• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • Review
  • News
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Alone in the Dark: Horor Suasana Berkedok Detektif Conan
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Alone in the Dark 2024
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Alone in the Dark: Horor Suasana Berkedok Detektif Conan
ReviewReview Game

Review Alone in the Dark: Horor Suasana Berkedok Detektif Conan

Teka-tekinya bikin betah, ceritanya bikin bingung, dan horornya main di suasana

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 20/08/2026 11:22 PM
Anggara Prima Nanda
Share
23 Min Baca
SHARE
Alone in the Dark 2024
7.2 Seru di teka-teki, bingung di ceritanya
Review Overview

Aku masuk ke Alone in the Dark dengan ekspektasi yang cukup sederhana: game horor yang rasanya mirip Resident Evil. Ternyata harapan itu sedikit meleset. Rasanya memang seperti membawa karakter bergaya Leon di Resident Evil, tapi isi permainannya jauh lebih banyak menyuruh aku berpikir ketimbang mengagetkan aku. Waktu live streaming, aku sampai menyebutnya begini: Alone in the Dark ini game horor berkedok detektif Conan.

Contents
Review Alone in the Dark 2024 Versi NarasiGameplay Alone in the DarkVisual dan Desain Dunia Alone in the DarkCerita dan Karakter Alone in the DarkAudio dan MusikPerforma dan Stabilitas Alone in the DarkHarga dan ValueKesimpulan Review Alone in the Dark

Aku beli Alone in the Dark di Steam seharga Rp 99.000 saat diskon, dari harga normal Rp 300.000. Yang aku mainkan adalah base game-nya saja, tanpa DLC. Total waktu bermainku hampir 18 jam, tepatnya sekitar 17,9 jam untuk dua kali penyelesaian cerita. Playthrough pertama aku ambil perspektif Emily Hartwood di tingkat kesulitan Normal, dan playthrough kedua aku lanjut ke perspektif Edward Carnby lewat New Game Plus. Alasan aku main dua kali bukan sekadar iseng. Aku ingin tahu gambaran ceritanya secara utuh, ingin tahu cara game ini menyampaikan ceritanya, dan penasaran apakah teka-tekinya benar-benar berbeda atau cuma diulang.

Satu hal yang perlu aku sampaikan dari awal supaya jelas: di playthrough kedua aku memakai dua mod sederhana, yaitu better accuracy dan better recoil. Ini bukan mod yang mengubah keseimbangan permainan seperti darah kebal, one hit, atau peluru tak terbatas. Aku akan bahas dampaknya di bagian performa nanti.

Ini juga pengalaman pertamaku dengan seri Alone in the Dark, jadi aku menilai game ini murni sebagai game yang berdiri sendiri, bukan sebagai perbandingan dengan seri lamanya.

Review Alone in the Dark 2024 Versi Narasi

Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.

Gameplay Alone in the Dark

Kalau aku harus mengurutkan ke mana sebagian besar waktuku habis, urutannya kira-kira begini: mencari benda, memecahkan teka-teki, menjelajah, lalu paling terakhir baru tembak-menembak. Porsi itu penting untuk kamu tahu sejak awal, karena ini bukan game yang menaruh pertarungan sebagai menu utamanya.

Benda yang aku cari sepanjang permainan umumnya berupa berkas dan item untuk memecahkan kode. Awalnya kegiatan ini asyik. Tapi lama-lama bisa melelahkan juga, karena aku harus bolak-balik sambil terus mikir. Menariknya, rasa lelah itu langsung terbayar begitu teka-tekinya terpecahkan. Ada rasa senang dan bangga yang muncul di titik itu, dan siklus inilah yang bikin aku betah sampai tamat.

Soal teka-tekinya sendiri, ini bagian dengan variasi paling banyak di seluruh Alone in the Dark. Bentuknya macam-macam, mulai dari angka, gambar, bentuk, sampai simbol-simbol. Perlu aku catat bahwa aku memainkannya dengan bantuan petunjuk sederhana yang memang disediakan game. Misalnya, tulisan di dokumen yang berhubungan dengan sebuah teka-teki akan diberi warna berbeda, dan misi juga memberi petunjuk bahwa teka-teki itu ada di ruangan tertentu. Jadi bukan tipe petunjuk yang langsung memberitahu cara menyelesaikannya. Pemain tetap disuruh berpikir sendiri. Dan menurutku, meski dengan bantuan seperti itu, teka-tekinya tetap terasa cukup menantang dan membingungkan.

Rasa kontrol di Alone in the Dark sendiri enak saja. Aku main pakai keyboard dan mouse, dan tidak ada yang bikin resah, tidak ada masalah semacam klik ganda atau input yang meleset.

Mekanik yang paling menonjol buatku justru menghindar. Ini benar-benar keren menurutku, dan terbukti sangat berguna. Kalau kamu sudah hafal pergerakan musuh, mungkin kamu bisa melewati pertarungan tanpa kena pukul sama sekali. Pola main yang akhirnya aku pakai kurang lebih begini: tembak sekali, pukul dua kali dengan senjata tangan, lalu langsung tekan tombol menghindar. Karaktermu akan bergerak seperti dash cepat menjauh dari serangan. Begitu pola itu ketemu, pertarungan jadi jauh lebih terkendali.

Tapi justru di senjata tangan inilah ada satu hal yang menurutku cukup fatal. Senjata tangan tidak bisa diarahkan ke atas maupun ke bawah. Akibatnya, melawan monster yang posisinya ada di udara dan monster berukuran kecil jadi terasa jauh lebih sulit. Padahal senjata tangan punya peran penting untuk menghemat peluru, jadi keterbatasan ini benar-benar terasa di momen-momen seperti itu.

Elemen survival di Alone in the Dark sangat terasa. Aku selalu takut kehabisan peluru dan kehabisan darah, dan rasa itu tidak pernah benar-benar hilang sepanjang permainan. Untuk persenjataan, game ini membagi senjata ke dalam tiga slot. Pistol dan flare berada di slot yang sama, lalu ada shotgun dan sub machine gun. Di luar itu ada senjata tangan yang ditemukan secara acak sepanjang permainan. Untuk musuh, kalau tidak salah ada sekitar enam jenis musuh utama yang sering aku jumpai.

Dari situ jujur saja, variasinya terasa berulang dan tidak terlalu banyak. Untuk lokasi aku rasa jumlahnya cukup untuk tipe cerita yang dibawa game ini, jadi bagian itu tidak jadi masalah buatku.

Pacing gameplay Alone in the Dark sendiri sedang. Yang terasa agak tidak realistis adalah jarak antar pertempuran yang cukup jauh. Jadi setelah kamu menyelesaikan satu teka-teki, biasanya kamu harus menyelesaikan teka-teki lagi sebelum ketemu musuh berikutnya. Ini bukan hal yang aku benci. Justru menurutku susunan seperti ini punya sisi baik, karena setelah otakmu penuh memikirkan teka-teki, kamu dilempar ke pertarungan yang tidak butuh banyak berpikir. Rasanya seperti jeda yang pas supaya kepala tidak terlalu pusing.

Tantangan paling besar buatku bukan soal menembak, melainkan menghemat darah. Setelah aku coba dua-duanya, damage musuh di Normal dan di New Game Plus terasa sama-sama besar. Pembeda terbesarnya justru ada di penyembuhan. Di mode Normal, sekali minum akan mengisi setengah darah. Di New Game Plus, sekali minum hanya mengisi seperempatnya. Itu perubahan yang lumayan terasa.

Ini juga alasan aku merasa mod akurasi yang aku pakai di playthrough kedua tidak sampai merusak keseimbangan permainan. Inti pertarungan Alone in the Dark sebenarnya ada di menghindari serangan musuh yang damage-nya sakit banget, dan di penghematan peluru. Bukan di seberapa tepat kamu membidik. Di playthrough pertama sendiri tidak ada satu pun masalah gameplay yang mengganggu aku. Aku memakai mod itu murni karena ingin mempercepat permainan, mengingat aku sudah tamat sekali.

Untuk rasa progresi, aku merasakannya lebih di sisi cerita ketimbang di sisi kekuatan karakter. Semakin dekat ke akhir cerita, kamu akan semakin sadar bahwa rumah itu memang sangat aneh. Tapi kalau yang kamu cari adalah rasa jadi makin kuat sampai overpower, itu tidak aku dapatkan di sini.

Lalu bagaimana dengan perbedaan antara dua perspektif dari sisi gameplay? Sekitar 80 persen teka-tekinya sama. Perbedaan terbesar ada di Bab 4, karena di bab itu game menceritakan kisah masing-masing karakter. Sementara New Game Plus sendiri hanya membawa lanjutan senjata dan membuka teka-teki brankas. Cerita intinya tidak berbeda.

Satu hal yang agak mengecewakan di sisi pertarungan Alone in the Dark adalah bos-nya. Selain bos terakhir, ada satu bos lagi yang wujudnya terlihat seperti orang. Keduanya sama-sama mudah dikalahkan. Buatku bos di sini terasa lebih seperti gimmick, ibaratnya ada supaya permainan ini logis dan terkesan seperti game pada umumnya. Dari sisi keseruan dan taktik, jujur tidak terlalu berkesan.

Visual dan Desain Dunia Alone in the Dark

Gaya visual Alone in the Dark terasa suram, gelap, dan sunyi. Rasanya seperti berada di museum atau di rumah yang sudah lama ditinggalkan. Suasana itu konsisten dan jadi salah satu kekuatan terbesar game ini.

Untuk kualitas grafis Alone in the Dark sendiri, menurutku bagus saja. Tidak jelek, tapi juga tidak terlihat kuno. Aku tidak merasa perlu mengeluh, tapi aku juga tidak merasa ini game yang bikin ternganga karena kualitas gambarnya.

Yang lebih penting buatku adalah desain lingkungan Alone in the Dark, dan bagian ini menarik untuk dijelajahi. Salah satu kesan yang paling melekat selama aku main adalah rasa penasaran yang terus muncul. Visualnya bikin aku terus berpikir, apa ya yang ada di balik pintu ini. Untuk game bertema horor misteri, kemampuan menahan rasa penasaran seperti itu menurutku sudah termasuk keberhasilan.

Sebagai catatan tanpa membuka detailnya, Alone in the Dark juga membawa kamu ke area di luar Derceto, dan visual di sana berbeda jauh dari suasana rumah utamanya. Perbedaan itu cukup terasa dan bikin perjalanan tidak monoton.

Untuk animasi, tidak buruk. Bagus saja, dan tidak ada masalah yang mengganggu selama aku main. Antarmuka dan pengalaman penggunaannya juga biasa saja, dalam arti tidak menyusahkan. Memang di awal ada beberapa hal yang terasa agak aneh, tapi itu murni soal pembiasaan. Setelah beberapa jam, semuanya terasa wajar.

Cerita dan Karakter Alone in the Dark

Premis Alone in the Dark, sejauh pemahamanku, berangkat dari Emily Hartwood yang mendapat surat dari pamannya, Jeremy Hartwood. Isi surat itu tampak mencurigakan, sehingga Emily memutuskan menuju Derceto Manor, sebuah rumah sakit jiwa, bersama seorang detektif sewaan bernama Edward Carnby. Awalnya Emily mengira ini cuma kasus ketakutan biasa, begitu juga dengan Edward. Tapi setelah Jeremy dinyatakan hilang, cerita langsung masuk ke intinya. Keduanya ikut mencoba mencari Jeremy, dan selama pencarian itulah mereka tahu bahwa Derceto adalah tempat yang sangat aneh.

Sekarang bagian yang harus aku sampaikan jujur: ceritanya membingungkan. Alone in the Dark tidak menyampaikan kisahnya lewat adegan atau percakapan, melainkan lewat berkas dan dokumen yang tersebar. Artinya, kalau kamu tidak lengkap mengumpulkan dokumennya dan tidak membacanya, kemungkinan besar kamu akan kehilangan ceritanya. Dan ini yang lebih berat lagi, bahkan kalau kamu membaca semuanya pun, kamu tetap butuh kemampuan menyimpulkan yang hebat. Soalnya tiap pecahan itu hadir sebagai cerita acak, tragedi, dan kisah-kisah yang berdiri sendiri di dalam game.

Konsekuensinya terasa juga ke pacing narasinya, yang menurutku lambat. Karena ceritanya tersebar di berbagai lokasi dalam bentuk cutscene, dokumen, dan lain-lain, kamu harus berkeliling dulu sambil memecahkan teka-teki gameplay sebelum bisa merangkai potongan berikutnya.

Total ada lima bab di Alone in the Dark, dan Bab 4 jadi titik yang paling penting menurutku, karena di sanalah masing-masing karakter mendapat plot twist-nya. Aku tidak akan membuka isinya, tapi yang bisa aku bilang adalah kedua karakter ini memang punya keterkaitan, dan keterkaitan itu diceritakan di sana.

Karena aku main dua perspektif, aku bisa bilang begini: dari sudut pandang Edward Carnby dan Emily Hartwood, ceritanya sebenarnya tidak begitu berbeda. Perkiraanku sekitar 70 persennya adalah pengulangan. Yang membedakan adalah cara karakter di sekitar memperlakukan mereka, lalu tindakan dan emosi karakternya sendiri, ditambah kemunculan NPC yang berbeda-beda. Emily terasa lebih ke arah kebingungan, kekhawatiran, dan ketakutan dalam mencari kebenaran. Sementara Edward lebih pemberani dan lebih penasaran, karena posisinya memang sedang menyelesaikan kasus untuk kliennya.

Dengan keduanya aku puas saja. Tapi kalau harus memilih, aku lebih condong ke Emily, karena ceritanya terasa lebih masuk akal. Wajar, karena yang diceritakan adalah keluarga Hartwood itu sendiri. Di luar itu, aku tidak menemukan karakter yang mengganggu.

Soal dampak emosional, aku harus jujur bahwa aku tidak mendapatkannya. Aku lebih banyak merasa bingung dengan ceritanya. Kalau bicara ketegangan, itu justru datang dari gameplay-nya. Aku sendiri termasuk orang yang takut horor, jadi awal permainan sebagai Emily terasa cukup tegang buatku.

Ada juga beberapa hal yang mengganjal buatku dari sisi penceritaan. Pertama, rumah itu tidak berisi satu NPC pun. Bahkan kita tidak bisa menemukan Emily atau Edward di masing-masing sudut pandang. Memang ini bisa ditepis dengan alasan perpindahan dimensi, tapi rasanya tetap aneh.

Kedua, ada momen di akhir Bab 4 yang buatku terasa dipaksakan. Tanpa membuka detailnya, di situ karakter yang kamu pakai menunjukkan sesuatu yang jelas-jelas ganjil kepada karakter lain, tapi karakter itu sama sekali tidak merasa aneh. Bahkan sampai karaktermu benar-benar berpindah tempat, reaksinya tetap datar saja. Buatku itu terasa absurd.

Untuk ending, aku hanya akan bilang bahwa penutupnya terasa aneh dan seperti dipaksakan tamat dengan cara yang aneh. Alih-alih memberi kepuasan, ending utamanya justru meninggalkan pertanyaan di kepalaku. Rasanya seperti, ya sudah begitu saja.

Kesimpulanku soal cerita cukup sederhana. Alone in the Dark punya cerita yang berat, dan kemungkinan besar pemain tidak akan terlalu paham dengan ceritanya. Yang lebih mungkin terjadi, pemain justru menikmati teka-teki di dalamnya, yang memang cukup menantang dan membingungkan.

Satu catatan tambahan: Alone in the Dark punya ending alternatif. Aku sendiri mendapat salah satunya di perspektif Edward, yaitu yang namanya Akhir Konyol, lengkap dengan achievement-nya. Aku juga sempat menemukan akses menuju ending lain, tapi belum berhasil membukanya. Dari achievement dan panduan komunitas, aku tahu total ada lima macam ending di Alone in the Dark.

Audio dan Musik

Untuk urusan audio, aku rasa bagian ini termasuk yang berkontribusi besar ke suasana Alone in the Dark. Nuansa yang dibangun terasa seram, dan itu konsisten dengan visualnya.

Suara senjatanya bagus. Suara musuh cukup bagus juga, terdengar aneh dengan cara yang pas untuk game seperti ini, walaupun aku tidak bisa bilang suaranya unik.

Tapi ada satu hal yang menurutku jadi kekurangan, yaitu suara langkah yang kurang terdengar. Yang paling terasa adalah suara langkah musuh. Kalau aku terlalu fokus ke satu titik, musuh yang mendekat dari belakang jadi tidak terdeteksi sama sekali. Meski begitu, aku juga harus adil: elemen ini tidak terlalu krusial untuk mekanik menyerang dan bertahan di game ini, jadi dampaknya tidak sampai fatal.

Voice acting-nya bagus. Menurutku para pengisi suaranya mendalami perannya dengan baik, dan itu membantu banget di game yang karakternya sering harus membawa suasana sendirian.

Musik latarnya nyantol, terutama di momen-momen tegang, dan cukup bikin merinding. Ini yang bikin aku bilang bahwa horor di sini adalah horor suasana, bukan horor kejutan.

Dan ini penting: Alone in the Dark tidak melempar jumpscare murahan yang tiba-tiba muncul di depan layar. Yang aku rasakan justru rasa was-was, takut kalau-kalau ada jumpscare yang beneran mengagetkan. Buatku itu jauh lebih efektif, dan jadi salah satu nilai plus terbesar game ini.

Performa dan Stabilitas Alone in the Dark

Dari sisi frame rate, Alone in the Dark terasa stabil di permainanku. Tapi memang cukup sering muncul stutter kecil, dan untungnya tidak parah. Dugaanku ini terjadi saat game memuat aset baru. Lucunya, aku sampai bisa menjadikannya semacam indikator kalau sebentar lagi bakal ada event.

Untuk loading, kecepatannya bagus, tapi aku tidak menjadikannya penilaian karena aku memakai SSD NVMe. Masalah kompatibilitas atau setelan yang perlu diutak-atik juga tidak aku temukan.

Sekarang soal crash. Aku mengalami crash, dan ini terjadi di playthrough yang memakai mod. Anehnya, crash-nya tidak muncul saat menembak, melainkan saat karakterku mati, kira-kira di kematian kedua sampai keempat. Aku sadar bahwa mod bisa jadi penyebabnya, tapi tetap ada yang mengganjal buatku. Di game lain, mod sesederhana pengaturan akurasi dan recoil biasanya tidak sampai merusak apa pun. Ini bukan mod semacam kebal, one hit, atau peluru tak terbatas. Jadi kalau di game ini saja sudah bermasalah, menurutku itu menandakan performanya agak jelek.

Di luar itu, ada dua bug yang aku temui.

Yang pertama, dan ini cukup fatal, senjata tangan bisa hilang dan aku tidak bisa mengambil yang baru. Kenapa fatal? Karena cara main Alone in the Dark menuntut penghematan peluru. Kalau senjata tangan tidak bisa dipakai, kamu jadi boros peluru dan langsung terasa di pertarungan berikutnya. Trik dariku, simpan dulu permainanmu, keluar ke menu atau keluar dari game, lalu masuk lagi. Biasanya cara ini berhasil mengembalikan game ke kondisi normal. Bug ini paling sering aku temui di Bab 4.

Yang kedua tidak fatal, tapi tetap patut disebut. Di perspektif Edward, pada bagian dunia lain di Bab 4, karakterku bisa stuck di lokasi berlumpur, dan akibatnya langsung dibunuh dua monster di sekitarnya. Ini satu-satunya bug karakter yang aku temukan sepanjang permainan.

Harga dan Value

Di harga Rp 99.000, buatku Alone in the Dark sangat sepadan. Aku tidak merasa rugi sama sekali dengan apa yang aku dapat.

Tapi kalau bicara harga normalnya di Rp 300.000, jujur menurutku tidak layak. Angka yang lebih masuk akal buatku ada di kisaran Rp 150.000 sampai Rp 200.000. Jadi saranku sederhana, tunggu diskon.

Soal durasi, total waktuku hampir 18 jam. Perspektif Emily aku mainkan lebih lama, sekitar 10 jam. Sedangkan perspektif Edward hanya sekitar 7 jam. Bukan karena aku terburu-buru, tapi karena teka-tekinya sudah aku hafal. Kalaupun ada yang baru, itu jauh lebih mudah ditebak begitu aku paham mekanik menemukan dan menyelesaikan teka-tekinya.

Untuk nilai main ulang, aku rasa Alone in the Dark wajar dimainkan dua sampai tiga kali. Dua kali pertama untuk mengetahui perbedaan antar perspektif, baik dari sisi cerita maupun gameplay. Lalu yang ketiga untuk mencari ending lain. Lebih dari itu, menurutku sudah masuk ke ranah mencari tantangan sendiri. Perkiraanku, kebanyakan pemain akan main maksimal dua kali, ditambah satu kali lagi kalau memang penasaran. Jadi nilai main ulangnya lebih condong ke pencarian ending lain, bukan ke pengulangan cerita.

New Game Plus sendiri tidak menambah banyak. Isinya hanya lanjutan senjata dan pembukaan teka-teki brankas. Untuk cerita intinya, tidak ada perbedaan.

Kesimpulan Review Alone in the Dark

Alone in the Dark adalah game yang menurutku harus kamu datangi dengan ekspektasi yang tepat. Kalau kamu datang mencari horor penuh kejutan seperti yang aku bayangkan di awal, kamu mungkin akan sedikit meleset seperti aku. Tapi kalau kamu datang untuk misteri dan teka-teki, isinya jauh lebih memuaskan.

Kelebihan utama Alone in the Dark buatku ada di teka-tekinya yang menarik, tidak adanya jumpscare murahan yang tiba-tiba muncul di depan layar, dan susunan permainan yang menaruh pertarungan setelah teka-teki sehingga kepalamu tidak terlalu pusing.

Satu kelebihan lagi yang buatku penting banget disebut adalah subtitle bahasa Indonesia. Terjemahannya memang terlihat kaku, tapi jujur ini jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali, dan justru bagian ini yang bikin ceritanya lebih mudah aku mengerti. Game berbahasa Indonesia itu masih sangat jarang, jadi buatku ini apresiasi besar untuk developer yang mau memasukkan bahasa Indonesia ke dalam game mereka. Artinya mereka menghargai gamer dan pasar game Indonesia.

Untuk kekurangannya, yang paling terasa adalah ceritanya yang berat dan membingungkan. Lalu rumah yang tidak berisi satu NPC pun, sampai kita tidak bisa menemukan Emily atau Edward di masing-masing sudut pandang, yang meski bisa ditepis tetap terasa aneh. Ada juga bagian cerita yang terasa dipaksakan aneh, terutama di akhir Bab 4. Ending utamanya kurang memuaskan. Dan bos terakhirnya terlalu mudah dikalahkan, sampai terasa seperti gimmick. Dari sisi gameplay, senjata tangan yang tidak bisa diarahkan ke atas dan ke bawah juga jadi kekurangan yang cukup fatal buatku.

Alone in the Dark menurutku cocok untuk kamu yang menyukai misteri, menyukai cerita kosmik, menyukai horor suasana, dan menyukai penyelesaian teka-teki.

Jadi apakah aku merekomendasikan Alone in the Dark? Ya, aku merekomendasikannya. Walaupun ceritanya tidak jelas, penyelesaian teka-tekinya cukup menantang, dan justru di situlah bagian serunya. Horornya juga bukan horor ekstrem dan bebas dari jumpscare murahan. Ditambah adanya subtitle bahasa Indonesia yang bikin ceritanya lebih mudah dimengerti, buatku itu sudah cukup jadi alasan untuk mencobanya, terutama kalau kamu bisa mendapatkannya saat diskon.

Alone in the Dark 2024
Review Overview
Seru di teka-teki, bingung di ceritanya 7.2
Gameplay 7
Cerita 6
Visual 8
Musik 6
Audio 8
Performa 8
Bagus Teka-tekinya menarik dan tetap menantang meski ada petunjuk sederhana di mode cerita Tidak ada jumpscare murahan yang tiba-tiba muncul di depan layar Susunan pertarungan setelah teka-teki bikin kepala tidak terlalu pusing Mekanik menghindar terasa keren dan benar-benar berguna Elemen survival terasa kuat, selalu was-was kehabisan peluru dan darah Visual suram yang bikin terus penasaran dengan isi ruangan berikutnya Voice acting bagus dan musiknya nyantol di momen tegang Ada subtitle bahasa Indonesia, meski terjemahannya terlihat kaku
Tidak Bagus Ceritanya berat dan membingungkan karena tersebar lewat dokumen Tidak ada satu NPC pun di dalam rumah, tetap terasa aneh Ada bagian cerita di akhir Bab 4 yang terasa dipaksakan dan absurd Ending utamanya kurang memuaskan Bos terasa seperti gimmick karena terlalu mudah dikalahkan Senjata tangan tidak bisa diarahkan ke atas dan ke bawah, bikin monster udara dan monster kecil lebih sulit dilawan Variasi musuh dan senjata terasa berulang Suara langkah musuh kurang terdengar Bug senjata tangan hilang di Bab 4, plus crash saat karakter mati Harga normal Rp 300.000 terasa kemahalan
Ringkasan
Aku tamat Alone in the Dark dua kali, lewat perspektif Emily dan Edward, dengan total hampir 18 jam. Teka-tekinya jadi bagian paling seru dan menantang, ditemani visual suram serta audio yang bikin merinding tanpa jumpscare murahan. Sayangnya ceritanya berat dan membingungkan, ending utamanya kurang memuaskan, dan bosnya terlalu mudah. Performanya juga sempat bermasalah. Di harga diskon Rp 99.000 aku merasa sangat sepadan, apalagi ada subtitle bahasa Indonesia. Aku merekomendasikannya, terutama buat penyuka misteri dan horor suasana.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Metro Exodus Enhanced Edition – Petualangan FPS yang Benar-Benar Tuntas
Review Metro Last Light Redux: Horor Gelap Dewasa
Review Crysis Remaster – Nostalgia FPS Legendaris di Pulau Tropis
Review Battlefield 2 di 2025 – Masih Layak Dimainkan?
Steam resmi beralih ke klien 64-bit di Windows, dukungan Windows 32-bit dihentikan 1 Jan 2026
TOPIK:Alone in the DarkBahasa IndonesiaPCPlaystation 5SteamXbox Series
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Alone in the Dark 2024
Review Game

Review Alone in the Dark: Horor Suasana Berkedok Detektif Conan

13/08/2026
Review Battlefield Bad Company 2
Review Game

Review Battlefield Bad Company 2 — Campaign Pendek yang Ledakannya Masih Nempel di Kepala

13/08/2026
Review Battlefield Bad Company
Review Game

Review Battlefield: Bad Company — Menghancurkan Tembok Jadi Alasan Utama Bertahan Sampai Tamat

02/08/2026
Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?