Aku memainkan SYNDUALITY Echo of Ada di PC melalui Steam selama kurang lebih 10,8 jam. Aku membelinya ketika sedang diskon dengan harga sekitar Rp20.000, jauh di bawah harga normalnya yang berada di kisaran Rp400.000. Hal pertama yang perlu aku tegaskan adalah aku belum menamatkan cerita utama. Selama waktu tersebut, aku baru membuka dan menyelesaikan dua misi cerita. Jadi, tulisan ini merupakan review berdasarkan pengalaman bermain selama 10,8 jam, bukan penilaian setelah menamatkan semua kontennya.
Meski demikian, menurutku waktu lebih dari 10 jam sudah cukup untuk memberikan gambaran mengenai pengalaman yang ditawarkan. Aku tidak berhenti hanya karena memainkan SYNDUALITY Echo of Ada sebentar, lalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Aku justru sempat kehilangan minat lebih awal karena pacing yang lambat dan gameplay yang sangat repetitif, tetapi tetap memaksakan diri bermain. Alasannya sederhana: aku khawatir masih ada fitur penting atau bagian cerita yang belum terbuka.
Setelah mencapai 10,8 jam, aku merasa sudah melihat sebagian besar elemen utama yang relevan untuk dinilai. Jika ternyata masih ada fitur besar yang baru tersedia jauh setelah titik ini, bagiku itu tetap menunjukkan masalah pada progression. SYNDUALITY Echo of Ada seharusnya mampu memperkenalkan hal-hal utama yang ditawarkannya dalam tempo yang wajar, bukan membuat pemain menghabiskan belasan jam hanya untuk mencari tahu apakah masih ada sesuatu yang berbeda di balik rutinitasnya.
Review SYNDUALITY Echo of Ada Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay SYNDUALITY Echo of Ada Berpusat pada Grinding
Loop utama SYNDUALITY Echo of Ada cukup mudah dipahami. Dari menu, aku masuk ke lapangan untuk mengejar misi tertentu, mencari bahan yang dibutuhkan untuk peningkatan, menambang, atau memburu bandit. Setelah merasa cukup, aku kembali ke markas untuk memeriksa perlengkapan, menyelesaikan misi apabila persyaratannya sudah terpenuhi, melakukan peningkatan, kemudian masuk lagi ke map untuk mengulangi proses yang sama.
Masalah terbesarnya bukan karena loop tersebut sulit dimengerti, melainkan karena variasi pengalaman yang aku rasakan sangat terbatas. Kegiatannya terus berputar pada mengambil barang, membunuh bandit, melawan monster yang sama, pulang ke markas, lalu kembali lagi. Setelah sekitar empat atau lima putaran, rasa jenuh sudah mulai muncul. Menambang juga tidak memberikan sensasi khusus dan lebih terasa seperti pekerjaan berulang yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
Setiap putaran dapat menyediakan waktu sekitar 30 menit atau lebih, bergantung pada baterai robot. Namun, selama bermain aku biasanya sudah selesai dalam waktu sekitar 10 menit. Aku tidak pernah berada di lapangan sampai batas waktunya habis. Kapasitas penyimpanan memiliki batas yang tidak dapat dilewati, sehingga ketika bawaan mulai penuh, alasan untuk terus bertahan di map ikut berkurang.
Sistem penyimpanannya sendiri sederhana dan mudah diatur. Setiap barang juga gampang dibedakan karena tampilannya tidak sama. Kapasitas dasarnya menurutku cukup banyak, terutama karena perlengkapan yang perlu dibawa tidak berlebihan. Berdasarkan kondisi pemain yang aku temui dan tidak terlalu agresif, membawa satu jenis senjata serta pemulih darah secukupnya sudah terasa memadai. Dengan susunan seperti itu, masih ada cukup ruang untuk menyimpan barang hasil pencarian.
Sayangnya, menemukan loot tidak memberikan rasa puas yang kuat. Kebanyakan barang hanya terasa seperti bahan yang perlu dikumpulkan untuk memenuhi persyaratan misi atau pembangunan. Alih-alih merasa menemukan sesuatu yang berharga, aku lebih sering melihat loot sebagai bagian dari daftar pekerjaan yang harus diselesaikan.
Mode Ekstraksi yang Justru Terasa Cukup Damai
SYNDUALITY Echo of Ada tidak menyediakan fitur untuk membentuk tim. Aku menjalani seluruh aktivitas sendiri, tetapi tetap dapat bertemu pemain lain ketika berada di lapangan. Interaksi yang aku alami hanya sebatas saling memberikan emotikon. Menyerang pemain lain sebenarnya sangat memungkinkan. Tutorial juga mengingatkan agar selalu waspada terhadap keberadaan mereka.
Walaupun begitu, selama memainkan SYNDUALITY Echo of Ada, aku belum pernah menyerang maupun diserang pemain lain. Sejauh pengalamanku, para pemain seperti memiliki aturan tidak tertulis untuk tidak bersikap terlalu agresif. Mungkin karena tujuan utamanya adalah mencari barang dan menyelesaikan misi di lapangan, bukan secara khusus memburu pemain lain.
Kemungkinan diserang tetap menjadi tekanan terbesar ketika aku berada di map. Namun, ancaman itu belum pernah benar-benar terjadi. Aku juga belum pernah gagal melakukan ekstraksi, sehingga aku tidak bisa menilai konsekuensi kekalahan atau kehilangan barang. Karena itu, bagian tersebut tidak akan aku jadikan dasar untuk menilai apakah risiko ekstraksinya berat atau ringan.
Kontrol Responsif, tetapi Sensasi Menembaknya Biasa
Kontrol dalam SYNDUALITY Echo of Ada terasa responsif dan cukup sederhana seperti game FPS pada umumnya. Memang ada sedikit perbedaan, tetapi aku hanya membutuhkan penyesuaian ringan. Tutorialnya juga menjelaskan berbagai sistem permainan dengan cukup jelas. Hanya saja, beberapa informasi terasa diberikan setelah pemain yang terbiasa dengan mekanisme serupa kemungkinan sudah memahaminya sendiri.
Senjata dalam SYNDUALITY Echo of Ada dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan amunisinya, yaitu energi dan proyektil. Perbedaan yang paling terasa ada pada lintasan tembakan. Energi bergerak lurus, sedangkan proyektil mempunyai jalur yang dapat menurun. Jenis senjata yang kutemui mencakup SMG, assault rifle, sniper, shotgun, serta beberapa jenis bahan peledak. Masing-masing senjata masih memberikan rasa penggunaan yang berbeda.
Namun, sensasi menembaknya secara keseluruhan kurang memuaskan. Sulit menunjuk hanya satu penyebab karena masalahnya terasa sebagai gabungan dari dampak peluru kepada musuh, animasi, suara, dan keseluruhan respons ketika menyerang. Hasil akhirnya bukan pertarungan yang terasa buruk, melainkan sekadar biasa saja dan tidak meninggalkan kesan kuat.
Perilaku musuh umumnya cukup mudah diperkirakan. Hal yang terasa aneh adalah ketika musuh terkadang seolah langsung mengetahui bahwa aku sedang menembak, lalu otomatis menghindar. Dari semua pertarungan yang sudah kualami, memburu bandit menjadi aktivitas yang paling menantang. Sayangnya, aku tetap tidak menemukan bagian gameplay atau momen pertarungan yang benar-benar bisa disebut sebagai pengalaman paling menyenangkan.
Kesulitan perlahan meningkat ketika level atau misi berkembang. Perubahannya terasa melalui jumlah musuh, jenis musuh, dan perlengkapan mereka. Aku belum mengetahui indikator pasti yang menentukan kenaikan tersebut. Untuk monster, aku merasa tingkat kesulitannya kemungkinan berkaitan dengan warna, tetapi aku juga belum dapat memastikan hubungan pastinya.
Progression Lambat dan Terlalu Banyak Persyaratan
Progression menjadi kelemahan terbesar SYNDUALITY Echo of Ada menurut pengalamanku. Beberapa fitur terbuka melalui penyelesaian misi dan peningkatan bangunan. Dalam beberapa jam pertama, aku baru bisa mulai membeli senjata dan menggunakan crafting sederhana. Sampai titik review ini, kapasitas crafting yang kumiliki baru empat slot dari total 12 slot yang terlihat.
Peningkatan markas dalam SYNDUALITY Echo of Ada kebanyakan berfungsi sebagai percantikan, tetapi ada pula peningkatan yang membuka fitur. Perubahannya terlihat secara visual pada bangunan, jadi perkembangan markas tidak sepenuhnya hanya berupa angka atau menu. Bangunan crafting menjadi peningkatan yang paling terasa karena berkaitan langsung dengan fitur yang dapat digunakan. Beberapa peningkatan juga membuka fungsi baru melalui menu.
Masalahnya, kebutuhan bahan cukup banyak sementara barang tertentu sulit ditemukan. Ketika mencari bahan, Magus masih dapat menandai barang yang sebenarnya sudah tidak diperlukan. Penandanya tidak menunjukkan jenis barang yang sedang dicari secara spesifik, melainkan kebutuhan pembangunan secara umum. Akibatnya, proses mencari bahan yang benar-benar dibutuhkan menjadi lebih sulit dan kurang efisien.
Kelambatan itu kemudian diperparah oleh kewajiban masuk berulang kali ke map yang sama. Satu putaran biasanya hanya berlangsung kurang dari 30 menit, lalu aku harus kembali dan mengulang lagi. Walaupun map tersebut cukup luas, setelah sekitar lima atau enam putaran aku merasa hampir seluruh bagiannya sudah dijelajahi. Map kedua memang sudah terlihat, tetapi masih terkunci dan aku belum mengetahui persyaratan untuk membukanya.
Bagi pemain yang menikmati grinding berulang, pola SYNDUALITY Echo of Ada mungkin memang menjadi inti pengalaman. Namun, bagiku progression terasa seperti menahan konten, bukan membangun rasa penasaran secara sehat. Ketika pemain harus terus melakukan rutinitas yang sama sebelum memperoleh fitur atau perkembangan berarti, rasa penasaran perlahan berubah menjadi kejenuhan.
Visual, Map, dan Desain Magus
Secara keseluruhan, kualitas grafik SYNDUALITY Echo of Ada terasa biasa saja. Gaya visualnya tidak memberikan kesan yang sangat istimewa, dan desain dunianya juga tidak membuatku merasa kagum. Banyak bagian lingkungan bersifat statis, sedangkan elemen yang paling sering terlihat bergerak hanyalah pemain dan musuh.
Namun, bukan berarti map-nya buruk untuk dijelajahi. Tata letaknya cukup mendetail dan tidak dipenuhi ruang kosong. Aktivitas mencari barang juga memberikan alasan untuk memeriksa berbagai bagian lokasi. Inilah yang membuat penjelajahan tetap menarik pada awalnya, meskipun daya tariknya berkurang setelah aku berulang kali memasuki map yang sama.
Desain monster terasa kurang bervariasi. Tampilan Enders juga terlihat agak aneh, kaku, dan warnanya tidak terlalu menarik. Sebaliknya, desain Magus menjadi bagian visual yang paling kusukai. Kualitas animasinya juga tergolong bagus, sementara UI, menu, ikon, dan informasi di layar mudah dipahami.
Magus dalam SYNDUALITY Echo of Ada bukan sekadar pajangan. Perannya seperti pendamping berbasis AI yang memberikan informasi selama permainan. Magus yang kumiliki mempunyai kepribadian menarik dan terasa membantu. Masalahnya, ia terlalu banyak berbicara dengan variasi kalimat yang terbatas. Informasi yang disampaikan memang penting, tetapi ucapan yang terus berulang akhirnya dapat mengganggu. Masalah penanda barang yang tidak cukup spesifik juga membuat bantuannya belum selalu bekerja sesuai kebutuhan.
Cerita SYNDUALITY Echo of Ada Terbuka Terlalu Lama
Berdasarkan pemahamanku, latar ceritanya menggambarkan dunia yang runtuh akibat Enders, sementara Drifter menjadi pihak yang menghadapi ancaman tersebut. Ceritanya tampak berhubungan dengan kehancuran Kota Amasia. Namun, sampai dua misi cerita yang kuselesaikan, aku masih belum memahami inti keseluruhannya.
Pada awal SYNDUALITY Echo of Ada, penyampaian ceritanya kurang jelas dan lebih banyak berisi tutorial. Cara pengenalannya terasa seperti kartun ala game Fallout. Setelah beberapa bagian konten yang kurekam, tidak ada tanda kuat bahwa game ini mempunyai alur cerita utama yang jelas. Aku sempat merasa bahwa isinya memang hanya kumpulan misi dan grinding.
Ternyata misi yang dijalankan di lapangan menjadi bagian dari progression untuk membuka misi cerita utama. Aku membutuhkan waktu lebih dari enam jam sebelum bagian cerita dengan adegan yang lebih jelas akhirnya muncul. Karena mengetahui game ini juga mempunyai versi anime, aku cukup senang ketika menemukan bahwa ceritanya benar-benar ada dan masih sesuai dengan ekspektasiku.
Masalahnya, penantian selama itu tetap tidak terasa sepadan. Setelah misi cerita terbuka, alurnya memang terasa lebih linear dan mudah diikuti. Setiap penyelesaian dari dua misi yang kumainkan juga memberikan potongan cerita dalam bentuk video atau audio. Bagian video lebih menarik karena memiliki animasi, sedangkan log audio hanya terasa seperti kumpulan misteri atau potongan puzzle yang belum utuh.
Metode penyampaian seperti investigasi sebenarnya dapat membangun rasa penasaran. Namun, di sini informasinya terasa terlalu terpisah dan progression menuju bagian pentingnya berjalan terlalu lambat. Tujuan gameplay di dalam misi cerita pun belum terasa menarik. Belum ada momen atau perkembangan karakter yang benar-benar berkesan. Selama bermain, karakter yang paling terasa hanyalah karakter pemain dan Magus.
Setelah dua misi tersebut, cerita menjadi satu-satunya alasan yang masih membuatku tertarik melanjutkan SYNDUALITY Echo of Ada. Akan tetapi, ketertarikan itu memiliki batas. Jika misi cerita berikutnya kembali tertahan karena aku harus menyelesaikan banyak misi lapangan atau meningkatkan bangunan tertentu, kemungkinan besar aku akan meninggalkannya apabila persyaratannya terlalu menyulitkan.
Audio dan Performa di PC
Musik latar terasa biasa saja dan tidak memberikan kesan istimewa. Keberadaan musik tentu masih lebih baik daripada tidak ada musik sama sekali, tetapi aku tidak menemukan bagian yang benar-benar berkesan. Efek suaranya juga terasa standar. Aku memainkan game ini menggunakan sulih suara bahasa Jepang dan menilai kualitas pengisi suaranya biasa saja.
Untuk performa, SYNDUALITY Echo of Ada berjalan lancar dan stabil di PC yang kugunakan. Selama 10,8 jam, aku tidak mengalami bug, crash, freeze, atau gangguan teknis lain. Loading juga cepat karena game dipasang pada SSD.
Keluhanku lebih mengarah pada pilihan pengaturan yang terbatas. Pengaturan yang kutemukan hanya menyediakan TAA dan FXAA, tanpa pilihan DLSS atau FSR. Walaupun demikian, keterbatasan tersebut tidak menyebabkan masalah performa yang benar-benar mengganggu pengalamanku.
DLC, Harga, dan Value
Selain game utama, terdapat kosmetik Season 4 yang dijual terpisah melalui toko Steam dan dapat dibeli nanti. Battle pass tersedia setiap musim dan hanya dapat dibeli dari dalam game. Bagiku, battle pass tersebut juga termasuk DLC kosmetik. Aku tidak membeli keduanya, sehingga aku tidak akan menilai kualitas isinya.
Salah satu konten kosmetik yang kulihat mempunyai harga sekitar Rp300.000. Menurutku, angka tersebut terlalu mahal dan tidak wajar untuk sebuah kosmetik. Apalagi, pengalaman dari game utamanya sendiri belum cukup kuat untuk membuatku ingin mengeluarkan uang tambahan.
Penilaian value SYNDUALITY Echo of Ada sangat bergantung pada harga pembelian. Pada harga diskon sekitar Rp20.000, menurutku game ini sangat sepadan bagi orang yang penasaran dan hanya ingin mencobanya. Dengan harga serendah itu, pengalaman lebih dari 10 jam yang kudapatkan masih dapat diterima.
Namun, pendapatku berubah jika menggunakan harga normal sekitar Rp400.000. Pada harga tersebut, aku tidak merasa game ini layak dibeli. Aku tidak menemukan sesuatu yang benar-benar unik untuk mengimbangi loop repetitif, progression lambat, dan keterbatasan map yang dapat kuakses. Pilihan yang paling masuk akal menurutku adalah menunggu diskon besar.
Rekomendasi: Cocok untuk Pemain yang Sangat Spesifik
Secara umum, aku tidak merekomendasikan SYNDUALITY Echo of Ada, tetapi keputusan itu bukan berarti aku menganggapnya sebagai game yang sangat buruk. Kontrolnya responsif, jenis senjatanya masih terasa berbeda, map pertamanya cukup mendetail, Magus memiliki kepribadian menarik, dan performanya stabil. Cerita yang akhirnya terbuka juga sempat mengembalikan rasa penasaranku.
Masalahnya adalah seluruh kelebihan tersebut tertahan oleh struktur permainan yang sangat repetitif. Loot lebih terasa sebagai bahan persyaratan, menambang menjadi pekerjaan berulang, sensasi menembaknya biasa saja, map yang sama harus dikunjungi berkali-kali, dan progression menuju cerita berjalan terlalu lambat.
SYNDUALITY Echo of Ada kemungkinan lebih cocok untuk pemain yang memang menyukai grinding berulang, mode ekstraksi, peningkatan markas, dan progression lambat. Sebaliknya, pemain yang mudah bosan dengan rutinitas atau tidak menyukai tema mecha kemungkinan akan kesulitan menikmatinya. Jika dua jam pertama saja sudah terasa repetitif dan membosankan, menurutku perasaan tersebut sangat wajar karena pola dasarnya memang terus berulang.
Kesimpulan
Setelah 10,8 jam bermain, SYNDUALITY Echo of Ada meninggalkan kesan biasa saja dan lebih mengarah pada rasa kurang tertarik. Aku sudah mencoba bertahan melewati kejenuhan awal karena ingin memastikan apakah ada fitur atau cerita penting yang belum muncul. Ceritanya memang akhirnya terbuka setelah lebih dari enam jam, tetapi baru dua misi yang dapat kuselesaikan sebelum review ini dibuat.
Aku masih mempunyai sedikit keinginan untuk melihat kelanjutan cerita. Namun, jika akses menuju misi berikutnya kembali ditahan oleh grinding dan peningkatan markas yang terlalu panjang, kemungkinan aku melanjutkannya cukup rendah. Bahkan setelah game ini dihapus, kemungkinan untuk memasangnya kembali juga tidak besar.
Pada harga sekitar Rp20.000, SYNDUALITY Echo of Ada masih layak dicoba oleh pemain yang penasaran. Pada harga normal sekitar Rp400.000, aku tidak menyarankannya. Game ini tidak sepenuhnya buruk, tetapi fokus pada grinding, pengulangan aktivitas, dan progression lambat membuatnya hanya cocok untuk kelompok pemain yang sangat spesifik.

