Ketika pertama kali melihat Planet of Lana, ekspektasiku sebenarnya tidak tinggi. Dari tampilannya, aku membayangkan game ini hanya akan menjadi permainan 2D dengan gerakan kiri dan kanan, kemudian sesekali berhenti untuk memecahkan puzzle. Kesan awal itu juga mengingatkanku pada game seperti Inside dan Limbo. Karena itu, aku masuk ke Planet of Lana tanpa berharap akan menemukan banyak kejutan.
Setelah menamatkan cerita utamanya di PC menggunakan gamepad, pandanganku berubah cukup jauh. Planet of Lana memang tetap sederhana dalam banyak hal, tetapi kesederhanaan itu justru menjadi fondasi untuk sebuah petualangan yang terus membuatku penasaran. Ada puzzle yang bervariasi, mekanisme baru yang mengubah cara menyelesaikan tantangan, hubungan menarik antara karakter utama dan si kucing hitam, musik yang sangat menyatu dengan suasana, sampai beberapa adegan aksi yang sama sekali tidak aku perkirakan sebelumnya.
Pengalamanku tidak sepenuhnya mulus. Ada satu jenis puzzle yang menjadi kekurangan besar bagiku, yaitu puzzle melodi. Kontrol karakter juga terasa agak kaku dan tidak terlalu lincah. Namun di luar dua hal tersebut, Planet of Lana berhasil memberikan pengalaman yang jauh lebih menarik daripada yang aku bayangkan pada awal permainan.
Review Stray Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay Planet of Lana: Sederhana, tetapi Terus Berkembang
Secara dasar, pergerakan di Planet of Lana sangat sederhana. Karakter bergerak ke kiri dan kanan, lalu perjalanan diisi dengan memecahkan puzzle, menghindari bahaya, dan mengikuti perkembangan cerita. Dari konsep dasarnya saja, game ini memang tidak terlihat rumit. Namun setelah dimainkan lebih jauh, aku mulai merasakan bahwa kekuatannya bukan terletak pada banyaknya tombol atau kompleksitas kontrol, melainkan pada bagaimana perjalanan dan tantangan terus berkembang.
Pacing gameplay menurutku pas. Permainan tidak terasa terlalu lambat ataupun terlalu cepat. Yang paling penting, rasa penasaran terhadap area dan tantangan berikutnya terus terjaga sampai akhir. Aku tidak merasa gameplay kehilangan daya tariknya karena pengulangan. Variasi puzzle dan situasinya cukup baik, sementara perpaduan antara aksi, petualangan, dan puzzle juga terasa seimbang.
Bagian yang paling aku nikmati sebenarnya bukan satu mekanisme tertentu, melainkan petualangannya secara keseluruhan. Aku selalu ingin melihat apa yang akan muncul berikutnya, tantangan seperti apa yang harus diselesaikan, dan kejadian apa yang menunggu di depan. Rasa penasaran itu menjadi salah satu alasan terbesar Planet of Lana tetap menarik sampai selesai.
Game ini juga memiliki perkembangan mekanisme yang menurutku cukup penting. Perkembangan tersebut bukan terasa seperti karakter menjadi lebih kuat, tetapi lebih kepada bertambahnya cara bermain. Ketika mendapatkan kemampuan atau mekanisme baru, cara menyelesaikan puzzle dan menghadapi tantangan ikut berubah. Hasilnya, tantangan terasa semakin beragam tanpa harus mengubah dasar permainan yang sederhana.
Beberapa momen bahkan benar-benar keluar dari ekspektasiku. Adegan berlari bersama robot di gurun menjadi salah satu bagian yang paling membekas. Ada juga momen menghadapi monster besar dan bagian akhir permainan yang menurutku sangat keren. Aku tidak menyangka mekanisme atau adegan seperti itu akan muncul dalam game yang sejak awal terlihat sangat sederhana.
Kontrol yang Terasa Sedikit Kaku
Aku memainkan Planet of Lana menggunakan gamepad karena itu yang direkomendasikan game. Namun menurutku, rasa kaku pada kontrol bukan masalah dari gamepad ataupun pilihan perangkat kendali. Model pergerakan karakternya sendiri memang terasa kurang lincah.
Bagian yang paling sering terasa adalah ketika melompat sambil berjalan. Gerakannya tidak selalu terasa seluwes yang aku inginkan. Kekakuan ini cukup sering terasa selama permainan, tetapi tidak sampai membuatku frustrasi. Jadi, bagiku ini lebih merupakan kekurangan pada rasa kontrol daripada masalah yang sampai merusak pengalaman bermain.
Puzzle yang Bervariasi, dengan Satu Kekurangan Besar
Sebagian besar puzzle dalam Planet of Lana terasa cukup bervariasi. Tingkat kesulitannya menurutku berada di antara sedang sampai sulit. Mekanisme baru yang muncul juga membuat cara penyelesaiannya semakin beragam. Namun ada satu bagian yang sangat menonjol sebagai kelemahan terbesar game ini menurut pengalamanku: puzzle melodi.
Konsep dasarnya sebenarnya cerdas. Sepanjang permainan, pemain sudah diperdengarkan pola melodi tertentu. Ketika sampai pada puzzle melodi, pola tersebut menjadi bagian dari solusi. Aku bahkan sudah menyadari hubungan itu sejak puzzle melodi pertama.
Masalahnya ada pada implementasi. Aku kesulitan membedakan dan mengingat melodinya. Tombol-tombol yang harus digunakan terasa cukup berjauhan, lalu ada terlalu banyak animasi ketika mencoba menyelesaikannya. Ketika semua itu digabungkan dalam kondisi pemain sudah kesulitan, muncul perasaan harus buru-buru. Dari situlah rasa kesal dan frustrasi mulai menumpuk.
Menurutku, puzzle seperti ini juga sangat bergantung pada kemampuan pendengaran pemain. Tidak semua orang memiliki kepekaan yang sama terhadap nada dan tempo. Aku bahkan merasa pemain yang seorang musisi mungkin akan jauh lebih mudah memahami bagian ini.
Hal lain yang membuatnya sulit adalah perbedaan bunyi. Temponya bisa sama, tetapi suara yang digunakan berbeda. Analogi paling mudah bagiku seperti ini: sepanjang gameplay pemain seolah terus mendengar sebuah pola menggunakan suara piano, lalu ketika tantangannya muncul, pola yang sama dimainkan seperti menggunakan akordeon. Arah puzzlenya mungkin sudah bisa dipahami, tetapi mencocokkan kembali tempo dengan bunyi yang berbeda tetap tidak mudah.
Puzzle melodi pertama berhasil aku selesaikan lebih karena keberuntungan. Bahkan setelah berhasil, aku sendiri belum benar-benar paham metode penyelesaiannya. Aku dan para viewer hanya berfirasat berdasarkan suara. Pada puzzle berikutnya, setelah sekitar 30 menit belum juga selesai, aku akhirnya terpaksa mencari panduan melalui internet dan AI.
Karena itu, penilaianku terhadap bagian ini cukup jelas. Ide puzzle melodinya pintar, tetapi penyampaiannya terlalu rumit. Petunjuknya terasa seperti mencoba menyusun kode huruf dari bahasa asing. Bukan berarti Planet of Lana sama sekali tidak memberi petunjuk, tetapi cara membaca petunjuk itu menurutku terlalu sulit untuk sebagian pemain.
Meski begitu, puzzle melodi tetap hanya menjadi satu kekurangan besar di tengah pengalaman yang secara keseluruhan masih sangat aku nikmati.
Visual dan Desain Dunia yang Sederhana tetapi Punya Cita Rasa
Secara visual, Planet of Lana terlihat sederhana. Namun justru di situlah daya tariknya bagiku. Kesederhanaannya memiliki keunikan dan cita rasa sendiri. Aku tidak merasa game ini perlu menjadi jauh lebih detail untuk terlihat menarik.
Desain manusia mungkin bisa terlihat kurang detail bagi sebagian orang, tetapi menurutku itu justru bagian dari pilihan visual game. Aku tidak melihatnya sebagai kekurangan. Sebaliknya, kesederhanaan tersebut membuat tampilannya terasa khas.
Area yang dilewati juga menarik. Aku menikmati perjalanan dari satu bagian ke bagian berikutnya karena desain dunianya tetap memberi rasa penasaran. Secara visual, aku tidak menemukan kekurangan yang benar-benar mengganggu. Animasi menurutku bagus, sementara UI, menu, ikon, dan informasi di layar mudah dipahami.
Desain karakter dan elemen lain juga cukup unik, terutama si kucing hitam yang menjadi partner sepanjang perjalanan. Keberadaannya bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memberi identitas kuat pada petualangan yang dijalani.
Cerita Planet of Lana: Sederhana di Permukaan, Lebih Dalam Jika Dicari
Cerita Planet of Lana pada tingkat paling dasar sebenarnya mudah dipahami. Awalnya ada sepasang adik-kakak tanpa orang tua yang sedang bersenang-senang. Mereka kemudian mengunjungi kuburan orang tua mereka. Tidak lama setelah itu, alien datang dan menculik sang kakak. Dari sinilah perjalanan sang adik untuk mencari kakaknya dimulai.
Selama perjalanan tersebut, sang adik menemukan partner berupa kucing hitam. Bagi aku, kehadiran si kucing membuat gameplay dan perjalanan terasa jauh lebih menyenangkan. Ada interaksi kecil yang sederhana tetapi berkesan. Ketika karakter memberikan perintah dengan ucapan seperti “mui”, si kucing membalas dengan suara “meow”. Detail kecil seperti ini justru membuat hubungan keduanya terasa lebih hidup.
Cerita dasarnya memang sederhana, tetapi setelah bermain lebih jauh aku merasa kisahnya sebenarnya lebih dalam. Sepanjang perjalanan ada gambar tersembunyi, artefak, dan lukisan yang bisa memberi gambaran tambahan. Masalahnya, lapisan cerita tersebut tidak selalu mudah dipahami.
Setelah tamat, aku sendiri hanya berhasil menangkap secara kasar tentang ke mana manusia yang diculik akan dibawa. Namun ketidakjelasan itu tidak mengurangi kepuasanku. Menurutku Planet of Lana memang didesain seperti itu. Jika pemain hanya mengikuti cerita utama tentang sang adik yang mencari kakaknya, kisahnya tetap menarik tanpa harus memahami seluruh lapisan tersembunyi.
Pacing ceritanya juga terasa pas. Hanya saja, alurnya bisa terasa tersendat ketika aku terjebak pada puzzle melodi. Di luar itu, cerita menjadi salah satu alasan besar yang membuatku terus bermain sampai tamat.
Hubungan Karakter Utama dan Si Kucing
Dari semua hubungan karakter yang aku rasakan, perkembangan paling kuat justru ada pada karakter utama dan si kucing. Mereka melewati banyak situasi bersama, mulai dari dikejar, menghadapi bahaya, sampai saling menolong.
Karena perjalanan hidup dan mati itu terus mereka lalui bersama, hubungan keduanya terasa berkembang secara alami. Aku tidak membutuhkan dialog panjang untuk merasakan kedekatan mereka. Kebersamaan sepanjang petualangan sudah cukup memberi kesan bahwa keduanya semakin terikat.
Karakter lain tidak terlalu banyak meninggalkan kesan karena hampir tidak ada interaksi. Ada pengecualian seperti seorang kakek di gurun yang memberikan interaksi menarik, serta sang kakak sendiri. Namun secara keseluruhan, hubungan yang paling menonjol bagiku tetap antara sang adik dan si kucing.
Ending-nya sendiri terasa sangat memuaskan. Bahkan tanpa harus memahami seluruh lapisan cerita secara mendalam, penutup sederhana yang diberikan sudah cukup bagiku.
Audio dan Musik: Salah Satu Kekuatan Terbesar
Kalau ada satu aspek Planet of Lana yang konsisten mengangkat pengalaman bermainku, itu adalah audio dan musiknya. Musik latarnya menurutku sangat bagus, begitu juga dengan efek suara.
Hal yang paling aku sukai bukan hanya kualitas musiknya, tetapi kemampuannya mengikuti suasana adegan dengan baik. Musik terasa menyatu dengan apa yang sedang terjadi. Ketika suasana berubah, musik ikut membantu memperkuat perasaan dari adegan tersebut.
Hampir seluruh musik yang terdengar sepanjang gameplay terasa berkesan bagiku. Ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan dan terus menumbuhkan rasa penasaran terhadap apa yang akan terjadi berikutnya.
Untuk suara karakter, aku tidak merasakan adanya voice acting berupa percakapan penuh. Karakter lebih banyak mengeluarkan ucapan seperti “ima mui”, “lana”, “pamaki”, dan beberapa ucapan lain. Namun jika yang dinilai adalah kualitas suaranya saja, menurutku tetap enak didengar.
Interaksi suara antara karakter utama dan si kucing juga menjadi detail kecil yang sangat aku nikmati. Suara “mui” dan balasan “meow” mungkin terdengar sederhana, tetapi justru memberi warna tersendiri pada perjalanan.
Performa dan Stabilitas di PC
Dari sisi performa, pengalamanku dengan Planet of Lana berjalan dengan baik. Selama bermain di PC, game terasa stabil. Aku tidak mengalami bug, crash, freeze, atau gangguan teknis berarti.
Loading juga tidak menjadi masalah. Jadi, selama permainan, gangguan yang paling terasa bagiku memang bukan berasal dari performa teknis, melainkan dari kekakuan gerakan karakter dan desain puzzle melodi.
Karena tidak ada masalah teknis besar, aku bisa fokus menikmati petualangan tanpa harus berurusan dengan gangguan yang merusak ritme permainan.
Harga dan Value Planet of Lana
Aku membeli Planet of Lana di Steam saat diskon dengan harga Rp37.349, dari harga normal yang aku lihat sebesar Rp165.099. Pada harga diskon tersebut, menurutku game ini sangat sepadan.
Justru di kisaran harga itulah aku merasa Planet of Lana memberikan value terbaik. Bahkan jika harganya mendekati Rp50.000 atau masih berada di bawah Rp100.000, menurutku masih termasuk harga yang cukup bagus.
Namun untuk harga normal Rp165.099, aku tidak menyarankannya. Alasannya terutama berkaitan dengan nilai waktu bermain. Waktu bermainku berada di bawah 10 jam. Dengan harga seperti itu, menurutku ada banyak game lain yang bisa terasa lebih menarik sekaligus memberikan waktu bermain lebih panjang.
Ini bukan berarti kualitas Planet of Lana buruk. Justru aku sangat menikmati gamenya. Hanya saja, ketika membandingkan harga normal dengan durasi pengalaman yang aku dapatkan, nilainya terasa kurang kuat.
Karena itu, rekomendasiku cukup jelas: jika tertarik, lebih baik menunggu diskon. Harga diskon yang aku dapatkan terasa seperti titik pembelian terbaik.
Rekomendasi: Cocok untuk Siapa?
Aku sangat merekomendasikan Planet of Lana, terutama untuk pemain yang menyukai puzzle, kontrol sederhana, visual yang tidak rumit tetapi memiliki identitas kuat, serta cerita yang tampak sederhana namun menyimpan lapisan tambahan.
Game ini juga cocok untuk pemain yang menikmati petualangan berbasis rasa penasaran. Salah satu kekuatan terbesarnya adalah kemampuan membuatku terus ingin mengetahui apa yang akan muncul berikutnya. Ditambah musik dan audio yang sangat pas dengan setiap adegan, perjalanan terasa lebih hidup daripada yang aku bayangkan.
Sebaliknya, Planet of Lana mungkin kurang cocok untuk pemain yang benar-benar membenci puzzle sulit, terutama puzzle dengan informasi pemecahan yang terasa terbatas atau terlalu samar. Jika kamu juga tidak suka melihat panduan internet ketika benar-benar buntu, puzzle melodi bisa menjadi hambatan besar.
Aku sendiri akhirnya harus mencari panduan setelah sekitar 30 menit tidak berhasil menyelesaikan salah satu puzzle melodi. Jadi, bagian ini memang perlu dipertimbangkan jika kamu termasuk pemain yang ingin menyelesaikan semuanya sendiri tanpa bantuan apa pun.
Kesimpulan
Planet of Lana berhasil mengubah ekspektasiku secara drastis. Awalnya aku mengira game ini hanya akan menjadi petualangan 2D sederhana dengan gerakan kiri-kanan dan puzzle. Setelah tamat, ternyata ada jauh lebih banyak hal menarik daripada yang aku bayangkan.
Petualangannya terus memancing rasa penasaran, mekanismenya berkembang, beberapa adegan aksi terasa mengejutkan, visual sederhananya memiliki identitas yang kuat, dan musiknya mampu mengikuti suasana dengan sangat baik. Hubungan antara karakter utama dan si kucing juga menjadi salah satu bagian yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.
Kekurangan terbesarnya tetap puzzle melodi. Konsepnya cerdas, tetapi implementasinya terlalu sulit dan berpotensi membuat pemain frustrasi. Kontrol karakter juga terasa sedikit kaku dan kurang lincah, meskipun tidak sampai mengganggu secara serius.
Dengan harga diskon Rp37.349 yang aku bayar, Planet of Lana terasa sangat sepadan. Namun pada harga normal Rp165.099, aku pribadi lebih memilih menunggu diskon karena waktu bermainku berada di bawah 10 jam.
Bagi aku, Planet of Lana terasa seperti hidden gem. Game ini terlihat sederhana dari luar, tetapi ternyata memiliki lebih banyak kejutan, aksi, musik, dan petualangan daripada yang aku duga. Jika kamu tertarik dengan puzzle dan tidak keberatan sesekali menghadapi tantangan yang cukup sulit, game ini sangat layak dicoba—terutama saat harganya sedang turun.

