Ada satu momen di mana aku sadar bahwa game ini bukan sekadar tiruan murah. Momen itu datang bukan lewat cutscene megah, bukan lewat dialog dramatis, tapi lewat pemandangan sebuah negara yang sudah hancur total di bawah sayap pesawatku — sementara di radio, rekan-rekanku hanya bicara seperlunya karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Aku baru saja menamatkan Project Wingman beserta DLC-nya, Project Wingman: Frontline 59, di PC menggunakan stick. Total waktu yang aku habiskan adalah 10 jam 42 menit untuk base game dan 3 jam 32 menit untuk DLC. Semuanya aku mainkan di tingkat kesulitan Hard, karena mode Mercenary — tingkat tertinggi di game ini — tidak bisa langsung dibuka sebelum kamu menamatkan Hard terlebih dahulu.
Base game punya 21 misi, sementara DLC menambahkan 6 misi lagi. Dan sepanjang perjalanan itu, aku menemukan sebuah game yang penuh kontradiksi: kasar tapi memikat, terbatas tapi ambisius, membosankan di awal tapi sulit dilupakan di akhir.
Review Project Wingman + Frontline 59 Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay
Kesan pertamaku terhadap Project Wingman, jujur saja, tidak istimewa. Tiga jam pertama terasa repetitif. Kamu terbang, kamu mengunci musuh, kamu menembak, misi selesai, ulangi. Struktur misinya tidak terlalu bervariasi — kalau aku bandingkan satu misi dengan misi lain, yang benar-benar membedakan sebagian besar hanyalah tingkat kesulitannya, bukan konsep atau desain skenarionya.
Titik balik itu baru datang di misi bernama Eminent Domain. Dari sana, ketegangannya meningkat drastis dan jenis musuh yang kamu hadapi mulai makin bervariasi. Setelah melewati titik ini, game-nya benar-benar berubah karakter. Ini penting untuk kamu ketahui sejak awal: Project Wingman butuh kesabaran di tiga jam pertama. Kalau kamu menyerah sebelum sampai ke sana, kamu akan pergi dengan kesan yang salah tentang game ini.
Manuver Ekstrem Bukan Pemanis, Tapi Kewajiban
Ini bagian yang paling ingin aku tekankan.
Di banyak game terbang arcade, manuver spesial biasanya cuma jadi gimmick keren untuk pamer. Di Project Wingman, tidak. Manuver ekstrem di sini benar-benar harus kamu lakukan kalau mau bertahan hidup, terutama di tingkat kesulitan Hard.
Alasannya sederhana: jumlah misil yang dilepaskan ke arahmu sangat banyak, dan flare tidak benar-benar menyelamatkanmu setiap saat. Ada momen di mana kamu sudah melepas flare tapi tetap kena, dan satu-satunya jalan keluar adalah membanting pesawatmu ke manuver ekstrem. Ini bukan pilihan gaya, ini mekanik bertahan hidup.
Untungnya, sistem manuvernya sendiri sangat ramah. Kamu cukup menekan satu tombol sederhana di kecepatan berapa pun, dengan satu syarat: pesawat yang kamu pakai harus punya sistem AOA Limiter. Tidak ada persyaratan kecepatan tertentu, tidak ada kombinasi input rumit.
Kontrol dan Pilihan Pesawat
Menggunakan stick, kontrolnya terasa responsif — tapi dengan catatan. Rasanya sangat bergantung pada jenis pesawat yang kamu pakai. Salah satu contoh yang paling terasa berbeda buatku adalah SK-25u, yang punya karakter tersendiri dibanding pesawat lain.
Sayangnya, di sinilah letak salah satu frustrasi terbesarku. Sepanjang campaign, aku terkunci menggunakan F-14 karena pesawat itu adalah pesawat kanon dalam cerita game ini. Kondisinya sama di DLC: kamu tetap wajib memakai pesawat berkursi dua. Dan penguncian ini berlaku di semua misi.
Efeknya cukup besar. Gaya mainku jadi tidak cocok, dan aku tidak punya kesempatan untuk benar-benar mencoba banyak pesawat sepanjang campaign. Untuk game yang menawarkan cukup banyak pilihan pesawat, ini terasa seperti kontradiksi yang mengecewakan.
Soal loadout, sistemnya sederhana tapi aku justru menyukainya. Pilihannya banyak, dan yang paling penting: sekali kamu membeli sebuah pesawat, semua jenis persenjataannya sudah termasuk. Tidak ada upgrade, tidak ada pembelian tambahan, tidak ada sistem berlapis yang bikin pusing. Beli sekali, dapat semua.
Untuk senjata sendiri, aku mengandalkan hampir semuanya kecuali bom darat, karena aku memang payah dalam membidik manual. Gunpod dan gun biasa tidak masuk kategori ini — dua senjata itu tetap nyaman aku pakai.
Tingkat Tantangan dan Progresi
Di mode Hard, aku menilai tingkat kesulitannya seimbang. Tapi aku harus jujur: kalau kamu belum terbiasa bermain di tingkat kesulitan tinggi, beberapa misi bisa terasa sulit.
Yang menarik, cara game ini menaikkan kesulitan terasa sangat lugas — bahkan terlalu lugas. Yang berubah hanyalah jumlah musuh yang makin banyak dan darah musuh yang makin tebal. Tidak ada perubahan perilaku AI yang signifikan, tidak ada taktik baru dari lawan.
Bicara soal AI, musuh di game ini agresif — mereka tidak segan menyerbu dan menghujanimu dengan misil. Tapi agresif bukan berarti cerdas. Pola mereka masih cukup mudah ditebak setelah kamu terbiasa.
Sistem progresinya sendiri terasa grindy, tapi tidak grindy sampai menyiksa. Masih dalam batas wajar untuk game sepanjang ini.
Ada satu misi yang membuatku mengulang berkali-kali di base game, yaitu Eminent Domain. Ironisnya, penyebabnya bukan musuh, tapi masalah visual: awan di misi itu terlalu mepet dengan permukaan laut, sehingga aku sering kecebur tanpa sempat menyadari ketinggianku.
Mode Conquest
Selain campaign, aku juga mencoba mode Conquest. Kesanku: worth it untuk dimainkan, tapi jelas ini murni pengisi konten untuk seru-seruan.
Konsepnya menarik — rasanya seperti kamu sedang menyerbu markas musuh dengan pasukan tentara bayaran yang kamu kelola sendiri. Sayangnya, manajemennya sangat sederhana. Isinya benar-benar hanya upgrade saja, tidak ada kedalaman strategi yang berarti.
Meski begitu, untuk sekadar melepas penat dan menghadapi gelombang musuh dalam jumlah gila-gilaan, mode ini melakukan tugasnya dengan baik.
Frontline 59: Lebih Pendek, Lebih Padat, Lebih Brutal
DLC Frontline 59 punya pendekatan yang berbeda. Dengan hanya 6 misi, durasinya jauh lebih pendek — tapi justru di situ kekuatannya.
Semuanya terasa lebih padat. Tidak ada pemanasan panjang seperti di base game. Awal gameplay DLC ini langsung menarik dan tidak membosankan, berbeda jauh dengan pengalaman tiga jam pertamaku di base game.
Tingkat kesulitannya juga sedikit lebih brutal. Bukan karena mekanik baru — karena memang tidak ada mekanik, pesawat, atau senjata baru di DLC ini — melainkan karena desain misinya sendiri lebih sulit. Musuh lebih banyak, dan cara kamu bertempur sedikit lebih dipersulit.
Puncaknya ada di misi keempat berjudul “All In”, misi terowongan yang jelas merupakan penghormatan kepada seri Ace Combat. Menurut para viewer-ku yang juga fans Ace Combat, misi ini lahir dari permintaan fans. Dan misi ini juga yang membunuhku berulang kali — aku mati saat masuk ke portal kecil di ujung terowongan, dan mati lagi karena tertembak saat dikepung musuh darat bersenjata laser.
Secara keseluruhan, aku menilai desain misi DLC lebih bagus daripada base game.
Perbandingan Manuver dengan Ace Combat 7
Karena game ini disebut sebagai penerus spiritual Ace Combat, perbandingan itu tidak bisa dihindari.
Di sisi manuver dan feel terbang, Ace Combat 7 jelas lebih unggul. Ambil contoh gerakan post-stall. Di AC7, gerakannya jauh lebih presisi: kamu wajib berada di kecepatan sekitar 500 km/jam, inputnya sulit, dan risiko gagalnya sangat tinggi. Rasanya benar-benar seperti kamu sedang menguasai sesuatu yang teknis.
Di Project Wingman, seperti yang aku sebutkan tadi, cukup satu tombol sederhana di kecepatan berapa pun asalkan pesawatmu punya AOA Limiter.
Kesimpulannya begini: soal feel terbang, AC7 jauh di atas angin. Tapi soal keseruan murni, Project Wingman justru unggul di sistem ini — dan hanya di sistem ini.
Visual dan Desain Dunia
Art style Project Wingman menurutku bagus, tapi kualitas teknisnya terasa seperti game era PS3. Ini bukan penghinaan, hanya deskripsi jujur tentang apa yang kamu dapatkan.
Yang menyelamatkan sisi visual game ini adalah atmosfernya. Nuansa post-apocalyptic dan sci-fi-nya benar-benar terasa, bukan sekadar tempelan genre.
Momen visual yang paling menempel di kepalaku sampai sekarang adalah misi “Consequence of Power”. Entah kenapa, rasa akan kiamatnya terlihat luar biasa. Kamu melihat gunung berapi, kamu melihat awan yang mengeluarkan petir, dan semuanya berpadu jadi pemandangan yang benar-benar cantik sekaligus mengerikan. Bersama Operation Anticipation, dua misi ini jadi favoritku karena keduanya memperlihatkan sebuah negara yang hancur akibat perang dengan ledakan berskala nuklir.
Efek visualnya sendiri dramatis. Ledakan, cuaca, badai — semuanya punya kehadiran yang kuat.
Tapi di sisi lain, keterbatasan indie game ini terlihat jelas. Animasi, cutscene, dan model 3D-nya menunjukkan batasan itu tanpa bisa disembunyikan. Grafis lingkungannya terasa kasar dan terkadang aneh, terutama di bagian awan — dan seperti yang aku ceritakan tadi, masalah awan ini bahkan sempat berdampak langsung ke gameplay-ku di misi Eminent Domain.
Animasi di bagian briefing juga terlalu sederhana. Ini salah satu tempat di mana kamu benar-benar merasakan bahwa ini adalah karya studio kecil.
Untungnya, UI dan HUD-nya enak dibaca. Aku memakai tipe HUD baru, bukan legacy, dan informasinya tersaji dengan jelas tanpa bikin bingung di tengah pertempuran yang kacau.
Satu catatan penting: tidak ada perbedaan kualitas visual antara base game dan DLC. Apa yang kamu dapat di base game, itu juga yang kamu dapat di Frontline 59.
Cerita dan Karakter
Premis Project Wingman cukup lugas. Kamu berperan sebagai pilot tentara bayaran yang tergabung dalam skuadron Hitman. Awalnya kamu cuma bekerja demi bayaran — kontrak biasa, urusan biasa. Tapi lama-lama kamu terseret ke dalam konflik yang skalanya jauh melebihi kontrak mana pun: sebuah perang akhir zaman yang berujung pada kehancuran negara dan ledakan berskala nuklir.
Cerita ini disampaikan lewat tiga saluran: radio chatter, cutscene, dan briefing.
Aku harus jujur soal satu hal. Untuk urusan penokohan, aku tidak bisa memberikan penilaian yang adil. Aku terlalu menikmati pertempurannya, sampai-sampai dialog hanya aku dengar sambil lalu tanpa benar-benar aku cerna. Jadi soal apakah karakternya berkesan atau datar, aku memilih untuk tidak menghakimi.
Yang bisa aku nilai adalah pacing-nya, dan di sini ada masalah. Cerita game ini lambat di awal. Sekitar 6 sampai 8 chapter pertama terasa membosankan, ditambah porsi dialognya yang juga terasa kurang banyak.
Ending yang Terasa Ganjil
Ini kekecewaan terbesarku dari sisi cerita.
Endingnya kurang memuaskan, dan yang lebih tepat: terasa ganjil. Setelah semua kehancuran yang kamu saksikan, pemain tidak diberi gambaran apa pun tentang keadaan dunia setelah kiamat perang itu. Semuanya selesai begitu saja, ditutup dengan beberapa kalimat singkat setelah pertempuran, lalu habis.
Bahkan nasib WSO tercintaku tidak dijelaskan sama sekali. Padahal di pertempuran terakhir, dia mengalami G-force ekstrem sampai pingsan dan tidak memberi respons lagi akibat manuver berputar tanpa henti yang harus aku lakukan. Setelah itu? Tidak ada informasi apakah dia cedera atau baik-baik saja. Tidak ada penutupan.
Untuk sebuah perjalanan sepanjang 21 misi, ini terasa seperti pintu yang ditutup terlalu cepat.
Cerita di Frontline 59
DLC ini punya posisi yang jelas: kamu wajib menamatkan base game dulu sebelum memainkannya.
Di Frontline 59, kamu tidak lagi bertempur bersama Hitman, melainkan bersama Reserve Task Force 1 (RTF-1). Lokasi pertempurannya berbeda, skuadronnya berbeda, tapi timeline-nya sama dengan base game.
Sayangnya, karakter di DLC ini menurutku kurang digarap. Tapi soal kontribusi terhadap dunia Project Wingman? DLC ini menambah bobot dengan sangat signifikan.
Momen paling kuatnya ada di akhir misi DLC, ketika kamu melihat misil nuklir berterbangan dalam jumlah banyak di angkasa. Itu adalah timeline yang sama persis dengan chapter 15 di base game — dan justru di situlah letak kekuatannya sekaligus keterbatasannya. Kamu jadi sadar bahwa event utamanya tetap ada di base game, sementara kamu sedang menyaksikan sisi lain dari perang yang sama.
Kalau harus memilih, cerita base game tetap lebih kuat karena itu adalah inti dari peristiwanya. DLC adalah pelengkap yang berharga, bukan pengganti.
Perbandingan Cerita dengan Ace Combat 7
Di sisi penyampaian cerita, aku memilih AC7 sebagai pemenang.
Dialognya lebih berisi, animasinya jelas, dan presentasinya jauh lebih sinematik. Tapi AC7 punya kelemahan sendiri: kamu bisa dibuat bingung karena sudut pandangnya terpental ke mana-mana, ke segala karakter, padahal yang kamu mainkan adalah Trigger.
Project Wingman kebalikannya. Animasinya kurang, dialognya terasa kurang berisi, tapi fokusnya jauh lebih terjaga. Tidak ada drama politik rumit. Kamu adalah tentara bayaran di tim Hitman yang tiba-tiba terbawa arus ke perang akhir zaman, dan cerita ini tidak pernah melupakan itu.
Perbandingannya seperti film Hollywood versus film lokal — dan keduanya bisa sama-sama bagus tergantung dari mana kamu melihatnya.
Aku memilih AC7. Tapi aku juga yakin akan satu hal: kalau Project Wingman punya dana sebesar AC7, dengan penyampaian yang jauh lebih terfokus seperti ini, AC7 bisa dibantai habis dari segala sisi penceritaan.
Audio dan Musik
Kalau ada satu hal yang membuat Project Wingman terasa jauh lebih mahal dari harganya, itu adalah musiknya.
Di base game, soundtrack-nya aku nilai bagus — tapi belum sampai ke level menggelegar atau bikin merinding. Track yang paling menempel buatku adalah “Kings”, lagu eksklusif yang hanya diputar di misi 21, misi terakhir base game yang juga bernama sama. Enak didengar, atmosfernya suram dan pas dengan momennya. Tapi bukan lagu yang akan terus terngiang di kepalaku setelah game-nya ditutup.
Yang menarik, penilaianku terhadap musik di sini sangat dipengaruhi oleh penempatan dan rasa saat misinya berlangsung, bukan semata kualitas komposisinya.
Untuk sinkronisasi, musiknya nyambung dengan intensitas pertempuran dan timing-nya pas. Tidak ada momen di mana lagu terasa salah tempat.
Sound design-nya sendiri sangat punya bobot. Suara mesin, misil, ledakan, alarm lock-on — semuanya terasa berat dan meyakinkan. Ini salah satu area di mana keterbatasan indie sama sekali tidak terasa.
Voice acting dan radio chatter-nya natural. Tidak kaku, tidak hambar, tapi juga bukan daya tarik utama game ini.
Frontline 59: Di Sinilah Musiknya Naik Kelas
DLC ini melakukan sesuatu yang patut diapresiasi: semua track-nya baru. Kamu tidak akan mendengar satu pun lagu daur ulang dari base game.
Dan menurutku, di sinilah musik Project Wingman mencapai puncaknya.
“Redline” adalah favoritku, dan aku berani bilang lagu ini terasa lebih bagus daripada “Showdown” — soundtrack paling populer di base game. Rasanya benar-benar arcade dan menyayat, diputar tepat saat kamu memasuki terowongan, lalu berlanjut ketika kamu bertempur sendirian melawan puluhan musuh di markas mereka. Kombinasi antara musik dan situasi di layar itu yang bikin momennya tidak terlupakan.
“Descendants” di misi terakhir DLC juga aku suka. Rasanya seperti sedang melawan bos akhir. Kalau dibandingkan dengan “Kings” dari base game, keduanya sama-sama menegangkan tapi dengan warna berbeda: Kings terasa lebih suram, sementara Descendants terasa seperti puncak krisis perang.
Untuk kualitas voice acting dan sound design di DLC, aku menilainya setara dengan base game.
Perbandingan Musik dengan Ace Combat 7
Ini perbandingan yang paling menarik untuk aku bahas: orkestra mahal Keiki Kobayashi melawan Jose Pavli. Studio AAA melawan studio indie.
Kalau dinilai secara head to head, aku akui Ace Combat 7 masih di atasnya. Itu kenyataan yang tidak perlu diperdebatkan.
Tapi kalau dinilai secara rasional dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing, aku bilang ini setara kekuatannya. Kenapa? Karena menghasilkan musik dengan rasa budget besar dari budget kecil adalah keajaiban tersendiri.
Jose Pavli benar-benar pantas disebut sebagai penyelamat game ini. Tanpa dia, aku yakin Project Wingman akan terasa hambar — tidak akan ada musik yang sanggup mengimbangi ketegangan pertempurannya.
Performa dan Stabilitas
Untuk urusan teknis, Project Wingman cukup solid di campaign, tapi punya titik lemah yang jelas di luar itu.
Sepanjang bermain, aku hanya mengalami satu kali crash, dan itu terjadi saat aku sedang bermain mode Conquest. Selebihnya, campaign berjalan aman tanpa masalah berarti.
Penurunan FPS di Mode Conquest
Nah, ini catatan yang harus aku tekankan, dan lagi-lagi datangnya dari mode Conquest.
Saat kamu bermain Conquest dan sudah mencapai tingkat Alert di atas sepuluh, penurunan FPS-nya bisa terjadi secara sangat signifikan. Penyebabnya cukup logis: jumlah musuh di layar sudah sangat banyak, dan misil yang beterbangan juga tidak kalah banyak. Semua itu harus dirender bersamaan, dan game ini mulai kewalahan.
Kalau kamu memakai mod extra enemy yang memang sudah disediakan secara resmi, kondisinya akan jadi jauh lebih parah lagi.
Yang bikin ini terasa menyebalkan adalah timing-nya. Penurunan FPS ini justru muncul di momen dogfight dengan adrenalin paling tinggi — persis di saat kamu paling butuh performa yang stabil untuk membaca situasi dan melakukan manuver. Ketika layar mulai tersendat sementara puluhan misil mengarah ke pesawatmu, itu bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal bertahan hidup.
Jadi kalau kamu berniat mendorong mode Conquest sampai ke Alert tinggi, siapkan mental untuk hal ini.
Bug dan Catatan Lain
Bug yang paling mengganggu — atau lebih tepatnya, paling aneh — adalah helikopter musuh yang menghadap ke langit-langit tapi hanya diam di tempat. Secara langsung, bug ini tidak mengganggu jalannya permainan. Tapi efek sampingnya terasa: dengan posisi menghadap ke atas, helikopter itu jadi bisa dengan mudah membidikmu kalau kamu berada di atas mereka pada ketinggian tertentu. Dan kalau helikopter-helikopter itu berkumpul dalam satu grup, yang terjadi adalah spam misil dari bawah.
Soal loading time, aku merasa cepat. Tapi aku sengaja tidak memasukkan ini sebagai poin penilaian, karena aku memakai SSD NVMe. Tidak adil kalau aku mengklaim game ini punya loading cepat sementara variabelnya ada di perangkatku sendiri.
Untuk dukungan controller di PC, tidak ada keluhan sama sekali. Benar-benar plug and play, tanpa perlu setting manual apa pun.
Harga dan Value
Ini bagian di mana Project Wingman menang telak.
Base game dibanderol Rp 120.000 di harga normal, dan aku membelinya saat diskon seharga Rp 60.000. Di harga normal pun, menurutku game ini sudah worth it — kamu mendapatkan rasa Ace Combat dalam versi low budget yang jujur dan tidak berpura-pura. Tapi di harga diskon Rp 60.000? Tanpa basa-basi: langsung beli saja.
DLC Frontline 59 harga normalnya Rp 48.000, dan aku mendapatkannya di harga diskon Rp 38.000. Ini juga worth it. Dengan harga segitu, kamu langsung masuk ke pertempuran yang padat dan berada di inti konflik, tanpa harus melewati pemanasan panjang seperti di base game.
Aku sendiri membeli keduanya saat diskon Steam.
Sarannya begini: base game dan DLC lebih baik dibeli bersamaan dalam bundle saat diskon. Tapi kalau kamu tidak sabar menunggu, membelinya di harga normal pun tidak akan membuatmu menyesal — harganya masih tergolong murah untuk konten yang kamu dapatkan.
Replay Value
Untuk urusan main ulang, Project Wingman punya nilai yang tinggi.
Pertama, ada mode Conquest yang memang dirancang untuk seru-seruan melawan musuh dalam jumlah banyak. Meski manajemennya sederhana, sensasi menyerbu markas musuh dengan pasukan bayaranmu sendiri itu tetap memuaskan untuk diulang.
Kedua — dan ini yang lebih menarik — campaign-nya sendiri punya alasan untuk dimainkan ulang. Ada dialog ekstra di akhir cerita yang hanya muncul di mode Mercenary. Informasi ini awalnya aku dapat dari viewer saat aku bermain, dan sudah aku konfirmasi sendiri lewat wiki-nya.
Soal durasi bermain, saranku: mainkan 3 sampai 4 misi dalam satu sesi. Durasi per misi bervariasi — ada yang sebentar, ada yang panjang — jadi memasang target per sesi terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menyelesaikan satu misi lalu berhenti.
Kesimpulan
Project Wingman adalah game yang aku hormati justru karena tahu batasannya, lalu memilih menonjolkan hal-hal yang bisa dia menangkan.
Yang paling aku sukai dari paket ini ada tiga.
Pertama, rasa arcade-nya yang jauh lebih bebas. Kamu bisa bermanuver sesukamu di skala pertempuran yang ekstrem. Ini murni game adrenalin, dan dia tidak berpura-pura jadi hal lain.
Kedua, soundtrack-nya yang bisa dibilang setara dengan game budget besar. Jose Pavli benar-benar mengangkat game ini ke level yang tidak seharusnya bisa dicapai oleh studio sekecil ini.
Ketiga, adegan kiamatnya. Ini yang paling langka. Kamu jarang menemukan game yang membuatmu merasakan kehancuran dunia secara langsung saat bermain, bukan lewat cutscene atau adegan yang sudah diatur. Dialog yang kamu dengar pun murni percakapan antar pilot dengan interaksi yang natural sesuai keadaan di lapangan.
Tapi kelemahannya juga nyata dan tidak sedikit.
Yang paling menyakitkan buatku adalah soal dialog ekstra. Dialog tambahan hanya bisa kamu dapatkan kalau kamu memakai pesawat berkursi dua — WSO Prez di base game, dan Eye-Tee di DLC. Lebih jauh lagi, dialog kondisi rekan tim ketika serangan nuklir ditembakkan di dekatmu pada misi terakhir base game hanya ada di mode Mercenary. Ini pukulan telak bagi pemain yang cuma ingin sekali jalan tanpa mengulang. Pemain seperti itu tidak akan pernah tahu bahwa ada konten dialog yang tersembunyi di balik tingkat kesulitan tinggi.
Lalu ada endingnya yang kurang mantap dan terasa ganjil. Grafis lingkungan yang kasar dan aneh, terutama di bagian awan — dan ini bahkan sempat berdampak langsung ke gameplay-ku. Animasi briefing yang terlalu sederhana. Serta beberapa adegan yang hanya berupa dialog suara, membuatnya terasa seperti memainkan visual novel versi audio.
Kalau Cuma Bisa Beli Satu: Project Wingman atau Ace Combat 7?
Jawabanku: ambil Ace Combat 7 dulu.
Alasannya murni soal gameplay sebagai gamer. Gameplay AC7 lebih stabil dan terasa lebih realistis walaupun tetap arcade. Untuk casual gamer yang rajin gonta-ganti game, cerita seringkali jadi hal yang diabaikan — dan di ranah itu, AC7 memberikan fondasi yang lebih kokoh.
Tapi ada satu hal yang harus aku akui: soal skala misi, Project Wingman jauh di atas angin. Pertempurannya lebih rusuh, terasa seperti perang total habis-habisan. AC7 lebih taktis, lebih terstruktur, dengan gimmick rintangan yang spesifik.
Jadi kalau yang kamu cari adalah presentasi mewah, AC7 menang. Tapi kalau yang kamu cari adalah ketegangan skala perang besar-besaran, Project Wingman punya sesuatu yang tidak dimiliki AC7.
Siapa yang Harus Memainkan Game Ini?
Aku merekomendasikan Project Wingman untuk fans Ace Combat, atau siapa pun yang pernah memainkannya dan ingin merasakan versi lain dari genre ini. Juga untuk kamu yang memang menyukai aksi terbang tanpa banyak basa-basi.
Dan inilah kesan akhirku setelah menamatkan semuanya:
Game ini bagus, tapi ini adalah versi hardcore dari Ace Combat. Penuh adrenalin, meski bisa terasa repetitif di awal kalau kamu belum menemukan serunya. Tapi untuk ukuran game indie, Project Wingman sudah termasuk sukses — dan sejujurnya, menakjubkan.

