkan. Dalam pengalamanku, pengaturan rendah membuat lingkungan terlihat polos, hampir seperti aset ditempatkan tanpa banyak dukungan efek pencahayaan dan atmosfer. Desain Pal sendiri mempunyai keunikan, sedangkan animasi karakter manusia masih terasa dasar. Efek serangan juga tidak terlalu meninggalkan kesan.

Dari sisi antarmuka Palworld, menu dan HUD mudah dibaca. Peta umumnya nyaman untuk navigasi permukaan, tetapi kurang membantu ketika memasuki gua atau lokasi bawah tanah. Posisi karakter masih terlihat, namun bentuk ruang bertingkat dan akses masuk tidak tergambarkan dengan detail yang kuharapkan.

Audio dan Musik: Kelemahan yang Paling Sulit Kuabaikan

Inilah kekurangan Palworld yang paling menggangguku. Saat menjelajah, membangun base, atau melakukan kegiatan biasa, musik latar terasa sangat minim. Aku tidak mengatakan game ini sama sekali tidak mempunyai musik atau suara. Ada variasi suara lingkungan di hutan, pantai, gurun, maupun daerah bersalju. Bahkan musik pada pertarungan boss terakhir menurutku cukup bagus. Masalahnya, sebagian besar waktu bermain justru terasa terlalu sunyi.

Efek suara senjata dan berbagai aktivitas juga terdengar biasa, belum memberi kepuasan yang kuat. Padahal, dunia permainan sudah mempunyai pemandangan menarik dan cukup banyak kegiatan. Menurutku, musik latar yang cocok dengan lokasi dan aktivitas, seperti yang sering kurasakan dalam game MMORPG atau open-world fantasy, dapat membantu membangun suasana. Tanpa itu, pekerjaan yang berulang semakin terasa monoton.

Bagi pemain solo sepertiku, persoalan ini menjadi lebih penting. Ketika tidak ada teman bermain dan aktivitas mulai berulang, suara serta musik seharusnya membantu menjaga atmosfer. Di Palworld, justru bagian itulah yang paling sering membuatku merasa hampa.

Performa Steam Memuaskan dalam Pengalamanku

Untuk urusan performa, pengalamanku dengan Palworld di Steam tergolong sangat baik. Permainan berjalan lancar dan stabil. Aku tidak mengalami crash atau freeze selama bermain, termasuk saat menggunakan cheats dan kemudian mencoba mod komunitas. Loading juga terasa cepat pada komputerku yang memakai SSD NVMe.

Gangguan kecil dalam Palworld kadang terasa ketika aku bangun tidur atau memuat kembali posisi di base. Banyak Pal muncul pada titik yang sama, dan proses itu sesekali menimbulkan patah-patah singkat. Namun, dampaknya kecil dan tidak sampai merusak sesi bermain. Keluhan teknis yang lebih konsisten justru terkait perilaku Pal pekerja, bukan kestabilan aplikasi secara umum.

Tentu ini laporan dari perangkat dan sesi bermainku sendiri, bukan jaminan bahwa semua komputer akan mendapat performa yang sama. Berdasarkan pengalaman tersebut, stabilitas bukan alasan bagiku untuk mengurangi apresiasi terhadap versi Steam.

Mengapa Aku Memakai Cheats dan Mod Komunitas?

Aku perlu terbuka mengenai cara memainkan Palworld untuk review ini. Setelah pernah mencoba pengalaman yang lebih normal pada masa Early Access, kali ini aku sengaja mempercepat proses agar bisa mencapai bagian akhir dan menilai lebih banyak konten. Aku memakai pengaturan XP dua kali lebih cepat, mempercepat gerakan, menambah poin teknologi sesuai kebutuhan, mempersingkat pekerjaan, serta memakai bantuan pembangunan instan dan penghilangan kebutuhan material. Untuk situasi pertarungan tertentu, aku juga memakai bantuan bertahan hidup, khususnya ketika menghadapi Panthalus.

Kecepatan lari biasa yang kupakai mencapai dua kali, sementara sprint lima kali. Memang ini mengubah tempo permainan secara signifikan. Karena itu, aku tidak akan menganggap durasi 60 jam sebagai ukuran waktu tamat untuk pemain yang bermain normal. Aku juga tidak mengklaim sudah menguji keseimbangan grinding, kebutuhan material, dan kesulitan pertarungan default secara menyeluruh. Kritikku terhadap grinding mencerminkan preferensi pribadi dan pengalaman sebelum maupun selama sesi ini.

Ada perbedaan penting antara cheats tersebut dan mod komunitas Steam yang kugunakan setelah tamat. Di antaranya Creative Menu, Extended Base Range, PalSchema, mod pembuka peta, mod pengelolaan collectables, dan percepatan ekspedisi. Mod komunitas memperluas kreativitas dan mengurangi kegiatan repetitif setelah endgame. Fitur tambahannya tidak boleh disamakan dengan fitur bawaan game. Aku juga sama sekali belum memainkan multiplayer, sehingga tidak memberikan penilaian langsung mengenai kualitas kerja sama, server, atau pengalaman bermain bersama teman.

Apa yang Berubah dari Early Access 2025?

Setelah sekitar 30 jam di Xbox PC pada 2025 dan 60 jam di Steam sekarang, kesanku adalah fondasi Palworld masih terasa sama. Kegiatan utamanya tetap menangkap Pal, mengembangkan teknologi, membangun base, dan menjelajah. Yang lebih terlihat bagiku adalah penambahan konten seperti Pal, wilayah, dan teknologi, bukan perubahan besar pada mekanisme inti.

Pertarungan, AI Pal, visual, dan performa juga tidak menunjukkan perbedaan drastis dalam pengalamanku. Namun, perbandingan ini punya batasan: pada Early Access aku berhenti sekitar pertengahan progres, sedangkan pada sesi Steam aku menuntaskan cerita dengan bantuan percepatan. Jadi, aku tidak akan menyebut semua aspek endgame sebagai peningkatan atau penurunan jika memang belum pernah mengalaminya pada versi lama. Bagiku, kembali bermain tetap berguna karena kali ini aku bisa melihat perjalanan cerita sampai akhir.

Harga Rp245.000: Layak untuk Siapa?

Aku membeli Palworld di Steam dengan harga Rp172.000, dan untuk uang yang kukeluarkan, hasilnya terasa sepadan. Eksplorasi, mengoleksi Pal, dan membangun base memberikan banyak kegiatan yang kusukai. Namun, harga normal yang kulihat kemudian sudah menjadi Rp245.000. Pada angka itu, rekomendasiku untuk pemain yang benar-benar solo menjadi lebih berhati-hati.

Menurutku, pemain solo sebaiknya mempertimbangkan diskon. Ini bukan berarti permainannya jelek atau tidak layak dimainkan, tetapi kekurangan musik latar, aktivitas yang berulang, dan tempo lambat bisa lebih terasa ketika semuanya dilakukan sendiri. Jika kamu memang sangat suka membangun, mengoleksi monster, atau memakai mod untuk berkreasi, nilainya mungkin berbeda. Untuk orang yang ingin bermain bersama teman, harga normal juga bisa terasa lebih masuk akal, tetapi itu kemungkinan, bukan pengalaman multiplayer yang sudah kuuji.

Aku memperkirakan harga Palworld mungkin masih berubah pada masa mendatang, tetapi itu bukan kepastian dan bukan alasan utama membeli sekarang. Rekomendasiku lebih sederhana: pertimbangkan apakah kegiatan inti Palworld sesuai seleramu, lalu pilih harga yang menurutmu pantas untuk waktu dan keseruan yang akan didapat.

Kesimpulan: Potensinya Besar, Suasananya Masih Kurang

Setelah sekitar 60 jam menjalani sesi Steam, aku tetap menganggap Palworld sebagai game yang bagus dan punya potensi besar. Mengumpulkan Pal masih menyenangkan, dunianya menarik untuk dijelajahi, dan base building cukup kuat untuk membuatku ingin terus berkreasi setelah tamat. Performa yang stabil juga membuat pengalaman bermain terasa nyaman.

Namun, aku tidak bisa mengabaikan grinding, AI yang sering bertindak sederhana, batasan konstruksi, NPC yang kurang aktif, dan terutama audio serta musik latar yang terasa kosong. Kombinasi itu membuat pengalaman solo berisiko jauh lebih membosankan daripada seharusnya. Cheats membantu memangkas waktu tunggu dalam sesiku, tetapi tidak menyelesaikan masalah atmosfer yang kurasakan.

Jadi, apakah Palworld layak dimainkan? Menurutku ya, terutama jika kamu menyukai eksplorasi, koleksi Pal, dan kreativitas pembangunan. Hanya saja, untuk pembelian solo pada harga normal Rp245.000, aku pribadi lebih menyarankan menunggu diskon. Di balik semua kekurangannya, ada permainan yang benar-benar bisa membuatku betah; aku hanya berharap dunianya suatu saat terasa lebih hidup, bukan sekadar lebih luas.

Review Palworld
Review Overview
Petualangan seru, dunia sunyi 7.8
Gameplay 8 dari 10
Audio 6 dari 10
Musik 4 dari 10
Visual 9 dari 10
Performa 10 dari 10
Komunitas Mod 10 dari 10
Bagus Eksplorasi dunia Palpagos menarik dan wilayahnya beragam. Mengoleksi Pal terasa menyenangkan, dengan desain dan kegunaan yang unik. Base building mudah digunakan, kreatif, dan didukung otomatisasi pekerjaan. Pertarungan bersama Pal dengan senjata modern terasa menyenangkan. Masih ada alasan bermain setelah tamat, terutama mencari Pal dan membangun base.
Tidak Bagus Musik latar terlalu minim sehingga aktivitas solo terasa sunyi. Grinding dan tempo permainan terasa terlalu lambat. NPC sedikit, kurang beraktivitas, dan dialog repetitif. AI Pal kurang strategis saat bertarung dan kadang bermasalah saat bekerja. Area base dan batasan konstruksi membatasi kreativitas. Beberapa desain pertarungan boss terasa tidak menguntungkan pemain solo.
Ringkasan
Setelah 60 jam memainkan Palworld di Steam, aku menikmati eksplorasi, mengoleksi Pal, dan membangun base, meski grinding serta tempo permainan terasa lambat. Visual pada pengaturan tinggi cukup memanjakan mata, tetapi cerita dan NPC belum membuat dunianya terasa hidup. Musik latar yang minim menjadi kekurangan paling mengganggu, terutama saat bermain solo. Untungnya, performa dalam pengalamanku stabil. Dengan harga pembelian Rp172.000, game ini terasa sepadan, tetapi pada harga normal Rp245.000 yang kulihat, aku lebih menyarankan pemain solo menunggu diskon.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Stray: Petualangan Kucing yang Indah, Seru, tetapi Ending-nya Kurang Memuaskan
Review FINAL FANTASY XV Windows Edition: Visual Epik, Tapi Cerita Terasa Tidak Lengkap
Review Assassin’s Creed Unity: Paris Indah, Parkour Bermasalah
Review LEGO Star Wars: The Skywalker Saga – Nostalgia 9 Film dalam Gaya LEGO
Review Battlefield 2 di 2025 – Masih Layak Dimainkan?
TOPIK:Bahasa IndonesiamacOSPalworldPCPlaystation 5Xbox OneXbox Series
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review SIFU PC
Review Game

Review Sifu (PC) – Pertarungan Kung Fu Seru, Tapi Mode Easy Saja Bikin Frustrasi

31/10/2026
DOOM 2016
Review Game

Review DOOM (2016): FPS Brutal yang Lebih Seru Saat Tantangannya Ditingkatkan

31/10/2026
Review Palworld
Review Game

Review Palworld Versi 1.0: Seru Mengoleksi Pal, tetapi Terlalu Sunyi Saat Solo

30/10/2026
Review Ace Combat 8
Review Game

Review Ace Combat 8: Dogfight Luar Biasa, tetapi Multiplayer Masih Setengah Matang

18/10/2026
Review Black Squad
Review Game

Review Black Squad 2026: FPS Gratis Ringan yang Masih Seru, tapi Mulai Kehilangan Identitasnya

17/10/2026
Review Planet of Lana
Review Game

Review Planet of Lana: Petualangan Sederhana yang Jauh Melebihi Ekspektasi

16/10/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?