• TRENDING
  • PC
  • Review Game
  • News
  • Review
  • Xbox One
  • Playstation 4
  • Playstation 5
  • Xbox Series
  • News Anime
  • Nintendo Switch
  • CONTACT US
SUBSCRIBE
Logo Wordtura
  • Beranda
  • Terbaru & Populer
  • Review
  • Kategori
    • News
    • Press Release
    • Tech
    • Talk
    • Game
    • Review
    • Culture
    • Guides
    • Entertainment
  • Mitra
    • Mitra Acara
    • Mitra Press
  • Tentang
    • Tentang Wordtura
    • Tentang Ulasan Game
    • Tentang Ulasan Produk dan Jasa
Membaca: Review Battlefield 4 di 2025: Masih Layak Main?
Share
WordturaWordtura
Pengubah Ukuran FontAa
Search
Ikuti Aku
©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.
Review Battlefield 4
Wordtura > Blog > Review > Review Game > Review Battlefield 4 di 2025: Masih Layak Main?
Review Game

Review Battlefield 4 di 2025: Masih Layak Main?

Multiplayer ikonik yang tetap hidup, tapi tak lagi seramai dulu.

Anggara Prima Nanda
Terakhir diperbarui: 30/12/2025 6:43 PM
Anggara Prima Nanda
Share
6 Min Baca
SHARE
Review Battlefield 4
6.9 Multiplayer kuat, komunitas mulai sepi
Review Overview

Dirilis lebih dari satu dekade lalu, Battlefield 4 tetap menjadi salah satu game FPS berskala besar yang paling dikenang dan dicintai. Namun memasuki tahun 2025, pertanyaannya bukan lagi sekadar tentang serunya pertempuran masif yang ditawarkannya, melainkan: apakah game ini masih layak dimainkan dan dibeli, terutama ketika jumlah pemain aktif di server mulai menurun?

Contents
Review Battlefield 4 Versi NarasiGameplay Multiplayer Battlefield 4Gameplay Campaign Battlefield 4Multiplayer: Masih Menyala Tapi Mulai RedupFitur Unik: Commander ModeCampaign: Gagal Menyampaikan CeritaVisual dan Performa: Masih Stabil di 2025Progres dan Sistem UnlockApakah Masih Worth It di 2025?Kesimpulan

Review Battlefield 4 Versi Narasi

Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengaksesnya.

Gameplay Multiplayer Battlefield 4

Gameplay Campaign Battlefield 4

Multiplayer: Masih Menyala Tapi Mulai Redup

Jantung pengalaman bermain Battlefield 4 terletak pada mode multiplayer. Mode Conquest tetap menjadi primadona berkat skala pertempurannya yang masif serta fleksibilitas gaya bermain yang ditawarkan. Aku pribadi lebih sering menggunakan class Assault dan sesekali beralih ke Engineer, sementara Recon nyaris tidak pernah kugunakan.Untuk urusan persenjataan, aku cenderung mengandalkan AUG, SAR, dan G36C—deretan senjata bullpup dan carbine dengan efisiensi peluru tinggi yang sangat efektif dalam pertempuran jarak menengah.

Sayangnya, pengalaman bermain di tahun 2025 masih sangat dipengaruhi oleh lokasi geografis. Sebagian besar server aktif berada di kawasan barat seperti Oseania dan Eropa, sehingga pemain di Asia Tenggara harus menghadapi ping yang relatif tinggi, rata-rata di kisaran 180–200 ms. Kondisi ini jelas berdampak pada performa baku tembak, terutama dalam situasi kontak langsung.

Meski begitu, sistem VOIP dan voice-line otomatis pada karakter berhasil menjaga suasana tetap hidup, bahkan saat bermain dengan pemain acak yang pasif. Kualitas VOIP yang baik, dipadukan dengan respons suara karakter yang dinamis, tetap mampu mempertahankan atmosfer pertempuran yang imersif, sekalipun komunitas gim ini mulai mengecil.

Fitur Unik: Commander Mode

Salah satu fitur paling underrated di BF4 adalah Commander Mode—sebuah elemen unik yang hanya ada di seri ini. Mode ini memungkinkan pemain menyusun strategi dan memberikan dukungan taktis, mulai dari UAV, supply drop, hingga missile strike, tanpa harus terjun langsung ke medan tempur. Commander Mode menghadirkan dimensi gameplay yang berbeda, terutama bagi pemain yang ingin tetap berkontribusi secara signifikan bagi tim tanpa perlu berada di garis depan.

Campaign: Gagal Menyampaikan Cerita

Kampanye di Battlefield 4 layak mendapat kritik keras. Alur ceritanya lemah dan tidak jelas, konflik yang dihadirkan tidak punya bobot, dan keterkaitannya dengan Battlefield 3 terasa sangat dangkal—hanya lewat kemunculan dua karakter lama yang bahkan tidak diberi peran berarti dalam perkembangan plot. Lebih parah lagi, hingga tahun 2025 sejumlah bug di mode campaign masih belum diperbaiki: beberapa misi bisa benar-benar tidak dapat diselesaikan akibat AI yang macet atau event yang gagal terpicu.

Namun, pengisi suara untuk tiap karakter masih terasa solid. Sayangnya, naskah yang lemah membuat seluruh potensi tersebut tidak pernah benar-benar tersalurkan secara maksimal. Secara keseluruhan, campaign ini bisa dilewati tanpa menimbulkan kerugian apa pun bagi pemain.

Visual dan Performa: Masih Stabil di 2025

Secara teknis, Battlefield 4 masih patut diacungi jempol. Berbekal Frostbite engine yang telah disempurnakan dari BF3, kualitas visualnya tetap memanjakan mata. Efek ledakan, runtuhnya bangunan, hingga animasi pergerakan karakter tersaji dengan mulus dan terasa sangat realistis.

Multiplayer berjalan mulus di PC modern, bahkan saat terjadi baku tembak berskala besar. Tidak ditemukan bug mayor pada aspek gameplay online—hanya mode campaign yang masih dibayangi oleh berbagai masalah klasik.

Progres dan Sistem Unlock

Progres pengembangan senjata terasa memuaskan, meskipun beberapa item mengharuskan pemain berada di map tertentu atau memenuhi kondisi khusus untuk dapat dibuka. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri, sekaligus meningkatkan nilai replayability.Namun, sistem level secara keseluruhan terasa cukup standar, tanpa kehadiran fitur pendukung seperti perk atau skill tree yang benar-benar signifikan.

Apakah Masih Worth It di 2025?

Jawaban singkatnya: masih, tapi dengan catatan. Dengan harga penuh yang bisa mendekati Rp500.000, Battlefield 4 jelas tidak layak dibeli tanpa diskon. Namun, ketika ada potongan harga 80–90%, terutama untuk Premium Edition, barulah gim ini terasa masuk akal untuk dibeli. Di bawah Rp100.000, kamu mendapatkan akses ke semua DLC, seluruh map, dan pengalaman multiplayer yang tetap seru dan bernyawa, meskipun komunitasnya sudah tidak seramai dulu.


Kesimpulan

Battlefield 4 menjadi bukti bahwa game berusia lebih dari satu dekade masih mampu berdiri tegak di tengah gempuran judul-judul baru. Kekuatan utamanya terletak pada desain multiplayer yang solid, sistem pertempuran yang cepat namun tetap menuntut ketangkasan taktis, serta ragam peta dan mode permainan yang kaya variasi. Fitur seperti Commander Mode turut menghadirkan lapisan strategi yang jarang ditemukan pada banyak game FPS lainnya hingga saat ini.

Namun, waktu tak bisa dibohongi. Komunitas pemain kian menyusut, server dengan ping rendah semakin sulit ditemukan, dan campaign-nya terasa ketinggalan zaman serta kurang relevan—terlebih dengan beragam bug yang tak pernah tersentuh patch, bahkan hingga tahun 2025. Semua itu membuat pengalaman bermain secara solo benar-benar kehilangan daya tarik.

Jika kamu pemain baru yang penasaran dengan awal kejayaan seri Battlefield, atau veteran yang ingin bernostalgia dengan sistem tembak-menembak yang solid dan map ikonik, Battlefield 4 tetap layak kamu lirik—dengan catatan dibeli saat diskon yang masuk akal. Jangan mengharapkan ekosistem kompetitif yang benar-benar hidup, tetapi kamu masih bisa menemukan banyak momen epik yang dulu membuat game ini begitu dicintai.

Review Battlefield 4
Review Overview
Multiplayer kuat, komunitas mulai sepi 6.9
Gameplay Campaign 7
Gameplay Multiplayer 4
Cerita 4
Audio 9
Musik 7
Visual 8
Performa 9
Bagus Multiplayer Conquest masih seru dan penuh kekacauan taktis. Destruksi lingkungan, efek ledakan, dan visual Frostbite masih enak dipandang. Commander Mode memberi variasi permainan yang unik dan strategis. Sistem senjata dan class terasa solid, progres unlock tetap memuaskan.
Tidak Bagus Server aktif makin sedikit, ping tinggi untuk pemain Asia Tenggara. Campaign lemah, cerita tidak jelas dan masih ditempeli bug lama. Harga normal sudah tidak sebanding dengan umur dan kondisi komunitas. Pengalaman kompetitif jangka panjang kurang relevan di ekosistem FPS modern.
Ringkasan
Battlefield 4 masih menawarkan multiplayer perang besar yang seru dan memorable, terutama jika kamu rindu era kejayaan seri Battlefield. Namun, sepinya server dengan ping rendah, campaign yang lemah, serta usia game membuatnya hanya layak dibeli saat diskon besar—lebih sebagai paket nostalgia daripada FPS utama di tahun 2025.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Review Crysis 2 Remastered – Nostalgia FPS di 2025
Review INSIDE – Puzzle Minimalis Gelap yang Menggugah
Review Roblox 2025 – Gratis, Kreatif, tapi Tergantung Developer
Review Little Nightmares II: Horor Kecil yang Bikin Tidak Nyaman
Review Journey — Game Pendek, Simbolis, dan Wajib Dicoba Saat Diskon
TOPIK:Battlefield 4PCPlaystation 3Playstation 4Xbox 360Xbox One
Bagikan Artikel Ini
Facebook Email Print
Avatar photo
OlehAnggara Prima Nanda
Mengikuti:
Menulis sejak 2015, bermula dari tulisan pendek dan hobi menulis novel yang masih berlanjut hingga kini. Sejak 2017, aktif menulis artikel seputar ACGN. Memasuki akhir 2025, mulai memperluas topik tulisan ke teknologi, kesehatan, dan budaya digital.
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pembaruan Video Perkenalan

Review Terbaru

Review BioShock Remastered Cover
Review Game

Review BioShock Remastered: Ketika Utopia Bawah Laut Berubah Jadi Neraka Buatan Manusia Sendiri

25/07/2026
Review Game

Review Sniper Elite 5 – Map Makin Gokil, Tapi Ending Hambar

20/07/2026
Review Dead Space Remake
Review Game

Review Dead Space Remake (2023) — Horor yang Meneror Lewat Atmosfer, Bukan Sekadar Jumpscare

10/07/2026
Review Sniper Elite 4
Review Game

Review Sniper Elite 4: Ketika Presisi Sniping Bertemu Stealth yang Semakin Matang

03/07/2026
Review Sniper Elite 3
Review

Review Sniper Elite 3 — Sniping Makin Bagus, tapi Movement dan Cover Hilang Jadi Masalah

26/06/2026
Review Sniper Elite V2 Remaster
Review

Review Sniper Elite V2 Remaster — Game Sniper yang Masih Seru Kalau Dibeli Diskon

12/06/2026

Always Stay Up to Date

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Follow US on Social Media

Youtube Tiktok

©Wordtura. Desain Nosphire. All Rights Reserved.

Logo Wordtura

Periksa Kebijakan

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Editorial
  • Ketentuan Layanan
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama pengguna atau alamat email
Kata sandi

Kehilangan kata sandi Anda?