Kalau mendengar game horor, mungkin yang langsung terbayang adalah jumpscare yang muncul tiba-tiba untuk membuat pemain kaget. Dead Space Remake (2023) memang memiliki beberapa momen seperti itu, tapi menurutku justru di situlah letak kesalahpahaman banyak orang terhadap game ini.
Setelah menamatkan Dead Space Remake di PC pada tingkat kesulitan Medium, aku merasa game ini bukan tipe horor yang hanya mengandalkan kejutan sesaat. Justru sebaliknya, game ini membangun rasa takut secara perlahan lewat atmosfer, desain audio, halusinasi, hingga perasaan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman selama berada di dalam USG Ishimura.
Perasaan itu sudah muncul sejak awal permainan dan terus bertahan sampai kredit penutup muncul. Bahkan ketika tidak ada musuh di depan mata, game ini tetap berhasil membuatku waspada terhadap setiap lorong, suara, dan ruangan yang akan dilewati berikutnya.
Sebagai catatan, aku tidak memainkan DLC karena kontennya hanya berupa skin, dan aku juga belum memainkan New Game+ karena belum berencana melanjutkan ke Dead Space 2 dalam waktu dekat. Jadi seluruh review ini murni berdasarkan pengalaman menyelesaikan mode cerita utama.
Dead Space Remake berhasil memberikan pengalaman survival horror yang sangat memuaskan. Namun tentu saja, game ini tetap memiliki beberapa kekurangan yang layak dibahas secara jujur.
Review Dead Space Remake (2023) Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih suka menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengakses videonya.
Gameplay
Kalau harus menjelaskan gameplay Dead Space Remake dalam satu kalimat, jawabanku adalah survival horror. Namun kata “survival horror” di sini bukan sekadar label, karena hampir seluruh mekanik permainan benar-benar mendukung konsep tersebut.
Sejak awal permainan, aku dipaksa untuk berpikir sebelum menembak. Peluru memang tersedia, tapi tidak pernah terasa berlebihan. Medkit, amunisi, hingga ruang inventori juga harus dikelola dengan baik, membuat setiap keputusan terasa penting.
Hal yang paling kusukai justru adalah bagaimana game ini tidak pernah membuatku merasa benar-benar aman. Berjalan di lorong yang tampak kosong belum tentu berarti aman. Membuka pintu baru juga belum tentu membuat keadaan lebih tenang. Bahkan saat kembali ke area yang sudah pernah dilewati, rasa takut itu tetap muncul.
Menariknya, backtracking yang biasanya terasa membosankan justru berubah menjadi salah satu kekuatan Dead Space Remake. Biasanya, kembali ke area lama dalam sebuah game akan terasa repetitif. Tapi di sini aku justru merasakan semacam trauma terhadap tempat yang pernah kulewati, pikiran seperti “jangan-jangan sekarang ada sesuatu yang berbeda” terus muncul setiap kali harus kembali ke ruangan sebelumnya. Akibatnya, aktivitas bolak-balik area tidak terasa membosankan, melainkan justru menambah ketegangan.
Dismemberment Bukan Sekadar Gimmick
Kalau ada satu mekanik yang menurutku menjadi identitas Dead Space Remake, itu adalah sistem dismemberment, alias memotong anggota tubuh musuh. Banyak game horor menggunakan headshot sebagai cara tercepat mengalahkan musuh, tapi Dead Space Remake justru melakukan kebalikannya.
Menembak kepala Necromorph sering kali bukan pilihan terbaik, bahkan dalam beberapa situasi musuh justru bisa menjadi lebih agresif. Menembak badan juga hanya menghabiskan lebih banyak peluru. Strategi yang paling efektif adalah memotong lengan atau kaki mereka.
Inilah yang membuat sistem pertarungan terasa unik. Dismemberment bukan sekadar efek visual atau gimmick, tapi benar-benar menjadi inti gameplay. Kalau pemain tidak memahami mekanik ini, penggunaan amunisi akan menjadi jauh lebih boros. Menurutku, keputusan desain seperti ini membuat combat terasa berbeda dibanding kebanyakan game shooter.
Plasma Cutter Masih Menjadi Andalan
Selama bermain, senjata favoritku adalah Plasma Cutter. Alasannya sederhana, pelurunya relatif mudah ditemukan, penggunaannya presisi, dan sangat efektif untuk memotong anggota tubuh Necromorph.
Aku memang meng-upgrade beberapa senjata sekaligus sepanjang permainan, tapi Plasma Cutter tetap menjadi senjata yang paling sering kugunakan karena terasa paling konsisten dalam berbagai situasi. Sistem upgrade sendiri terasa memuaskan, setiap peningkatan memberikan alasan untuk terus mengembangkan perlengkapan yang dimiliki tanpa terasa berlebihan.
Pertarungan yang Selalu Menegangkan
Combat di Dead Space Remake menurutku selalu berhasil menjaga ketegangan. Bukan karena musuh memiliki serangan yang terlalu sulit dihindari, tapi karena pemain harus terus mengatur sumber daya yang dimiliki. Peluru, medkit, inventori, hingga posisi saat bertarung semuanya saling memengaruhi, membuat setiap pertarungan terasa punya risiko.
Musuh juga cukup variatif, walaupun lama-kelamaan pola serangan mereka mulai bisa ditebak. Untungnya, variasi lingkungan dan tekanan atmosfer membuat pertarungan tidak kehilangan daya tariknya sampai akhir permainan.
Mode Medium menurutku juga terasa pas, tidak terlalu mudah tapi juga tidak terasa menyiksa. Tingkat kesulitan ini memberi ruang bagi pemain untuk menikmati suasana tanpa menghilangkan rasa tegang yang menjadi ciri utama Dead Space.
Hunter Lebih Menakutkan daripada Boss Terakhir
Kalau ditanya musuh yang paling berkesan, jawabanku bukan boss terakhir, melainkan Necromorph Hunter. Setiap kali bertemu Hunter, situasinya hampir selalu berubah menjadi kepanikan. Peluru cepat habis, medkit mulai berkurang, dan Hunter sering membuat Isaac terjebak di sekitar pintu ketika sedang mencoba melarikan diri.
Bagiku, Hunter jauh lebih berhasil membangun rasa takut dibanding boss terakhir. Sebaliknya, pertarungan boss terakhir justru terasa cukup biasa, gerakannya mudah dipelajari dan relatif gampang dihindari, sehingga tidak meninggalkan kesan yang terlalu mendalam.
Zero Gravity: Variasi Segar yang Bisa Membingungkan
Salah satu peningkatan yang kusukai adalah area Zero Gravity. Fitur ini berhasil memberi variasi gameplay sehingga permainan tidak hanya berisi berjalan di lorong lalu menembak musuh.
Namun pengalaman itu juga punya sisi negatif. Saat Zero Gravity berlangsung di area yang luas, orientasi pemain masih cukup mudah dipahami. Masalah mulai terasa ketika area tersebut sempit, gelap, dan memiliki banyak jalur. Dalam kondisi seperti itu aku beberapa kali merasa cukup pusing karena harus mencari arah sambil tetap mengawasi kemungkinan munculnya Necromorph. Walaupun begitu, menurutku fitur ini tetap berhasil memberikan variasi yang membuat gameplay terasa lebih segar.
Kritik Terbesar: Petunjuk Puzzle Terlalu Minim
Kalau harus memilih satu kritik terbesar dari sisi gameplay, jawabanku adalah petunjuk puzzle yang terlalu minim. Dead Space Remake memang ingin membuat pemain merasa benar-benar berada di dalam USG Ishimura, sehingga banyak petunjuk tidak ditampilkan secara jelas di layar. Sebaliknya, petunjuk justru disisipkan lewat lingkungan, tulisan pada aset di dalam dunia permainan, atau detail visual yang harus diperhatikan sendiri oleh pemain.
Pendekatan ini memang membuat imersi menjadi sangat tinggi. Namun di sisi lain, beberapa puzzle akhirnya terasa lebih membingungkan daripada yang seharusnya, terutama ketika pemain sedang berada dalam kondisi panik atau dikejar musuh. Bagi sebagian pemain mungkin hal ini justru menjadi daya tarik, tapi bagiku, ada beberapa momen ketika petunjuk seharusnya bisa dibuat sedikit lebih jelas tanpa mengurangi atmosfer horornya.
Visual dan Desain Dunia
Kalau ada satu aspek yang langsung mencuri perhatian sejak awal permainan, itu adalah visualnya. Menurutku, Dead Space Remake (2023) memiliki kualitas visual yang sangat bagus. Namun bukan hanya soal tekstur yang lebih tajam atau pencahayaan yang lebih modern, yang membuat visualnya benar-benar menonjol adalah bagaimana semua elemen tersebut digunakan untuk membangun suasana horor.
USG Ishimura bukan kapal luar angkasa yang terlihat megah atau indah. Justru sebaliknya, setiap koridor, ruangan, hingga lorong servis terasa seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan dan perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Kapal ini berhasil memberikan kesan menyeramkan tanpa harus selalu menampilkan musuh di depan mata. Bahkan ketika lorong terlihat kosong, aku tetap merasa waspada setiap kali membuka pintu berikutnya.
Menurutku, inilah salah satu alasan kenapa atmosfer Dead Space Remake terasa sangat kuat. Game ini tidak terus-menerus memaksa pemain bertarung, melainkan membiarkan lingkungan sekitar “berbicara” sendiri. Lampu yang redup, koridor sempit, noda darah, suara mesin kapal, hingga ruangan yang sunyi berhasil menciptakan rasa tidak nyaman sepanjang permainan, bahkan ketika tidak ada ancaman apa pun.
Gore yang Menyatu dengan Gameplay
Dead Space memang dikenal dengan elemen gore-nya, dan versi remake berhasil menampilkannya dengan sangat baik. Efek darah, potongan tubuh, hingga kondisi Necromorph setelah terkena serangan terlihat sangat realistis.
Namun menurutku, gore di Dead Space Remake bukan sekadar dibuat agar terlihat sadis. Seluruh efek tersebut memiliki hubungan langsung dengan gameplay lewat sistem dismemberment. Ketika anggota tubuh musuh berhasil dipotong, pemain langsung melihat dampaknya secara visual. Hal ini membuat setiap tembakan terasa memiliki konsekuensi yang jelas, sekaligus memperkuat kepuasan saat berhasil mengalahkan Necromorph dengan strategi yang tepat. Karena alasan itu, visual gore di game ini terasa menyatu dengan gameplay, bukan hanya menjadi pajangan.
Animasi Musuh yang Bikin Tidak Nyaman
Animasi Necromorph menurutku juga sangat bagus. Cara mereka bergerak terasa tidak normal, tidak nyaman dipandang, dan cukup berhasil membuat pemain terus merasa waspada. Walaupun setelah beberapa jam bermain pola serangan mereka mulai bisa ditebak, animasi yang dimiliki masing-masing Necromorph tetap berhasil menjaga kesan menyeramkan, terlebih ketika mereka muncul dari tempat yang tidak diduga atau tiba-tiba memasuki ruangan yang sebelumnya terlihat aman.
UI yang Sangat Imersif
Salah satu desain yang paling kusukai adalah antarmukanya. Dead Space Remake menggunakan konsep UI yang tidak ditempel langsung di layar, informasi penting seperti kesehatan karakter justru menjadi bagian dari tubuh Isaac sendiri.
Awalnya, sistem seperti ini memang membutuhkan sedikit penyesuaian, apalagi bagi pemain yang terbiasa melihat health bar, amunisi, atau indikator lain berada di sudut layar. Namun setelah terbiasa, pendekatan tersebut justru membuat pengalaman bermain terasa jauh lebih imersif. Aku hampir tidak pernah merasa terganggu oleh HUD karena seluruh informasi menyatu secara alami dengan dunia permainan. Menurutku, keputusan desain seperti ini berhasil meningkatkan rasa seolah-olah pemain benar-benar berada di dalam USG Ishimura.
Zero Gravity Membuat Lingkungan Lebih Hidup
Selain menjadi variasi gameplay seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, Zero Gravity juga memberikan variasi visual. Beberapa ruangan yang awalnya terlihat biasa saja berubah menjadi area yang menuntut pemain memperhatikan arah gerak dari berbagai sisi. Dead Space Remake berhasil memanfaatkan kondisi gravitasi nol bukan hanya sebagai mekanik permainan, tapi juga sebagai cara membuat lingkungan terasa lebih hidup dan tidak monoton.
Cerita dan Karakter
Kalau dibandingkan dengan banyak game survival horror lain, menurutku Dead Space Remake memiliki cerita yang jauh lebih menarik. Premisnya sebenarnya cukup sederhana, Isaac Clarke datang ke USG Ishimura dengan tujuan memperbaiki kapal, namun misi tersebut berubah menjadi perjuangan bertahan hidup ketika kapal dipenuhi Necromorph dan Isaac mulai mengalami halusinasi sejak awal permainan.
Premis yang sederhana ini kemudian berkembang menjadi cerita yang menurutku sangat menarik untuk diikuti. Yang paling kusukai bukan hanya konflik melawan monster, tapi bagaimana cerita perlahan mengungkap berbagai misteri yang terjadi di dalam kapal. Semakin jauh permainan berjalan, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul, dan inilah yang membuatku terus penasaran untuk melanjutkan permainan hingga tamat.
Horor yang Dibangun Lewat Cerita
Hal yang membuat Dead Space Remake berbeda menurutku adalah cara game ini membangun horor. Sebagian besar game horor berusaha membuat pemain takut lewat jumpscare yang muncul berulang kali. Dead Space Remake memang memiliki beberapa momen seperti itu, tapi bukan di situlah kekuatan utamanya.
Horor terbesar justru berasal dari atmosfer, suara-suara aneh, bisikan, halusinasi, hingga rasa tidak pernah benar-benar aman selama berada di USG Ishimura. Semua elemen tersebut saling mendukung cerita, sehingga rasa takut yang muncul tidak terasa dipaksakan. Sebaliknya, pemain perlahan ikut merasakan tekanan psikologis yang dialami Isaac selama perjalanan berlangsung. Inilah alasan kenapa menurutku Dead Space Remake bukan horor murahan yang hanya mengandalkan jumpscare.
Isaac Clarke: Karakter yang Berkesan
Isaac menurutku merupakan karakter utama yang berkesan. Ia bukan sekadar karakter yang berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain sambil menembak musuh. Sepanjang permainan, kondisi mentalnya ikut menjadi bagian penting dalam cerita, halusinasi yang dialaminya membuat pemain beberapa kali mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pendekatan ini membuat perjalanan Isaac terasa lebih menarik dibanding sekadar kisah bertahan hidup biasa.
Karakter-karakter pendukung juga cukup menarik dan berhasil mendukung perkembangan cerita tanpa terasa mengganggu fokus utama permainan.
Pacing yang Konsisten
Pacing cerita menurutku pas. Game tidak terlalu terburu-buru mengungkap misteri, tapi juga tidak membuat pemain menunggu terlalu lama. Setiap bab terasa memiliki tujuan yang jelas sehingga rasa penasaran tetap terjaga sampai akhir permainan. Justru karena ritmenya seperti ini, tekanan psikologis yang dibangun game terasa semakin kuat.
Hunter: Momen yang Paling Sulit Dilupakan
Seperti yang sudah aku singgung di bagian gameplay, momen paling kuingat selama bermain adalah saat bertemu Necromorph Hunter. Bukan hanya karena tekanan mekaniknya, tapi juga karena secara naratif, kemunculan Hunter selalu terasa seperti titik balik ketegangan dalam setiap bab. Terlebih ketika kondisi kapal gelap atau listrik mati, tekanan yang diberikan terasa berlipat ganda. Semua itu membuat Hunter jauh lebih membekas secara emosional dibanding pertarungan melawan boss terakhir, dan menjadi contoh paling berhasil bagaimana Dead Space Remake membangun rasa takut tanpa harus mengandalkan jumpscare secara terus-menerus.
Audio dan Musik
Kalau menurutku ada satu aspek yang benar-benar pantas mendapat pujian setinggi-tingginya, jawabannya adalah audio. Dead Space Remake bukan sekadar memiliki efek suara yang bagus, tapi berhasil menggunakan audio sebagai bagian utama dalam membangun rasa takut.
Mulai dari suara langkah kaki, suara mesin kapal, bisikan yang terdengar samar, hingga suara aneh yang muncul tanpa diketahui sumbernya, semuanya berhasil membuatku terus merasa waspada. Bahkan ketika tidak ada Necromorph di depan mata, audio tetap membuatku berpikir bahwa sesuatu bisa saja muncul kapan saja. Inilah alasan kenapa menurutku Dead Space Remake bukan game horor yang mengandalkan jumpscare semata, teror terbesar justru datang dari atmosfer dan desain audionya.
Suara-suara tersebut terasa seperti terus menekan pemain sepanjang permainan. Kadang hanya terdengar bisikan, suara benturan, atau suara yang sulit dijelaskan, tapi semuanya berhasil membuat suasana menjadi tidak nyaman. Semakin lama bermain, semakin terasa bahwa rasa takut dibangun secara perlahan tanpa harus terus-menerus mengejutkan pemain.
Musiknya sendiri menurutku luar biasa. Musik tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tapi mampu memperkuat suasana di setiap momen. Saat situasi mulai memanas, musik ikut meningkatkan tekanan. Sebaliknya, ketika keadaan terlihat tenang, justru muncul perasaan curiga karena Dead Space Remake sering membuat pemain merasa aman sebelum kembali memberikan tekanan.
Voice acting juga menurutku bagus. Walaupun bukan aspek yang paling menonjol, penyampaian dialog terasa natural dan berhasil mendukung cerita tanpa mengurangi kesan serius yang dibangun sepanjang permainan. Secara keseluruhan, menurutku audio adalah salah satu alasan terbesar mengapa Dead Space Remake terasa sangat imersif.
Performa dan Stabilitas
Selama bermain di PC, secara umum Dead Space Remake berjalan cukup stabil. Aku tidak menemukan bug besar yang sampai merusak progres permainan. Beberapa bug kecil memang sempat muncul, tapi tidak cukup mengganggu, bahkan dalam beberapa situasi justru membuat suasana semakin panik.
Sayangnya, ada satu masalah yang menurutku tidak bisa diabaikan, yaitu stutter. Inilah kritik terbesar yang kumiliki terhadap Dead Space Remake. Stutter memang bukan masalah yang muncul setiap saat, tapi ketika muncul di momen yang sedang menegangkan, dampaknya terasa sangat mengganggu. Bayangkan sedang dikejar Necromorph, suasana sudah panik, lalu permainan tiba-tiba tersendat, pengalaman seperti itu tentu mengurangi kenyamanan bermain.
Untungnya, aku menemukan cara yang cukup membantu mengurangi stutter tersebut, yaitu dengan membatasi frame rate ke 60 fps sambil mengaktifkan V-sync. Setelah pengaturan ini diterapkan, stutter yang tadinya cukup mengganggu terasa jauh berkurang, meski aku akui ini bukan solusi yang benar-benar menghilangkan masalahnya sepenuhnya.
Selain stutter, ada satu bug lain yang cukup mengganggu, terutama berkaitan dengan pintu atau persimpangan sempit. Seperti yang pernah aku alami, ketika aku berhasil membuat Necromorph Hunter kena stun sehingga ia melakukan regenerasi tepat di pintu atau persimpangan yang sempit, aku jadi tidak bisa melewatinya sama sekali. Akibatnya aku terjebak, dan mau tidak mau harus menunggu Hunter selesai regenerasi lalu bergerak menjauh dari pintu sebelum aku bisa lewat.
Di luar dua masalah tersebut, performa permainan menurutku tetap baik dan tidak mengurangi kualitas Dead Space Remake secara keseluruhan.
Harga dan Value
Aku membeli Dead Space Remake saat diskon dengan harga Rp65.900, jauh lebih murah dibanding harga normalnya yang mencapai Rp659.000. Dengan harga tersebut, menurutku game ini sangat worth it.
Bahkan seandainya tidak mendapatkan diskon sebesar itu, aku masih merasa Dead Space Remake layak dipertimbangkan untuk dibeli, terutama bagi penggemar survival horror. Meski begitu, rekomendasiku tetap sama, kalau memungkinkan, belilah saat diskon. Selain jauh lebih hemat, nilai yang didapat juga terasa semakin tinggi mengingat kualitas atmosfer, visual, audio, dan pengalaman bermain yang ditawarkan.
Kesimpulan
Dead Space Remake (2023) berhasil menjadi salah satu pengalaman survival horror terbaik yang pernah aku mainkan. Kekuatan utamanya bukan terletak pada banyaknya jumpscare, melainkan bagaimana game ini membangun rasa takut lewat atmosfer, desain audio, halusinasi, visual, dan tekanan psikologis yang terus terasa sejak awal hingga akhir permainan.
Gameplay juga berhasil mendukung konsep tersebut. Sistem dismemberment bukan sekadar gimmick, melainkan mekanik inti yang membuat setiap tembakan harus dipikirkan dengan matang. Resource management, eksplorasi, hingga backtracking juga berhasil memperkuat ketegangan tanpa terasa membosankan.
Dari sisi cerita, Dead Space Remake mampu menjaga rasa penasaran hingga akhir. Premisnya berkembang menjadi perjalanan yang menarik untuk diikuti, didukung karakter yang berkesan serta misteri yang terus terungkap sedikit demi sedikit.
Tentu saja game ini belum sempurna. Stutter di PC menjadi kritik terbesar yang menurutku cukup mengganggu, terutama ketika muncul di situasi yang sedang menegangkan. Selain itu, beberapa petunjuk puzzle terasa terlalu minim sehingga ada momen ketika pemain harus lebih banyak mengamati lingkungan dibanding yang seharusnya. Meski begitu, kekurangan tersebut tidak mampu menutupi kualitas keseluruhan yang ditawarkan.
Cocok untuk Siapa?
Menurutku Dead Space Remake sangat cocok untuk kamu yang menyukai game survival horror, senang eksplorasi dan misteri, suka mencari lore yang mendalam, menikmati atmosfer horor yang dibangun secara perlahan, dan tidak keberatan mengelola peluru, medkit, serta inventori selama bermain.
Sebaliknya, game ini mungkin kurang cocok untuk kamu yang mudah merasa takut, tidak menyukai manajemen resource, tidak nyaman dengan suara-suara yang mengganggu sepanjang permainan, atau mengharapkan horor yang hanya berisi jumpscare.
Kalau kamu mencari game horor yang hanya mengandalkan jumpscare, mungkin Dead Space Remake bukan pilihan yang tepat. Namun jika kamu ingin merasakan survival horror yang mampu membuatmu terus merasa tidak aman, bahkan ketika tidak ada musuh di depan mata, maka game ini sangat layak dimainkan. Terlebih jika berhasil mendapatkannya saat diskon, menurutku Dead Space Remake adalah game yang sangat mudah untuk direkomendasikan.

